
Ketiga bayi itu terus saja bergerak-gerak didalam perutnya. Membuat Maura yang masih termenung menatap layar ponsel kemudian menunduk ke arah perut buncitnya. Mengusap lembut.
"Kenapa, Nak?"Seakan ketiga anaknya tahu kalau Ayah dan Bunda mereka sedang dalam pergulatan amarah. Mendengar Bundanya berucap, ketiga bayi itu terus saja bergeliat tidak karuan di dalam.
"Harusnya kamu di sini Gifa, mereka butuh usapan lembut dari tanganmu." rintih nya sambil memejamkan kedua mata.
Maura menyandarkan tubuhnya lemah di punggung ranjang, dengan gerakan napas naik turun. Perubahan perut yang semakin membesar, begitu saja menekan kedua paru-parunya. Tidak jarang Maura suka mengalami sesak napas walau masih dalam tahap ringan. Dan ia akan selalu bungkam jika Gifa menanyakan bagaimana keadaan dirinya sekarang.
[Dengan sikapmu seperti ini, itu sama saja membunuhku secara perlahan]
Maura berulang kali membaca pesan yang dikirim oleh Gifali. Status pesan suaminya pun terlihat masih online di seberang sana.
Senang karena istrinya sudah membaca, Gifa kembali mengirimkan pesan.
[Aku rindu kamu, Ra. Kamu tega sekali membuat aku tersiksa seperti ini?]
Terkirim dan langsung terbaca. Di sana Gifali berharap Maura akan membalas dan mengkasihani dirinya. Ia kembali mengirim pesan.
[Aisyah, aku rindu :'( ]
Tapi sayang, hanya kehampaan yang Gifali terima. Maura tidak membalasnya. Gifa kembali gusar ketika status pesan istrinya berubah menjadi offline. Di sana Gifali tidak berhenti mengacak-acak rambutnya. Ingin menjerit dan merusak barang apa saja untuk meredam kekecewaanya.
Di sini. Maura menitikkan air mata. Tangannya terus terulur mengusap perut nya. Merasakan pergerakan bayi-bayi mereka yang begitu kuat dan kencang. Maura sedikit meringis, ketika mengangkat pinggangnya untuk mengubah posisi duduk menjadi berbaring.
"Aku pun rindu, Gifa. Dan kamu tega meninggalkanku disaat aku sedang hamil seperti ini." desah Maura. Air bening itu terus turun dari ekor matanya membasahi pipi dan bantal.
Maura mengusap bagian kosong di sebelahnya. Menggusarkan kain seprai di sana. Berharap lelaki itu hadir kembali, datang dan membawanya ke London.
"Aku masih ingin bersamamu, Gifa." ucapnya sebelum bola mata itu tertutup, dan Maura melangkah ke alam mimpi.
*****
Selama kepergian Gifali, sikap Maura berubah kepada semua orang rumah. Apalagi kepada Papa Bilmar, Maura selalu diam tidak mau bicara. Ia akan menjawab, jika sang Papa bertanya, itu pun mengenai hal penting saja.
Tidak ada senyuman renyah yang memancar dari wajah cantiknya yang semakin hari semakin menggembul. Seharian ia menghabiskan waktunya hanya di toko.
Terkadang ia ikut pulang kerumah Kakek Luky dan menginap di sana. Ingin tidur bersama Gadis. Hanya Gadis dan Mama Alika sebagai tumpahan rasa sedihnya, dan kedua wanita itu selalu menguatkan Maura tanpa rasa lelah.
Setiap pulang kuliah, Gadis akan pergi ke toko. Membantu Maura di sana, karena semakin hari toko kue itu semakin berkembang dibandingkan dulu. Selama Maura di London, toko kue memang ia limpahkan kepada Gadis dan Ammar. Tapi karena Ammar sedang sibuk dengan sekolah, ia jadi jarang mengelolanya. Semua di ambil alih oleh Gadis.
Soal keuntungan pun, Gadis selalu menjabarkan secara transparan kepada Maura. Uang penghasilan dari toko, selalu Gadis setorkan ke bank atas rekening Maura. Walau ia tahu, selama ini Maura tidak pernah mengutak-atik atau mengambil uang tersebut.
"Dis ..."
Gadis yang masih mengetik didepan komputer, kemudian menoleh ke arah Maura yang sedang duduk berselonjor di atas sofa.
"Rebahan aja dulu, Kak. Kamu pasti capek kan dari pagi." Gadis kembali mengetik.
Maura mengangguk. "Apa Gifa ada kirim pesan atau meneleponmu?"
Gadis menghentikan permainan jarinya di atas keyboard. Ia menoleh kembali dengan gelengan kepala. "Belum, kamu rindu kan sama Gifa? Telepon aja, Kak."
Hening. Maura beku untuk menjawab. Tidak perlu ditanya bagaimana lagi rada rindunya saat ini, hal itu terlalu memeras jiwa dan batinnya.
"Gifa belum mengabarimu?"
Maura mengangguk lemah. "Hayo, kenapa tuh?" Gadis sengaja menakut-nakuti Kakaknya. Ia ingin Maura secepatnya untuk mengakhiri kebisuannya kepada Gifali.
"Kamu jangan nakut-nakutin aku, Dis!" decak Maura, terlihat raut ibu hamil itu tidak suka.
Gadis terkekeh. "Jangan kelamaan ngambeknya, nanti Gifa ada yang rebut lagi, lho."
DEG.
Jantung Maura berdentam hebat. Ia kembali menatap layar ponsel yang sejak tadi menggelap. Ia usap layar itu, dan dipilihkan aplikasi whatsapp.
"Online, tapi enggak chat aku dari pagi." gumamnya pelan. "Sedang bertukar pesan dengan siapa?" Maura bertanya-tanya.
Terpancar raut ketidaksukaan dari Maura. Kembali menerka-nerka dan berfikir yang tidak-tidak.
"Sekarang kan di London, malam, Kak. Mungkin Gifa sedang tidur." ucap Gadis menenangkan.
Maura mendengkus. "Tidur dari mana, status wa nya aja sedang online, kok." bibir bawahnya mengerucut seperti itik.
Gadis kembali terkekeh. Rencananya berhasil, ia memang sengaja meminta Gifa untuk tidak mengabari Maura seharian, ingin tahu apa reaksi Maura jika suaminya seperti itu.
"Ya bagus dong, telepon sana, Kak. Mumpung sedang online." ucap Gadis.
Maura hening lagi. Ia bingung, jika ia mengabari dan membuka suara. Gifa akan tenang. Lelaki itu akan urung menjemputnya ke Indonesia. Karena merasa Maura sudah mulai menerima keadaan mereka.
Tapi, Maura juga khawatir. Ada apa dengan suaminya? Apa yang membuatnya sibuk, sampai mengirim pesan saja tidak. Padahal setiap tiga puluh menit lelaki itu akan mengirimkan banyak pesan. Entah kah foto makanan, suasana kampus, kerjaan dan foto dirinya sendiri.
Menghela napas panjang, dan mulai menekan icon telepon. Sepertinya rasa khawatir kepada suaminya bisa menghancurkan sedikit demi sedikit sifat keras kepalanya.
Tutt
"Sayang ..."
Suara meneduhkan kembali ia dengar. Air bening dari kelopak matanya kembali menetes pelan. Maura tertunduk menatap kedua kakinya yang sudah membengkak. Ingin ia katakan dirinya merindu, namun sulit karena lidahnya begitu kelu.
"Bunda ..." Gifali kembali memanggil.
"Kamu sedang apa sayang? Sudah makan?"
"Sudah minum susu?"
"Hallo? Sayang?"
Maura hanya terdiam dengan gawai yang masih menempel ditelinganya. Hanya isak tangis yang ia tahan agar tidak terdengar.
"Bicaralah, Ra. Aku ingin dengar. Aku kangen."
Bukan hanya bicara, malah saat ini Maura ingin berteriak sekencang-kencangnya. Menumpahkan rasa kesal, kecewa, dan sedih yang terus bercokol di hatinya tidak mau pergi.
Maura kembali teringat dengan sikap Gifa yang tidak mau memperjuangkannya. Ia memilih untuk mengakhiri sambungan telepon tersebut.
TUT.
"Kok dimatiin? Kan kamu belum bicara, Kak." tanya Gadis.
Maura menyeka sudut matanya yang mengembun. "Aku masih malas bicara." jawabnya berbohong.
"Kenapa sih, selama hamil kamu itu menyebalkan!"
Terlihat dari layar ponsel, Gifali kembali menelpon Maura dari seberang sana. Namun wanita hamil itu memilih hanya mendiamkan saja panggilan dari suaminya tersebut. Ia masih kesal, karena merasa Gifali sedang tidak sibuk di sana. Mengapa juga lupa untuk mengabari dirinya.
Huh! Ibu hamil ini, mengapa sangat menggemaskan.
"Yang menyebalkan itu dia! Dia tidak mau berusaha untuk meyakinkan Papa. Gifa hanya diam menurut! Pokoknya aku tidak akan bicara dengannya, sampai Gifa membawaku lagi ke London, bagaimanapun caranya!"
Gadis kembali menghela napas frustasi. Ia menggelengkan kepala, sulit sekali rasanya untuk meyakinkan Maura.
"Dasar batu!" pekik Gadis. Dan Maura tidak perduli.
"Asslammualaikum ..." suara Elang yang baru datang diiringi dengan ketukan pintu.
"Waalaikumsallam ..." jawab mereka berdua bersamaan dari dalam. Elang menggeser pintu dan menyembulkan dirinya ke dalam. Gadis menghampirinya dan membawa elang duduk di sofa yang berlawanan dengan Maura.
"Kamu sakit, Ra?" tanya Elang. Ia melihat wajah Maura sedikit pucat dan masih duduk berselonjor di sofa.
"Kakiku bengkak, Lang. Tuh lihat."
Gadis dan Elang menatap punggung kaki Maura. "Ya Allah bengkak banget, mungkin karena hamil kembar kali ya."
"Kok aku enggak ngeh ya dari kemarin? Kamu mau aku antar ke Dokter, Kak?"
Maura menggeleng. "Katanya Dokter sih masih wajar, hasil lab aku juga bagus."
"Lagi hamil besar gitu, malah ditinggalin. Bener-bener si, Gifa!"
Gadis mencubit lengan calon suaminya. "Diem deh, jangan makin manas-manasin!" bisik Gadis.
Elang menautkan dua alisnya. "Gifali nya bodohh, Yang. Gila aja kali, masa lagi hamil besar gitu, ditinggal. Kan kasian, mana kaki nya bengkak gitu kaya pipinya."
"Eh! Aku denger ya!" sungut Maura. Ia melempar Elang dengan majalah.
"Kamu nih apaan sih, Yang." Gadis memarahi Elang.
Elang tertawa renyah. "Bercanda, Ra. Gitu amar sih ibu hamil sensitif. Kamu nanti kalau hamil jangan galak-galak ya, Yang. Tetap manis kayak sekarang." Elang menoleh ke arah Gadis.
Maura berdecak malas. Pengang sekali telinganya, ketika Elang begitu mesra kepada Gadis. Ia memilih untuk beranjak turun dari sofa.
"Mau kemana, Kak?"
"Aku mau keluar, mau cari telur gulung. Aku lagi ingin makanan itu." jawabnya sambil menelan air liur dan mengusap perut buncitnya. Amat menyedihkan sekali, ketika ingin sesuatu. Namun tidak bisa mengadu, ia hanya bisa menuntaskan sendiri keinginannya secara mandiri.
"Kita temenin ya."
Maura hanya mengangguk dan berlalu keluar ruangan.
"Bener-bener si Gifa. Sampai istri ngidam aja, kita yang nurutin."
Dan Gadis hanya mendelikan matanya tajam kepada Elang. "Mulut kamu nih harus di cabein kayaknya!" ucap Gadis sewot.
*****
Like dan Komennya yaa❤️