
[Oke deh. Cepat sehat lagi untuk Maura ya, Gif]
Gifali masih membaca balasan pesan masuk dari Adrian. Ia ingin memberitahukan bahwa dua hari ini ia tidak akan ke kampus. Beralasan kalau Maura sedang sakit dan tidak ada yang menjaganya di kostan. Begitupun Maura juga sudah mengabari Ramona, menitipkan pesan bahwa ia tidak masuk karena sakit.
Sesungguhnya mereka tidak masuk ke kampus, bukan hanya hal itu saja. Tetapi karena ingin menjamu kedatangan orang tua mereka yang sudah sangat mereka rindukan.
"Gimana sayang, Kak Adrian bales?" tanya Maura ketika melihat Gifa memasukan lagi gawai nya ke dalam saku celana.
"Iya, Ra. Katanya semoga kamu cepat sembuh."
"Terimakasih banyak." jawab Maura. Ia kembali merebahkan kepalanya di bahu sang suami. Meraih telapak tangan Gifali untuk diletakan di atas perutnya.
"Elus-elus." titah Maura.
Gifali tersenyum, dan akhirnya menuruti kemauan sang istri. Pukul delapan pagi Maura dan Gifa sudah berada didepan apotik Rumah Sakit untuk menunggu obat-obatan yang baru saja di resepkan oleh Dokter Kandungan. Mereka menjadi pasien pertama, sudah datang sejak pagi-pagi sekali. Maura dan Gifali sudah tidak sabar untuk mengetahui bagaimana keadaan bayi mereka.
Air mata kebahagiaan pertama kali mereka teteskan ketika mendengar detak jantung si bayi. Gifali tidak menyangka, sebentar lagi ia memang benar-benar akan menjadi seorang Ayah. Walau kehadirannya sesekali mengusik jiwa Gifali yang merasa takut untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi kedepannya.
Namun melihat Maura yang sudah berubah semenjak semalam, membuat ia semangat kembali. Wanita itu bilang, akan semampunya menjaga anak mereka selama berada didalam kandungan.
"Ra ..." panggil Gifa. Walau tangannya sudah pegal karena terus mengelus-elus perut istrinya. Tapi tetap saja ia lakukan sampai dimana istrinya sendiri yang meminta untuk berhenti.
"Hem?" jawab Maura dengan deheman, ia mendongak sedikit dan hanya bisa menatap leher suaminya.
"Pesawat yang ditumpangi orang tua kita sudah terbang dua jam yang lalu. Mungkin akan sampai jam dua malam di sini, aku sedang bingung bagaimana menjamu mereka di tempat tinggal kita yang sempit itu."
Maura terdiam sejenak. Mengapa tidak ia fikirkan dulu sebelum mengabari semua keluarga mereka, dan meminta mereka semua untuk datang. Pagi-pagi buta Mama Alika menghubungi Mama Difa, menawarkan apakah ingin ke London bersama, dan akhirnya Mama Difa pun menyetujuinya, walau saat itu Papa Galih harus berangkat ke Medan karena ada urusan pekerjaan. Namun keberangkatan itu dibatalkan, karena ia lebih memilih bertemu dengan Gifali yang tengah berbahagia.
"Aku nggak bisa ngebayangin gimana tanggapan Mama dan Papaku serta Mama dan Papa kamu, Ra. Terlebih lagi dengan respon Papa kamu nanti---"
Tentu saja, apa yang di khawatirkan oleh Gifali sangat mendasar. Mereka adalah anak yang dibesarkan dari segala kemewahan. Hidup dengan bergelimang harta tanpa kesusahan sama sekali.
Lalu sekarang mereka mengubah gaya hidup sesederhana mungkin di London, sudah pasti orang tua mereka akan miris melihatnya, dan mungkin saja Papa Bilmar akan membawa Maura untuk kembali ke Jakarta.
Tdak ada di dunia ini orang tua yang mau melihat hidup anaknya susah apalagi Maura tengah mengandung. Belum lagi kecemasan, kalau sewaktu-waktu rahasia Maura yang sudah menikah akan terbongkar dan ia pasti akan langsung di keluarkan dari sekolah. Gifali pun sama, ia juga dalam keadaan yang tidak aman sekarang.
"Kan memang mau kita untuk hidup mandiri. Dengan melihat kita bisa hidup saja tanpa bantuan mereka, Mama dan Papa pasti akan senang, Gifa! Sudahlah, jangan berfikir macam-macam!"
Seketika Gifali menjadi insecure terhadap dirinya sendiri. Ia merasa malu membawa sang istri untuk hidup dalam rumah tangga yang sangat seadanya. Entah apa reaksi kedua orang tua mereka jika tahu, kalau selama ini Gifali bekerja sebagai penyanyi malam di Kafe dan Maura bekerja di restoran hotel.
****
Waktu sudah menunjukan pukul 02:00 dini hari. Gifali dan Maura sudah tiba di Bandara untuk menjemput kedatangan orang tua mereka. Mereka sampai disana dengan ontime. Maura memakai kerudung rumahan dan jaket tebal milik suaminya.
Wanita hamil itu tidak sengaja tertidur dipangkuan Gifa. Sesekali lelaki yang akan menjadi ayah itu memejam kedua matanya, karena sangat mengantuk. Hembusan angin malam di koridor Bandara sangat mengusik mata mereka untuk terpejam.
Mereka memilih duduk di kursi yang bisa ditatap bebas dari pintu masuk penumpang yang baru saja sampai dari Indonesia.
"Ya Allah kasihan sekali anak kita sampai tertidur seperti itu." ucap Mama Alika, wanita itu menunjuk ke arah pasangan muda yang sedang tertidur di bangku tunggu.
"Ya Allah, Mba. Aku senang banget bisa ngelihat mereka lagi." sambung Mama Difa.
Kedua Para Papa yang sebentar lagi akan menjadi Kakek pun ikut senang. Garis senyum begitu saja melebar, mereka bahagia menemukan anak-anak mereka dalam keadaan baik dan sehat.
"Assalammualaikum, Nak." ucap Mama Alika dan Mama Difa bersamaan. Kini mereka sudah duduk di sebelah anak mereka masing-masing yang masih tertidur.
"Kakak bangun, Nak." Papa Bilmar setengah berjongkok untuk mengusap wajah Maura.
Mendapatkan sentuhan dan samar-samar mendengar suara orang-orang yang mereka rindukan. Membuat Maura dan Gifali mengerjap kedua mata mereka secara sempurna.
Mereka berdua pun terkesiap, sedikit kaget, lalu sedikit berseru histeris. Maura bangkit dari pangkuan suaminya untuk menerjang tubuh Mama dan Papanya. Maura menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan rasa rindu.
Begitu pun Gifali. Ia mendekap lama kedua orang tuanya. Menangis terisak. Seperti tengah mengeluarkan beban yang sudah dua bulan ini ia pikul.
"Mah ... Pah." desah Gifali.
Terlihat dua pangkal bahunya mengguncang hebat. Begitu terisak sampai lidah pun tercekat. Mama dan Papa pun menangis, memeluk anak lelaki mereka yang sudah dua bulan ini meninggalkan kamarnya dirumah. Hanya bertatap lewat video call dan bertukar suara di sambungan telepon.
"Mama ... Papa." kesedihan pun dirasakan oleh Maura.
Ia mendekap kedua orang tuanya dalam tangisan haru. Papa Bilmar menangkup wajah putrinya, dan memberikan berbagai kecupan diwajah Maura. Dipeluk putrinya dengan erat, leleran air mata pun turun membasahi permukaan pipi lelaki paru bayah itu.
Lalu
Maura terdiam lama, sambil menyeka air matanya ia hening sesaat. Menatap sang Mama dari kepala sampai kaki. Seperti ada yang berubah dan memang sudah berubah. Mama Alika hanya tersenyum dalam linangan air matanya, ia mengusap lembut pipi putrinya.
"Mama berhijab sekarang?" tanya Maura dengan wajah berbinar.
Ia begitu tercengang tidak percaya, melihat wanita yang ia cintai sedang dibalut dengan pakaian syar'i. Gamis dan kerudung panjang modern melindungi auratnya. Mama Alika lupa untuk memberitahu Maura, kalau ia sudah merubah penampilan sejak putrinya meninggalkan Indonesia.
"Cantikan Mama?" sahut Papa Bilmar.
"Cantik banget!" jawab Maura.
Ia kembali berhambur ke pelukan sang Mama. Menerjang wanita itu kembali dengan sisa-sisa rindu dan takjub akan perubahan diri Mamanya.
Gifali melepas dirinya dari dekapan Mama Difa dan Papa Galih. Menatap legam wajah sang Mama. Jika tadi Maura yang merasa bahagia menatap Mama Alika dengan perubahannya. Kini pun sama, Gifali mengelus lembut pipi sang Mama. Mengelus Hijab yang tengah dipakai oleh wanita itu.
Mama Difa pun tersenyum dengan sisa-sisa kebasahan air mata yang masih membasahi wajajnya.
"Akhirnya Mama pakai hijab." ucap Gifali. Ia pun mengecup kening Mamanya untuk menumpahkan rasa syukur, bahagia dan takjub.
"Kakak senang lihatnya, Mah." ucapnya lagi.
"Untuk Papamu dan juga Kakak." jawab Mama. Gifali mengangguk dan menoleh untuk menatap kembali wajah Papa Galih yang sudah terlihat sembab.
"Makasih ya, Pah. Udah jagain Mama selama Kakak di sini." Gifali pun mengecup kening Papanya. Menumpahkan segala doa untuk keselamatan lelaki yang sudah menjadi pahlawan dalam hidupnya selama ini.
"Sama-sama, Nak. Sudah kewajiban Papa." jawab Papa.
Maura dan Gifali pun beringsut untuk bertukar posisi, menghampiri dan memeluk Papa dan Mama mertua mereka yang rasanya seperti orang tua kandung, melakukan hal yang sama untuk melepas kerinduan. Tangis haru pun pecah kembali.
*****
Sedih ah, nangis aku tuh kalau udah nyangkut-nyangkut orang tua kaya gini. Bagi yang punya orang tua jauh atau sudah tidak tinggal dengan mereka, jangan lupa untuk pulang dan menjenguk ya.
Tiga episode di hari ini ya gengss
Besok mau berapa episode?🤭
Kalau komennya banyak lagi akan aku kasih dobel up. Komenin jalan ceritanya ya, kasih masukan dan ide2 juga boleh❣️
Perjalanan Pramudya ke Indonesia dan pertemuannya dengan Om Malik akan aku mulai, siapin hati kalian ya🤗