My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Air Mata Kebahagiaan



Lanjutannya ya guyss❣️


.


.


.


"Sabar, Mah. Papa nggak akan minta macam-macam kok. Semua yang Papa inginkan hanya untuk kebahagiaan mereka saja." jawab Papa Bilmar kepada istrinya yang masih menatapnya malas. Ia pun takut kalau istrinya merajuk.


"Iya, Mah. Nggak apa-apa. Kita dengerin aja dulu maunya Papa." ucap Maura.


"Papa ingin kalian tinggal di rumah Papa yang ada di kota ini. Rumah yang pernah Papa tempati dengan Almarhumah Mamanya Maura dulu. Papa hanya ingin Maura tinggal ditempat yang layak, apalagi perutnya akan membesar. Perlu ruang gerak yang cukup besar."


"Sebagai orang tua, Papa hanya ingin memastikan kalian hidup dengan nyaman dan aman. Papa hanya akan memberikan fasilitas tempat tinggal dan tenaga pembantu, selebihnya Papa tidak akan campur rumah tangga kalian."


"Tolong lah Gifa. Terima keinginan Papa, agar Papa bisa bernapas lega jika jauh dari Maura." ucapan lelaki paru bayah itu tedengar lirih. Air mata Mama Alika pun menggenang, begitu pun Maura dan Mama Difa.


Maura menoleh menatap suaminya, seraya meminta belas kasih untuk kemauan sang Papa. Gifali tersenyum kemudian mengangguk.


"Iya, Pah. Gifa setuju. Gifa sangat berterima kasih kepada Papa."


Wajah Maura berbinar. "Makasih sayang." ucapnya kepada sang suami.


Lalu beringsut untuk memeluk Papa Bilmar. Wanita hamil itu menangis mendekap Papanya. Menumpahkan rasa cinta dan sedih secara bersamaan.


"Makasih ya, Pah. Kakak sayang sama Papa." ucap Maura, Papa hanya mengangguk dan mengecup anak itu berulang kali.


Orang tua mana yang akan rela melihat anaknya dalam posisi sesak dan sulit seperti ini. Bagi lelaki itu, Maura tetaplah putri kecilnya, yang tetap harus ia lindungi dan di jaga kehidupannya.


"Sini, Mah." Papa Bilmar menjulurkan tangan untuk meraih tubuh istrinya yang ikut menangis.


Membawa tubuh wanita itu untuk masuk kedalam dekapannya. Mereka bertiga saling mendekap dan menangis. Pun sama dengan keluarga Hadnan, Papa Galih mendekati anak dan istrinya untuk saling memeluk.


"Sabar ya, Kak. Teruslah berjuang untuk rumah tangga dan anak kalian." ucap Papa Galih kepada putranya.


*****


Setelah menempuh perjalan panjang, akhirnya Pramudya dan Tamara sampai di Indonesia. Tepatnya saat ini ia sudah berada di salah satu hotel di Jakarta.


Melepas penat dan lelah, untuk beristirahat dulu sebelum akhirnya melanjutkan rencana mereka, untuk menemukan Sagita Haryani dan ingin menemukan keberadaan dua temannya di SMA dulu yaitu Galih Hadnan dan Nadifa Putri.


Rencananya besok pagi mereka akan bertandang kerumah Gita.


"Papa masih ingat rumahnya Gita?" tanya Tamara yang ikut berbaring di sebelahnya.


Pramudya masih menatap kosong langit-langit hotel dengan kedua tangan yang dilipat di belakang kepala. Fikiran nya kembali bercabang, ia takut kedatangannya hanya akan sia-sia. Padahal ia tahu, Gifali adalah anak dari orang lain. Tapi kenapa ia masih saja merasa bahwa pemuda itu adalah anak kandungnya.


"Lupa-lupa ingat, Mah." Pramudya tertawa.


"Ih, awas loh nanti malah masuk ke rumah orang lagi, Pah. Udah jauh-jauh kita dari London ke sini." dengus Tamara. "Harusnya tuh Papa cari tau dulu tempat tinggal dia, kalau oke baru kita kesini, Pah."


"Kenapa sih kalau lagi cerewet gini, makin cantik aja?" Pramudya menggombali istrinya.


"Jadi mau gigit, mumpung lagi di hotel. Gimana kalau kita bulan madu. Siapa tau kan, setelah ini ada adiknya Agnes dan Adrian lahir."


Wajah Tamara sekilas berubah menjadi merah merona. Wanita paru baya itu masih saja malu kalau di goda oleh suaminya.


"Mama udah selesai kan menstruasinya?"


Tamara mengangguk. "Ya udah ayo, Papa mau malam ini." ajak Pramudya. Lelaki itu para baya itu pun menarik selimut untuk menutup tubuh mereka. Agar bisa leluasa bermain bom-bom tar sampai pagi.


Pramudya memang lelaki yang sangat baik dan bertanggung jawab. Mau begitu saja menerima dan mencintai Tamara yang sudah berstatus janda dengan dua orang anak. Memang kala itu Pramudya bukan lah lelaki perjaka, karena keperjakaannya sudah ia berikan kepada Sagita Haryani. Wanita yang menolak cintanya mentah-mentah demi bisa mendapatkan lelaki yang hanya mencintai orang lain, Galih Hadnan.


Tentu jika dulu Gita memilih hidup dengan Pramudya, sudah dipastikan ia akan menjadi wanita terbahagia. Bisa memiliki suami sebaik Pramudya dan anak lelaki penurut seperti Gifali. Begitulah nasib akhir dari seorang pelakor, hidupnya tidak akan pernah bahagia.


*****


Bakalan sedih memang kisah Pramudya dan Gita di masa lalu, nanti akan aku ceritakan di satu part. Pertemuan Pramudya dengan Malik akan di mulai besok. Stay tune guyss❣️