
Jika mereka fikir, bisa menyimpan rahasia ini dengan rapat. Maura dan Gifali tentu salah besar. Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, bau nya pasti akan tercium juga dan sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan terjatuh juga. Begitulah pepatah yang tepat untuk keadaan Maura dan Gifali sekarang.
Mungkin ini adalah pelajaran untuk Gifali dan Maura untuk kehidupan mereka selanjutnya kalau pembohong tidak akan pernah menang dan selamat.
"Ramona ..." seru Maura.
Tangan kanan Maura terus menggenggam tangan Ramona yang terasa dingin serta tangan kirinya mencakup pipi kiri Ramona. Mengelus-elus lembut agar gadis itu kembali sadar. Ia duduk persis disebelah Ramona. Menatap sedih, mengapa Ramona bisa seperti ini karena dirinya.
"Bangun sayang ..." lirih Adrian.
Lelaki itu ikut duduk di belakang Maura dan Gifali masih berdiri menatap mereka. Semua orang syok terutama Gifali dan Maura. Pasangan suami istri itu tidak akan menyangka kalau kedua sahabatnya akan bertandang ke tempat tinggal mereka.Dan semuanya terbongkar habis.
Di ruang depan para Mama dan Papa sesekali masuk ke ruang kamar untuk memeriksa Ramona yang juga belum sadar. Tentu yang lebih menyalak-nyalak bagai sulutan api adalah kedua Papa mereka, dan Para Mama hanya bisa melamun tidak percaya.
Tak lama kemudian terlihat desahan napas keluar dari katupan mulut Ramona yang mulai terbuka. Ramona menggeliatkan tubuh sedikit, kemudian mengangkat tangan untuk menyentuh kepalanya yang terasa pening dengan kelopak mata yang masih terkatup.
"Ramona ..." Maura kembali memanggil.
Dengan kilat Gadis itu kembali membuka matanya lurus menatap atap lalu mengalihkannya ke sumber suara. Ramona kembali tersadar dengan kenyataan yang baru saja menerpa dan membuat dirinya syok. Ramona sontak bangkit dan duduk berselonjor.
"Kamu bohongin aku selama ini, Ra?" tanya Ramona dengan nada tidak suka. Gadis itu kecewa.
Dengan tatapan sedih, Maura mengangguk. Ramona lantas menarik tangannya untuk terlepas dari genggaman tangan Maura. Ia memalingkan wajahnya, tidak mau menatap bola mata Maura yang sudah berkaca-kaca.
"Maaf kan aku, Ramona. Aku sudah salah." ucap Maura lirih. Gifali yang mendengarnya pun tidak sampai hati.
Ramona tetap terdiam, ia melipat kedua tangannya didada. Air matanya pun menetes. Memang tidak ada yang lebih sakit jika dibohongi oleh sahabat sendiri. Dan wajar saja, Ramona tidak pernah memiliki sahabat dekat seperti Maura selama hidupnya. Ramona begitu menyayangi Maura secara tulus dan murni.
"Demi Tuhan, bukan maksud kami untuk berbohong." sambung Gifali. Ia ingin Adrian dan Ramona mengerti.
Para orang tua masih mendengarkan secara seksama pembicaraan mereka berempat, dari ruang kamar.
"Lulus SMA kami langsung menikah, dua bulan yang lalu. Demi istri, aku memutuskan untuk ikut bersamanya agar bisa bersama mengemban ilmu di negara ini."
"Awalnya kita tidak tau jika persyaratan mahasiswa baru di kedua kampus kami dilarang untuk menikah. Tapi kami bisa bernafas lega, karena peraturan itu hanya berlaku selama satu tahun, maka kami memutuskan untuk mengikutinya."
"Tidak ada cara lain, selain menutupi identitas status pernikahan kami. Kembali menjadi single di kampus dan didepan para teman-teman. Maka dengan segala keterpaksaan kami sepakat untuk menjadi Kakak beradik didepan kalian."
"Aku ingin istriku menjadi chef terbaik seperti yang Papanya inginkan. Maka tidak ada pilihan jalan lain, selain menggunakan cara bohong seperti ini. Tolong maafkan kami, Ramona ... Kak Adrian."
Serentetan penjelasan yang dijelaskan oleh Gifali secara runtut dan tenang. Hanya dengan jujur cara yang paling ampuh untuk menyelesaikannya.
Maura dan Gifali tahu apa yang telah dilakukan adalah sebuah keasalahan serta mereka juga sudah kepalang basah, tidak bisa menghindar dari segala kenyataan yang ada.
"Sabar, Pah. Sabar." Mama Alika hanya bisa mengelus lembut punggung suaminya. Ia tahu Papa Bilmar sedang meradang, dan ikut bersalah. Jika saja ia tidak terlalu berambisi, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi.
"Bagaimana dengan mereka sekarang, Mah? Apalagi Maura sedang hamil?" ucap Papa Galih kepada Mama Difa. Lelaki pun itu kahawatir dengan kelangsungan kuliah mereka setelah ini.
"Pasti ada jalan, Pah. Insya Allah." jawab Mama Difa menenangkan suaminya, padahal jauh di sudut hatinya ia pun sedang tidak tenang.
"Tapi Gifali bisa dituntut karena sudah melakukan kebohongan, Mah." ucap Papa Galih.
Sontak ucapan itu membuat Papa Bilmar menoleh ke arah besannya yang sedang panik sama seperti dirinya. Lelaki itu takut jika Maura dan Gifali diseret ke ranah hukum. Pasalnya peraturan hukum di negara ini sangat ketat. Lelaki itu sudah menerawang jauh entah kemana.
"Gimana nasib anakku sekarang, Mah?" desah Papa Bilmar kepada istrinya. Hening, Mama Alika masih belum bisa menjawab. Serasa kepalanya penuh dan ingin meledak.
"Bagaimana kalau Papa dan Kampus tau, Gifa?" Adrian mendongak menatap Gifali.
"Aku meminta belas kasih darimu, Kak. Untuk membantu aku dan Maura agar bisa aman." jawab Gifali memohon.
"Kamu mungkin bisa aman, tapi bagaimana dengan Maura? Saat ini saja ia sedang mengandung dan akan melahirkan sebelum satu tahun di sini, bagaimana kalian akan menutupi perut Maura yang akan membesar?" selak Ramona, ia menatap lurus Gifali.
"Usahakan jangan sampai ada yang tau, Mona. Tolong bantu aku dan suamiku." rintih Maura.
"Gifa sudah menghabiskan semua uangnya untuk membayarkan sekolah ku. Ingin menjadikanku sukses, ingin membuat kedua orang tua ku bangga dengan tangannya sendiri, tolong Ramona, bantu kami." Maura mengiba.
Ramona dan Adrian menghela napas panjang. Mereka kembali hening dan berfikir. Tentu menyembunyikan kebohongan adalah kesalahan yang sangat besar. Apalagi Adrian harus membohongi Papanya sendiri.
"Sudahlah, Mah. Maura kita bawa saja ke Indonesia sampai dia melahirkan. Biar Gifali tetap di sini untuk meneruskan kuliahnya." salah satu solusi yang Papa Bilmar ucapkan kepada Mama Alika.
"Kasian dong anak saya, dipisahkan begitu saja dengan istrinya. Kamu jangan mau menang sendiri, Mas!" selak Papa Galih menerobos percakapan mereka.
"Bukan saya mau menang sendiri. Tapi keadaanya, anak saya sedang dalam posisi terjepit. Maura sedang hamil, betul apa kata temannya tadi. Kalau perutnya semakin besar bagaimana? Kampus akan tau ia sedang mengandung, anak saya bisa diseret ke ranah hukum karena sudah berbohong!"
"Pah sabar dulu. Jangan emosi." Mama Alika menyergah ucapan Papa Bilmar. Membuat keadaan semakin hening dan genting.
"Pah, udah. Jangan ribut! Kita bisa bicarakan ini nanti bersama kedua anak kita!" ucap Mama Difa kepada suaminya. Wanita itu pun resah, namun sebisa mungkin tetap bersikap tenang.
"Kita akan bicarakan masalah ini empat mata dengan Gifa dan Maura." Mama Alika kembali berucap. Dan semuanya hanya diam mengangguk. Mereka tertohok hebat atas pengakuan Gifali dan Maura hari ini.
****
Tungguin yah masih ada 1 episode lagi, Like dan Komen ya❤️❤️