
“Kak, aku mau di gendong dong!” Pinta anak laki-laki dengan wajah polos tak berdosa padaku yang baru saja datang.
“Gak, aku duluan!” Si gadis cantik dan paling menggemaskan itu memelukku duluan dan menyingkirkan anak laki-laki yang sedang menarik tanganku.
“Sayang, tunggu dulu, kita sudah sepakat, kan? Kemaren janjinya apa?” Aku mencoba menghentikan dua anak yang benar-benar aktif itu.
“Kami akan belajar dengan baik, lalu baru main sama kak Azia” Ucap kedua anak kembar itu dengan wajah polosnya yang membuat aku merasa meleleh.
“Nah, sekarang ayo ke dalam dulu, kita main setelah belajar sebentar, oke!”
“Oke” Anak-anak mulai berjari ke dalam rumah.
Aku suka anak-anak tapi, aku tidak pernah berpikir akan menjadi pengasuh anak-anak, tiba-tiba pekerjaanku jadi beda arah dalam sekejap. Semua bermula dari dua minggu sebelumnya, dimana lagi-lagi kepala sekolah membuat aku terjebak dalam keluarganya, kali ini dia memintaku untuk menjadi guru les untuk anak dari sepupunya. Awalnya aku hanya berpikir kalau akan mengajari adik kelasku saja tapi, begitu masuk ke rumahnya Rendi semua jadi berbeda. Aku tidak tahu kalau Rendi itu mempunyai adik yang masih kecil. Adik-adik Rendi benar-benar sulit di atur, Rendi juga pernah mengatakan kalau pengasuh adiknya selalu di ganti dalam beberapa bulan, bukan karena di pecat tapi, karena mereka tidak tahan dengan kelakuan bocah nakal itu.
Sayangnya aku terlanjur menerima tawaran untuk mengajari si Rendi, dan saat bertemu dengan anak-anak yang terkenal begitu nakal itu, aku menyadari kalau mereka bukan nakal tanpa sebab. Orang tua mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan, mereka melakukan segala cara untuk di perhatikan, setelah mengalami penolakan di hari pertama, akhirnya aku bisa akrab dengan dua anak nakal itu dengan kekuatan makanan yang ada di dalam tasku.
“Kak, lihat! Aku mengerjakan tugasku dengan cepat”
“Benarkah? Coba kakak lihat” Mereka memang nakal tapi aku cukup yakin kalau mereka itu anak yang pintar, “Wah, Iki pintar banget, jawabannya benar semua, nih kakak kasih coklat sebagai hadiahnya”
“Kak, Miki juga udah siap! Lihat, tugas melukis Miki cantik’kan? Ini kak Azia, lalu Iki dan ini kak Rendi!” Ucap gadis lucu yang super menggemaskan itu.
“Wah… Gambar Miki selalu yang terbaik, sekarang kalian mau main apa?”
“Aku gak di kasih coklatnya?” Tanya Miki dengan ekspresi berharap di berikan sesuatu.
“Oh iya, kakak hampir lupa, nih buat Miki! Sekarang kalian mau belajar lagi atau mau main?”
“Main!” Ucap serentak penuh semangat dari dua anak kecil yang mungil itu.
“Baiklah, sekarang kita mau main apa?”
“Miki mau main rumah-rumahan”
“Gak, Iki gak mau main anak perempuan, Iki mau main perang-perang-an aja”
“Miki gak mau!”
“Jangan seperti itu sayang, coba deh kita pikirkan permainan yang adil biar kita bisa main bertiga”
“Udah main petak umpet aja!”
“Gak, mau! Iki suka curang, Miki gak mau main sama anak curang!”
“Sayang gak boleh gitu dong, jadi sekarang mau main apa ?”
“Kalian lagi bicara-in apa?” Rendi datang menghampiri kami.
“Ini anak-anak lagi mikirin mau main apa sekarang”
“Oh, gimana kalau jalan-jalan di taman dekat komplek aja? Di sana banyak anak-anak yang bermain, kalian berdua bisa dapat teman baru di sana, gimana?” Ucap Rendi lembut pada kedua adik kecilnya itu.
“Boleh boleh! Kak Azia juga ikut’kan?”
“Eum, ayo kita berangkat!”
Lalu kami pergi berempat ke taman yang tidak jauh dari rumah Rendi, karena pada dasarnya mereka anak-anak yang aktif makanya saat ada kesempatan untuk bermain di luar mereka akan sangat bersemangat.
“Iki jangan lari-larian!”
“Udah Azia, gak papa biarin aja mereka, lagian mereka udah lama banget gak jalan-jalan keluar karena aku gak punya waktu”
“Ngomong-ngomong makasih banget udah mau jadi teman main mereka dan juga mengajari aku”
“Jangan panggil aku nama! Lagian aku ini kakak kelas dan aku lebih tua dari kamu!”
“Lalu aku harus panggil apa? Kakak? Senior atau bu guru?”
“Hahah… Aku cuma bercanda kok, kamu jangan terlalu serius juga kali! Udah ayo kita ke sana, sepertinya mereka sudah mendapatkan teman baru”
“Baiklah!”
“Kak, aku haus!” Miki menghampiriku dengan wajah yang sudah kelelahan karena bermain bola dengan teman-teman barunya.
“Kalau gitu biar aku belikan minum buat kalian”Tawar Rendi yang menghampiri kami.
“Gak usah, biar aku aja, kamu jaga saja mereka di sini, dah aku pergi dulu!” Aku langsung berlari dari tempat itu dan mencari penjual minuman.
Saat sedang berjalan aku melihat tukang cendol yang mangkal di tempat itu, lalu sebuah ingatan yang tidak ingin aku ingat muncul tanpa aba-aba. Ingatan dimana aku pernah membuat seseorang sakit perut karena meminum minuman itu, sebuah kisah yang tidak ingin aku ulang, itu bukan kisah cinta indah yang patut aku kenang, hanya sebuah awal dari semua bencana dalam hidupku.
“Apaan sih kenapa jadi teringat sama anak itu! Azia, itu udah berlalu, jangan terlalu di pikirkan, ayo cari minuman yang lain saja!” Aku pergi melewati tukang cendol itu lalu memutuskan mencari minuman di tempat lain.
Begitu kembali aku melihat kak Alex berada di tempat itu, aku merasa sedikit aneh karena dia berada di tempat yang sama denganku padahal setahuku dia sedang sangat sibuk sekarang.
“Kak!” Aku menghampiri dia.
“Azia, kenapa kamu di sini?” Wajahnya terlihat seperti pura-pura kaget.
“Aku harusnya menanyakan itu, kenapa kakak di sini? Eh, itu gak penting sekarang, ayo ikut aku!” Aku menarik kak Alex ke tempat Rendi dan adik-adiknya.
“Hai! Maaf lama, nih minumannya!”
“Kak, siapa paman itu?” Tanya Iki sambil terus melirik kearah kak Alex dengan wajah terheran-heran.
“Loh sayang, jangan panggil paman dong! Panggilnya kak Alex aja, dia pacar kak Azia, dia tampan’kan?”
“Iya tampan, kakak apa kakak bisa pacaran sama kakak kami juga?”
“Loh kenapa?”
“Kami ingin kakak selalu bersama kami, kami tidak ingin kakak bersama orang itu!” Mereka terlihat sangat murung dan sedih.
“Jangan gitu dong sayang, walau kakak pacaran sama orang lain, kakak akan tetap bersama kalian kok selama kalian janji untuk jadi anak baik dan belajar dengan benar”
“Kami janji akan jadi anak yang baik dan rajin belajar, kalau begitu kami main lagi, ya kak!?”
“Iya, main aja sama teman-teman, tapi harus tetap hati-hati mainnya, ya sayang?”
“Iya, kakak”
Mereka kembali bermain bersama teman-temannya dan meninggalkan kami bertiga. Kak Alex terus saja menatap Rendi dan itu membuat aku merasa sedikit tidak enak.
“Kak, jangan di lihatin terus!” Ucapku sambil mencubit kak Alex.
“Maaf!” Ucapnya dengan suara kecil.
“Kalian mau jalan?” Tanya Rendi yang peka
“Eh, boleh? Kalau boleh sih aku mau pergi sekarang”
“Iya boleh, lagian udah ada aku yang jagain mereka jadi kamu tidak usah khawatir.”
“Oke, makasih! Ayo kak pergi!” Aku menarik kakak Alex dengan cepat karena dia masih saja menatap Rendi dengan tatapan sinis.
“Kakak! Aku gak suka ya kakak lihatin orang seperti itu?!”
“Seperti apa??”
“Ya, seperti tadi, kayak mau ajak berantem aja, pokoknya lain kali gak boleh gitu”
“Aku gak ngerasa gitu kok”
“Kakak ini!!! Sudahlah! Ayo kita jalan!”
Aku tidak mengerti apa yang membuat kak Alex jadi semakin aneh beberapa waktu ini, aku jadi sering melihat dia di mana-mana hingga aku merasa di ikuti olehnya. Andi juga merasa kalau dia terus di awasi, tapi aku tidak ingin mencurigai kalau kak Alex memata-matai aku dan mengawasi setiap orang yang dekat denganku.
Bersambung…
Jangan lupa Like dan Komen, tinggalkan jejak agar penulis tidak mengira kalau tulisannya di baca oleh hantu, hahahhahah… bercanda tapi, tetap jangan lupa like dan favoritkan ya, biar makin semangat nulisnya. Makasih sudah membaca novel ini sampai jumpa di episode berikutnya