My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Aku sayang kamu, Maura



"Papa kenapa? Kok belum tidur?" tanya Tamara kepada suaminya. Ia tidak sengaja mendapatkan suaminya yang masih terjaga, ketika ia hendak bangkit dari ranjang menuju toilet.


Pramudya yang masih menatap sudut kamar dengan tatapan kosong akhirnya menoleh dan mengelus pipi istrinya.


"Mama mau kemana, kok bangun?" tanya Pramudya lembut.


"Mama mau pipis, Pah. Bentar ya." Tamara pun bangkit dari ranjang dan Pramudya hanya mengangguk menatap kepergian Tamara.


"Hhh ..." Pramudya menghembuskan napasnya pelan. Ia masih memikirkan tentang jatidiri Gifali.


"Apakah Galih Hadnan dan Nadifa Putri, memang betul orang yang aku kenal dulu?" tanya Pramudya kepada kenangan masa lampau yang ingin sekali ia ingat. Melihat nama orang tua Gifali di catatan biodatanya, membuat Pramudya merasa gamang.


"Berarti Gifali bukanlah anak Gita. Namun kenapa wajah mereka mirip? Bukankah Galih dan Nadifa adalah orang tuanya? Saya jadi ingin mengenal jauh tentang orang tua Gifali, benarkah mereka orang yang sama? Saya sangat tahu sekali jika Gita mencintai Galih waktu itu!" Pramudya semakin pusing jika mengingat kenangan masa lalu yang begitu menyakitkan hatinya.


"Kenapa, Pah?" hentakan tangan di bahu Pramudya, membuat lelaki itu tersadar.


"Sedari tadi Mama panggil-panggil Papa diam aja! Lagi mikirin apa? Malam-malam begini jangan melamun, Pah. Nanti kamu kesurupan!" ucap Tamara sedikit memarahi suaminya. Pramudya tidak sadar jika Tamara sudah selesai buang air kecil sedari tadi.


"Ayo sini, Mah. Peluk Papa." Tamara yang masih duduk ditepi ranjang akhirnya mengangguk dan mendekati suaminya. Memeluk lelaki yang sudah mau menikahinya dengan keadaan janda beranak dua, 15 tahun yang lalu.


"Papa kenapa? Lagi kangen sama anak kamu?" tanya Tamara.


Samar-samar Pramudya menganggukan kepala. Ia terus memeluk Tamara dengan erat.


Sejatinya Tamara sudah tau jika malam-malam Pramudya tengah bersikap tidak tenang seperti ini, karena lelaki itu tengah memikirkan anaknya.


"Ikhlaskan, Pah. Anakmu sudah tenang di Surga." ucap Tamara.


"Jika saja Gita tidak mengarbosi nya, mungkin ia sudah besar sekarang, Mah. Apa mungkin Papa tidak diberikan anak lagi, karena perbuatan ku dimasa lalu?" air bening miliknya menetes turun dari sudut matanya.


Isak tangis kembali membuncah. Tamara sedih melihat suaminya seperti ini, tapi ia juga tidak bisa melakukan apapun. Entah mengapa Semesta tidak menghadirkan seorang anak di pernikahannya dengan Pramudya. Selama berbelas tahun Pramudya hanya bisa mengurus anak-anak tiri nya saja.


"Ini semua sudah takdir hidup, Pah. Jangan kamu sesali."


"Mah ..." Pramudya mendongakkan wajahnya.


"Hemm..?" Tamara mengusap lembut rambut suaminya. "Iya sayang?"


"Papa ingin ke Indonesia, Mah. Papa ingin mencari Gita. Ingin menanyakan kembali tentang anak kami, apakah Mama mau ikut menemani Papa?" pertanyaan Pramudya membuat dua bola mata Tamara terbelalak, tapi demi suaminya. Ia hanya bisa mengangguk pasrah, ia hanya takut Pramudya kembali mencintai Gita, jika mereka kembali bertemu.


"Tenang, Mah. Papa sekarang hanya cinta sama Mama." ucap Pramudya ketika ia tahu wajah istrinya berubah menjadi gelisah.


"Iya Pah, Mama percaya." jawab Tamara singkat dengan senyuman sehalus kapas.


"Ada lagi yang menjadi beban di hati kamu, Pah?" Tamara kembali bertanya, ketika melihat Pramudya masih dalam tatapan bingung.


"Aku mau kok menemani kamu." sambung Tamara lagi. Ia takut Pramudya merasa bahwa dirinya merajuk dan tidak suka.


"Iya, Mah. Papa tau, hanya saja sekarang Papa sedang bingung."


"Bingung?" tanya istrinya.


"Ada salah satu Maba yang wajahnya mirip sekali dengan Gita. Umurnya pun bertepatan dengan almarhum anakku dengannya. Kadang jika bersamanya, aku merasa Gita seperti ada di sini. Dan ada mimpi yang membuat ku gusar."


"Benarkah? Kamu mimpi apa memang?"


"Aku bermimpi, Gita sedang duduk dan menangis menatapku. Ia meminta aku untuk menolong dan menjaga anak kami."


Deg.


*****


Pagi kembali datang, dan hari ini adalah hari pertama Maura di ospek. Ia akan menjadi mahasiswa di salah satu universitas kuliner terbaik di London.


"Enggak ada yang ketinggalan?" tanya Gifa ketika sedang mengunci pintu kostan nya. Ia ingin mengantar Maura ke kampus, karena hari ini ia mendapat keringanan untuk tidak mengikuti ospek kembali. Niatnya, ia akan mencari pekerjaan setelah mengantar Maura.


"Enggak sayang ..." jawab Maura.


"Kamu selesai jam berapa, Ra? Biar nanti aku jemput." tanya Gifali. Lalu ia menggandeng tangan istrinya untuk berlalu dari kostan.


"Katanya sih malam sayang."


"Hah? Kok malam?" Gifa mengerutkan keningnya.


"Rundown acaranya seperti itu." jawab Maura terbata-bata.


"Kok aneh? Ospek apaan kok sampai malam-malam begitu?"


Melihat Gifali seperti ini dan membohonginya telak, membuat hati Maura kembali sakit. Mau bagaimana lagi, sepulang dari kampus. Maura harus pergi bekerja.


"Wajar sayang, namanya juga yang ospeknya kaum cewek, sedikit agak ribet." jawab Maura dengan susah payah menenggak kebohongan. Benar saja, ketika kita berhasil berbohong maka seterusnya kita akan banyak melahirkan kebohongan demi kebohongan yang lain.


Dan karena ia percaya dengan sang istri, ia hanya mengangguk walau masih ada perasaah aneh yang hinggap dibenaknya.


"Kamu nanti dirumah nggak apa-apa sendirian kan? Aku sudah masakin kamu sop, untuk makan siang. Tapi maaf sayang, sop nya tidak pakai ayam. Aku lupa membelinya." tutur Maura.


"Mau makan nasi pakai kerupuk aja, aku nggak akan masalah kok, yang penting makannya sama kamu, Ra." senyum manja mengalir dari Gifali.


Sontak ucapan itu membuat hati Maura berbunga-bunga. Wanita berhijab itu terus saja bergeliat manja di lengan sang suami. Walau Gifa mengantar Maura hanya dengan berjalan kaki, tapi wanita itu tidak henti-hentinya berucap syukur kepada Allah SWT.


"Oh iya, sehabis mengantar kamu. Aku mau pergi cari-cari pekerjaan ya." ucap Gifali meminta ijin kepada istrinya, jika ia hendak pergi sebentar.


"Yang penting kamu harus selalu hati-hati ya sayang."


Gifali mengangguk dan tetap menggandeng tangan istrinya dan mempercepat langkah mereka. Mana kala ia lihat banyak Maba yang berpakaian seperti Maura tengah diantar oleh keluarga mereka dengan berbagai mobil mewah.


"Kamu enggak apa-apa, aku antar tapi jalan kaki begini?"


Maura mengangguk, dengan senyuman lebar di wajahnya.


"Kalau aku minta gendong, memangnya kamu mau?"


"Beneran kamu mau digendong?" tanya Gifa dan lelaki itu bersiap untuk menggendong istrinya. Walau ia hanya sedang bercanda.


"Ja--jangan sayang! Lepasin, malu!" Maura melepas tangan Gifa yang ingin merengkuh tubuhnya.


Mereka pun tertawa bersama-sama, dan terus melangkah di bahu jalan.


"Aku sayang kamu, Ra."


"Aku juga, Gifa." jawab Maura kembali menggenggam tangan suaminya. Ia berjalan sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Ya Allah, aku tidak butuh uang yang banyak. Hanya meminta rezeki yang cukup untuk keperluan rumah tangga dan perkuliahan kami di sini. Jaga kami selalu, aamiin." Doa Maura sambil menatap langit dengan cahaya matahari yang mulai nampak menyoroti mereka.


****


Like dan Komen yaa kalau suka sama mereka❤️