My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Malam Terakhir.



Maura hanya bisa menangis dan menangis selama diperjalanan pulang kerumah. Terisak sampai mengeluarkan muntahan kecil di dalam mobil karena hatinya begitu terluka. Sang suami tidak bisa memperjuangkan keinginannya. Ia hanya ingin ikut, tapi Gifali tetap menolak.


Maura terus meluapkan emosinya didalam mobil, tangannya berkali-kali digenggam oleh Gifa, namun wanita itu kembali menepisnya. Gifali tidak bisa melalukan apapun, selain sabar. Air matanya pun menggenang, seperti apa hidup yang akan ia jalani, ketika Maura tidak berada di sampingnya.


"Jangan sentuh aku! Pergilah kalau kamu mau pergi!" seru Maura bersamaan deru mesin mobil mereka terhenti di garasi rumah.


Maura membuka pintu dan turun dari dalam mobil, menutupnya kembali dengan gebrakan kasar. Wanita hamil itu berlari sambil memegang kaca matanya agar tidak terjatuh. Ia melangkah ke dalam rumah dengan isak tangis yang masih kentara.


"Kakak!" seru Ammar yang sedang asik menonton tivi lalu terganggu dengan suara tangisan dari ambang pintu. Ia bangkit dan menghampiri Kakaknya.


"Ammar ..." Maura memeluk adik lelakinya itu. Merebahkan kepalanya di dada Ammar. "Kakak kenapa kok nangis? Sudah selesai kontrolnya?"


Hening. Maura tidak menjawab, ia terus saja menangis terseguk-seguk. Ia mengusap lembut punggung Kakaknya dengan gerakan naik turun, lalu mendongak menatap ke arah pintu utama dan menatap Gifali dengan tatapan penuh tanda tanya.


Gifali juga diam, dengan raut wajah yang amat gundah. Suami mana yang tega melihat istrinya menangis seperti itu, tapi ia tidak ada pilihan. Gifa yakin, Maura akan terbiasa setelah ini.


"Aku kesal sama Ayahnya anak-anak, aku benci! Aku enggak mau lihat dia!" seru Maura mengeluarkan rasa kesalnya.


Gifa menghela napasnya berkali-kali. Menatap kekesalan yang sedang Maura luapkan.


"Lho, Kak, kok nangis? Ada apa?" tanya Mama Alika yang sedang menuruni anak tangga dari kamarnya.


Jantung wanita itu seketika berdebar kencang, ia takut terjadi apa-apa dengan kandungan sang anak, pasalnya ia tahu kalau pagi ini Maura akan kontrol ke Dokter.


Mendengar suara Mamanya, Membuat Maura menoleh dan melepas pelukan itu. Ia beralih menghampiri Mamanya dan memeluk.


"Mah, Kakak mau ikut Gifa. Tapi Gifa enggak mau bawa kakak." adu nya dengan intonasi memelas.


Mama Alika menatap Gifa dengan tatapan getir. "Sabar, Nak. Kakak harus kuat. Gifa kan akan pulang beberapa bulan sekali."


Sungguh Maura tercengang, ia tidak percaya dengan ucapan sang Mama. Mengapa begini fikirnya, mengapa tidak ada yang bisa mendukung kepergiannya untuk ikut bersama Gifali.


Maura melepas pelukan itu dan kembali menatap tegas bola mata Mamanya.


"Mah? Apa Mama setuju Gifa pergi sendiri? Hidup sendiri di sana tanpa istri dan anak-anaknya?" tanya Maura dengan wajah mulai memerah.


"Mama pun berat, Nak. Tapi ini semua sudah---"


"Sudah keputusan, Papa, Kak." suara bariton Papa Bilmar muncul di antara mereka semua. Maura dan Gifa serta yang lainnya menatap lurus lelaki itu yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


Sebagai istri, Mama Alika sudah memohon dan meminta kebaikan hati suaminya untuk mengizinkan Maura kembali ikut dengan Gifali. Tapi Papa Bilmar bersikukuh, ia tidak mengizinkan hal itu.


Dari pada anaknya mati, lebih baik cerai saja. Itu lah ucapan Papa Bilmar kepada istrinya.


"Pah, tolong izinkan Kakak pergi bersama Gifa." ucap Maura dengan leleran air mata.


Gifa hanya bisa diam, tanpa mau membantu Maura yang sedang berjuang untuk meluluhkan hati Papa mertuanya.


"Kakak akan tetap di sini, melahirkan di sini, dan sekolah lagi di sini. Suamimu akan kembali jika kuliahnya sudah selesai. Tiap dua atau tiga bulan sekali juga akan kesini untuk menengokmu, Kak." jawab Papa Bilmar.


"Pah ..." lirih Maura. Wanita dengan pipi yang sudah menggembul itu terus saja mengiba. Ia menghampiri Papanya, untuk terus memohon.


"Papa sudah trauma, takut melihat kamu hampir mati waktu itu. Dengarkan nasihat orang tua, kami pasti akan selamat, Kak!" nada Papa Bilmar terdengar sudah meninggi.


"Pilih mana, tetap menjalani pernikahan seperti ini. Kakak bisa aman menjaga anak-anak tanpa beban, atau lebih baik bercerai saja dengan suamimu."


DEG.


Bukan hanya jantung Gifali dan Maura yang menderu-deru. Tetapi Ammar dan Mama Alika pun merasakan yang sama.


"Pah, jaga bicara kamu!" kini Mama yang mengeluarkan suaranya.


"Maafkan Papa, Gifa. Papa hanya---"


Gifa tersenyum dibalik hati yang sedang menjerit. "Iya, Pah. Gifa faham. Papa hanya ingin melindungi Maura."


*****


Tuk.


Segelas susu berwarna cokelat, Gifali letakan di atas nakas. Persis di sebelah Maura yang sedang duduk di bibir ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah. Gifali menghempaskan dirinya untuk duduk di samping istrinya yang sudah berhenti dari tangis.


"Sudah jam sembilan, kamu harus istirahat. Ayo diminum dulu susunya mumpung masih hangat." titah Gifa. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Maura.


Maura kembali bergeliat dan melepaskan tangan suaminya. "Jangan sentuh aku!"


Ada tarikan napas yang begitu nyeri mencuat dari wajah Gifali. Sakit rasanya, di rajuk tanpa henti oleh istri tercintanya.


"Minum dulu susunya ya." seperti biasa, lelaki itu tidak mau meladeni ucapan Maura. Ia memilih sabar. Berharap Maura akan luluh. Lelaki itu tidak mau malam terakhir bersama istrinya di Indonesia meninggalkan bekas pertengkaran.


"Aku bisa buat sendiri nanti." jawab Maura dingin.


"Begini kah cara kamu melepas kepergian ku, Ra?" rasa sabar Gifa sepertinya mulai luruh.


Maura menoleh, menatap lurus manik mata pekat milik suaminya. "Kamu ingin aku menari? Loncat penuh gembira? Atau kamu ingin aku bernyanyi? Kamu mau lagu apa, aku akan dengan senang hati melakukannya untuk melepas kepergianmu!" suara dingin itu begitu menyakitkan di telinga Gifa.


"Cukup doa saja, Ra. Biar aku selamat di sana. Seperti doa ku, untukmu dan anak-anak kita di sini." ucap Gifa dengan nada memelas, terlihat kaca-kaca yang sudah hadir di bola matanya. Ingin mengusap perut istrinya, namun Maura menepisnya.


"Pergilah! Jangan tinggalkan kenangan apapun kepada kami! Aku tidak akan bisa melakukan apapun, jika ketiga anak ini bergerak tiap malam karena sudah ketagihan dengan usapan ayah nya."


Air bening itu menggelosor lurus dari sudut mata Gifali. Hatinya terpukul. Kepergiannya memang banyak meninggalkan luka, luka kepada istri dan anak-anaknya.


"Maafkan aku, Ra. Aku hanya ingin sukses untuk kalian."


Maura hanya mematung diam. Kembali membawa arah matanya menuju hordeng jendela kamar yang terbentang luas di hadapannya.


Rasa hangat di kamar ini sepertinya sudah tidak dirasakan lagi oleh Gifali. Karena Maura sudah banyak memberikan rasa dingin dari beberapa hari kemarin.


Gifa menarik dagu Maura, dan membuat wanita itu menoleh lagi dengan tatapan datar dan kosong.


"Aku rindu kamu, Ra. Tolong malam ini layani aku." karena setelah malam ini, dan malam-malam esok dalam beberapa bulan kedepan. Gifali tidak akan merasakannya lagi.


Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Gifali dengan cepat memagut bibir Maura. Membenamkan segala asanya untuk melebur bersama hasrat yang sedang menjelajah dirinya.


Gifa menekan tengkuk istrinya agar tidak banyak bergerak. Maura hanya diam, menikmati pergerakan lumattan yang Gifali berikan.


Ia tidak mau membalas, walau jujur ia rindu. Sentuhan Gifali yang lembut, akan selalu membuat dirinya terlena. Dan hatinya kembali sesak, ketika mengingat ia akan merindu melakukan hal intim ini bersama suaminya.


Hanya palingan wajah yang bisa Maura berikan kepada Gifali, saat dirinya diberikan beberapa hentakan kuat di inti tubuhnya. Maura hanya bisa diam dibawah kungkungan itu sambil memegangi perutnya. Tidak ada lagi sautan erangan dari keduanya seperti biasa. Hanya Gifa yang mengerang dan mendesah.


Hanya rasa perih yang ia rasakan, karena rasa sedih yang porsinya sangat kuat, begitu dalam menekan kadar libidonya. Hasratnya tidak tampak sama sekali.


Sepanjang permainan cinta mereka, hanya air mata yang Maura berikan malam ini. Malam terakhir untuk menikmati sentuhan dan belaian dari suaminya, Putra Gifali Hadnan.


*****


Like dan Komennya ya guyss buat Abang sama Kakak😘🤗


Nangis mulu nih kasian💔