My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Apakah Kamu Menghianatiku?



Maura terpaku ketika melihat dua orang yang cukup ia kenal dengan satu lelaki yang masih ia pertanyakan keberadaannya ditengah-tengah mereka.


"Siapa dia?"


Mendesah halus dengan sesak napas yang kembali timbul. Memilih menutup kembali tirai dengan pelan tanpa suara. Dadanya terlihat kembang kempis, kedua matanya menatap lurus hordeng yang ada didepannya.


"Astagfirullahaladzim." Maura meremas kain berlapis di dadanya. Rasa yang baru ia rasakan lebih menyakitkan dari rasa keram di perutnya.


"Say--"


"Sst!" Maura langsung beringsut untuk menarik suaminya yang baru saja masuk kedalam ruang berhodeng yang sekarang ia tempati.


Bola mata Gifali membeliak, ketika mulutnya di bekap oleh Maura. Ingin berdecak namun hanya tertahan ditelapak tangan istrinya.


Tak lama kemudian suara brangkar disebelah terdengar di dorong. Derap sepatu mereka semua begitu nyaring meninggalkan ruang emergency. Samar-samar Perawat tadi berucap akan memindahkan si pasien ke kamar perawatan.


Setelah dirasa bayangan mereka sudah pergi, barulah Maura menurunkan telapak tangannya dari bibir Gifali.


"Hhh ..." napanya mendesah berat. Sedikit menundukan tatapan dan kembali mengingat apa yang baru saja ia dengar dengan jelas.


"Agnes hamil?" gumam Maura. "Dan kenapa ada Ramona di sisinya? Lalu siapa lelaki itu? Mengapa Ramona memukul-mukul dada lelaki itu? Ya Allah ..." Maura membatin. Ia masih terngiang-ngiang teriakan Ramona kepada Razik. Tanpa ia tahu, Razik adalah Kakak tiri Ramona.


Gifali mengangkat dagu Maura, agar istrinya mendongak. Ia tatap wajah pucat itu dengan selang oksigen yang masih bertengger di lubang hidung Maura.


"Kenapa sayang?"


Maura tidak menjawab tapi langsung berhambur untuk mengalungkan kedua tangan di leher suaminya. "Aku ingin pulang."


Di usap lembut lengan Maura. "Iya, sebentar lagi ya. Sampai sesak di dada mu menghilang."


"Apa hubungan Ramona dengan lelaki itu? Mengapa Ramona menyembunyikan hal ini dari ku? Ada apa Ramona dengan Agnes?" Maura terus memeras batinnya dengan hal yang sejak tadi masih terngiang-ngiang.


Walaupun kenyataanya, Ramona masih tertohok hebat dengan keadaan Agnes sekarang. Ramona tidak sengaja datang ke Apartemen Razik untuk membawakan makanan dari sang Mama. Namun setelah sampai di Apartemen, ia tercengang melihat Agnes tengah pingsan dan Razik berusaha untuk melarikan Agnes ke Rumah Sakit.


"Lagi mikirin apa kamu, Ra? Tuh kan, dadanya sesak lagi." ucap Gifali dengan suara memelas. Rasa khawatirnya kembali membuncah. Kembali ia lihat dada Maura muncul lagi dengan gerakan naik turun.


"Udah enakan sayang, beneran." jawab Maura dengan senyum yang dipaksakan.


"Kamu tuh makan apa di kampus? Dokter bilang kamu kena Gerd. Asam lambung naik jadinya menekan paru-paru, dan akhirnya jadi sesak napas." tukas Gifali.


Maura tersenyum ringis. "Maafin aku ya sayang, aku makan bakso kayaknya cuka sama sambelnya ke banyakan." memang di kampus ada penjual bakso khas Indonesia. Sepertinya Maura rindu dengan makanan tersebut.


Gifali menghela napas. Mau marah juga percuma, namanya Ibu hamil kadang kemauannya susah untuk ditebak.


"Pulang yuk sayang." Maura tetap meronta. "Napasku sudah enakan. Perut juga sudah tidak sakit." pinta Maura.


"Tunggu sampai cairan di sana habis dulu ya." Gifali menunjuk ke arah cairan elektrolit yang masih menggantung di tiang infusan. Terlihat di sana isinya masih penuh.


"Tiduran lagi ya." Gifali kembali membaringkan tubuh Maura. Menutupi tubuh itu dengan selimut. Ia turun dari ranjang untuk duduk di kursi. Menangkup kan wajahnya di bibir ranjang sambil mengusap-usap perut Maura.


Bagaimana bisa wanita itu hamil diluar nikah. Belum lagi Maura akan tercengang jika mengetahui Agnes adalah seorang pecandu narkobaa.


"Dan ada apa dengan kamu Ramona? Apakah selama ini kamu menghianatiku?"


Tentu yang Maura permasalahkan sekarang bukan hanya tentang kehamilan Agnes, tapi juga tentang Ramona. Orang yang paling ia percaya.


****


"Aku akan menikahinya, kamu gak perlu takut, Mon." tukas Razik, ia masih duduk di bibir ranjang, mengusap lembut rambut Agnes, wanita yang baru saja diketahui sedang mengandung anaknya. Agnes masih terlelap karena pengaruh obat.


Ramona menghempaskan tubuhnya dengan kasar di kursi samping ranjang Agnes. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali dengan napas yang masih memburu.


"Apa yang harus aku katakan pada Kak Adrian, bagaimana dengan kedua orang tua mereka jika tahu anak perempuannya sedang tertimpa masalah seperti ini! Bukan hanya hamil tapi juga jadi pencandu!" kelakar Ramona menatap tajam bola mata Razik.


"Dan bagaimana jika mereka tau, kamu adalah sindikat bandar narkoba!" tambah Ramona lagi dengan emosi kian memuncak. Rahangnya terlihat mengetat, kedua telapak tangannya begitu saja mengepal. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena memikirkan nasib Agnes dan Razik. Tapi lebih dari itu, ia memikirkan nasibnya sekarang.


Ia takut kalau Adrian akan kecewa dan memutuskan hubungan dengannya. Belum lagi ia harus menjelaskan masalah ini kepada Maura, menceritakan mengapa bisa Agnes tersandung masalah dengan sang Kakak. Ramona tertunduk lemas, ia terus saja memegang kepalanya yang terasa berat.


"Aku akan pasang badan untuk Agnes dan bayiku. Kamu tidak perlu khawatir!" ucap Razik masih dengan ekspresi tenang. Ia beberapa kali mengusap perut Agnes dan mencium kening wanita itu.


Cinta dan perhatian yang diberikan oleh Razik memang sangat dalam untuk Agnes.


"Aku akan mendatangi rumah orang tua Agnes dan akan menikahinya."


Ramona kembali mendongak, menatap Razik yang sedang menatapnya balik dengan tatapan sungguh-sungguh.


"Kamu, Papa dan Mama harus menemaniku untuk melamar Agnes." tutur Razik lagi dengan senyuman mengembang.


"Semudah itu ya bibit kamu berucap! Lalu bagaimana hubunganku dengan Kak Adrian!" hentak Agnes.


Razik hening. Ia lupa akan hal itu.


"Akan ku pastikan dirimu dengan Adrian tidak akan berpisah."


Ramona mencebik. Semudah itu fikirnya, ia pun melengos dan berlalu dari ruangan. Meninggalkan dua orang yang sudah tidak waras dalam hatinya.


"Bagaimana dengan Kak Adrian? Bagaimana dengan hubungan kami?" resah Ramona dengan langkah gontai menyusuri lorong rumah sakit. Terus menggenggam gawai, sedang menimbang-nimbang apakah ia harus menghubungi Adrian sekarang atau tidak.


"Ssst ... Sayang." ucap Razik ketika Agnes bergeliat dengan mata masih terpejam.


Razik menenangkan wanita itu agar kembali tidur dengan pulas. Menghujaninya dengan berbagai kecupan di wajah. Sejujurnya hatinya gelisah, bagaimana ia harus menceritakan kejadian ini kepada keluarga Pramudya. Apakah mereka akan menerima dirinya untuk jadi menantu.


"Mereka pasti akan menerimaku, karena masih ada bayi ini ... Yang harus mereka pertimbangkan!" Razik mengulum senyum simpul, kembali ia usap lembut perut itu. Entah bagaimana teriakan Agnes setelah ini, jika ia tahu. Dirinya tengah mengandung.


****


Like dan Komen ya guyss❣️