
Krek.
Pintu kamar terbuka lebar.
"Huwaaa ...."
Baru saja Maura dan Gifali ingin memejam kedua mata karena waktu sudah menunjukan pukul 22:00 malam, sehabis mereka melakukan perbincangan panjang dari hati ke hati mengenai perkuliahan Maura, terlihat Pradipta menyembul dari balik pintu sambil menangis.
"Bunda ... Ayah!" serunya terisak-isak.
"Ya Allah kenapa, Nak?" buru-buru Maura dan Gifa turun dari ranjang.
"Kakak ..." ucap Dipta dengan jari tangan menunjuk ke arah kamarnya.
Tanpa kata Gifali langsung berlalu ke kamar Triple G dengan langkah blingsatan. Dan dibelakang nya Maura mengekor sambil menggendong Pradipta.
"Kakak kenapa, Nak?" tanya Maura. Pradipta terus saja menangis dan sulit menjawab pertanyaan dari Bundanya.
Gifali masuk ke sebuah kamar yang banyak corat-coretan di sekitar dinding karena ulah triple G yang sering menggambar di sana. Di dalam kamar ini, terdapat dua tempat tidur. Satu ranjang bertingkat untuk Bisma dan Pradipta. Dan satu ranjang biasa untuk Geisha.
Dengan napas terengah-engah sehabis berlari, Gifali semakin panik ketika mendekati kedua buah hatinya yang tengah berbicara sendiri.
"Hepi beday hantu ... hepi beday hantu ... hihi." seru Geisha dengan gelak tawa menatap ke arah dinding yang bersebelahan dengan ranjang tidurnya.
Sedangkan Bisma, seperti orang tengah mengobrol sambil menggambar. Anak itu tengah duduk memunggungi di ranjang tingkat paling atas.
"Kamu calah, maca wajah olang walnanya melah." ucap Bisma entah kepada siapa.
"Astagfirullah, Yah. Anak kita kenapa?" ucap Maura dengan nada takut. Gifali masih terdiam menatap kedua anaknya secara bergantian.
"Kakak ... Adek." panggil Gifa.
"Tuh tan, ndak nyaut, Ayah." selak Pradipta. Tangisan nya berhenti sejenak, karena merasa dirinya sudah aman dalam dekapan sang Bunda.
"Dari tadi kayak gini?" tanya Ayahnya.
Pradipta mengangguk. "Tadi aku bangun mau pipis. Pas liat Kakak lagi ngomong cendilian kayak gitu." ia menunjuk Bisma dan Geisha dengan roman takut.
Kedua anak itu sedang asik sendiri dengan dunia khayalnya atau ghaib.
"Ayah, Bunda takut." Maura memegang kain piyama tidur suaminya. Jantung Gifa juga berdegup cepat. Pasalnya ia juga takut kalau kedua anaknya ketempelan makhluk halus.
Gifali baru sadar, kalau ketika pindah kerumah ini belum mengadakan selamatan. Apalagi sebelum di tempati, rumah peninggalan Bunda Gita sudah lama tidak berpenghuni. Setahun terakhir ini tidak ada yang mengontrak.
"Ambil air putih, Bun Dua gelas."
"Iya, Yah." Maura berlalu bersama Dipta ke dapur.
Dengan langkah pelan Gifali mendekat ke arah Geisha terlebih dulu. Ia duduk di bibir ranjang lalu mengusap punggung anaknya.
"Assalammualaikum, Khumairah."
Geisha tidak menoleh atau membalas salam dari Ayahnya. Ia asik saja bermain boneka sambil berbicara sendiri.
"Kamu mau mamam apa? Aku ada banyak, nih, buat kamu. Hihihi." Geisha cekikan. Dari tangannya seperti menyodorkan boneka kecil karikatur elsa ke arah dinding.
"Hepi beday ... hepy beday ... hantu, yeayy." anak perempuan itu bersenandung lagi sambil bertepuk tangan.
Wajah Gifa semakin tegang dan memerah. Ada perasaan takut, tapi lebih ke arah takut kalau anaknya tidak lepas dari gangguan jin.
"Ya Allah, tolonglah anakku." lirih Gifali. Ia mendesah napas, karena belum mempunyai doa-doa khusus untuk mengusir keberadaan makhluk halus yang sedang mengganggu.
Geisha dengan cepat menoleh dengan delikan mata tajam menatap Ayahnya.
"Astagfirulahalladzim." Gifali mengusap dada.
Tidak pernah si cantik bersikap seperti itu kepadanya. Karena semakin tidak beres, Gifa menarik Geisha, sehingga anak itu berbaring terlentang di atas pangkuannya. Gifali menahan tubuh Geisha yang bergeliat tidak mau disentuh. Gifali memegang kening anak perempuannya sambil membacakan doa-doa pendek dan Al- Fatihah.
Geisha mendongak ke atas dan menyembur-nyemburkan ludah ke arah wajah Ayahnya. Gifali memejam mata dan konsen membacakan surah-surah Al-Quran yang ia hapal.
"Ya Allah kamu kok gitu, Kak." Maura yang baru tiba sambil membawa dua gelas air, lantas menghardik Geisha. Mencubit pelan lengan anak itu.
Bukan menangis seperti biasa, tapi Geisha malah melotot ke arah Maura dan Dipta.
"Ahh ... celammmm ..." Dipta menyembunyikan wajahnya ke belakang pundak Bundanya. Dan ia kembali berteriak kencang.
"Bunda, itu liat Kakak!" Dipta menunjuk ke atas, dimana Bisma sedang menoleh ke bawah. Melihat tiga orang asing di matanya.
Maura mendongak dan menatap Gardapati.
"Astagfirulahalladzim." serunya kencang sampai Gifa yang sedang berdoa, langsung membuka mata.
Maura maju dan berjinjit, mengulurkan tangan untuk menarik tangan Bisma agar mau turun dari atas, tetapi tangannya malah di gigit oleh anak itu.
"Ya Allah, Ayah." Maura mengaduh. Gifa buru-buru beranjak dari ranjang dan menghampiri ranjang anak lelakinya.
Wajah Bisma sudah berwarna hitam di sekitar hidung dan pipinya. Sepertinya anak itu mewarnai sendiri wajahnya.
Gifali menarik tubuh Bisma secara paksa, walau anak itu meronta. Buku-buku jarinya seraya ingin mencakar permukaan kulit wajah sang Ayah, namun Gifali sebisa mungkin menghindar. Ia lebih dulu membawa Bisma keluar dari kamar.
"Adek turun dulu ya, Bunda mau gendong Kakak." ucap Maura kepada Dipta.
"Ndak mau, Bunda. Adek takut." Dipta semakin meremat kain piyama Bundanya. Kedua kakinya melingkar di perut Maura, seakan tidak mau dilepas.
Baru ingin menarik tangan Geisha yang masih menatap mereka dengan delikan tajam. Gifali sudah tiba lagi masuk kedalam kamar. Ia menghampiri Geisha.
"Ayo, Nak. Kita keluar ya. Sini dulu sama Ayah." bujuk Gifa.
Geisha bergeliat tidak mau. Tapi Gifa menarik paksa anak itu untuk mau digendong dan dibawa keluar.
Ternyata beberapa surah pendek yang belum selesai ia bacakan yang niatnya ingin ia hembuskan ke air minum agar Geisha dan Bisma menenggaknya, malah gagal.
"Bun, ambil Ginka dan Ghea. Sekarang juga kita kerumah orang tuaku." titah Gifali.
"Ii---ya Ayah." tanpa aiueo, Maura yang masih menggendong Dipta, lantas bergegas ke dalam kamar untuk membawa Ginka dan Ghea yang sudah tertidur pulas. Mimpi apa kemarin, kenapa bisa malam ini mengalami hal seperti ini. Jantungnya bertalu-talu, khawatir dengan keadaan Bisma dan Geisha.
Bisma dan Geisha yang masih meronta, memukul, mencubit dan menendang Gifali, tetap di seret paksa untuk masuk ke dalam mobil.
Tidak ada jalan lain, ia harus pergi malam ini juga ke rumah Papa Galih. Ia tahu, sang Papa bisa menghadapi yang seperti ini. Dan juga karena jarak rumah mereka tidak terlalu jauh.
Malam semakin mencekam. Jalanan depan kompleks semakin sepi, hanya ada hembusan angin yang berseliweran di udara. Bulu kuduk Gifa semakin berdiri. Lelaki itu merinding bukan main. Selama empat tahun mengurus anak, baru kali ini mendapati anak kembarnya kerasukan mahkluk halus seperti ini.
"Bun, cepat!"
****
Like dan Komennya ya gengss🌺🌺
Duh nih anak🙈🙈