
“Jadi, kamu sudah menentukan tanggal dan konsep pernikahannya?” Mama tiba-tiba masuk ke ruang keluarga lalu duduk di sofa seberang ku.
“Sudah, rencananya kak Alex akan datang ke sini untuk melakukan sesi lamaran lusa, lalu dilanjutkan dengan pernikahan 2 hari setelahnya.” Jelas ku.
Papa datang dengan minuman dan cemilan yang dibawanya.
“Apa kamu yakin ini menikah secepat ini?” Tanya Papa yang kemudian duduk di sebelah Mama.
“Tentu saja, Pa… Aku harap kalian bisa mencocokkan jadwal kami, karena situasinya tidak mendukung untuk kai mengundur acara pernikahan kami.” Jelas ku lagi pada Mama yang terlihat ingin mengatakan hal yang mungkin saja menentang ku.
“Untuk putriku, tentu saja aku akan mengosongkan jadwal sehingga acara pernikahan kalian selesai” Ucap Papa yang berpindah posisi di sampingku.
“Tidak terasa, gadis kecil yang gila belajar akhirnya akan jadi istri orang. Papa harap, kamu bisa hidup bahagia, dan untuk hadiah pernikahan apa kamu sudah memikirkan sesuatu?” Tanya Papa sambil menggenggam tanganku, dengan tatapan seolah melihat putrinya sendiri akan menjadi istri orang lain dan akan meninggalkannya.
“Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya berharap kalian hadir di pernikahan ku.” Ucapku.
“Putriku sudah dewasa” Papa memelukku dan mengelus rambutku, “Meski begitu Papa tetap akan memberiku hadiah” Papa melihat handphonenya dan menghubungi seseorang.
“Hallo!” Papa pun pergi keluar dari tempat itu dan meninggalkan aku bersama Mama dalam sebuah kecanggungan yang sangat buruk.
Mama terus menatapku, dan aku hanya mampu meliriknya sesekali. Meski kami adalah anak dan orang tua tapi, rasanya cukup asing dari orang asing itu sendiri. Dia terus menatapku, lalu saat Papa akan masuk ke tempat itu lagi, tiba-tiba Papa mundur dan benar-benar membiarkan kami berdua di ruangan itu. Tidak ada seorang pelayan atau siapapun yang lewat tempat itu. Aku benar-benar tidak tahu harus memulai pembicaraan bagaimana dengan Mama, sedangkan Mama sendiri tidak mengatakan apapun dan hanya menatapku sepanjang waktu.
“Apa kami harus terus saling menatap atau aku harus mencari alasan yang logis untuk keluar dari tempat ini?” Pikirku sambil terus menghindari tatapan Mama.
“Apa kamu benar-benar menginginkan pernikahan ini?” Tiba-tiba saja Mama bertanya dan kecanggungan kami sedikit retak meski aku cukup kaget karena pertanyaan dari Mama.
“Aku menginginkannya” Jawabku dengan penuh keyakinan.
Mama kembali diam dan terus memperhatikanku.
“Apa ini? Kenapa suasana terasa cukup buruk?” pikirku lagi.
Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa aku harus terjebak dalam situasi yang cukup canggung itu. Mama berhenti bertanya tapi tatapannya membuat aku tidak bisa bicara ataupun bergerak di tempat itu.
“Sampai kapan kami seperti ini” Keluhku kesal sambil memaksakan senyum ke arah Mama.
“Apa kamu akan tinggal di Indonesia?” Tanya Mama.
“Ni kalau salah jawab, apa aku akan mendapat masalah?” Pikirku karena tekanan dari introgasi itu.
Ruang keluarga itu rasanya ruang penyidikan dan aku adalah seorang tersangka dari suatu kejahatan dan Mama merupakan seorang penyidik yang sedang mengintrogasiku.
“Kenapa kamu diam?” Tanya Mama lagi.
“Aku belum memikirkannya, tapi kemungkinan besarnya aku akan tinggal bersama kak Alex karena kak Alex sudah membelikan rumah untuk pernikahan kami dan lagi… Kak Alex memiliki pekerjaan di sana.”
“Aku tidak yakin, tapi mungkin aku akan membangun usahaku sendiri” Ucapku dengan sedikit keraguan dari setiap ucapan ku.
“Kamu bisa mengurus cabang hotel di sana jika kamu mau” Tawar Mama.
Aku sangat kaget karena aku sudah disingkirkan dari proyek hotel lalu kenapa tiba-tiba memintaku untuk mengurus hotel cabang saat ini.
“Apa kamu bersedia?” tanya Mama lagi padaku yang hanya terdiam membisu.
“Itu… Aku tidak yakin, tapi… Jika itu harus maka aku akan mencoba melakukan yang terbaik” Ucapku yang terus mengalihkan pandanganku dari Mama.
“Kamu bisa memilih untuk melakukannya atau tidak, ini hanya sebagai hadiah, jika kamu terima bagus jika tidak yasudah … bukan suatu masalah besar… Ini bukan sebuah perintah” Jelas Mama padaku yang terlalu kentara dalam memperlihatkan bahwa aku cukup tertekan dengan masalah hotel itu.
“Lalu setelah ini, kamu ingin pergi kemana?” Tanya Mama padaku.
“Aku hanya ingin pulang dan beristirahat sebentar.” Jawabku.
“Eumm… Yaudah, kamu bisa pulang sekarang… Tapi Azia, jika kamu merasa membutuhkan bantuan, kamu tidak perlu ragu untuk memintanya pada kami, karena kamu adalah bagian dari keluarga ini” Ucap Mama padaku.
Sungguh aku sangat kaget sekaligus senang mendengarnya, selama bertahun-tahun aku tidak pernah merasa Mama menerimaku sebagai anaknya atau bagian dari keluarga barunya. Ya meski Papa memperlakukanku seolah aku adalah putri kesayangannya, kadang kami bertengkar tapi hanya hitungan detik hubungan kami bisa membaik. Aku tidak mengerti mengapa sulit untuk ku dekat dengan Mama dari dulu tapi entah kenapa untuk dekat dengan Papa itu adalah hal yang paling mudah untukku.
“Eum. Terima kasih untuk semuanya. Aku permisi!” Lalu aku bergegas keluar dari rumah dan segera pergi ke arah parkiran mobil.
Rasanya aku menemukan potongan terakhir yang bisa mengisi kekosongan hatiku selama ini, hanya satu kalimat ‘kamu adalah bagian dari keluarga ini’ yang keluar dari mulut mama sudah mampu menghapus semua rasa benci dan marah ku pada mama selama ini. Meski hubungan kami masih tidak se-mesra orang tua lain tapi setidaknya aku merasa itu langkah awal untukku bisa memperbaiki hubunganku dengan Mama.
Di perjalan yang cukup panjang itu, tiba-tiba saja seekor kucing melintasi di jalan dan membuat aku kaget hingga aku harus melakukan rem mendadak.
‘trak!’
Mobil di belakangku yang tidak siap berhenti itupun akhirnya menabrak bagian belakang mobilku. Meski aku rasa tidak cukup parah tapi setidaknya aku benar-benar harus turun dan mengganti rugi mobil itu.
‘tok tok tok’
Seorang pria menghampiri mobilku dan mengetuk kaca mobil. Aku bukannya tidak ingin turun saat itu, aku ingin turun tapi aku sedang mengumpulkan sebagian ruh ku yang melayang karena kucing itu, dan saat aku akan keluar pria pemilik mobil belakang sudah lebih dulu menghampiriku.
Aku keluar sambil membawa dompetku keluar, aku masih sedikit syok dengan situasi itu hingga tidak terlalu memperhatikan siapa yang ada di hadapanku saat itu.
“Kak Azia? Kak Azia kok di sini?” Tanya Pria itu.
Aku pun mengangkat pandanganku dan mulai memperhatikan wajah pria yang jauh lebih tinggi dari tubuhku, “Bisa gak sih jangan terlalu tinggi” Keluhku dalam hati sambil tersenyum ke arahnya karena aku benar-benar tidak ingat siapa dia.
“Kak Azia ingat aku kan? Aku Vandi, kak! Aku senior di organisasi perikatan mahasiswa asia… Kak Azia ingat kan?” Ucapnya yang seolah sangat senang bertemu denganku.