
Terlihat Agnes sedang menyiapkan beberapa makanan di meja makan. Sebenarnya ia enggan mengikuti acara makan siang ini, namun sang Mama mengancam akan menarik semua fasilitas jika putrinya tidak mau menurut.
"Sayang, ayo kenalan ini Gifali temannya Kakakmu."
Mendengar suara sang Mama, membuat Agnes mendongak. Kedua matanya tercengang tanpa ampun, seketika ia membekap mulut dengan telapak tangannya karena merasa tidak percaya.
"Hah? Gifa? Kamu di sini?" tanya Agnes dengan senyum penuh kegembiraan. Gifali pun kaget setengah mati melihat wanita ini ada dihadapannya sekarang.
Kok bisa?
Gifali hanya memberikan senyuman kaku kepada wanita itu. Ia mengingat bagaimana semalam istrinya merajuk tentang Agnes, Gifali masih tidak menyangka kalau wanita ini adalah adik dari Adrian dan anak dari Pramudya.
"Mengapa bisa kebetulan seperti ini?" dalam hati Gifali.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Tamara.
Agnes yang lebih dulu mengangguk namun berbeda dengan Gifali. "Hanya kenal wajah Tante, namanya saja saya belum tau." ucap Gifa jujur dan sedikit berdalih, karena sebenarnya ia sudah tahu sejak semalam.
"Oh iya dari kemarin kita belum kenalan, Gifa." Agnes buru-buru mengelap tangannya dengan tissu lalu menjulurkan tangannya ke arah Gifali.
"Aku Agnes." senyum sumringah menebar luas didepan wajah wanita ini.
Gifali hanya mengangguk dan memberikan kedua tangan yang di katup kan dipertengahan dadanya, melihat sikap Gifali yang menjaga jarak tidak mau bersalaman dengannya, membuat Agnes sedikit malu dan menarik kembali uluran tangannya.
"Saya, Gifali." ucap Gifa.
"Ya udah Gifa di sini dulu ya, Tante mau kedalam. Mau panggil kan Om dulu." Tamara memutar langkah untuk memanggil suaminya yang masih berdiam diri di ruang kerja, ia ingin memberitahukan kalau Gifali sudah datang.
Gifa mengangguk dengan wajah terpaksa. Agnes memutar tubuhnya untuk mendekat ke arah Gifali dan mempersilahkan lelaki itu untuk duduk.
"Terimakasih." ucap Gifali.
"Aku enggak nyangka ternyata kamu temannya Kakakku, Gifa."
Gifali hanya tersenyum dan kembali mengangguk.
Dibalik wajah Agnes yang begitu riang, namun masih tersimpan kekecewaan yang teramat dalam ketika menatap Gifali, ketika dirinya tahu kalau Gifali sudah memiliki kekasih di Indonesia.
"Kalau bukan jodoh, lalu apa namanya, kalau kita dipertemukan kembali? Aku ingin kamu menjadi milikku, Gifa. Perduli setan dengan kekasih mu di sana." gumam Agnes yang keinginannya sungguh berapi-api.
"Oh iya---" belum sempat melayangkan pertanyaan, ucapannya seketika terhenti karena mendengar sapaan selamat datang dari Papa dan Mamanya yang baru saja muncul dari belakang mereka.
"Sudah sampai rupanya." ucap Pramudya. Gifali menoleh dan beranjak berdiri, namun dengan gerakan tangan Pramudya mentitah Gifali untuk duduk kembali.
"Papa kenal dengan Gifali?"
Pramudya tercengang menatap Agnes. Bukan karena pertanyaanya namun lebih kaget dengan suara Agnes yang memanggilnya Papa, maklum Agnes jarang bertegur sapa dengan Pramudya, tetapi adanya Gifali membuat Agnes berubah, dan Pramudya menyukai perbedaan sang anak. Tamara pun menatap bahagia, ia bersyukur Agnes masih mau menghargai suaminya didepan orang lain.
"Iya, Nak. Gifali ini kan mahasiswanya Papa, malah sekarang jadi asisten Papa setelah Om Harun."
Kedua mata Agnes membola sempurna. "Jika kita memang tidak berjodoh, lalu apa namanya Gifa?" desahnya dalam hati. Seketika wajah Agnes berbinar-binar. Ia kembali menatap Gifali dengan rasa suka, pandangan itu pun terekam jelas di kedua mata Tamara dan Pramudya.
"Oh gitu, ya ampun kamu cerdas banget berarti ya." puji Agnes kepada Gifali.
Mereka pun saling bersitatap, Pramudya agak berbisik kepada Tamara yang sedari tadi sudah duduk disampingnya.
"Sepertinya Agnes menyukai Gifali, Mah." bisik Pramudya pelan.
Tamara hanya mengangguk dan terus menatap mereka berdua dengan raut bahagia.
"Enggak apa-apa ya, Pah. Kalau mereka dekat." Tamara kembali berbisik.
"Yang penting Agnes bahagia, Mah. Papa dukung." jawab Pramudya.
"Oh iya, coba yang ini ya. Ini enak loh, aku sendiri yang membuatnya." ucap Agnes, ia mengambilkan sebuah cup cakes dan meletakannya di piring Gifali.
"Jangan repot-repot, Nes. Saya bisa ambil sendiri nanti." ucap Gifali sopan.
Tak lama kemudian
"Assalammualaikum ..." terdengar suara Adrian yang langkahnya akan muncul sebentar lagi ke hadapan mereka dan juga langkah Ramona dan Maura yang mengekor dari belakang.
"Waalaikumsallam ..." jawab mereka semua yang ada di meja makan.
Lalu
Tap.
Langkah mereka pun muncul, senyum dari Adrian dan Ramona saling beriringan menatap mereka, namun tidak dengan wanita berhijab yang ada dibelakang mereka. Langkah kaki wanita itu terhenti mendadak, ketika ia menatap lelaki yang sangat ia hafal tengah duduk dengan wanita yang ia cemburui.
"Gifa? Mengapa bisa?" desahnya pelan, hal yang sama pun dirasakan oleh Gifali. Lelaki itu tanpa sadar beranjak berdiri menatap istrinya yang tengah mematung. Ia tidak percaya kalau Maura ada di hadapannya sekarang.
"Jadi Kak Agnes adalah adik dari kekasih nya Ramona? Kenapa Ramona tidak pernah bercerita kepadaku?" lirihan hati Maura.
"Ra, kok bengong." ucap Agnes, membuat Ramona dan Adrian yang sudah melangkah lebih dulu lalu menoleh ke belakang.
"Eh iya, kamu ngapain melamun di situ, Ra?" Ramona berbalik untuk menghampiri Maura dan menggandeng tangan sahabatnya. Maura hanya terdiam, jantungnya kembali berdegup, ia tidak menyangka lelaki ini dengan telak membohonginya.
"Kalau aku ajak kamu, takutnya dia curiga, Ra. Wajah kita kan gak mirip."
Kalimat itu masih saja terngiang-ngiang dibenak Maura. Alasan suaminya yang ia percaya begitu saja tanpa kecurigaan apapun.
"Mungkin ini alasannya, ketika kamu tidak ingin mengajakku kemari." gumam Maura, ingin ia menangis dan berlari meninggalkan rumah ini, namun sulit untuk ia lakukan. Hatinya kembali sakit dan linu.
"Wah lengkap nih ada Kakak- Adik di sini." ucap Agnes lalu menghentak bahu Gifali dengan lembut. Membuat Gifa yang masih melamun lalu tersadar dengan cepat. Tanpa fikir panjang ia pun menghampiri istrinya.
"Kamu ikut juga kesini, Ra? Ini berarti Ramona ya?" Gifali memutar bola matanya menatap Ramona.
"Ya Allah kenapa semua bisa kebetulan seperti ini?" gumam Gifa.
Ia tidak percaya kalau Ramona adalah kekasih dari Adrian. Dadanya pun terasa sesak, ia bingung harus bagaimana menjelaskan duduk persoalan ini dengan sang istri, terlebih lagi Maura lebih dulu menatapnya tengah duduk bersebelahan dengan Agnes dan wanita itu melayaninya dengan baik di meja makan.
"Iya aku Ramona, kamu Kakaknya Maura?" tanya Ramona. Mau tidak mau, Gifali tidak bisa mengelak atau bersandiwara didepan mereka selain mengiyakan kalau Maura memanglah adiknya.
Gifali pun mengangguk, lalu menoleh ke arah Pramudya dan Tamara. "Ini Maura, Adik saya." Mendengar ucapan itu membuat hati Maura kembali bergetar, seperti ada petir yang menyambar aksa dan sukma nya.
Mereka pun mengangguk dengan benar saja, alis mereka terlihat mengerut, seperti menerawang jauh dengan berbagai terkaan yang mulai menyambut.
"Benarkah Adiknya?" desah Pramudya, ia menatap Maura dari hijab nya sampai ke ujung kaki.
"Oh Maura tuh Adek lo, Gif? Kebetulan banget ya." ucap Adrian sambil meletakan tangannya diatas pundak Ramona dan sedikit berbisik. "Kalau kamu pakai hijab kaya gitu, pasti tambah cantik deh sayang."
"Beneran, Kak? Kamu suka aku pakai hijab?" tanya Ramona.
Adrian mengangguk lalu membawa Ramona untuk duduk di meja makan. Gifali kembali menatap Maura, ia tahu ada buliran air bening yang tengah menggenang. Gifali hanya memberikan kode dengan matanya, agar Maura bersikap dengan bijak didepan mereka.
"Ayo, Dek, salaman dulu dengan Pak Pramudya dan istrinya." Gifali menggandeng tangan Maura yang terasa sangat dingin, Gifali pun tahu apa yang sekarang dirasakan istrinya. Maura hanya diam dan mengangguk saja.
"Kamu pasti lagi marah sama aku." gumam Gifali. Ia sudah tahu, jika Maura sedang tidak enak hati, cemas dan gugup. Akral tubuhnya pasti langsung berubah menjadi dingin.
Pramudya dan Tamara pun bangkit, mereka yang lebih dulu menghampiri Maura yang baru saja ingin melangkahkan kakinya lagi.
"Jika memang kamu adalah adik dari Gifali, berarti kamu juga adalah anak dari Nadifa dan Galih Hadnan, tapi kenapa tidak ada mirip-mirip nya? Apa Nadifa dan Galih yang aku maksud bukan teman ku dan Gita di SMA dulu? Atau mungkin kamu adalah anaknya Gita dengan suaminya yang baru?"
Isi otak Pramudya terus saja berputar-putar untuk menerka-nerka hal yang belum pasti dan tidak benar sama sekali.
"Aku semakin penasaran, besok juga saya akan pergi ke Indonesia, untuk menguak kebenaran kalian."
*****
Masih penasaran kan sama kelanjutan di meja makan dengan mereka semua, kalau like dan Komennya banyak akan aku UP dengan segera, maacih❤️