
"Ya Allah, Ya Aziz, Ya Karim ... Lindungilah suamiku." lirihnya. Terlihat Maura masih bersimpuh di atas sajadah dengan balutan mukena putih ditubuhnya.
Satu jam yang lalu ia baru saja selesai melaksanakan shalat malam, ingin bermunajat agar suaminya bisa selamat sampai tujuan di Indonesia. Maura terus berdzikir dengan untaian bola-bola tasbih yang dimainkan dengan buku jari jempol dan telunjuknya.
Maura masih terjaga dari kemarin siang sampai adzan subuh sebentar lagi berkumandang. Ia tidak bisa tertidur, rasa senang bercampur gugup karena ingin bertemu suaminya.
Berkali-kali Papa Bilmar, Mama Alika atau Ammar menengoknya ke kamar, memastikan kalau Maura dalam keadaan baik-baik saja. Menurut perhitungannya Gifali akan tiba dini hari, namun sampai tiga puluh menit menuju Adzan Subuh lelaki itu tak kunjung sampai.
Meraih gawai beberapa kali, memastikan beberapa chat yang sudah ia kirim akan berubah tanda menjadi centang biru, nyatanya tidak. Tanda dalam pesan tersebut masih saja centang satu dan tidak berwarna.
Ia ingin membukakan pintu pertama kali untuk suaminya jika pulang nanti. Dibalik kaca matanya ia berkali-kali menatap lurus jam di dinding. "Sudah pukul 04:00, kenapa suamiku belum sampai juga ya? Hapenya pun tidak bisa dihubungi." rasa was-was kembali menyisir kalbunya.
Tapi dengan cepat Maura menggelengkan kepala, ia menepis terkaan buruk yang sedang ia fikirkan.
"Tenang, Ra. Gifa tidak apa-apa. Ia sedang dalam perjalanan." ucap Maura kepada dirinya sendiri.
Akhirnya ia meraih kembali Mushaf Al-Quran, memilih surah Ar-Rahman untuk ia tilawah kan. Surah yang pernah dijadikan mahar untuk nya dari Gifali.
"Audzubillah himinas syaitonirrojim ...bismillahirrahmanirrahim."
"Ar-Rohman ... Allamal-qur'aan ... Kholaqol-ingsaan ..."
Ayat per Ayat Maura bacakan dengan syahdu. Alunan nadanya lembut, wanita ini memang pintar mengaji.
"Allamahul-bayaan ..."
DEG.
Seketika Maura menghentikan tilawahnya. Mendadak keningnya mengkerut, tangan kanannya mengayuh ke atas untuk membetulkan alat pendengaran yang masih terpasang baik di daun telinganya. Takut-takut telinganya kembali bermasalah.
"Suara siapa itu? Seperti ...?"
"Asy-syamsu wal-qomaru bihusbaan ..."
Suara lugas dan lantang kembali terdengar. Mengikuti bacaan yang sedang Maura bacakan. Wanita hamil itu kembali menyerngit kan dahi.
Tidak salah lagi, ini betul suaranya. Suara orang yang ia rindukan.
Dan.
Blass.
"Astagfirullohaladzim ..." serunya tidak percaya.
Jantungnya seketika ingin melompat jauh dari pusara tubuhnya. Ia tersentak, kaget setengah mati, ketika menoleh ke kanan dan mendapati senyuman suaminya sudah hadir didepan mata.
"Ahhh ... Sayang!! Ya Allah ... Masya Allah, Tabarakallah.." Maura langsung menerjang tubuh suaminya yang sudah duduk melantai dibelakang dirinya. Melingkarkan kedua tangannya dileher Gifali. Wanita itu menangis sejadi-jadinya.
"Kamu pulang sayang." serunya histeris. Air bening itu terus mengucur membasahi kemeja dibagian dada Gifali.
"Iya permaisuri hatiku. Aku di sini, Ra." suara yang amat meneduhkan kembali terdengar.
Gifali kembali meneteskan air matanya karena haru. Lega dadanya, senang jiwanya bisa kembali mendekap kekasih hati tanpa jarak, waktu dan tempat.
Wajah Maura dihujani berbagai kecupan dari bibir suaminya. Gifali mencium Maura tanpa jeda sama sekali. Semua bagian habis ia kecup tanpa ampun.
Rasa rindu begitu berkobar, selama menikah tidak pernah sekalipun mereka berpisah walau hanya dalam hitungan seminggu seperti saat ini.
Maura dan Gifali akan selalu berbagi tempat tidur dalam pelukan hangat dibalik selimut tebal yang mereka miliki.
"Aku kangen kamu, sayang." lirih Gifali. Setelah perpagutan bibir mereka terlepas.
"Kamu ngomong apa, Gifa? Maaf, aku tidak mendengar. Sepertinya alat pendengar nya jatuh." ucap Maura sambil memperbaiki letak kaca matanya di tungkai hidung. Ia meraba-raba ke bawah dengan telapak tangannya, Dan lebih dulu Gifali yang menemukannya.
"Lepas dulu mukenamu, Ra." titah Gifali. Dan Maura hanya diam. "Oh, iya aku lupa. Kamu enggak dengar."
Gifali meletakan alat pendengar itu kembali di atas lantai. Lalu membantu istrinya untuk melepas mukena. Maura hanya terdiam pasrah, ia menurut saja apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
"Sudah bisa dengar?" tanya Gifali.
Maura mengangguk dan tersenyum. "Tadi kamu bicara apa sayang?"
"Aku rindu kamu." Gifa mengulangi.
"Aku juga sayang, aku lebih rindu."
"Kenapa jam segini baru sampai? Bukannya pukul 03:00?" tanya Maura dengan tatapan menelisik.
"Tadi aku berbincang dulu dengan Papa dan Mamamu di ruang tamu. Dan mengantar Mamaku untuk beristirahat sementara di kamar tamu." jawab Gifali.
Napas kelegaan mencuat dari wajah Maura. Rasa takut dan gugupnya memang sudah menghilang sejak menatap suaminya pertama kali.
"Syukurlah sayang. Aku sudah cemas, dari semalam aku tidak bisa tidur. Aku menunggumu."
"Aku tau itu, pasti kamu tidak akan bisa tidur." timpal Gifali dengan kekekan kecil, dan Maura pun tertawa.
Gifali memandang wajah istrinya lamat-lamat. Mengusap pipi Maura yang putih dan mulus tanpa noda. Lalu terjerembab turun ke permukaan leher jenjang sang istri.
Menurunkan kepalanya di sana, mengendus aroma blossom yang masih menempel, mengecup dan melumatt nya, memberikan gigitan-gigitan kecil di sana.
Maura memejamkan kedua mata dari balik kaca matanya. Ia hanya diam, begitu menyambut sentuhan dan belaian rindu dari suaminya.
Telapak tangan kanan Gifali dipergunakan untuk mengusap-usap lembut punggung Maura dengan gerakan naik turun. Lalu jari-jari di tangan kirinya, dipergunakan untuk meremas salah satu bongkahan permata milik Maura.
"Eumm ..." desahan Maura lolos begitu saja. mendengar desahan itu, membuat Gifali tersenyum kecil walau matanya masih saja terpejam di ceruk leher sang istri.
Jari tangan Gifali semakin nakal. Dengan kecepatan Wakabayasi yang sedang menangkap bola dipermainan kapten Tsubasa, perpaduan jari telunjuk dan jempol itu sudah berhasil meloloskan dua kancing piyama tidur Maura. Maura sedikit mengedik bahu.
Luar biasa sekali, suaminya. Hasratnya begitu membara.
Lalu.
Krek.
Pintu kamar terbentang lebar.
"Hemm ..." terdengar deheman nyaring dengan nada suara bariton Papa Bilmar.
Sontak kemunculan pria paru bayah itu Membuat mereka terperanjat malu. Dengan secepat kilat Gifali menarik kepalanya dan kembali duduk dalam posisi normal. Ia mengkancingkan kembali piyama Istrinya yang baru saja setengah jalan ia buka.
Mereka begitu tergagap ketika dipergoki. Seperti kucing yang tengah ketahuan menggondol ikan tongkol dari meja makan.
"Lukamu belum sembuh, Gifa. Tunggulah beberapa hari lagi!" decak Papa Bilmar sambil menggelengkan kepalanya samar. "Anak muda, tidak bisa tahan, ck." gumamnya.
"Ayo mandi sana, kita shalat jamaah subuh di mushola. Kamu yang jadi Imamnya." titah Papa Bilmar.
Mereka berdua mengangguk dengan wajah memerah seperti tomat karena menahan semburat malu. Setelah Papa Bilmar menjauh, Gifa dan Maura hanya bisa terkekeh geli. Baru kali ini mereka kepergok ketika ingin merasakan kenikmatan surga dunia.
"Aku masih rindu kamu, Ra."
"Aku juga, sayang."
Dan mereka kembali berpelukan, dibawah Adzan Subuh yang tengah berkumandang. Tentram sekali rasanya, begitu damai, begitu lepas seperti gulungan kapas yang tengah menari-nari di udara.
Sungguh indah sekali, pertemuan kembali antara Maura dan Gifali❤️
*****
Bonus untuk kalian, like dan komennya jangan kelewat gengss. Demi kalian, tiga episode untuk hari ini.
Enggak tau kenapa, dibeberapa part yang pernah aku bikin. Ini yang menurutku romantis, saling bersautan dalam surah Al-Quran.
Semoga para pembaca bisa juga seperti ini dengan para pasangan halal ya. Buat yang jomblo, semoga di segerakan jodohnya ya ... Amiin❤️❤️🤗