My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Akan Merindukan



Makan siang pun selesai. Melihat kedua mertuanya sudah berlalu dari meja makan, membuat Gifa bangkit dari kursi dan melirik istrinya yang sedang membantu Bik Minah untuk mengangkut beberapa piring dari meja ke dapur.


"Kamu mau makan lagi sayang?" tanya Maura kepada Gifa yang masih berdiri menunggu dirinya kembali dari dalam dapur. Kebiasaan Gifa setelah makan berat ia akan mencari cemilan sebagai penutup, kebiasaan yang tidak baik.


Gifali mengulurkan tangannya agar digenggam oleh Maura. "Mau nya makan kamu aja, Ra." senyuman menungging dari bibirnya. Memberikan smoke eyes kepada Maura, ia sudah tahu apa arti dari perangai wajah suaminya.


"Ayo kita bikin dedek bayi..." bisik Gifa pelan, membuat Maura terkekeh.


"Kan tadi malam sudah sayang.." jawabnya lembut sambil mengusap lembut pipi suaminya.


Gifa mengerucutkan bibirnya. "Aku mau lagi, Ra. Besok kan kita lama di pesawat, kalau aku kangen gimana?" cicitnya manja. Maura mendengus lalu mencubit perut suaminya. "Masih ada bibik di sini Gifa!" Maura terlihat malu ketika di goda oleh suaminya membuat Bik Minah yang sudah sangat tua senyum-senyum bahagia ketika melihat Maura begitu dicintai oleh suaminya.


"Enggak apa-apa, Non. Wajar kalau masih pengantin baru---Bibik tutup mata nih, enggak lihat." ucap Bik Minah tertawa sambil berlalu ke taman belakang.


"Makasih ya, Bik." ujar Gifa kepada art itu.


"Malu sayang..." desah Maura.


"Kenapa malu sih? Kan aku udah lihat semuanya yang ada di tubuh kamu, ada tahi lalat nya tiga."


Maura melongo dan kembali tersadar. "Ih bukan malu karena itu, Gifa. Malu sama Bibik! Lagian ngapain kamu hitungin tanda itu.." Maura yang sudah tidak awam lagi dengan bahasan itu, hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Ayo yuk sekarang, abis itu kan enak langsung tidur siang." Gifa langsung menggendong tubuh Maura.


"Jangan kayak gini sayang, nanti kalau Papa dan Mama lihat bagaimana?"


Gifa menggeleng. "Mama dan Papa sedang ada dikamar sayang. Makanya kamu jangan berisik!" Gifa mengecup bibir ranum Maura yang begitu lunak dan dan segar warnanya.


"Ya ampun siang bolong masih aja kaya romi and juli----Heran deh!" tentu suara itu membuat Maura dan Gifa tersentak kaget. Mereka berdua pun menoleh dan mendapati Ammar yang baru saja tiba dari luar pintu.


Maura buru-buru bergerak untuk turun dari gendongan suaminya. "Kamu dari mana Ammar?"


"Tadi abis dari rumah teman terus mampir ke rumah Kak Gifa."


"Ke rumah ku?" tanya Gifali.


"Ngapain?" sambung Maura menyelidik.


"Ya mainlah, mampir aja, kenapa? Nggak boleh?"jawabnya santai lalu menyodorkan sebuah rantang tiga susun yang berisi makanan.


Gifa mengangguk walau masih ada perasaan mengganjal. Sejak kapan Ammar bisa akrab seperti ini?


"Dari Tante Difa, Kak."


Maura mengangguk dan mengambilnya dari tangan Ammar. "Malam ini kalian disuruh menginap dirumah. Mereka rindu kalian katanya."


Gifa menatap Maura. "Ayo sayang aku mau menginap di rumahmu." Maura lebih dulu menjawab sebelum Gifa benar-benar bertanya. Senyuman dari wajah lelaki itu pun disambut hangat oleh Maura.


"Tapi Mama dan Papa bagaimana?"


"Mama dan Papa pasti setuju. Lagian kan kita menginap dirumah orang tuamu sayang." Maura kembali meyakinkan suaminya.


"Ya sudah aku mau ke kamar dulu."


"Heh tunggu Ammar!" suara sang Kakak menghentikan langkahnya. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih itu pun menoleh.


"Kamu enggak makan siang dulu? Mau aku siapkan?" tanya Maura.


Ammar menggeleng, entah mengapa wajah ya berubah menjadi senang. Seperti ada ingatan yang kembali menerkam kepalanya, mungkin karena barusan ia mengajak Ganaya untuk makan siang bersama.


"Enggak Kak, aku sudah makan."


"Makan siang dengan siapa?" tanya sang Kakak yang masih saja kepo.


"Udah ah aku mau ke kamar, ngantuk. Ingin tidur!" dengan langkah cepat Ammar mengambil langkah seribu untuk berlalu kedalam kamarnya. Ia meninggalkan pasangan suami istri itu yang masih diam ditempat tanpa memberikan pertanyaan lebih.


"Kamu dengarkan tadi, Ammar sebut nama siapa?"


Maura mengangguk. "Iya sayang, Ganaya yang disebut. Adik kamu!"


"Ada hubungan apa mereka?" tanya Gifa dalam hatinya.


"Gifa?" Maura mengelus pelan bahunya.


"Iya sayang.." jawabnya.


"Jadi mau---"


"Iya dong jadi!" selak Gifa cepat. Lalu menggendong tubuh Maura kembali seperti tadi. Maura hanya tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya dileher Gifali. Mereka berciuman sampai menuju kamar. Membaringkan tubuh istrinya di pertengahan kasur.


"Kalau kita melakukan sesering ini, apa kamu tidak takut aku akan hamil sayang?" tanya Maura yang sudah berada di kungkungan tubuhnya.


Gifali terdiam sebentar lalu menggeleng. "Aku enggak takut, Ra. Aku akan menjaga kalian semampuku! Mencari nafkah sekuat tenaga untuk menopang hidup kita nanti di sana!"


"Iya sayang, aku percaya."


"Apa kamu keberatan jika mengandung saat kuliah?" tanya Gifali


"Enggak sama sekali, malahan aku senang. Bisa memberikan anak untukmu." Maura mengangkat wajahnya untuk mencium bibir suaminya. Lama-lama kecupan kecil itu melebar berubah menjadi suatu lumatann yang membuat tubuh mereka seketika memanas.


Maura dan Gifa kembali mabuk kepayang dengan hasrat yang baru saja mereka rasakan setelah menikah. Rasa sakit di inti Maura pun sudah sedikit berkurang, karena Gifali semakin handal melakukan pemanasan.


Lakukanlah terus sampai puas.


****


"Assalammualaikum..." suara Gifali dan Maura bersamaan mengucap salam dari ambang pintu. Membuat ketiga adiknya yang sedari tadi berkumpul diruang tv pun menoleh.


"Waalaikumsallam, wah Kak Gifa." seru Gelfa membuat Gana dan Gema pun tersenyum dan bangkit dari sofa untuk menghampiri kedua kakak mereka yang baru sampai.


Triple G bergantian mencium tangan Gifali dan Maura.


"Mama dan Papa ada kan?" tanya Maura ketika melihat dua orang yang ia tanya itu tidak terlihat bersama mereka.


"Sejak habis makan malam, Mama dan Papa sudah memilih di kamar, Kak." jawab Gemma.


"...Mungkin juga lagi sayang-sayangan." timpal Gelfa sambil tertawa.


"Hust! Apaan sih Gelfa, ngeledekin Mama dan Papa kayak gitu!" Gana mendelikkan matanya.


"Nih buat kalian, tadi Kakak bikin panada." ucap Maura sambil merangkul ketiga adiknya untuk berjalan ke meja makan, sedangkan Gifali memilih untuk melangkah menuju kamar tidur orang tuanya.


"Mah, Pah?" seru Gifali sambil mengetuk pintu kamar orang tuanya.


Betul apa yang diterka oleh Gelfani, kedua orang tua itu sedang memadu kasih melepas hasrat.


Papa Galih mengangkat wajahnya yang sedari tadi sibuk menyusuri lelukan leher istrinya, karena mendengar suara anaknya yang mulai memanggil mereka.


"Mah itu suara Gifa ya?"


Mama Difa mengangguk lalu beringsut untuk mendorong tubuh suaminya, agar bangkit dan melepas penyatuan mereka.


"Udahan dulu ya, Pah! Nanti lagi dilanjut!"


Papa Galih mengangguk pasrah, walau ia belum mendapatkan pelepasan. Namun karena mendengar suara anak lelakinya, membuat ia begitu senang dan bahagia. Pasalnya setelah ini ia akan merindukan anak lelaki itu.