My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Maafkan aku sayang, aku tidak akan lama



Setelah selesai ospek dan berdalih cukup panjang kepada Ramona, karena wanita itu memaksa ingin mengantarkan Maura pulang kerumah, akhirnya dengan langkah panjang Maura melesat menuju Hotel, tempat dimana ia akan bekerja.


Dengan keringat yang terus mengucur dan napas yang tidak berhenti mencengap. Maura menatap lurus bangunan hotel yang menjulang tinggi mencakar langit.


Benarkah ia akan melepas hijabnya? Semudah itu kah? Hanya demi uang? Lalu bagaimana dengan perasaan suaminya? Apakah Gifa akan terima jika dibohongi? Lalu bagaimana urusan dia dengan Allah?


Maura tampak diam sesaat, seperti tengah berfikir. Apakah dengan memajukan langkah untuk masuk kedalam, memang sesuatu pilihan yang dibenarkan sekarang. Tapi, ingatan tentang kejadian penuh duka kemarin, kembali teringat dan membuat dadanya sesak.


Lalu


Ia memejam kan kedua matanya, terlihat katupan bibirnya sedikit bergerak komat-kamit, seperti tengah mengucap sesuatu.


Mantra? Ya, bukanlah, tapi Doa. Sebuah Doa keselamatan dan ucapan maaf untuk sang suami.


"...Maafkan aku suamiku, aku janji tidak akan lama di sini."


Dan itulah keputusan Maura, ia tetap bekerja di sini dan melepas hijabnya. Langkah kakinya terlihat semangat, semua karyawan hotel memandang senyum ke arahnya, karena Maura lebih dulu memberikan raut ramah sambil sedikit menundukkan kepalanya. Entah bagaimana perasaan mereka, jika mengetahui kebenaran yang gadis itu pun tidak tahu, kalau dirinya adalah salah satu anak pemegang saham terbesar di hotel ini.


"Permisi, Bu." ucap Maura kepada salah satu chef di sana yang sedang menumis bumbu. Wanita paru baya itu pun tersenyum. "Pakaianmu ada di sana ya." ia menunjuk kearah lemari loker.


"Sudah ada namamu di sana." sambung Ibu itu lagi. Maura pun mengangguk. "Terimakasih ya, Bu." kemudian ia berlalu menuju loker.


"Sudah disiapkan rupanya? Sungguh tidak enak, kalau tadi aku pergi begitu saja dan tidak jadi bekerja di sini." batinnya. Maura menatap loker yang sudah bertuliskan namanya di sana. Ia pun membuka dan meraih baju serta topi di sana, dan berlalu menuju kamar ganti.


Tak berapa lama kemudian, ia keluar dengan pakaian chef sungguhan. Rambutnya terlihat namun hanya sedikit karena langsung menyematkan topi dikepalanya. Ia kembali termenung, perasaan takut kembali muncul kepada Sang Pemberi Hidup karena sudah membohongi suaminya.


"Ya Allah ... Maafkan aku." rintih Maura. Setelah berdoa, dengan hati yang sudah mantap, ia melanjutkan langkah kembali ke dapur. Membantu para chef lainnya untuk membuat makanan pesanan para tamu.


***


"Heh! STOP!"


Suara teriakan terdengar dari kejauhan, terlihat beberapa laki-laki yang tengah bergerombol menkungkung dan menghajar seseorang yang sedang melawan.


Salah satu dari mereka tersadar, kalau tindakan mereka saat ini tengah diketahui. Mereka pun akhirnya menyudahi dan berlalu dari sana.


"Lo..?" Adrian tersentak, ketika langkah kakinya sudah sampai, sejajar dengan Gifali yang masih menaruh kedua tangannya di pinggang dengan kepala menunduk menghempaskan napas kasar yang membuat dadanya sedikit sesak.


Gifali mendongak dan menatap Adrian. Dan mereka pun akhirnya saling mengingat.


"Lo ngapain di sini, Gifa?" tanya Adrian sambil memegang bahu Gifali. Mencari-cari apakah ada yang luka atau tidak.


"Enggak ada luka kok kak, hanya kaget aja. Kebetulan lewat jalan sini, mau jemput---"


"Jemput siapa?" Adrian menautkan alisnya.


"Jemput adik, Kak." jawab Gifa berdalih.


"Malam-malam begini?" entah mengapa Adrian semakin ingin tahu saja.


"Eh, sorry Gifa. Gue jadi kebablasan pengin tau." sambung Adrian tertawa. Untung saja mereka bertemu di persimpangan jalan yang harus menempuh 5 meter lagi menuju kampus Maura.


Gifali pun ikut tertawa dan memakluminya. "Lo kalau jalan di sini harus hati-hati, Gif. Banyak maling yang bergerombol kayak tadi, ada yang kehilangan nggak?"


Adrian menatap jam mewah itu dengan tatapan tidak percaya.


"Gifa bukan orang sembarangan berarti." gumamnya.


"Ya udah gue balik dulu ya, mau ngantri lagi kesana, apa lo mau ikut gue? Kita makan bareng di sana, cuman ada adek gue doang kok." Adrian tersenyum dan memberikan penawaran menggiurkan.


Apalagi waktunya sangat tepat sekali, perutnya sedang keroncongan. Ia menunggu Maura pulang dan ingin makan bersamanya.


Gifa tersenyum lalu menolak secara halus. "Makasih, Kak. Lain kali aja." jawab Gifa singkat.


"Oke deh bye, hati-hati lo, Gifa."


Adrian pun berlalu dan kembali ke tempat asalnya. Sama hal dengan Gifa, ia memutar langkah menyusuri jalan untuk menjemput sang istri ke kampusnya.


"Aku jadi khawatir kalau selama ospek, istriku pulang malam terus seperti ini, mana besok aku sudah bekerja, tidak bisa jemput dia lagi." desah Gifali.


Hatinya terus dilanda kekhawatiran. Ia tetap melangkah melawan hawa dingin, menyusuri bahu jalan dengan kedua kaki tanpa transportasi. Gifali terlihat sangat lelah, kedua betisnya terasa pegal. Bayangkan tadi siang ia berjalan kaki selama tiga jam, memutar-mutar kota Brick Lane untuk mencari pekerjaan. Sujud syukur, ia mendapatkannya dari buah kesabaran. Kalau bukan karena istrinya, Gifali hanya akan berbaring di ranjang melepas penat dan tidur pulas di sana.


Tap.


Langkah kakinya pun sudah terhenti didepan pintu gerbang kampus. Matanya membeliak sambil mengusap keringat yang terus menetes membasahi wajahnya.


"Kok gelap banget nih kampus? Katanya kan pulang nya jam segini." Gifa kembali menatap arloji yang ada ditangannya. Di sana menunjukan pukul 20:30 malam.


Gifali terus saja berjinjit dibalik pintu gerbang yang tinggi. Pandangannya kembali menyisir keadaan kampus yang hening dan gelap gulita. Seketika ia memalingkan wajahnya dan menyeka cahaya yang mendadak muncul dengan telapak tangannya.


"Hey, siapa itu?" suara bariton penjaga kampus membuat ia terkejut. Cahaya lampu senter dari dalam terus saja menyorot ke arah wajahnya. Membuat Gifa mengumpat, karena membuat matanya sakit.


"Ada apa?" tanya si penjaga dengan bertubuh kekar seperti para anak buah mafia.


"Maaf, Pak saya mau tan---"


"SAYANG ..."


Seketika itu Gifa tidak lagi melanjutkan ucapannya. Ia tertohok melihat Maura tiba-tiba saja datang dari arah berbeda. Mencengkram bahunya untuk menjauh dari pintu gerbang. Maura yang sejak tadi berlari menembus waktu, terlihat wajahnya pucat dan tubuhnya dingin. Jantungnya berdegup, pertama tubuhnya letih karena terus berlari dan kedua ia takut kalau langkah suaminya sudah lebih dulu sampai. Dan dugaannya benar, lelaki itu sudah berdiri di sana.


"Makasih ya, Pak." ucap Maura, dengan cepat ia berlalu menggandeng tangan suaminya untuk pergi dari tempat itu.


"Kok napas kamu gitu? Kamu abis dari mana?" tanya Gifali terheran-heran.


"Rambut kamu juga keluar-keluar gitu." Gifali menghentikan langkahnya lalu mencoba merapihkan hijab Maura, memasukkan kembali anak rambut yang terlihat menyembul dari tepian hijab.


Dan


Blass


Maura memeluk Gifa begitu saja. Ia tumpahkan rasa bersalah, rasa menyesal, rasa takut didada suaminya. Seketika itu pula jantung Maura sudah berdetak normal, tidak kencang seperti tadi. Memang Gifali rumah pelindung kedua setelah Allah SWT untuknya. Bisa membuat jiwanya tenang dan temaran.


"Kamu dari mana sayang?" tanya Gifa lembut. Ia mengusap-usap punggung istrinya yang masih memeluknya erat. Untung saja saat ini sekitaran jalan kampus terlihat kosong dan sepi, jadi Maura bisa bebas memeluk suaminya tanpa rasa malu.


****