My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Eks Part Nine



Berkat titahan Mama Alika untuk membeli terigu, telur dan minyak yang mendadak habis. Berangkatlah Ammar ke supermarket untuk berbelanja. Karena Maura sedang tidak ada dirumah, ia pergi bersama Gifali untuk melihat-lihat rumah yang sudah mereka jajarkan dalam kandidat pilihan.


Untung saja Ammar tidak pernah membantah apa yang Mamanya suruh. Selagi itu tidak membeli pembalut. Dan tentu saja kepergian Ammar ditemani oleh ketiga kerucil. Selama di Indonesia, triple G selalu lengket dengan Om nya, dan Ammar senang karena mereka bisa disuruh-suruh. Walau hanya dititah mengambil remot, selimut atau hal-hal kecil lainnya.


"Kecini, Om?" tanya Geisha ketika tangannya digandeng masuk ke dalam indojanuari. Bisma dan Pradipta ikut mengekor dibelakang Ammar.


Lelaki yang duduk di bangku kelas tiga SMA itu tersenyum dan mengangguk.


"Wih dingin banget ..." seru Bisma, ketika mereka sudah sampai didalam. Minimarket ini memang terbilang cukup luas dengan rak-rak pembatas yang tidak terlalu dekat. Sampai Pradipta bisa salto di sini.


"Eh--eh!!" seru Ammar. Ia meraih tubuh Pradipta yang malah tiduran di atas lantai. Ammar memukul bokong Pradipta, agar anak itu bangun.


"Dasar tukang eek! Bukannya bangun, malah tidur!" kerutuk Ammar ketika Pradipta pura-pura memejam matanya.


"Bangun, Dek!" seru Ammar lagi.


Baa. Pradipta mengerjapkan mata kilat, seraya mengagetkan Om nya. Anak itu bangkit dan tertawa-tawa.


Si penjaga kasir terlihat menjaga semburat tawa karena merasa lucu dengan sikap Pradipta.


Ia menggandeng tangan Pradipta untuk mengekor langkahnya. Jika Ammar fikir yang bermasalah hanya Pradipta, ternyata ia salah. Bisma dan Geisha hilang dari pandangannya.


DUG.


"Kakak ... Adek!" seru Ammar sambil menggandeng Pradipta.


"Aku ini ah, ini juga, mau ini, ini aku, ini kamu, hihihi."


Samar-samar Ammar mendengar suara anak perempuan tengah cekikikan entah dengan siapa. Yang ia yakini itu adalah suara Geisha.


Dan benar saja, Ammar mengelus dada ketika mendapati Geisha sendirian, sedang berjongkok memunggungi dirinya sambil memasukan semua barang-barang yang ada di rak kedalam ranjang.


Obat nyamuk, wipol, detergen, kamper, Geisha kumpulkan jadi satu. Anak itu memang hanya mengambil yang menarik dan apa saja yang bisa ia raih.


"Adek!" hardik Ammar. Ia meraih tangan Geisha secara paksa untuk bangkit.


Geisha meronta dan bergeliat. "Om tinggalin ya! Biar aja kamu di sini sama setan!"


"Aaahhhh ...." Geisha merengut. Raut wajahnya terlihat kecewa. Ingin menangis, tapi malah tertawa karena Pradipta menggodanya dengan juluran lidah dan bokong yang digoyang-goyangkan. Geisha berlari mengejar Pradipta yang juga berlari karena ingin di cubit.


Ammar mendesahkan napas. Menggeleng kepala pelan. "Tau gitu bawa tali guk-guk, biar leher mereka gue kerangkeng."


Terlihat Geisha dan Pradipta berdiri di tempat ice cream sambil berjinjit-jinjit. Ammar memicing mata lama. "Enggak bakal masuk kan tuh anak kedalam box ice cream?"


Enggaklan. Batinnya. Merasa aman, Ammar bergegas mencari barang yang Mamanya suruh.


Baru saja tangannya ingin menyentuh minyak kemasan, tiba-tiba ia terhenyak. Lupa kalau sedari tadi belum menemukan Bisma.


"Aduh si Bilmar ..." buru-buru Ammar membekap mulutnya karena salah menyebut nama. "Bapak gue itu sih." gumam nya sambil melangkah cepat mengitari seluruh rak. Menyerukan nama Bisma, namun sayangnya yang dipanggil tidak menyahut.


Dan. Ish.


Seketika Ammar ingin mengacak-ngacak jakun nya sendiri, ia frustasi melihat Bisma tengah berdiri didepan lemari pendingin yang sudah di buka pintunya.


Anak lelaki itu tengah berdiri merentangkan kedua tangan sambil memejamkan mata. Bisma seolah sedang konsentrasi merasakan hawa dingin dari dalam begitu melegakan tubuhnya.


"Di kira film Titanic kali ya, lagi di ujung kapal. Biar aja nih, rasain ombak besar datang!" decak Ammar dengan kekehan kecil.


Dan.


"Awww!" teriak Bisma.


Anak itu membuka mata dan mengaduh, ketika Ammar menarik telinganya ke atas.


"Cakit dong, Om!" teriak nya tidak suka.


"Ngapain kamu? Mau beku di sini?" Ammar semakin merekatkan tangannya di daun telinga Bisma.


"Aku gelah, makanya diem di cinih!" Bisma menunjuk kulkas.


"Gelah-gelah! Kamu bisa masuk angin tau!" Ammar melepaskan tangannya dari daun telinga Bisma, lantas menutup pintu lemari pendingin yang terbuka.


Kemudian menggandeng tangan Bisma untuk dibawa pergi ke tempat dimana ia ingin mengambil minyak kemasan.


"Om, tunggu dulu, tunggu." Bisma menghentak tangan Om nya, Ammar menurunkan tatapannya. Ia mendengus frustasi. "Apa lagi?"


"Cucu aku, tuh, di cana----" Bisma menunjuk tempat tadi. Dengan bingung, Ammar kembali memutar langkah ke tempat semula. Dan ia kembali tertohok ketika ada beberapa kotak susu yang sudah di colok dengan sedotan berderet di atas lantai.


Mengapa sejak tadi tidak terlihat? Batin Ammar.


"Asal minum aja nih! Ini tuh harus dibayar dulu!" Ammar gemas ia kembali menjewer telinga Bisma.


Untung saja minimarket sedang benar-benar sepi, hanya mereka berempat sebagai pengunjung. Bisa dibayangkan bagaimana jika banyak orang? Sungguh wajah Ammar bisa diputar ke belakang karena menahan malu.


Mau tidak mau ketiga susu yang serempak dinikmati oleh Bisma, ia masukan ke dalam keranjang walau isinya sudah setengah.


Baru saja Ammar ingin meraih minyak kemasan yang sudah berkali-kali ingin ia raih dari rak, tapi belum jadi-jadi.


Akhirnya tetap tidak jadi.


Sial. Apa lagi sih?


Ia menggerutu ketika ada seruan dari penjaga kasir. Ini pasti soal dua anak yang ia biarkan berdiri didepan box ice cream.


Kenapa mereka? Semedi didalam box?


"Iya, Mba?" tanya Ammar.


Penjaga kasir menunjuk keluar, ke arah pintu kaca. Terlihat Geisha dan Bisma sedang tertawa-tawa sambil memegangi gagang ice cream di tangan mereka yang mungil.


"Op ... op ... mundul, maju, mundul." seru Pradipta mengikuti ucapan tukang parkir ketika ada mobil yang baru saja sampai dan terpakir di pelataran mini market.


Si pengemudi turun dan memberikan uang koin kepada Dipta dan Geisha. Mengelus kepala mereka karena anak selucu dan sebersih itu malah menjadi tukang parkir, fikir lelaki itu.


Bola mata Ammar melotot tajam, ia tidak percaya, kedua keponakannya itu bersikap diluar nalar.


"Euhhh, Ya Allah!" decak Ammar. Si bujang bergegas keluar, sambil menggandeng Bisma, lantas menarik Geisha dan Dipta, lalu dimasukan ke dalam mobil secara paksa seperti gaya om-om penculik. Tanpa alih-alih, Ammar langsung tancap gas untuk kembali pulang kerumah.


Dari dalam minimarket, terlihat penjaga kasir terbirit-birit keluar untuk mengejar mobil Ammar. "Woy! Anak-anak lo belum bayar ice crem sama susu!!"


Percuma saja berteriak, Ammar sudah tidak mendengar. Mobilnya sudah melaju jauh.


"Kok puyang, Om?" tanya Geisha tanpa rasa dosa. Anak itu terus menjilati gagang ice creamnya.


Ammar tidak mau menjawab. Ia kesal dengan ketiga keponakannya. Hanya bisa membuat gaduh, mengacak-ngacak barang di rak, dan membuatnya malu menjadi tukang parkir.


Lalu.


Ammar kembali berteriak di dalam mobil sambil menjangguti rambutnya. Karena ia jadi lupa berbelanja pesanan Mamanya dan membayar susu serta ice cream.


"Ya Allah ... dosa enggak sih, kalau gigit keponakan?" serunya frustasi.


Hening.


Geisha, Bisma dan Pradipta saling berpandangan.


"Apa tadi? Kita mau di gigit?"


****


Like dan Komennya yaw.🌺🌺