My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
MSW 2 : Gheana Aquila & Ginka Aludra Hadnan



Langkah kaki Gifali tergelak kencang, seperti kereta kencana yang sedang menunggangi kuda membawa sang empu. Menerobos banyak bahu saat berlari di lorong Rumah Sakit. Melesat cepat, tidak ingat lagi dengan dua kerucil nya yang masih dibelakang tengah menyerukan namanya dalam gandengan tangan Ammar.


Jantung Gifali berdetak tidak karuan. Peluhnya bercucur. Harusnya ia yang membawa Maura, menuju melahirkan. Padahal dalam beberapa minggu ini, lelaki yang akan menginjak usia 23 tahun minggu depan itu, sudah berusaha untuk menjadi suami yang sangat siaga. Tapi mengapa di hari penting seperti ini, ia malah tidak ada.


Jika saja, dua anak lelakinya tidak merengek meminta pergi bermain sepeda. Dan tidak mengayuh sampai ke tempat yang jauh, serta ponselnya tidak lowbet. Pasti sekarang ia sudah ada di sisi istrinya. Berdiri tegak di sebelah pembaringan Maura untuk menguatkan wanita itu.


"Hhh ..." deruan jantung yang menderu-deru dengan napas yang memburu semakin kencang, ketika langkah kakinya sampai di depan pintu kamar operasi dengan lampu sudah menyalah.


Bahu Gifa merosot. Lelaki itu menunduk dalam sesalnya. Rasa sesak terus saja membuncang. Sudah letih karena berlari, kecewa juga karena tidak bisa menerjang dua pintu yang sudah tertutup ini.


Ada istrinya disana. Aisyah-nya. Sedang berjuang untuk melahirkan buah hatinya. Gifali lemas. Sulit untuk berucap. Ia menatap wajah Papa Bilmar hanya dengan kesenduan.


"Semoga kamu enggak kecewa sama aku." batinnya lirih.


"Enggak apa-apa. Sudah ada Mama di dalam." ucap Papa mengelus bahu menantunya yang terlihat ringkih. Operasi sectio caesaria pada Maura sudah berjalan selama dua puluh menit, dan lelaki itu baru datang. Mungkin saja bayi kembar mereka sudah lahir di dalam.


Gifa mengangguk dengan wajah nanar. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain berpasrah diri ketika gagal mengenang memory pada saat Gheana dan Ginka lahir ke dunia. Menggenggam tangan Maura, mengusap peluh dan menenangkannya dengan berbagai kecupan.


Ia menatap Geisha yang sedang tertidur di gendongan Papa mertuanya. Terlihat masih ada sisa basahan di wajah sang anak. Geisha meronta ketika melihat Bundanya menangis di sepanjang perjalanan lalu dimasukan ke dalam kamar operasi. Anak itu merengek ikut, tapi tidak bisa. Terus menangis kencang, lalu lelah dan akhirnya tertidur di gendongan sang Kakek.


Maura meminta ditemani sang Mama untuk melahirkan dua anak kembarnya, karena Gifali tidak kunjung hadir.


Tak lama. Langkah Ammar, Bisma dan Dipta hadir. Dua anak lelaki itu juga menangis selama di perjalanan. Mungkin kontak batin antara mereka dengan Geisha serta Bundanya terjalin erat.


Gifali menoleh. Ia sedikit kaget, baru tahu kalau dirinya meninggalkan mereka berdua, karena cepat berlari menuju kamar operasi.


Gifa menggendong dua anaknya bersamaan. Menciumi Bisma dan Dipta seiring bertutur. "Jangan nangis, Nak. Bunda enggak apa-apa 'kok." ucap Gifa menenangkan anak kembarnya. Padahal lelaki itu berucap juga dengan air mata yang sudah bergerumul di pelupuk.


Ammar melangkah duduk di bangku pasien. Melipat kedua tangan didada sambil berdoa dalam hati. Menatap lampu yang masih menyalah di dekat pintu. Mulutnya terlihat komat-kamit. Ia mendoakan Maura, agar persalinan Kakaknya bisa terlewati dengan baik.


****


Air mata Gifa berduyun-duyun turun. Lelaki itu masih mendaratkan bibirnya lekat di kening sang istri yang masih memejam kedua mata. Pangkal bahu Gifali bergerak naik turun. Isak tangisnya tetap saja terdengar walau sudah ditahan.


Bengkak sudah kelopak matanya. Menangisi dua hal dalam hari ini secara bersamaan.


Pertama, ia menangis karena tidak bisa mendampingi Maura melahirkan. Kedua, Gheana Aquila Hadnan dan Ginka Aludra Hadnan, harus ia Adzan 'kan di dalam inkubator. Bayi kembar perempuan yang sangat putih, lucu dan wajahnya yang sekilas sangat mirip Gifali itu harus mendekam sementara di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit).


Gheana dan Ginka mengalami gangguan pernapasan, terlebih mereka dikeluarkan dengan air ketuban yang sudah sedikit, dan Ghea dalam posisi terlilit tali pusar di lehernya. Beruntungnya anak itu masih bisa terselamatkan.


Maura sudah kembali keruang perawatan. Sebenarnya di ruang pemulihan wanita itu sudah sadar tapi masih sangat lemah, dan ia kembali tertidur sampai detik ini.


"Kenapa Maura lama banget sadarnya, Mah?" tanya Gifa dengan raut cemas kepada Mama Alika.


Pasalnya dulu, Maura akan sadar satu jam setelah keluar dari ruang pemulihan. Kenapa sekarang, sudah mau tiga jam belum juga sadar? Lelaki itu semakin kalut. Sudah memikirkan anak, sekarang istrinya. Untung saja triple G sedang dibawa Ammar dan Papa Bilmar ke kantin. Kalau tidak, suara bising ketiga anak itu akan semakin membuat kepalanya pecah.


"Tenang, Nak. Hal ini biasa, karena pengaruh dari obat anestesi." ucap Mama sambil meneliti titik infus di punggung tangan anaknya yang terlihat membengkak. Gifali hanya bisa mengangguk lemas.


"Duh bengkak nih." gumamnya, lantas Mama Alika memencet bell yang ada di dinding tepat di atas ranjang sang anak, agar Perawat datang menghampiri.


"Permisi, Bu ..." sapa Perawat setelah tiba.


"Tolong infus set baru ya." titah Mama Alika.


Bersyukurlah Maura. Saat melahirkan dalam keadaan seperti ini, ada Mamanya yang membantu. Apalagi ia melahirkan di Rumah Sakit milik Mamanya sendiri. Rumah Sakit yang berhasil di dirikan oleh Papanya sebagai bukti cinta dan kasih kepada sang Mama.


"Jangan cemas, Gifa. Tidak apa-apa. Sebaiknya kamu shalat Dzuhur dulu. Doakan istri dan anak-anakmu." pinta Mama Alika. Ia merasakan sekali deruan napas Gifali yang kasar.


"Gifa hanya takut, Maura drop kalau tau kedua anak kami ada di ruang Nicu, Mah."


Perawat kembali datang menyodorkan baki instrumen yang berisikan infus set baru.


Mama Alika menggeleng. "Kalau diberi pengertian pasti tau." jawabnya tanpa menoleh. Ia masih sibuk melepas infus set dari tangan sang anak, darah yang menetes tertuang ke dalam baki lalu di usap dengan kasa.


Mama fokus mencari-cari pembuluh darah vena yang baru. Tetapi agak sulit, karena punggung tangan Maura tertimbun banyak lemak. Berat badan Maura memang naik lima belas kilo.


Gifa masih mematung. Ia ingin berbalik memutar langkah untuk shalat di mushola. Namun hatinya masih berat meninggalkan Maura. Ia masih saja berdiri. Ia yakin istrinya akan sadar sebentar lagi.


Setelah pembuluh vena di dapat, Mama menusukan jarum infus kedalam kulit. Bertepatan dengan itu, Maura meringis walau masih dalam pejaman mata.


Gifali yang sejak tadi ikut memperhatikan kelihaian Mama mertuanya langsung beralih. Ia menatap Maura. Senyum Gifa kembali terpancar ketika Maura mengerjapkan kelopak matanya perlahan-lahan.


"Sayang ..." seru Gifa. Ia refleks membungkuk dan memeluk istrinya. Tidak perduli Mama Alika dan Perawat sedang berusaha memasukan cairan lewat selang infusan.


"Ya." jawab Maura serak dengan raut muka yang masih mengantuk. Tangan kanannya mengayuh ke atas, kemudian mengusap punggung suaminya pelan.


"Maafkan Ayah, Bun. Ayah enggak bisa nemenin Bunda saat persalinan" lirihnya.


Maura tersenyum dan mengangguk. "Bunda ngerti kok."


"Sakit ya?"


"Sakit pas lagi mulas, kalau sekarang belum." obat anestesi masih bergulir di tubuhnya.


Gifali makin merekatkan pelukannya. Memohon maaf terus menerus. Ia merasa gagal menjadi suami dan ayah siaga, walau semua ini bukan maunya.


"Bayi kita, gimana?"


DEG.


Jantung Gifa seperti ingin berhenti. Tidak tega dirinya kalau harus mengatakan hal ini kepada Maura. Ia sangat hafal sekali dengan watak istrinya. Melihat Geisha ada luka gigitan semut rangrang di kulit tangannya saja. Ia menangis tersedu-sedu. Padahal Geisha malah tertawa-tawa kala itu.


Atau pada saat alergi Dipta kambuh, dan menyebabkan ruam-ruam diseluruh tubuh. Serta pada saat Bisma dicakar kucing. Apalagi jika tahu dua bayi yang baru saja ia lahirkan dengan awalan sakit yang membahana harus di rawat di ruang kaca dalam inkubator.


Gifa menarik tubuhnya. Lalu duduk di kursi sebelah ranjang. Ia menggenggam tangan Maura.


"Kenapa Ayah diam?" tanya Maura. Wanita itu mulai panik. Lalu ia menoleh ke arah Mamanya. "Mah, anak-anakku, gimana?"


***


Like dan Komennya yaw. Adek sehat yaa🤗😘