My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Eks Part Five



Sesuai janji beberapa hari lalu yang Gifali ucapkan. Bahwa lelaki itu akan membawa istrinya untuk jalan-jalan. Menikmati masa-masa babymoon yang memang sudah telat.


Tapi lebih baik telat, dari pada tidak sama sekali.


Jalan-jalan yang di maksud Gifa adalah jalan-jalan berdua saja, tanpa anak-anak. Membawa Maura untuk menginap di hotel berbintang. Ia ingin Maura sejenak mendapatkan kesegaran, ketenangan dan me time untuk dirinya sendiri.


Anak-anak sudah di ungsikan ke rumah Pramudya. Awalnya Maura berat meninggalkan ketiga anaknya yang selalu manja, ia takut merepotkan orang-orang dirumah. Tapi melihat ketiga anaknya senang karena akan menginap dirumah Kakeknya, Maura akhirnya mengiyakan kemauan Gifali.


Kini mereka sedang berada di dalam kamar hotel disekitaran pantai Whitstable, Kent. Desir ombak menderu-deru dipertengahan air laut, lalu terlempar ke permukaan pantai membawa beberapa karang ke atas tanah.


Suasana yang begitu menenangkan, seiring menemani desahan dan rintihan Maura dan Gifali yang masih saja kentara dengan pergerakan mereka berdua di atas ranjang. Sesampainya mereka di hotel, Gifa langsung menerjang istrinya. Menumpahkan rasa rindu yang seperti sedang terbelenggu lama.


"Kamu capek sayang?" tanya Gifa yang masih berada di atasnya.


Sebelum menggeleng atau mengangguk. Maura malah berbalik tanya. "Kalau kamu gimana?"


"Euh ..." Gifa masih memundur majukan tubuhnya dengan celosan erangan. Lalu menggeleng. "Belum."


"Ya, aku pun belum." padahal Maura sudah lelah, kedua anak didalam perutnya pun sudah menendang-nendang, mereka ingin protes karena sang Ayah sudah menengok Bundanya lama sekali.


Maura rindu belaian Gifa. Pun sama dengan Gifa. Selama Gifa sibuk bekerja dan terlalu lelah dalam waktu dua bulan kemarin. Ia jarang sekali menyentuh istrinya. Bahkan bisa dihitung, hanya dua kali dalam sebulan. Dan disaat ini lah, Gifa bisa menyalurkan hasratnya. Apalagi tidak ada gangguan dari triple G. Tidak terburu-buru dalam bermain seperti di rumah.


Gifa mengecup kening istrinya, sambil mengelus-elus buah hatinya yang seperti sedang jumpalitan. Ia masih melakukan pergerakan diatas sana, sampai bisa menerjang puncak nirwana.


"Kalau capek bilang ya, nanti Ayah berhenti."


Maura mengangguk. Walau dirinya lelah, tapi beruntungnya perutnya tidak keram atau kencang. Jadi ia tetap membiarkan permainan Gifali. Ia rindu suaminya, rindu permainan ini seperti diawal mereka menikah.


***


Tujuan sore ini, Gifa ingin membawa istrinya pergi ke salon. Salon memang ada di dalam hotel ini, namun sebagai fasilitas yang berbayar. Dan tentu harganya sangat mahal. Awal masuk ke dalam salon ini, langkah kaki Maura terasa berat. Tapi Gifa tetap memaksa untuk masuk, dan Maura akhirnya menurut.


Maura sudah di dudukan didepan cermin. Gifa berdiri di belakang kursi istrinya, sembari membantu membukai hijab Maura. Ketika hijab terlepas, buru-buru Maura menarik kerah gamisnya sedikit ke atas, karena ada bulatan merah yang banyak suaminya tebar disekitar leher. Gifali juga salah tingkah akan hal itu. Namun bagaimana lagi, sungguh tadi siang membuat ia lupa diri. Gifali melepas kunciran rambut istrinya yang terlihat asal-asalan.


"Mau di potong?" tanya Hair Stylist sambil meraih ujung rambut Maura yang terlihat pecah-pecah dan kasar.


Gifali mengangguk.


"Hah?" Maura memegang tangan suaminya dan menatap Gifa dari cermin. Maura menggeleng.


"Potong sebahu." ucap Gifa kepada Hair Stylist, yang berdiri di sebelah Maura.


"Kok di potong, Yah? Kan Ayah suka rambut Bunda panjang."


"Sudah mau empat tahun, panjang terus. Aku ingin kamu terlihat berbeda." jawabnya, sambil mengusap keringat yang banjir dipermukaan leher istrinya.


Gifa baru tahu, kalau Maura sangat cepat berkeringat. Wanita itu pasti gerah karena selama hamil selalu berambut panjang, hanya memotong ujungnya saja kalau sudah terlewat melebihi lengan. Selebihnya rambut Maura akan selalu panjang terurai. Karena ia tahu, Gifali menyukai rambutnya yang hitam terurai panjang. Mau segerah apapun karena keringat, Maura akan tahan.


"Enggak apa-apa ya, potong aja."


Maura mengangguk. "Yang penting ini permintaan Ayah."


Gifali tersenyum lalu mencium singkat pusaran rambut istrinya. "Istri penurut."


"Berikan treatment lain untuk istri saya ya, semisal creambath, body spa, message---"


Suara Gifa kembali terhenti, ketika Maura memegang tangannya yang masih melekat di atas bahu.


Maura menggeleng. Ia mendongak ke atas dan menarik wajah suaminya. Maura berbisik di telinga Gifali. "Jangan, Yah. Mahal." bisik Maura.


"Enggak masalah." jawabnya santai.


"Silahkan, Bu." Gifali mempersilahkan Hair Stylist mulai menyiapkan keperluan yang Gifali pinta.


"Baik, Pak."


"Enjoy ya sayang. Nikmatin hari ini ... ini harinya kamu." bisik Gifa.


Maura memandang senyum Gifali yang kembali duduk di bangku tunggu tidak jauh darinya. Beruntung Gifa membawa laptop kesayangannya, ia masih bisa bekerja ketika sedang menunggui Maura. Selama apapun itu ia akan siap.


Sesekali ia menatap istrinya yang tengah tertawa senang ketika sedang berbicara dengan Hair Stylis.


"Maafin aku, Ra, selama empat tahun ini. Kamu selalu sabar untuk hidup bersamaku dan anak-anak. Aku kayak baru ngerasain bisa bahagiain kamu seperti sekarang." kaca-kaca di bola mata Gifa mulai tampak. Ia terharu dengan kegigihan Maura yang sudah banyak berkorban demi dirinya. Menemani dirinya dari susah sampai detik ini.


"I love you Bunda ... I love you so much, semoga kamu selalu panjang umur."


Dan Malaikat mengaminkan doa tulus yang suami panjatkan untuk istri yang di ridhoi nya.


***


Sepanjang menuju pantai, Maura terus mengembangkan garis senyumnya. Bergandengan tangan dengan Gifali dengan tatapan malu-malu. Pun sama dengan lelaki yang ada disebelahnya. Mereka terlihat seperti pasangan yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali.


"Kenapa?" Gifali menggoda.


Maura menunduk. Wajahnya memerah karena menahan malu. "Aku tidak biasa di dandani seperti ini." jawab wanita berhijab itu.


"Kan kita mau dinner."


Maura masih menunduk dengan mengulas senyum. Ia masih belum bisa menatap wajah Gifali yang sedang menatapnya dengan raut tengil. Maura si wanita baik yang mempunyai hati seindah lembayung senja, adalah wanita solehah yang selalu tampil apa adanya. Biasanya hanya memakai bedak tabur baby untuk alas bedaknya. Dan lip gloss strawberry untuk membasahi bibirnya. Tidak pernah neko-neko memakai alat make up yang mahal.


Siapa istri yang hatinya tidak akan menari-nari? Jika diperlakukan lembut oleh suaminya. Sepanjang hari di manjakan. Diajak ke salon, potong rambut, luluran, di dandani, dibelikan baju, kerudung, tas dan sepatu baru. Serta bonus candle light dinner di bibir pantai.


Terlihat ada dua pelayan yang sedang menunggu kedatangan mereka di meja yang sudah terdekor dengan cantik.


Maura membekap mulut, dengan mata berkaca-kaca.


"Masya Allah ..." dirinya takjub, ketika langkah kakinya sudah sampai dan melihat apa yang sudah suaminya persiapkan. Entah sejak kapan, dirinya pun tidak tahu.


Pelayan pamit ketika hidangan sudah tersaji semua di meja.


"Suka sayang?" tanya Gifa, yang saat ini sudah memeluknya dari belakang. Maura masih melamun dengan rasa tidak percayanya. Menatap dekorasi meja dengan bunga dan warna yang ia sukai. Ditengah-tengahnya ada beberapa foto-foto mereka dari mulai belum menikah sampai menikah.


Air matanya menetes ketika melihat sebuah foto usang dirinya dan Gifa yang masih berusia lima tahun di bibir pantai. Bahu Maura membuncang yang disertai isak tangis.


Maura meraih foto itu dan didekatkan di dadanya. Memejam mata dan berdoa dalam hati. Gifa memeluknya erat, mencium pangkal bahu Maura yang disertai juga dengan isak tangis.


Maura berbalik badan, mengalungkan kedua tangannya dileher Gifa. Walau niatnya ingin lebih dekat, namun tetap saja mereka berjarak, karena perut Maura yang membuncit menjadi penengah di antara mereka. Gifali memeluk pinggang istrinya, dan mengecup kening Maura berkali-kali. Mereka bersitatap dengan air mata yang berlinang.


"Dari pantai aku menemukanmu berbelas tahun yang lalu, dan kemudian terpisah lama tapi akhirnya dipertemukan lagi. Aku tidak ingin berpisah denganmu, sekalipun ada ajal yang pasti akan memisahkan kita." ucap Gifa. "Maaf ya jika sebagai suami, aku masih banyak kekurangan. Aku mencintaimu karena Allah ..."


Bola mata lelaki itu memerah, karena menahan untuk tidak menangis. Tapi buliran air sudah bergerumun mengumpul di pelupuk. Jika ia mengedip, pasti akan tumpah ruah dan pecah.


Wajah Maura mencebik dengan bibir yang mengerucut. Bibirnya beku, dadanya bergetar. Ia hanya bisa tergelak dalam tangis.


"Aku juga mencintaimu karena Allah ..." bisik nya pelan, sampai sulit terdengar.


Gifali mengeratkan pelukannya. Air matanya pun masih turun. "Tidak mau bilang makasih?" tanyanya meledek.


Maura tertawa dalam tangis. "Makasih Ayah."


"Makasih nya nanti aja ... Kita kan belum coba di Bath up." Gifali terkekeh.


"Ayah!!" Maura ingin memukul lengan suaminya. Dan Gifa bergegas cepat untuk menghindar dengan langkah pelan. Maura mengejar dengan langkah kecil memegangi perut.


Mereka bercanda dalam gelak tawa renyah, dibawah langit gelap bermandikan cahaya bintang dan udara dingin dari hembusan angin pantai. Sungguh indah.


Saling mencinta karena Asma Allah dalam suatu pernikahan, akan menjadi salah satu Ibadah tersyahdu sepanjang masa. Allah akan menjaga jalan rumah tangga suatu hamba, bagi mereka yang benar-benar ingin menjalani mahligai pernikahan hanya karena mengharap ridho dari-Nya.


***