
Sesuai informasi beberapa jam yang lalu, keluarga Artanegara dan Hadnan. Kembali bertolak menuju London. Mereka akan tiba dua belas jam lagi di sini. Sebelumnya Papa Bilmar terus merancau, ia sedih karena tidak bisa menemani putrinya. Ia mengira Maura akan kesakitan menjelang persalinan.
Namun lelaki setengah abad itu akhirnya bisa bernapas lega, ketika melihat wajah anaknya di video call tampak riang. Berbeda sekali dengan wajah istrinya dulu ketika akan melahirkan. Mungkin ini adalah anugerah yang Allah berikan untuk Maura.
"Makanya pelan-pelan sayang." ucap Gifali.
Ia mengusap bumbu gulai yang menempel di sekitar bibir istrinya. Wanita itu mengangguk sambil mengunyah. Makannya lahap sekali, seperti orang yang belum makan sewindu.
Walau permintaan Maura awalnya membuat Gifali tertohok, namun beruntunglah, lelaki itu bisa mendapatkan makanan yang diinginkan oleh sang istri tanpa hambatan.
"Enak ya?" tanyanya sambil mengaduk-aduk nasi dengan daging ikan.
Maura mengangguk senang. Ia kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan dari buku-buku jari suaminya. "Aku rindu masakan Indonesia."
"Apa setelah melahirkan mau tinggal dulu di sana?"
Maura mendelikan matanya tajam. Raut wajahnya berubah kesal. Gifali hanya bisa terkekeh, ia suka menggoda istrinya.
"Maaf sayang, aku hanya bercanda."
Maura mengangguk malas.
Tentu hal itu tidak ingin lagi ia bahas. Walau dengan memilih untuk tetap di London, ia tidak akan bisa melanjutkan sekolah di sini, pertama karena tidak ada kampus yang akan mau menerimanya lagi.
Namanya sudah di blacklist, dan di report di semua kampus kuliner. Dan yang kedua, tentu saja karena sudah ada triple G yang masih kecil-kecil, Maura sudah memutuskan untuk menunda perkuliahannya.
Sebenarnya Gifali kecewa dengan keputusan istrinya, karena ia sudah gagal untuk membuat Maura berhasil. Bisa lulus dari universitas kuliner terbaik di London sesuai kemauan Papa mertuanya. Tapi bagaimana lagi keadaannnya sudah seperti ini. Namun hatinya kembali lega, ketika Maura berjanji, akan melanjutkan kuliah lagi ketika Gifali sudah lulus sekolah dan kembali pulang ke Indonesia.
"Kamu juga makan, sayang." titah Maura.
Selama menunggu Maura untuk menghabiskan makan siangnya. Pramudya, Tamara, Adrian dan Ramona memilih pergi ke kantin Rumah Sakit untuk makan siang juga.
"Nanti aja setelah kamu melahirkan. Rasanya aku enggak napsu makan, Ra." jawab Gifali sendu. Ia masih saja gugup.
Jangan gugup, Nak. Iringi Maura dengan doa. Insya Allah persalinannya akan lancar. Kamu harus terus berfikir positif.
Gifali masih memegang teguh nasihat dari Papa Galih ketika di sambungan telepon beberapa jam lalu. Lelaki itu tau, sang anak tengah gelisah.
Gifali sudah berusaha untuk berfikir tenang, namun rasanya sulit. Ia masih saja takut, melebihi ketakutan Maura yang akan berjuang di meja operasi.
"Makan dong, nanti kalau kamu pingsan di ruang operasi gimana?" Maura berucap dengan kata-kata yang tidak jelas, karena didalamnya masih penuh dengan nasi.
Memang tidak di pungkiri, walau melihat istrinya biasa saja, namun lelaki itu tetap merasa gundah.
"Ya udah ini aku makan." Gifa menurut. Benar juga kata istrinya. Bagaimana kalau dia pingsan, bukannya menjaga istri, malah ia yang akan di jaga di sana.
Ia memasukan kumpulan nasi kedalam mulutnya walau terpaksa. Padahal rasa makanan itu enak, namun ketika sudah bergelut di dalam indera pengecap nya, rasanya malah hambar.
"Nah gitu dong. Kan aku senang lihatnya. Enak, kan?"
"Enggak ada rasanya." jawab Gifa singkat. Maura mendengus dengan memutar bola mata jenga. "Tapi habis tuh nasinya."
"Eh, iya." Gifali tertawa. Tak sadar dirinya, jika sejak tadi semua nasi yang masih tersisa di bungkus kertas itu sudah berpindah semua kedalam perutnya.
"Enggak enak, tapi habis ya?" Maura menggoda.
"Habis lapar." Gifali memasang wajah jenaka.
"Begitulah ketika sedang gelisah, mulut dan hati jadi tidak sinkron." Maura mencebik.
Gifa hanya tertawa dan kembali memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. "Ayo dibuka baksonya. Habiskan." titahnya kepada Maura.
"Aku kenyang, kamu saja yang habiskan. Aku ingin meminum ini sekarang." Maura menjulurkan tangannya untuk meraih bungkusan es campur yang belum ia jamah.
Gifa mendengkus. Hanya menggeleng samar.
***
Wanita hamil itu masih terbaring di ranjang dengan mukena yang menggeluti tubuhnya. Sesekali ia melirik ke arah suami, Ayah mertuanya dan Kakaknya yang masih terduduk di sajadah sambil bermunajat. Sedangkan Tamara dan Ramona hanya bisa menunggu di atas sofa karena mereka sedang datang bulan.
Tahu jika anak nya sedang menahan isakkan tangis, Pramudya hanya bisa mengelus pelan bahu sang anak. Gifali menoleh sedikit ke belakang dan menatap Ayahnya.
"Jangan takut, Nak. Istri dan anak-anakmu akan selamat." bisik Pramudya.
Setetes air bening turun dari sudut mata lelaki itu, ia mengangguk berat. "Iya, Yah." lalu menoleh ke arah Maura yang masih melamun ranjang. Wanita itu masih terdiam dengan alunan dzikir dari bibirnya.
"Semangat, Gifa. Bentar lagi lo mau jadi Ayah." seru Adrian.
"Iya, Kak."
Setelah Gifali mencium tangan Ayah dan Adrian secara bergantian, ia beranjak berdiri melipat sajadah dan meletakkannya di atas sofa. Kembali melangkah menghampiri Maura di ranjang.
"Sayang ... Kok melamun? Lagi mikirin apa?" suara Gifa terdengar sayu.
Maura menoleh dan mengusap pipi suaminya.
"Kamu nangis?"
Gifali menggangguk. "Maaf, Ra. Aku masih takut."
Maura tersenyum, lalu mencium pipi suaminya.
"Masih takut?"
"Hemm ..." Gifali mengangguk.
Maura kembali menciumnya.
"Masih?"
"Iya." lelaki itu kembali mengangguk.
Maura kembali mengecup dan menanyakan hal yang sama. "Tapi kalau di cium di sini, kayaknya enggak." Gifa sedikit terkekeh ketika menunjuk bibirnya.
"Mau?"
Gifa menoleh dan mendapati Ramona tengah memutar bola mata jengah. Lelaki itu tertawa.
"Biarin aja, Yang. Namanya orang lagi takut." bisik Adrian dengan gelak tawa kecil.
Tamara dan Pramudya pun hanya bisa mengulum simpul.
"Beruntungnya, Gifa. Bisa menemani istrinya melahirkan dan akan membesarkan ketiga anaknya. Sedangkan saya? Sampai setua ini belum pernah merasakan bagaimana menjaga istri yang akan melahirkan."
"Mungkin karena saya sudah pernah melakukan dosa besar itu kepada Gita dulu. Allah memberikan pembalasannya sekarang. Tapi saya bersyukur, karena Allah masih berbaik hati untuk mempertemukan lagi dengan anak kandung saya. Dan sebentar lagi saya akan menjadi seorang kakek dari ketiga cucu sekaligus." Pramudya membatin haru.
"Papa lagi kenapa? Kok senyum-senyum sendirian?" bisik Tamara. Pramudya tersenyum dan menggenggam tangan istrinya.
"Lagi senang aja karena sebentar lagi ingin mendapatkan cucu. Dari Gifa dan juga ... Agnes."
DEG.
Tamara terdiam ketika nama Agnes di sebut. Sejatinya selama berbulan-bulan ini. Ia tidak berani menyebut nama anaknya di hadapan Pramudya. Ia takut lelaki itu masih murka.
***
Like dan Komennya ya🤗❤️
Oh iya, hari jumat nih. Jangan lupa baca Al-Kahfi🌾🌾
Abis ini lahiran gengs, aku mau pos eps selanjutnya, tapi mau nunggu komennya banyak dulu yak😂. Jadi tungguin aja❤️