My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Aku Mau Ikut!



Sudah seminggu ini, Maura murung. Makannya tidak lahap, tidurnya tidak nyenyak. Jika sedang shalat, wanita itu pasti akan selalu menangis.


Hatinya gundah, berkali-kali Gifali dan para orang rumah bertanya, dan wanita itu hanya akan menggeleng dan melipat kegundahannya sendiri. Sakit sekali, akan berjuang lagi sendiri di sini, berpisah dengan suami untuk mengejar kesuksesan.


Terlihat Maura sedang duduk di atas karpet kamarnya. Ada dua koper yang terbuka lebar, dan beberapa bulir baju yang tersusun meninggi di sebelahnya. Wanita hamil itu menangis pelan, berkali-kali menyeka air bening yang turun dari balik kaca matanya.


Ia letakkan rapih satu persatu helai demi helai baju-baju suaminya di dalam koper. Dan di baju ke enam, tangannya bergetar, kemudian memeluk baju itu dan ditempelkan ke dadanya. Ia menunduk dan menangis.


"Baik, Kak. Oke, oke, siap." Gifa masih duduk di pinggir ranjang memunggungi istrinya. Ia sedang terlibat dalam percakapan telepon bersama Adrian, di London.


Setelah sambungan telepon itu terputus. Ia meletakan gawainya di nakas, lalu menoleh ke arah istrinya yang sedang duduk memunggunginya diatas karpet berbulu.


"Kan masih seminggu, kenapa di beresin dari sekarang sayang?" tanya Gifali masih di tempatnya.


Gifali memang akan pergi ke London minggu depan, dan sebelum keberangkatannya ia akan mengantar Maura dulu untuk kontrol ke Dokter Kandungan, ia ingin memastikan apa jenis kelamin dari ketiga anaknya.


Karena Dokter bilang, tentang jenis kelamin bisa dilihat ketika usia kandungan Maura sudah memasuki usia lima bulan. Dan Gifali sudah tidak sabar untuk menunggu empat bulan lagi, agar ketiga bayi mereka lahir ke dunia. Walaupun saat ini Maura dan Gifali sedang diterpa kegundahan, karena ketiga bayi mereka belum menunjukan tanda-tanda pergerakan.


Walau sejatinya pergerakan bayi dalam kandungan memang berbeda-beda. Ada yang di usia 15 minggu sudah bergerak, ada pula si usia 20 minggu baru menunjukan tanda-tanda pergerakan. Namun Dokter mengatakan, tidak ada yang perlu di khawatirkan karena secara keseluruhan perkembangan ketiga anak mereka sangat bagus.


Hening. Maura tidak menjawab apa-apa. Lidah nya kelu, tak sanggup menjawab. Rasa sesak terlalu membelenggu dadanya.


"Sayang, Aisyah ..." seru suaminya lagi.


Tentu sahutan suami sangat wajib di jawab oleh para istri.


Maura setengah menoleh dan menjawab iya dengan nada pelan.


"Kamu nangis?" Gifali terkejut. Ia buru-buru beranjak dari ranjang lalu memutar langkah untuk menghampiri istrinya. Menghempaskan bokongnya di atas karpet berbulu dan duduk menyila bersebalahan dengan Maura.


Membawa wanita hamil yang mood nya sedang tidak bagus itu kedalam dadanya. Maura menumpahkan air mata sedalam-dalamnya.


"Aku mau ikut! Mau ikut!"


Gifali hening sesaat. Ia harus bisa bersikukuh dengan pendirian. Tidak boleh lemah, menghela napas panjang walau jujur keputusan ini memang sangat berat. "Kita kan sudah bicarakan ini sebelumnya, Ra. Dan semua sudah setuju." jawab Gifa lembut.


"Kalau aku tidak ada, siapa yang akan mengurusmu, Gifa? Makananmu, pakaianmu, dan kebutuhan batin mu?" ucap Maura dengan isakkan tangis yang terus menderas.


"Aku akan tenang, jika selama mengandung kamu ada di sini, Ra. Kamu akan aman."


Maura melepas dekapan itu, ia mendongak menatap suaminya dengan leleran air mata. Pangkal bahunya bergerak naik turun, terus berbicara dengan nada terbata-bata.


"Aku akan aman kalau sama kamu, Gifa. Tolonglah, bawa aku." pinta Maura memohon.


"Sabar, sayang. Tiga tahun itu tidak lama, aku juga kan akan pulang, walau tidak setiap bulan."


Maura mulai memasang wajah masam. Ia merajuk, membalikkan tubuhnya memunggungi sang suami. Menangis lagi, malah menjadi-jadi.


"Ra ..." Gifa mengelus lembut punggung istrinya. Maura bergeliat, tidak ingin disentuh.


"Jangan temani kepergian ku seperti ini. Aku kesana, demi kamu dan anak-anak juga."


Maura semakin menangis. Berkali-kali Gifa memegang, memeluk, tetap saja ia tepis. "Jangan sentuh aku, Gifa. Aku akan semakin sulit untuk melepasmu sebentar lagi." jawab Maura dengan nada memelas.


Ia mengusap-usap perutnya yang semakin membuncit. Seraya meminta bantuan kepada ketiga anaknya untuk mau meluluhkan hati suaminya.


"Aku buatkan susu ya." ucap Gifa.


"Aku tidak mau."


"Sejak tadi pagi, kamu belum minum susu. Nanti anak kita haus, Ra." suara yang amat meneduhkan membuat Maura semakin sakit. Segala perhatian dan kelembutan hati lelaki itu tidak akan ia rasakan lagi setiap hari. Karena mereka akan kembali berpisah.


Maura menggelengkan kepala. Ia kembali memasukan baju-baju Gifali kedalam koper.


"Sudah nanti saja, masih ada waktu." Gifa menarik tangan istrinya dari dalam koper.


"Kenapa sih? Bukannya kamu yang ingin cepat pergi dari sini? Ini kan yang kamu mau? Meninggalkan kami??" nada Maura terdengar meninggi. Ia menatap suaminya dengan tatapan kesal. Menepis tangan suaminya. Rasa kecewa dan sedih membuat akal sehatnya tertutup.


Gifali terkesiap, ketika Maura berkata dengan nada tidak biasa. Tahu diri nya sudah kelewat batas. Maura menundukkan tatapannya dan meredam emosinya.


"Maaf." ucapnya sendu.


Gifali mengusap wajahnya gusar. Kepalanya penuh, dirinya memang tidak sekuat itu. Maura salah jika Gifa akan pergi dengan suka hati, malah ia ingin sekali membawa Maura kembali ikut dengannya. Namun semua itu tidak mungkin lagi ia lakukan.


Karena ia sudah berjanji dengan Papa Bilmar. Gifa sudah dianggap lalai, tidak bisa menjaga keselamatan istrinya di sana.


Gifali beranjak bangkit lalu pergi berlalu dari kamar, ia meninggalkan Maura tanpa kata. Wanita hamil itu kembali menangis sesegukan.


"Maafin Bunda, Nak. Bukan maksud Bunda menyakiti hati Ayah kalian." ucap Maura, ia terus mengusap-usap perut besarnya. "Ayo bergeraklah, buat Ayah berubah fikiran untuk membawa kita berempat ke London."


Maura terus mengajak ketiga buah hatinya berbicara. Menumpahkan rasa gundah bersama.


*****


Like dan Komennya dong banyakin🤗