My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Apa kamu bisa menahannya, sayang?



"Ayo masuk dulu." Wanita itu mempersilahkan Gifali dan Maura untuk masuk kedalam rumahnya. Rumah yang berada di belakang kosan berlantai tiga namun masih dalam lingkungan yang sama. Gifali dan Maura bersamaan duduk di sofa berbulu sambil mengedarkan pandangan ke sudut rumah mereka.


Tampak banyak pajangan dengan berbagai ayat Al-Quran di dinding rumah.


"Kenalkan saya Harun dan istri saya Fatimah." Harun memperkenalkan dirinya lalu menoleh kearah istrinya yang sedang senyum menatap mereka.


"Saya Gifali, Pak. Dan ini istri saya, Maura."


Maura menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat dan menerima perkenalan mereka.


"Kalian ini dari mana?" tanya Fatimah.


"Kami dari Indonesia, Bu, Pak. Ingin melanjutkan kuliah di sini, kebetulan hari ini baru urus administrasi. Makanya kami ingin mencari tempat tinggal." jawab Gifali dengan sopan.


Harun dan Fatimah terus mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kuliah dimana, memang?"


"Istri saya di Culinary Institue kalau saya---"


Suara Gifali terhenti ketika telepon rumah mereka berdering nyaring.


"Permisi, sebentar." ucap Harun lalu bangkit menuju meja telepon. Lelaki berjenggot tebal itu terlihat mengerut-ngerut kan kening nya ketika mendengarkan lawan bicaranya di telepon.


"Masih mau ngekos di sini?" Fatimah kembali membuka pertanyaan kepada mereka, membuat Gifali dan Maura beralih untuk meninggalkan tatapan yang sedari tadi ia gunakan untuk melihat Harun.


"Harga nya berapa ya, Bu?" Kini Maura yang bersuara.


Fatimah tersenyum menatap Maura. "Terserah kalian saja mau bayar berapa."


Kedua bola mata Gifa dan Maura mengerjap, dua pasangan suami istri ini melongo karena takjub.


"Ibu bercanda?" tanya Gifa diiringi dengan senyuman.


"Setiap saya melihat istri kamu, saya jadi teringat dengan almarhum anak saya. Namanya Nurul, itu fotonya." Fatimah menunjuk salah satu foto wanita muslimah yang sedang tersenyum sambil memakai kerudung. Gifa dan Maura pun menoleh untuk menatap foto Nurul.


"Cantik ya, Bu, anaknya, tapi sekarang sudah bahagia karena sudah berada dipangkuan Allah." sambung Maura.


Ada genangan air mata sekilas dari wajah wanita paru bayah itu. Di hari tuanya, ia kehilangan sosok anak yang ia harapkan untuk menjaganya di hari tua.


"Umi, maaf Abi mau ada perlu dulu. Sepertinya Abi akan shalat di masjid." ucap Harun kepada istrinya.


"Hati-hati ya, Bi." Fatimah mencium tangan suaminya. Ia pun ijin pamit meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.


"Jika melihat Ibu Fatimah dan Pak Harun, aku jadi teringat Mama dan Papa..." desah Maura dengan tatapan sedih. Ia rindu orang tuanya.


"Ngekos di sini aja ya, di sini aman." pinta Fatimah dengan wajah memohon. Entah mengapa ia begitu iba melihat Maura dan Gifali. Betul memang dalam kesulitan pasti ada kemudahan, dan saat ini Allah telah memberikan kemudahan kepada mereka.


Gifa dan Maura saling berpandangan, terutama Maura yang hanya menurut apa yang akan diputuskan oleh suaminya.


"Tapi kami hanya sanggup membayar---"


"Tiga ratus?" selak Fatimah. "Enggak masalah, saya terima dengan ikhlas, bagaimana?"


"Apakah Bapak Harun akan setuju, Bu?" tanya Gifa.


Fatimah mengangguk dan memutuskan sendiri. "Suami saya selalu bilang, apa pun yang buat saya bahagia. Ia akan setuju, dan saya bahagia melihat kalian di sini..."


Pasangan suami istri muda itu berbinar penuh kebahagiaan. Mereka tergugah dengan penuturan kata dari Fatimah.


"Ini pasti karena doa Mama dan Papa kita, Gifa." ucap Maura terharu, wanita cantik itu terlihat lirih sambil menyeka air matanya.


Gifali mengangguk. Ia mengelus lembut punggung Maura, lalu kembali menoleh menatap Fatimah. "Terima kasih banyak, Bu. Atas kebaikannya. Saya dan istri sangat berhutang jasa kepada Ibu dan Bapak."


Fatimah mengangguk tanda setuju. Kini hatinya kembali merona, karena bisa menatap Nurul dalam diri Maura.


****


"Iya, Mah, Pah...Waalaikumsallam." Maura mengakhiri sambungan video call dengan kedua orang tuanya di Indonesia. Mama Alika dan Papa Bilmar merasa khawatir karena ponsel Gifa maupun Maura tidak bisa dihubungi. Ponsel mereka lowbat bersamaan.


"Mama dan Papa sehat sayang?" Maura menoleh ketika suaminya bertanya dan mulai menghampiri dirinya di tepian ranjang.


"Mama dan Papa nanyain kamu tadi, tapi aku bilang kamu lagi mandi, kamu enggak telepon Mama dan Papamu?"


Gifali mengangguk. "Iya nanti aku telepon mereka. Sekarang aku ingin rebahan dulu, tubuhku terasa lelah, Ra." Gifa yang belum berpakaian langsung saja menelungkup kan tubuhnya diatas kasur.


"Ayo pakai baju dulu, nanti kamu masuk angin sayang..." Maura menggelitik perut Gifa, dan lelaki itu tertawa sambil menggelinjang. Maura pun bangkit dari tepian ranjang lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil koper mereka. Mencari-cari piyama tidur untuk suaminya.


"Ayo pakai dulu, Gifa." Maura meraih lengan suaminya agar mau bangkit dari ranjang untuk memakai piyama tidur.


"Baiklah demi istriku." jawabnya. Maura pun kembali duduk ditepian ranjang lalu mengambil tas yang ada di atas nakas dan meraih dompet berwarna hitam.


Ia mengeluarkan struk-struk pembayaran administrasi kuliah mereka, dan mulai menghitungnya ditambah dengan pengeluaran yang keluar seharian ini dan mencatatnya di buku.


"Sisa uang ada berapa, Ra?" tanya Gifa yang sudah memakai piyamanya. Ia kembali duduk menyila diatas ranjang menatap istrinya yang sedang sibuk menghitung.


"Segini lagi, sayang." Maura menyodorkan buku catatan pengeluarannya.


Gifali mengulas senyumannya. "Wih, hebatnya istriku. Pintar sekali merincikan uang pengeluaran."


Maura tersenyum memandang suaminya dan kembali menatap buku. "Masih ada sisa untuk beli perlengkapan rumah tangga ya? Kan kalau kasur dan lemari sudah disediakan oleh Ibu Fatimah." ucap Gifali.


Maura mengangguk tanpa menoleh ke arah suaminya. "Iya sayang, alhamdulillah. Kita masih ada sedikit sisa uang, untung aja Bu Fatimah mau memberikan harga segitu dan kita tetap bisa membayarnya perbulan."


"Besok pagi kita pindahan, sekalian membeli peralatan kampus untukmu dan aku. Serta persiapan untuk ospek."


"Sayang..." Maura beringsut mendekati suaminya.


"Kenapa...?" tanya Gifa sambil membetulkan poni Maura yang sedikit menutupi matanya.


"Belikan aku peralatan masak dan kue ya, aku ingin kita lebih hemat lagi. Kalau beli diluar terus, sangat mahal. Dan aku juga ingin membuka pesanan kue, boleh ya?" cicit Maura dengan manja.


Gifa hening sebentar. Ia menata bola mata Maura yang tengah bersinar-sinar, menunggu persetujuan dari suaminya. "Kalau untuk masak sehari-hari aku ijinkan, tapi kalau untuk berjualan kue, kayaknya----"


"Kalau ada pesanan aja, kan lumayan uangnya buat nambah-nambah biaya kosan." Maura tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan bersih.


"Hitung-hitung sambil praktek sayang, biar aku lebih lincah lagi di kampus nanti, gimana?" tanya Maura sambil membenamkan dirinya di bahu Gifali.


Gifali hanya diam tapi akhirnya mengangguk. Ia sedikit merasa bersalah dengan keputusannya yang membawa Maura hidup seperti ini. Bagaimanapun mereka adalah kalangan priyayi, tentu kehidupan seperti rakyat jelata, baru benar-benar ia rasakan sekarang.


"Maaf, Ra. Kamu jadi susah begini karena aku!" batin Gifa menggema, ia mengunci tubuh istrinya dengan pelukan hangat.


****


Terlihat Maura membidikkan bahu nya karena merasa kaget. Wanita itu sudah terlelap dari beberapa jam yang lalu, namun dengan cepat ia membuka kedua matanya. Ada hembusan napas yang menyapu tengkuk lehernya, sang suami sedang memeluk tubuhnya dari belakang.


Maura menudukkan tatapannya ke piyama yang sedang ia pakai. Tangan Gifali sedari tadi sudah masuk kedalam piyama, untuk mengusap-usap dan memegang buah mahoni yang begitu sintal terjuntai di dadanya. Apalagi Maura tidak memakai dalaman apapun dibalik piyamanya. Tentu Gifa semakin leluasa untuk memainkan tangan serta jari-jarinya di sana.


Hampir saja Maura meloloskan rintihan dari mulutnya karena pergerakan tangan Gifali yang terus saja berputar-putar, begitu membangunkan libidonya. Maura sedikit menoleh ke belakang untuk menatap wajah suaminya. Ternyata Gifali sudah mendengkur sambil memejam kedua matanya. Entah lelaki itu setengah tertidur atau sedang bermimpi, dan hasrat yang tengah membara sampai merasuk ke alam bawa sadarnya.


"Sayang..." seru Maura untuk membangunkan suaminya. Namun Gifa hanya bergumam tidak jelas, lalu pergerakan tangannya pun terhenti begitu saja.


"Apakah kamu bisa menahannya sayang?" desah Maura dengan tatapan sedih. Ia kembali menarik tangan suaminya untuk keluar dari dalam piyama. Menggenggam tangan itu dan menaruh diatas perutnya.


"Aku fikir akan hamil cepat, taunya jalan rumah tangga kita akan seperti ini." ucapnya dalam hati. Ia hanya bisa menatap tirai hotel yang terurai panjang, air matanya kembali menetes. Sebisa mungkin ia menahan isakkan tangis itu agar Gifali tidak terbangun. Ia merasa telah gagal menjadi istri yang baik. Membelenggu keinginan suaminya dan membatasi ia dari setiap pahala yang akan tercurah untuknya.


****


Kalau kalian sayang sama aku, like dan komennya jangan lupa ya, maacih❤️