
Rasanya bertatap muka dengan kehangatan seperti ini terasa kurang bagi Pramudya. Ia masih rindu Gifali. Padahal dikampus dan dikantor mereka juga akan bertemu. Pramudya ingin Gifali dan Maura menginap malam ini dirumahnya.
"Malam ini menginap ya, Ayah masih rindu sama kalian." ucap Pramudya kepada Gifali dan Maura. "Sekalian Ayah ingin membahas lagi tentang perusahaan kepada Gifa dan Adrian."
DEG.
Seketika jantung Maura berdebar.
Gifali kemudian menoleh menatap istrinya. "Gimana sayang?" tanyanya. "Kita akan menginap kalau kamu izinkan" sambungnya.
Dengan napas yang masih memburu, Maura sekilas melirik Agnes yang masih sibuk memainkan gawai nya.
"Aku tau kamu senang, karena Gifa akan menginap." gumam Maura dalam hatinya. Ibu Hamil itu masih saja kesal karena tatapan mereka beberapa menit lalu.
Namun ia tahu, cemburu bukan berarti harus menjadi bodoh. Tidak mungkin jika ia harus menolak keinginan Ayah mertuanya yang sejak tadi mengiba kepada mereka. Apa alasannya untuk menolak? Toh, rumah Pramudya juga rumah Gifali.
Akhirnya dengan berat hati Maura mengiyakan permintaan Pramudya. Ia memberikan senyuman tipis dan menganggukkan kepala.
"Makasih ya sayang ..." ucap Gifali.
"Tapi besok kan kita harus masuk kampus, kita tidak bawa baju---"
"Nanti setelah pulang dari sini, kita akan mampir ke rumah kalian. Sekalian minta ijin ke orang tuamu, Maura." ucap Tamara.
Tidak ada lagi yang bisa Maura dan Gifa berikan kecuali mengangguk.
Maura kembali melirik Agnes, dia sedikit terhenyak ketika melihat gadis itu sudah tidak sibuk lagi dengan ponselnya, tapi tengah memberikan senyum licik ke arahnya sambil menggoyangkan air berwarna merah di dalam gelas berkaki satu.
Dan Maura membalas senyuman itu dengan senyuman tidak bersahabat. Membuat Agnes mengubah tatapannya menjadi dingin.
"Berani juga nih anak, tatap gue kayak gitu." batin Agnes kesal.
"Aku harus berani untuk memberantas perusak seperti dia! Aku tau, kamu ingin mendapatkan suamiku!" kelakar Maura dalam hatinya. Tatapan Ibu hamil itu semakin tajam, membuat Agnes menurunkan tatapannya dan salah tingkah.
"Jangan kamu kira aku lemah, Agnes!"
*****
Waktu sudah menunjukan pukul 22:00 malam. Gifali, Adrian dan Pramudya masih sibuk membahas tentang perusahaan di ruang kerja. Sedangkan Maura dan Tamara sudah berada di kamar masing-masing.
Terlihat Agnes berjalan pelan-pelan sambil membawa nampan berisi kopi dan cemilan di toples. Semua menoleh ketika melihat kedatangannya datang ke ruang kerja tanpa di minta.
Pramudya dan Adrian tahu kalau Agnes sedang mencari perhatian Gifali. Namun mereka tidak bisa menolak, ketika langkah Agnes sudah sampai dihadapan mereka.
"Kamu belum tidur, Nak?" Pramudya mengusap lembut lengan Agnes ketika sedang membungkuk untuk meletakan tiga cangkir berisi kopi dan cemilan diantara mereka.
Agnes menatap Gifali sekilas lalu menoleh ke arah Papanya dan menjawab.
"Belum bisa tidur, Pah. Bolehkah Agnes ikut nimbrung sama kalian?"
"Mau ngapain? Udah sana tidur. Udah malem, Dek!" selak Adrian dengan wajah keberatan.
"Kenapa sih memangnya? Aku hanya ingin di sini, duduk dan diam. Tidak akan ikut campur." Agnes sewot.
Gifali hanya tersenyum karena melihat Adrian dan Agnes saling cekcok.
"Oh iya, Kak. Ada yang aku ingin bicarakan denganmu?"
Agnes mengalihkan tatapannya kepada Gifali. Suara Gifali sangat lembut membuat hatinya kembali temaran.
"Aku bukan Kakakmu, Gifa! Aku ini calon istrimu!" Agnes memelas dalam hati.
"Mau bicara apa?" Agnes menjawab dengan suara yang dihalus-haluskan. Pramudya dan Adrian hanya bisa menghela napas. Mereka tahu bahwa Agnes masih kokoh menyukai Gifali. Mereka pun fokus ingin mendengarkan pembicaraan yang sebentar lagi akan mereka dengar.
"Oh oke baiklah." Agnes menutupi rasa kecewa di hatinya. "Ku fikir kamu ingin berbicara berdua saja denganku." kata Agnes dalam benaknya.
"Aku mau minta tolong sama Kakak. Untuk merahasiakan jati diri Maura di kampus. Saat ini yang tahu hanya Ramona saja. Aku harap Kak Agnes bisa juga membantu Maura. Aku juga ingin menitip nya, takut jika ada sesuatu yang terjadi, karena Maura kan sedang hamil."
Agnes menghela napas, rasanya sakit sekali. Mendengar Gifa begitu mengiba hanya untuk Maura.
Ya jelas saja dong, Maura itu kan istrinya. Ibu dari ketiga anaknya kelak, Gifali pasti akan melakukan apapun untuk istri tercintanya.
Tapi demi Gifali, Agnes harus tetap bersabar.
"Aku harus tetap mendapatkan simpati dari Gifali.Rencana ku harus tetap berjalan." batin Agnes menyeringai.
"Tidak usah minta tolong, Gifa. Aku pasti akan melakukannya, Maura kan juga adikku." jawab Agnes sambil mengulum senyum.
Senyuman yang sangat hangat, bahkan selama hidup Pramudya tidak pernah melihat senyuman manis itu terpancar dari wajah Agnes. Gadis itu selama ini memang selalu merungut kepadanya.
Pintar sekali dramanya? Kemana sikap benci nya yang kemarin ia ronta-rontakan? Pramudya dan Adrian saja sampai mengerutkan kening karena masih belum bisa percaya, bahwa gadis ini sudah menekan rasa cintanya untuk Gifali.
"Tolong ya, Nak. Jaga benar adikmu." sambung Pramudya. Ia pun khawatir dengan keadaan Maura.
Agnes menoleh dan menatap Papanya. "Iya, Pah. Pokoknya sip deh." jawab Agnes sambil memberikan acungan jempol kepada Pramudya.
"Terimakasih, Kak. Kamu baik sekali. Aku jadi berhutang budi padamu." ucap Gifali.
"Oh tentu saja, kamu harus membayarnya nanti dengan cintamu, Gifa!" lagi-lagi Agnes tertawa sarkas dalam hatinya.
"Tidak perlu berhutang apa-apa, Gifa. Sudah menjadi kewajiban ku untuk menjaga Maura dan anak kalian." Agnes tetap menjawab dengan nada lembut dan hangat. Membuat Gifali tersenyum bahagia.
"Aku jadi malu, ternyata Agnes adalah gadis yang baik." batin Gifali. Ia mengingat bagaimana awal-awal dulu, ia bersikap dingin kepada Agnes. Tentu saja harus ia lakukan, ia tidak boleh memberi celah kepada perempuan manapun yang ingin merengkuh hatinya.
"Baiklah kalau begitu. Agnes duluan ke kamar ya, kayaknya baru ngantuk nih." ucapnya kepada mereka sambil menguap.
"Ya udah sana." titah Adrian masih terlihat sewot. Adrian masih saja menerka buruk sikap adiknya yang begitu saja cepat berubah.
"Biasa aja dong." sungut Agnes mendelik tajam ke arah Adrian. Pramudya dan Gifali hanya bisa tertawa.
"Agnes dan Adrian memang seperti kucing dan tikus kalau sudah dirumah, Nak." ucap Pramudya kepada Gifali. Gifa hanya mengangguk senyum dan menghentak bahu Adrian. "Yang rukun dong, Kak." ledeknya.
*****
Senyum merekah masih saja mengembang di wajah Agnes setelah ia keluar dari ruang kerja Papanya. Niatnya ia ingin ke kamar, namun ternyata langkahnya ia alihkan untuk kembali ke dapur. Ia ingin membawa segelas air ke dalam kamar.
Dan gadis itu tersentak, ketika melihat Maura juga ada di sana. Maura terlihat sedang menuangkan air panas kedalam tiga cangkir yang sudah ia berikan gula didalamnya.
"Gue udah bikinin mereka kopi tadi."
"Astagfiullahaladzim." Maura mengelus dada, ia kaget karena tiba-tiba ada suara dari belakang tubuhnya. Maura pun menoleh dan menatap Agnes yang masih berdiri di tiga meter di hadapannya.
Maura mengerutkan kening.
"Gifali tadi minta dibuatkan kopi." ucap Agnes berdusta.
"Gifali?" Maura mengulang dengan wajah yang masih terperangah. Ia kaget bukan main.
*****
Tenang gengss Maura tidak sebodoh dan selemah yang Agnes bayangkan.
Masih ada satu episode lagi nih yang akan akukeluarin, boleh goda aku dulu dengan komennya yang banyak, selain kata 'lanjut thor' ðŸ¤