My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
MSW 2 : Cantik Banget.



Sesuai janji Ammar kepada triple G. Selesai sarapan, dirinya memboyong mereka untuk pergi ke Rumah Sakit. Seperti biasa Geisha akan lebih sulit untuk dibangunkan. Dan betul saja, hanya dirinya yang tidak mandi sekarang. Padahal Bisma dan Pradipta sudah rapih dan wangi, bersiap untuk pergi menjenguk Bundanya.


Ammar sampai harus bolos sekolah, karena ingin mengantarkan Triple G. Dan dia juga senang, karena setelah melihat story wa Gana bahwa wanita itu sedang di sana. Ia mampir sebelum berangkat kuliah. Demi bertemu kekasih hati, Ammar sampai mengebut di jalan.


"Nanti kalau Bunda sama Ayah tanya, mau bobok dimana malam ini. Kalian jawabnya mau bobok di rumah Nenek Difa ya." titah Ammar. Selama di lorong Rumah Sakit, Ammar terus mendoktrin Triple G dengan titahan nya.


"Nanni, Om ikut, ndak?" tanya Geisha. Ia mendongak ke atas menatap Ammar.


"Ya pastinya dong sayang." jawabnya berbinar.


"Kakak sama Adek juga nanti bilang kayak gitu ya." pinta Ammar kepada Bisma dan Dipta.


"Ya, Om." jawab mereka kompak. Ammar semakin senyum bahagia. Akhirnya bisa melepas rasa rindu untuk menatap Gana dirumah.


"Om, mana cih kamalnya. Kok udah jawuh-jawuh jalan, belum campai jugak." ucap Geisha. Bocah perempuan berambut hitam dan panjang itu, sepertinya sudah mulai letih berjalan. Walau ia belum mandi dan masih memakai piyama Elsa, Geisha banyak dilirik dan diperhatikan oleh orang-orang yang melewatinya.


Bahkan tadi ia sempat mengomel, ketika ada pengunjung nakal yang tiba-tiba mencubit pipinya karena gemas, ketika sedang beradu jalan.


"Om, halusnya tadi aku mandi dulu ya." anak itu sadar. Kalau dirinya pasti akan di marahi Ayah dan Bundanya karna tidak mau mandi pagi-pagi.


"Bialin aja nanti kamu pasti diomelin cama Bunda." selak Bisma. Geisha membulatkan matanya dengan wajah takut.


"Iya nanti di cubit." sambung Dipta.


Geisha menoleh ke belakang memandang kedua saudara kembarnya dengan juluran lidah, bocah perempuan itu meledek. "Nanti tan aku bica di mandiin cama Ayah, ya 'kan, Om?" Geisha mendongak lagi ke atas.


Ammar tersenyum dan mengangguk. Ia terus menggandeng anak itu, untuk menyusuri lorong.


***


Krek.


Pintu kamar perawatan di buka. Triple G langsung berlari menuju pembaringan


Bundanya, dimana sang Ayah juga duduk dibibir ranjang. Tapi sebelum langkah mereka sampai, tiba-tiba langkah mereka terhenti begitu saja dipertengahan kamar, ketika melihat Maura sedang bersandar di punggung ranjang dengan kedua bayi di kedua sisinya.


"Masya Allah, anak-anak Ayah dan Bunda sudah datang." seru Gifali. Ia beranjak bangkit dari tepi ranjang dan menghampiri triple G.


Wajah melongo mereka tergantikan dengan seruan yang sedang memecah kerinduan.


"Ayah ..." teriak mereka bahagia. Didekapnya lagi lelaki yang mereka cintai. Lelaki yang sudah dua hari ini mereka rindukan jika malam hari untuk sekedar menimang ketika ingin tidur. Triple G memeluk Gifali kuat-kuat. Gifa mencium satu-satu kepala anak-anaknya.


Maura tersenyum bahagia melihat kemesraan ketiga anak dan suaminya.


"Emm ... masih bau asem nih, Geisha belum mandi ya?"


"Mau dimandiin cama Ayah." bisik nya. Ia takut di marahi, maka buru-buru menyanggah.


Oh, pintar sekali Geisha.


"Bohong tuh. Dia nya aja yang enggak mau mandi. Pas dipaksa mandi, malah nangis, katanya masih dingin." selak Ammar, sambil menutup pintu lalu melangkah menuju Gifali. mencium tangan lelaki itu lalu beralih ke arah Maura. Ia mencium punggung tangan Kakaknya dan mencium keningnya. "Anak-anak udah sehat, Kak?"


"Sudah Ammar." jawab Maura senang. "Anak-anak bagaimana semalam?"


Ammar menggelengkan kepala dengan kedua bola mata berpendar kesana kemari seraya mencari seseorang tapi tidak kunjung ia temukan. Sial, ternyata Gana sudah pulang. Ingin bertanya, tapi enggan. Tidak enak hati kepada Kakak Iparnya.


"Geisha tidur bersama Eldy dan Kak Gadis. Sedangkan aku tidur bersama Bisma dan Dipta. Tengah malam mereka bangun, meminta makanan. Dan pagi-paginya, Dipta udah eek lagi di celana." Ammar mengusap wajahnya frustasi. "Kurang tidur nih, mana jadi bolos sekolah lagi." imbuhnya kemudian.


"Makasih ya, Om. Udah jagain kita." Maura mewakilkan suara ketiga anaknya. Refleks Triple G mengikuti.


"Makacih ya, Om. Udah mau jagain kita."


Ammar hanya bisa menyeringai lucu sambil menundukkan kepala untuk menciumi Ginka yang posisinya sangat berdekatan dengannya.


Begitupun dengan Maura yang melambaikan tangan dengan senyuman ke arah mereka.


"Ayo sini, Nak. Lihat Adek." titah Maura.


Wajah wanita itu sudah bersinar lagi. Pasalnya sehabis adzan subuh. Ghea dan Ginka sudah boleh disatukan lagi oleh Bundanya. Sempat mengalami sesak kemarin siang, nyatanya perkembangan untuk sembuh kian kentara, two G tidak sesak lagi. Setelah di observasi selama sepuluh jam, akhirnya mereka dibolehkan keluar dari inkubator dan bisa dipeluk oleh Maura.


Hanya Bisma dan Pradipta yang melangkah menghampiri sedangkan Geisha masih memeluk Ayahnya. Menumpahkan kerinduan.


"Duh tantik banet, dedeknya." ucap Bisma. Ia lebih dulu di gendong Ammar agar bisa mencium dan mengelus Ginka dan Ghea. Dan Maura menyambut anak lelaki itu dengan pelukan dan ciuman. "Kangen, Bunda sama kamu, Nak." ucap Maura.


Rasa bersalah terlihat jelas, ketika masalah dengan two G. Membuat ia jauh dan sedikit melupakan triple G.


"Aku dong, gantian. Aku tuga mau liat." Dipta menarik-narik tepi kaos bagian bawah milik Om nya. Berjinjit-jinjit ingin melihat langsung kedua adiknya.


Ammar menurunkan Bisma lalu bergantian menggendong Pradipta. Dan benar saja, anak lelaki ini lebih heboh.


"Aduhh tantiknya, lebih tantik dari Kakak. Hihihi." benar-benar kelakuan Dipta, jika sehari saja tidak meledek. Hidupnya seperti hampa.


"Bunda, Adek kangen ..." serunya memeluk Maura. Maura memeluk anak lelaki itu dengan hujaman kecupan diwajahnya. "Bunda juga, Nak."


Sontak mendengar ucapan Pradipta. Geisha langsung menarik pelukannya dari sang Ayah. Lalu melirik sekilas ke belakang pundak Gifali. Menatap pembaringan bundanya. Ia menilik semua orang tengah berbahagia dengan bayi yang dikatakan lebih cantik darinya.


Geisha terlihat tidak suka. Ia sedikit mencebikkan bibirnya. Rasa cemburunya datang. Geisha menunjuk ke arah kedua bayi itu sambil memajukan bibir bawahnya kepada sang Ayah. Tahu jika anaknya akan menangis. Buru-buru Gifa menggendong si Khumairah. Karena saat ini wajahnya sudah memerah seperti tomat menahan kesal dan cemburu.


"Huwaaaaaa ...." dan akhirnya anak itu menangis.


"Sayang, Nak. Kenapa nangis. Sini sama Bunda." Maura menjulurkan tangan seraya ingin meraih anak itu namun Geisha menggelengkan kepala. Ia tetap memeluk Ayahnya. Memunggungi Maura.


"Ya Allah, nangis lagi. Bentar-bentar nangis. Habis itu guling-gulingan di lantai. Sumpah deh, nih congek kayak mau keluar dari telinga. Pengang banget!" dengkus Ammar dengan wajah mulai bete.


"Haha ... tongek. Itu apa, Om?" seru Dipta yang masih dalam gendongannya.


Maura mendelik ke arah Ammar. Ammar langsung meringis segan. "Itu loh dek makanan." jawab Ammar santai.


"Aku mau dong, Om. Tongek." Bisma ikut-ikutan.


Maura mencubit tangan Ammar. "Kalau ngomong yang bener!" sungutnya.


Geisha mengehentikan tangis. Lalu menoleh ke arah Omnya dengan wajah yang masih basah.


"Aku tuga mau tongek, Om. Pakein cucu." ucap Geisha polos.


Maura dan Gifali hanya bisa menghela napas panjang. Benar-benar Ammar, membawa pengaruh besar untuk Triple G. Sudah dipastikan anak-anak itu akan terus mengulang-ulang kata congek. Haha.


****


Si gemes ... Ayo ini siapa?