My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Eks Part Ten



Krek.


Geisha berjinjit sedikit untuk menekan handle pintu kamar. Bocah perempuan itu melangkah dari dalam kamar dengan tangan mengucek kedua mata. Rambut panjangnya terlihat sedikit acak-acakan. Mulutnya tidak berhenti menguap. Geisha baru saja bangun tidur, padahal waktu saat ini sudah menunjukan pukul 09:00 pagi.


"Wah cucu cantiknya Kakek udah bangun nih." sapa Papa Bilmar. Ia melambaikan tangan agar Geisha mendekat ke arahnya. Maura dan Mama Alika menoleh ke belakang. Melihat Geisha datang masih berbalut piyama tidur karikatur elsa.


Geisha menurut. Ia menghampiri Kakeknya, tubuhnya di raih lalu di dudukan di pangkuan.


Geisha memeluk perut Papa Bilmar, lelaki itu mengecup-ngecup pusaran rambut cucunya dan mengelus-elus punggung Geisha.


Geisha masih bergeliat seperti ulat bulu, menempel lekat. "Mandi yuk, Nak." ajak Bundanya.


"Ayah, Kakak, Adek, Om ... mana?" anak itu malah berbalik tanya, Geisha mengabsen. Karena rumah agak sepi dan tenang.


"Main sepeda. Bentar lagi juga pulang." jawab Bunda.


Geisha mencebik. "Kok aku ndak di ajak, cih."


"Kamu tadi belum bangun."


"Kenapa aku ndak di bangunin ..." oh, cerdasnya anak ini.


"Udah, tapi kamu nya gak bangun-bangun. Mandi yuk." Maura beranjak berdiri. Ia menghentikan perbincangan yang ujung-ujungnya akan membuat Geisha gaduh.


Geisha menghalau, melambaikan telapak tangan kode tidak mau.


Kan ... baru aja ditebak.


"Mau nya main cepeda juga. Mau susul Ayah ..." perlahan wajah putihnya berubah menjadi merah jambu.


Lalu.


Air matanya tumpah.


Geisha menangis, memeluk Kakeknya.


"Mauuu ... Ayahhhhhhhhh!" tangisannya semakin kencang dengan teriakan yang kembali memekikkan telinga.


Maura mendesah napas berat. Ia kembali duduk dan membiarkan Geisha menangis.


"Kok nangis, Nak. Sini, sama nenek ya. Kita mandi." ucap Mama Alika. Mencoba beranjak, namun di halau sang anak. Maura menggelengkan kepala.


"Biarin aja, Mah. Geisha emang suka rewel kalau pagi-pagi."


"Tapi nangisnya kencang, Kak. Takutnya muntah."


"Biarin aja, Mah. Udah biasa dia kayak gitu, salah sendiri kenapa susah dibangunin." Maura sama sekali tidak mau menenangkan sang anak.


"Ya Allah, masa, Kak?" sang Mama melongo tidak percaya.


Melihat Bundanya cuek saja, Geisha semakin menangis. Ia menatap Papa Bilmar sambil menunjuk ke arah Bundanya, seperti meminta pembelaan.


"Ya udah sama Kakek aja ya, kita susul Ayahmu."


"Enggak, Pah." Maura melarang.


Melihat Bundanya seperti itu, membuat Geisha kesal, ia beranjak turun dari pangkuan Kakeknya dan mendekati Bundanya. Memukul pelan lengan Maura. Maura hanya diam, menatap lurus kedepan. Tidak menggubris anaknya yang menangis dan meronta.


"Eh--eh, kok gitu, sayang." Mama Alika tetap bangkit. Ia memutar meja untuk menghampiri Geisha. Namun anak perempuan itu memilih untuk tiduran di atas lantai sambil menghentak-hentakan kaki dan menangis semakin kencang menatap lurus ke langit-langit atap yang berukir gypsum emas.


"AYAHHHHHHHHHH!!!" serunya kencang. Si Khumairah kesayangan Gifali, terus saja bersikap tantrum.


Mama Alika dan Papa Bilmar membangunkan Geisha, ingin di gendong. Tapi anak itu malah berguling-guling. Terus menangis mencari perhatian bundanya.


Papa menoleh ke belakang. "Anak begini kok kamu diemin aja?"


"Biarin aja, Pah. Kata psikolog nya, kalau Geisha lagi tantrum di diam 'kan aja. Kalau kita elus-elus, semakin membuat dia menjadi-jadi."


Mama dan Papa menyerengitkan dahi, saling melemparkan pandangan tidak mengerti.


"Sifat Geisha lain dari saudara kembarnya. Agak jelek, Pah. Kalau marah dan ingin sesuatu suka kayak gitu. Apalagi kalau keinginannya gak diturutin. Teriak-teriak, jambak rambut, kadang sampai banting-banting barang. Tapi nanti kalau udah enakan, dia akan biasa lagi. Makanya kita diamkan aja, kalau di turutin. Besok akan merengek kayak gitu lagi."


Sifat Geisha yang seperti ini memang sudah Gifali dan Maura konsultasikan kepada psikolog anak di London, sedari mulai Geisha berumur tiga tahun. Anak itu akan menjerit-jerit tidak suka, memukul atau berguling-guling di atas lantai untuk mendapat perhatian, dan mendapatkan apa yang ia inginkan.


Pernah, anak itu tiduran di lantai area wisata karena Maura tidak mengiyakan kemauannya untuk naik kereta-keretaan, padahal anak itu sudah menaiki wahana sebanyak delapan kali.


Maura sungguh malu sekali.


"Ya Allah, kasian dong Geisha." ucap Papa Bilmar lirih.


Mama Alika mengusap-usap dada sang anak. "Mandi ya? Mau, Nak?"


"NDAK!" dilembutkan, malah berteriak kencang.


"AYAHHHHH!!" Geisha kembali berteriak.


"Mah, Pah. Udah tinggalin aja. Kalau dideketin kayak gitu, malah makin lama tantrum nya."


"Tapi kasian, Kak. Mama enggak tega. Mana kayak mau muntah lagi." ucap Mama.


"Udah biarin, Mah. Tinggalin aja, abis ditinggal bentar lagi juga diam." titah Maura.


Mau bagaimana lagi, tega tidak tega, mau tidak mau, demi kebaikan sang cucu. Papa Bilmar dan Mama Alika bangkit dan kembali duduk. Hanya bisa menatap Geisha yang masih meronta-ronta. Sekarang posisi anak itu sudah tengkurap dan merentangkan kedua tangan.


Maura tidak memarahi. Ia hanya diam, menunggu anaknya mereda dalam emosi.


Satu.


Dua.


Tiga.


Empat.


Maura seraya menghitung. Dan benar saja, tangisan Geisha berhenti. Anak itu terdiam sebentar menatap ke arah dinding. Lalu bangkit untuk duduk dengan kaki menyila. Menatap Bunda, Nenek dan Kakeknya yang berbalik menatapnya dari meja makan.


"Udah? Udah selesai nangisnya?" tanya Maura. Dengan wajah yang masih basah, karena sisa-sisa air mata. Bocah perempuan itu mengangguk.


"Masih mau ketemu Ayah?"


Geisha menggeleng. Ia mulai sadar, kalau tidak akan bisa menyusul Ayahnya.


Maura beranjak dari kursi dan menghampiri anaknya. Menggendongnya sambil menarik napas, karena tubuh Geisha montok dan beban berat karena membawa Ginka dan Ghea yang belum juga launching. Maura Mengecup pipi sang anak dan menyeka kebasahan di wajahnya.


"Mandi ya?" Maura sudah mengubah nadanya menjadi lembut.


"Iya." Geisha mengangguk dan merebahkan kepalanya di ceruk leher Maura.


Maka Alika dan Papa Bilmar kembali terpelongo. Mereka kagum kepada Maura, karena bisa mengerti keadaan anak, menghadapi keras kepalanya anak tanpa menghardik kasar, bermain tangan atau berteriak. Anak yang tantrum, memang kuncinya harus di diamkan dulu, sampai merasa lega dan puas. Setelah itu baru kita raih kembali dan berikan pelukan hangat.


Maura berlalu membawa Geisha untuk melangkah ke kamar mandi. Namun baru berjalan beberapa langkah, Maura mengaduh. Perutnya terasa melilit.


"Pah ... Mah." serunya.


Buru-buru Papa Bilmar memegangi tubuh anak dan cucunya yang seperti ingin limbung.


"Ya Allah, air ketubannya udah pecah." ucap Mama Alika menatap ke bawah.


"Eughh ..." Maura mendesah berat. Mengigit bibir bawahnya sampai memejam mata, karena rasa mulas begitu menyakitkan.


"Mah." Maura mencengkram tangan Mamanya untuk meminta kekuatan.


Papa Bilmar menurunkan Geisha. Lalu menggendong Maura untuk dibawa langsung menuju mobil.


"Telepon Gifali, Mah!"


****


Mau launching gengss🌺