
"Assalammualaikum sayang ..."
Maura mengerjapkan kedua matanya perlahan. Ia mendengar suara dari sesosok yang sejak tadi menjadi buah fikirnya. Karena mual dan muntah yang terus menerus, membuat Papa Bilmar mendatangkan Dokter untuk memeriksa Maura ke rumah.
Dokter pun memberikan resep baru, menaikan kadar vitamin, obat mual dan penyerta lainnya. Maka dari itu Maura sudah bisa nyenyak tidur walau belum lama.
Baru saja Maura akan memutar tubuhnya untuk menghadap Gifa yang sudah duduk di bibir ranjang, tapi ia langsung menjauh sambil menutup hidung.
"Loh, Ra, kenapa?" Gifa kaget ketika sang istri menjauhinya. Gifa beringsut ingin mendekat tapi Maura terus saja menjauh.
"Kenapa sayang?"
Maura bergumam tidak jelas dibalik kerah baju yang ia tarik untuk menutup lubang hidungnya.
"Aku bau?" tanya Gifali.
Maura mengangguk berulang kali. Gifali menyerengit. Lalu mengendus aroma tubuhnya. "Padahal wangi kayak begini, kok kamu bilang bau, Ra?"
Gifali tetap ingin mendekat, tapi Maura memilih untuk beranjak dari kasur dan memutar langkah untuk keluar kamar.
"Loh kenapa lagi, Nak?" tanya Mama Alika yang masih bersandar di bahu suaminya sambil menonton televisi.
Maura duduk di antara orang tuanya sambil memeluk Mamanya kembali.
"Gifa bau, Mah. Kakak gak tahan." desahnya.
Gifali menghampiri mereka di ruang tamu.
"Tuh kan bau nya datang!" seru Maura kembali menarik kerah baju untuk menutup indera penciumannya.
Papa Bilmar dan Mama Alika mengendus Gifali. "Enggak bau kan, Mah, Pah?" tanya Gifali.
Papa Bilmar dan Mama Alika tertawa. "Sini, duduk dulu, Gifa." titah Papa Bilmar sambil menepuk sisi sofa yang kosong di sebelahnya.
"Kamu bau sayang, bau bensin." ucap Maura namun tidak mau menatap. Ia tetap duduk memunggungi Gifali. Suaminya mencoba ingin menyentuh punggung Maura, tapi wanita itu bergeliat tidak mau.
Papa Bilmar tidak bisa menahan gelak tawa dengan sikap putrinya. "Apa tadi, bau bensin? Kamu minum bensin, Gifa?"
"Papa!" seru Mama Alika. Ia mendelikan matanya, karena merasa tidak sopan kepada menantunya yang wajahnya sudah berubah panik.
"Kok bisa bau bensin? Aku kan gak mandi pakai bensin, Pah ..." jawab Gifali.
Dan Papa Bilmar kembali tertawa. Lelaki paru bayah itu sampai memegang perut karena tidak tahan dengan ucapan Gifali yang lucu, Mama Alika pun tanpa sadar ikut terkekeh.
"Jangan panik, Gifa. Ini hanya bawaan bayi." Mama Alika menjelaskan. Ia masih mengelus tubuh putrinya untuk menenangkan.
"Kamu mandi dulu sana, jangan lupa pakai sabun." titah Maura.
"Memangnya selama ini suamimu pakai debu kalau mau mandi?" tanya Papa Bilmar terkekeh.
"Papa!!" sentak Mama Alika.
"Ayo Gifa mandi dulu sana." Papa Bilmar mengelus bahu menantunya. "Kamu harus sabar, ini tuh langkah awal penyiksaan untuk para kaum suami ketika istrinya lagi ham---" Papa Bilmar berhenti berbisik di telinga Gifali ketika pahanya di cubit oleh istrinya.
"Duh sakit, Mah." desahnya sambil mengelus-elus paha nya.
"Kamu mandi dulu sana, Gifa."
"Iya, Mah." jawab Gifali lalu bangkit dari sofa, tangannya ia julurkan untuk mengelus rambut istrinya yang masih bersembunyi di dada sang Mama.
Gifa mendesah lucu, sudah tidak khawatir lagi seperti tadi. Ia tahu istrinya tengah masuk fase mengidam.
"Apapun lah, Ra. Demi kamu dan bayi kita, akan aku lakukan."
*****
Sehabis makan malam, Maura dan Gifa kembali kedalam kamar. Kini bau yang sejak tadi Maura keluh kan, tidak lagi muncul di tubuh suaminya. Gifali sudah bisa bernapas lega, dan kembali senang karena bisa mendekap istrinya lagi.
"Masih mual sayang?" tanya Gifali.
"Sedikit, tapi ini lebih baik dari sebelumnya."
"Aku khawatir kalau kamu pingsan lagi di kampus." ucap Gifali, ia memeluk Maura dengan amat erat.
"Jangan terlalu kuat, Gifa. Aku pengap!" Maura memundurkan tubuhnya sedikit untuk menjauh.
"Eh, iya." Gifali tertawa dan meregangkan dekapannya.
"Apa?" tanya Gifa, ia mengangkat dagu istrinya agar bisa menatapnya jelas.
"Seperti ada yang ingin membunuhku, sayang."
DEG.
Jantung Gifali seketika berdenyut. Ia kaget setengah mati. "Maksud kamu tuh gimana, Ra? Bunuh?"
Maura mengangguk. "Aku tau itu bukan mimpi, kayak nyata banget."
"Coba jelasin secara detail, aku mau dengar!"
"Kalau kata Ramona aku bermimpi, tapi saat itu aku sudah mulai sadar dan saat ingin mengerjapkan mata. Tiba-tiba ada bantal besar membekap wajahku sayang. Aku terus berteriak dan hampir mencengkram lengan orang itu, namun sayang dia kabur, dan datang lah Ramona untuk menyadarkan ku."
Maura akhirnya menjelaskan apa yang ia alami selama di ruang uks. Terlihat gerakan dada Gifali naik turun, lelaki itu terlihat sesak dengan rahangnya yang mulai mengencang. Ia tidak percaya Maura akan mengalami hal seperti itu.
"Siapa yang kamu curigai?" tanya Gifali.
"AGNES!"
DEG.
Seketika jantung Gifali serasa ingin copot. Berserak dan hancur. Ia meyakini dugaan Maura ada benarnya, karena tadi siang Agnes begitu perhatian, datang untuk menemuinya sambil membawa sebungkus kue untuknya.
"Jika tidak ingin mengambil perhatianku, maka apa namanya? Jangan main-main denganku, Agnes! Sampai aku tahu, betul kamu orangnya, aku tidak segan membuat perhitungan denganmu!" Gifali membatin. Sungguh ia adalah lelaki cerdas yang bisa menggabung-gabungkan suatu keadaan secara bersamaan.
"Kamu tenang sayang. Aku akan selalu jagain kamu. Hati-hati dengan Agnes ya." tukas Gifali.
"Iya, Ayah." jawab Maura sambil mengelus-elus dagu suaminya.
Entah mengapa perasaannya sudah lebih tenang sekarang, ia bahagia karena Gifali mempercayai ucapannya. Maura tidak akan khawatir lagi kalau suaminya akan masuk kedalam jebakan Agnes.
"Kalau aku minta kamu jangan kerumah Ayah dulu, bisa? Aku gak ingin kamu ketemu Agnes!"
Gifali tersenyum dan mengangguk. "Bisa sayang."
"Kamu gak marah kan sama aku?" tanya Maura, ia terus memutar-mutarkan jari telunjuknya di permukaan dada suaminya.
"Ya enggak dong, aku ngerti kok perasaan kamu. Lagian kalau Ayah ada perlu, bisa membahasnya di kampus atau di kantor."
"Akhirnya aku bisa bernapas lega." Maura senang dalam batinnya.
"Aku hanya ingin kamu hamil tanpa beban." gumam Gifali dalam hatinya. Lalu mengecup pusaran rambut Maura yang begitu wangi. Bulu-bulu halus dipermukaan tengkuknya begitu saja meremang. Intinya berdenyut.
"Ra ..."
"Hemm ...?"
Kemudian Gifali melepas dekapan itu dan beringsut untuk mengunci tubuh Maura dengan kungkungan nya. Maura terlonjak kaget.
"Ra ... aku pengin."
Maura menggeleng cepat. Ia tahu suaminya akan meminta hak nya lagi. Gifali memang tidak lupa dengan ucapan Dokter, tetapi hasratnya yang besar, sepertinya sulit untuk ia lewati.
"Kemarin malam dirumah Ayah kan sudah." jawab Maura lembut.
"Pengin lagi sayang, pengin banget, Ra." intinya kembali berdenyut dan Maura menjengit karena merasakan gerakan tersebut diatas tubuhnya.
"Pakai tangan kamu atau mulut kamu aja, Ra."
Dan sesaat kemudian, hanya suara erangan dan desahan Gifali yang menggema di dalam ruangan.
*****
Kalian ini, apa-apa jangan kek dulu thor, jangan kayak emak bapaknya thorr, jangan kayak nenek dan kakeknya----jangan kayak Gita. Awas loh, kalo bunda Gita disebut-sebut terus nanti bangun guys dari dalam kubur.😂😂
Tenang yaa, outline novel ini sungguh berbeda. Tidak akan memutar-mutar cerita yang pernah aku sajikan di novel2ku yang lain. Karena sesuai judulnya, MSW sudah ada outlinenya sampai habis. Gak pernah kan ada alur yang sama sejauh ini?
Gak mungkin kan macam Agnes yang jatuh cintrong banget sama Gifali, begitu aja mudah melepaskan kalo ga ada angin sama hujan? makanya aku hrus buat dia ada problem dulu dan mengembalikan cintanya ke Razik. Dan aku pernah bilang, gak akan ada lagi cerita poligamian kayak Mama Difa dulu.
Maura dan Gifali akan di uji dalam hal berbeda, biar makin kokoh aja percintaan mereka❤️❤️
Percaya kan? Ini tuh aku baik banget loh bikin napas kalian jadi lega🤭. makanya kasih aku kado dengan Like dan Komen. Jangan pelit ya, aku enggak minta-minta vote dari kalian kok, hanya dua hal itu aja cukup🤗❣️.