My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Menjenguk Cucu.



"Aamiin Ya Roballamiin ..." suara Mama Alika terdengar syahdu, ia membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Wanita paru bayah itu baru saja selesai melaksanakan Shalat Tahajud. Setiap malam rutin ia lakukan kecuali jika sedang menstruasi atau sang suami sedang ingin menjamahi dirinya.


Ia bangkit berdiri untuk melepas mukena dan melipat sajadah, menggantungkannya kembali didalam lemari. Kembali merangkak ke atas kasur, merapihkan selimut ditubuh suaminya yang sedikit tersingkap. Ia pun ikut berbaring disebelah Papa Bilmar. Menatap lekat, mengelus punggung suaminya karena suara dengkuran begitu terdengar nyaring.


"Pah, Pah. Miring ke kanan." titah Mama Alika menyuruh suaminya untuk mengubah posisi yang sejak tadi terlentang. Dengan gumaman tanpa membuat lelaki itu terbangun, Mama Alika berhasil memiringkan posisi suaminya ke kanan. Biar dengkuran napas bisa teredam, jalan nafas baik dan tentu posisi tidur yang paling disukai oleh Nabi Muhammad SAW.


Drrt drrt drrt


Ponsel Mama Alika terus bergetar di atas nakas. Ia berbalik dan menoleh ke benda pipih yang berlayar terang.


"Siapa yang menelpon malam-malam seperti ini?" tanyanya. Ia pun beringsut cepat, untuk meraih ponsel mahalnya.


"Kakak?" eja nya ketika melihat nama sang anak tengah menghubunginya. Sepertinya Maura lupa, jika London dan Indonesia mempunyai perbedaan waktu. Saking bahagianya wanita itu dengan keadaannya yang tengah mengandung, Maura jadi lupa kalau saat ini di Indonesia sudah pukul tiga pagi.


Mama Alika dengan cepat mengusap icon hijau, ia takut ada apa-apa dengan putrinya.


"Assalammualaikum, Mah." suara Maura terdengar setelahnya.


"Waalaikumsallam, ada apa, Nak? Kamu baik-baik aja kan?" wajah Mama Alika terlihat khawatir.


"Kakak dan Gifa baik-baik aja, Mah. Mama dan Papa udah tidur ya?"


Mendengar mereka baik-baik saja, Mama Alika bisa bernafas lega. Ia pun terkekeh. "Bukan udah tidur lagi, tapi sebentar lagi akan bangun karena kita mau shalat subuh."


"Oh iya----" ada rasa tertawa di seberang sana. Alika masih mendengarkan sang anak tengah bergelak tawa yang disambut bisik-bisik suara Gifali.


"Maafin ya, Mah. Kakak lupa kalau kita beda negara." sambung Maura.


Mama Alika hanya tersenyum, tanpa terasa air matanya menetes. Dirinya rindu Maura. Tidak menyangka anak itu bisa juga hidup mandiri tanpa bantuannya di sana.


"Mah, Maura kangen sama Mama, Papa dan Ammar. Gifa juga katanya kangen sama kalian."


Mama Alika menahan isak tangisnya agar tidak keluar. Menyeka air mata dengan buku jarinya.


"Kami semua kangen banget sama kalian, Nak. Rencananya sih bulan depan mau ke London. Mau nengok kalian."


"Kenapa harus bulan depan, Mah? Memang besok enggak bisa, hehehe." jawab Maura dengan kekehan nya, walau di seberang sana Gifali memberikan gelengan kepala.


"Enggak apa-apa ya sayang, aku pengen banget ketemu sama mereka semua." bisik Maura kepada Gifali, menjauhkan ponsel dari mulutnya. Walau di sini Mama Alika masih bisa mendengar dengan jelas, walau pelan.


"Mah, ayo dong ke London sama Papa dan Ammar. Maura mau banget ketemu kalian." suara Maura yang sejak tadi manja kini berubah menjadi sendu. Seperti ada dorongan hebat yang bisa membuatnya berubah seperti ini.


Mungkin juga karena baby yang baru saja diketahui hadir didalam perutnya, walau mereka berdua belum memeriksakannya ke Dokter Spesialis Kandungan.


Orang tua mana yang bisa membiarkan keinginan sang anak. Walau permintaan sekstrim apappun, orang tua akan selalu berusaha mengabulkannya.


"Kamu nih kayak lagi ngidam, Nak. Malam-malam maksain telepon Mama bilang kangen dan suruh kita kesana, hayo ngaku." jawab Mama Alika. Ia sepertinya sudah menebak, karena Maura sungguh berbeda malam ini. Selama berada di London, anak gadis nya yang sekarang sudah tidak gadis lagi itu, tidak pernah menelponnya sepagi ini.


"Wah Mama hebat bisa nebak. Padahal Kakak mau rahasiain dulu tadi nya."


"Hah? Benar begitu?" raut Mama Alika berbinar bahagia. Ia tercengang dengan senyuman melebar di wajahnya. Tidak menyangka terkaan nya benar, dan sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek.


"Pah, Pah, bangun, Pah." Mama Alika menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


"Pah, bangun!" Mama kembali menghentak lengan Papa Bilmar.


"Hemm?" gumaman berat pun tercelos dari katupan bibir lelaki itu. Matanya terlihat masih sangat sepat.


"Mau subuh, Pah! Ayo bangun!"


Papa Bilmar kembali tertidur dan susah untuk dibangunkan.


"Mah, enggak usah dibangunin. Kasian Papa masih ngantuk."


"Iya nih susah dibangunin. Soalnya tidurnya juga udah malem banget tadi, biasa tuh nonton bola dulu." decak Mama.


"Alhamdulillah, selamat ya, Kak. Mama senang banget dengarnya, Kakak sudah mau jadi Ibu sekarang. Nanti Mama belikan beberapa susu dan vitamin untuk kamu. Jangan capek-capek ya, fikiran juga jangan terlalu yang berat-berat. Enggak baik kalau lagi hamil muda."


"Enggak perlu repot-repot, Mah. Alhamdulillah Gifa sudah membelinya barusan di minimarket. Kakak hanya mau Mama dan Papa sekarang, di sini." cicitnya sendu. Mama Alika tersenyum, mengingat-ingat kenangan masa lalu, ketika Maura sedang merengek jika ingin sesuatu.


"Iya, Nak. Mama, Papa akan pergi besok pagi ke London, tapi kalau Ammar. Kayaknya enggak bisa besok, Nak. Adikmu sedang ujian."


"Yahhh----" desah sedih terdengar dari bibir Maura.


"Ammar lain kali aja kesana, ditinggal dulu juga gak apa-apa. Atau suruh nyusul aja nanti." Mama Alika banyak memberikan opsi. Ia tahu sekali wanita hamil itu sangat sensitif.


"Enggak apa-apa, Mah?"


"Iya nggak apa-apa, Adikmu pasti mengerti. Kan sebentar lagi mau jadi Om."


Terlihat senyum Maura kembali mengembang di seberang sana, Gifali yang sedari sedang pusing berfikir, ikut tersenyum. Walau ia akan bingung bagaimana menampung dua mertuanya di kostan yang sempit seperti ini. Apa tanggapan dari Papa Mertuanya, ia tidak bisa membayangkan.


Setelah banyak bercakap-cakap selama satu jam, akhirnya sambungan telepon mereka terputus. Mama Alika kembali menengadah kan telapak tangannya untuk kembali berdoa.


"Semoga Ibu dan bayinya sehat, aamiin."


Tak lama kemudian sebuah tangan membentang diperutnya. Ia menoleh dan mendapati kedua mata suami yang mulai mengerjap, bergeliat dan merentangkan kedua tangan. Terlihat sangat lelah sekali seperti habis memanggul dua ton beras.


"Ayo bangun, Pah. Sebentar lagi Adzan Subuh."


"Bentar Mah, dua menit lagi." Papa Bilmar kembali memeluk guling nya.


"Ayo bangun, Pah!" Mama Alika menjewer telinga suaminya.


"Kan belum adzan."


"Ya siap-siap, mandi dulu sana!" titah Mama Alika.


"Mandiin ya." seulas senyum nakal diperlihatkan oleh si calon Kakek. Sang istri hanya mencebik malas.


"Aku sudah pinjam jet Papa untuk keberangkatan kita pagi ini. Jangan lupa kamu bilang kepada Katherine, kalau seminggu kedepan, kamu tidak akan ke EG."


Dengan cepat lelaki paru baya yang masih terlihat tampan itu membuka matanya kembali. Menatap punggung istrinya dari belakang, Mama Alika masih duduk ditepian ranjang sedang memakai sendal, dan beranjak bangkit memutar ranjang menuju kamar mandi.


"Kok gitu? Memangnya mau ada acara apa? Mah berangkat kemana?" tanya Papa Bilmar penasaran, ia terus menatap langkah Mama Alika yang sebentar lagi sampai di ambang pintu kamar mandi.


"Mau nengok cucu kita, Pah."


"Hah?"


****


Ayo bayangin tampangnya si Kakek tampan kek gimana sekarang, hihihi😂😂😂 apalagi kalau ditemuin sama Kakek tampan satunya lagi yang kelakuannya gak jauh beda, kan dulu mah temen seperjuangan🤭