My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Apakah Harus Mengembalikan mu?



Terlihat Maura dan beberapa asistennya tengah menyajikan berbagai makanan di meja makan. Beberapa hidangan hotel bertumpah tuah, bentuk dan warnanya sangat menggiurkan. Maura menghabiskan seluruh tenaganya untuk memasak semua makanan itu sebagai dedikasinya kepada Hotel ini.


Karena tempat ini sudah berjasa untuk memperkerjakan dirinya yang belum sama sekali lulus menjadi chef. Edgar pun sudah memberikan sisa gajinya kepada Maura dan cindera mata sebuah hijab segitiga yang ia belikan secara khusus di store ternama.


"Oh masih belum selesai?" tanya Edgar dengan raut khawatir ketika melihat Maura dengan dua pekerja lainnya masih menata letak makanan di meja. Ia masuk ke dalam ruang vip dengan langkah blingsatan.


"Maaf, Pak. Apakah tamunya sudah datang? kalau begitu kami keluar sekarang." tanya Maura dengan wajah gugup. Ia takut jika pemilik hotel yang belum pernah ia lihat sebelumnya, akan marah karena hidangan masih belum rapih.


"Ayo dipercepat, langkah mereka sebentar lagi akan sampai." jawab Edgar dengan buru-buru. Maura mengangguk dan kembali bergegas menyiapkan apa saja yang kurang di meja.


"Lin, tolong saus tar-tar nya." titah Maura kepada Elina.


"Baik, chef." jawab Elina.


Samar-samar suara senda gurau terdengar lebih jelas, sekumpulan para lelaki sepertinya tengah asik membicarakan sesuatu, yang tidak begitu jelas jika didengar dari dalam ruangan.


"Ayo, ayo, cepat! Mereka sudah mau sampai!" tukas Edgar.


"Jangan lupa tundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada pemilik hotel dan tamu nya ya, ketika mereka sudah duduk. Baru kalian keluar, mengerti?"


Mereka pun menganggukan kepala. Lalu berbaris layaknya penjamu.


Langkah pertama yang tiba adalah Tuan Robert, lelaki paru baya itu berdiri menyamping di figura pintu lalu menjulurkan tangannya untuk mempersilahkan para tamu untuk masuk terlebih dulu.


"Selamat datang." seru Edgar dan dua asisten yang lain, tapi tidak dengan Maura, ucapannya seketika berhenti, ia tidak sanggup menyelesaikan sapaan itu sampai selesai.


DEG.


"Ya Allah, suamiku.." desah Maura.


Dua bola matanya menyala-nyala. Jantungnya bergemuruh kencang, jika disenggol sedikit saja pasti akan terlepas dari sarangnya. Telapak kakinya terasa lemas, seraya ingin menjatuhkan diri dan masuk kedalam remukan lantai untuk pergi menghilang dari ruangan ini secepat mungkin.


Langkah Pramudya, Adrian dan terutama Gifali seketika terhenti dipertengahan ruangan sebelum sampai ke meja. Di susul dengan Tuan Robert yang ikut mematung. Mereka semua menatap Maura tanpa kedipan mata. Seraya meminta alam untuk menyambar kan petir, kalau sore ini mereka sedang tidak berhalusinasi.


Hening sesaat, tidak ada suara dari lelaki itu. Gifali benar-benar sangat terperanjat ketika menatap Maura tanpa helaian hijab menutup kepalanya. Rambutnya terlihat di gulung bebas karena sedari tadi ia tidak memakai topi chefnya. Dengan mata bebas semua orang bisa menikmati wajah cantik istrinya sampai ke jenjang leher yang putih dan mulus, dan jangan lupakan yang menikmati pandangan itu adalah para lelaki.


"MAURA kan?" Pramudya membuka suara, ia seraya membenarkan gagang kaca matanya untuk menatap jelas wanita yang baru saja ia panggil.


"Kamu kerja di sini, Ra?" tanya Adrian. Maura semakin kikuk, hatinya terasa tergilas, ia tahu ada lelaki yang kini sedang menunduk kecewa.


Maura mengangguk dengan wajah begitu kaku.


"Adek lo kerja di sini, kenapa nggak bilang?" Adrian menyentak bahu Gifali. Tanpa suara Gifa hanya terdiam, ia tidak mau memberikan respon apapun. Hatinya terasa pedih di bohongi oleh istri secara mentah-mentah.


"Kok bisa kamu seperti ini, Ra?" tanya Gifali penuh kecewa dalam batinnya.


"Oh sudah kenal semua dengan Maura? Ini chef terbaik di hotel ini, baru dua bulan bergabung." Edgar memperjelas keberadaan Maura sambil merangkul wanita itu.


Gifali hanya diam ketika istrinya dirangkul oleh lelaki lain. Maura sebisa mungkin bergeliat untuk melepaskan tangan Edgar dari atas pangkal pundaknya.


"Kamu chef baru itu?" tanya Tuan Robert yang sejak tadi berdiri dibelakang mereka lalu berjalan mendekat. "Sepertinya tidak asing, saya pernah melihat kamu, tapi dimana ya?"


Pramudya melirik sekilas ke arah Robert, ia menunggu terkaan sahabatnya sampai selesai.


Namun


Ternyata tidak, Tuan Robert masih belum bisa menerawang jauh tentang Maura.


"Terimakasih ya, karena dedikasi mu. Restoran di hotel ini menjadi ramai." Tuan Robert mengelus lengan Maura secara hormat.


"Sama-sama, Pak." jawab Maura dengan wajah dingin tanpa senyuman lagi. Yang ia perdulikan hanya lelaki yang masih berdiri menatapnya tanpa senyum, kedua mata Gifali terlihat memerah.


Ia arahkan tatapan mata itu untuk menatap ke atas langit-langit ruangan. Ingin menahan agar air mata kecewa nya tidak sampi jatuh dan menetes, membasahi permukaan pipinya.


"Aku kecewa, Ra. Teganya kamu bohongin aku." Gifa terus merintih.


"Ayo Pram silahkan duduk, semuanya ayo---silahkan duduk." titah Tuan Robert kepada mereka semua.


Pramudya pun akhirnya duduk lalu di susul dengan Adrian dan Gifali. Terlihat Pramudya terus menatap Gifali yang wajahnya langsung berubah. Menjadi diam dan tampak sedih.


"Silahkan di nikmati, saya permisi dulu." ucap Maura, lalu pergi meninggalkan ruangan beserta dua asistennya. Tinggal lah Edgar seorang diri di sana untuk menjamu Tuan Robert dan para tamunya.


Gifali menatap Edgar dengan tatapan tidak suka. Ia benci karena lelaki itu dengan sengaja merangkul Maura tepat di hadapannya.


"Lo kenapa sih? Kok tiba-tiba diam?" tanya Adrian. Membuat Pramudya menoleh ke arah Gifali, ingin mendengar apa yang akan dijawab oleh pemuda itu. Pramudya bukan lah anak kemarin yang bisa ditipu dengan sandiwara mereka.


"Saya tau kalian berdua bukan lah Kakak beradik." gumam Pramudya. Wajahnya tetap hangat menatap Gifali yang jika sedang gulana sangat mirip dengan Gita.


"Sepertinya Maura sedang membohonginya, kasian sekali kamu Gifa." gumamnya lagi. Raut memendam amarah sangat begitu tampak terlihat di wajah Gifali. Dadanya terasa terbakar, rasanya sangat pedih. Lebih pedih dari cipratan minyak goreng yang sedang memanas.


"Saya akan menyelidiki hubungan kalian berdua setelah ini!" janji Pramudya kepada dirinya sendiri.


Ia mulai menyantap makanan yang sudah di sajikan didepan kedua matanya.


"Mungkin betul kamu belum bisa menerima kenyataan untuk hidup susah denganku, Ra." berbagai spekulasi berputar-putar di kepala Gifali.


Ia hanya diam membisu, berbagai pertanyaan dari Adrian pun ia biarkan terlewat begitu saja.


"Nak, ada apa?" kini Pramudya yang bertanya, tentu membuat Gifali mendongak. Sapaan lembut itu seperti memberikan rasa temaran untuk pemuda itu sekarang.


Gifali hanya memberikan senyuman setipis benang dan gelengan kepala. Menandakan kalau ia tidak ingin apa-apa, atau mungkin tidak ingin berbicara.


"Sejak kapan Adek lo kerja di sini? Hebat lo bisa jadi chef di hotel mewah, padahal belum lulus." Adrian tidak ada kapok-kapok nya untuk bertanya. Ia malah semakin kepo.


"Dua bulan." jawab Gifali singkat.


Ia hanya mengingat ucapan Edgar barusan ketika memperkenalkan Maura. Sejujurnya ia saja, seorang suami yang sah untuk Maura, tidak tahu menahu tentang pekerjaan Maura selama ini. Yang ia tahu setiap Maura pulang sekolah, istrinya itu akan selalu berada dirumah. Namun agar mereka semua tidak curiga, Gifali harus ikut bersandiwara dengan Maura.


"Apakah aku harus mengembalikan mu kepada orang tuamu, Ra?"


Air bening terlihat bergerumul dipinggiran kelopak matanya, yang sekilas ia seka dengan jari-jarinya. Begitu pedih hati suami ketika istri yang sudah diamanatkan untuk melindungi auratnya dengan hijab, malah dengan sengaja membukanya.


****


Patah hati aku, kasian Gifali. Maafin istri kamu ya, Bang. Maura enggak sengajađź’”