My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Sabbatical Wife ?



"Maafin aku ya, Ramona." Maura dan Ramona saling memeluk. Ramona mengusap lembut punggung Maura dan mengangguk tanpa kata.


Tubuh gadis itu masih terasa lemas, tentu hati dan jiwanya masih menegang. Bagai disambar petir di siang bolong, dirinya harus mendapatkan kabar tidak mengenakan tentang identitas diri sahabatnya.


Mungkin ia bisa sedikit bersikap tenang kalau Maura hanya menikah, tidak dengan berita kehamilan yang semakin mendukung semuanya menjadi kacau balau.


Bagaimana jika semua teman-teman dan kampus tahu? Ada teman dan mahasiswi mereka sudah menikah dan sedang hamil. Perkara itu membuat Ramona terjepit. Pasalnya ia pasti akan ikut terseret karena sudah mau menyembunyikan kesalahan Maura.


"Kamu enggak marah kan sama aku?" Maura mengulangi ucapannya. Ia tatap wajah Ramona yang sudah terlihat kering dari basahan air mata di permukaan kulit pipinya.


"Enggak, Ra." jawab Ramona singkat. Dadanya masih saja sesak. Kepalanya belum bisa berfikir secara logis.


Maura melepaskan pelukan mereka, dan mencium pipi Ramona. "Makasih ya, sayang. Kamu memang sahabat terbaikku."


Ramona mengangguk dan tersenyum tipis. Ia balik mencium pipi Maura.


"Kamu cepat sehat ya, cepat masuk lagi." Ramona sedikit membungkuk untuk mengelus perut Maura. "Dada keponakan aunty. Jagain Mama kamu ya."


Gifa dan Adrian tersenyum melihat pemandangan itu. Gifali sangat bersyukur walau di awal kedua sahabatnya itu begitu terpukul dan sulit menerima. Tapi akhirnya mereka mau membantu dirinya dan sang istri.


"Makasih banyak ya, Kak." ucap Gifali.


Adrian menghela napas panjang dan mengangguk. Ia pun sama, telapak kaki terasa lemas dan menciut. Apa kata Papanya nanti, jika telak-telak ia membantu Gifali untuk berbohong.


"Iya, Gif. Yang penting lo harus ingat. Ini adalah rahasia penting yang harus lo jaga. Hanya gue, Ramona dan Pak Harun yang tau!" ucap Adrian mengingatkan.


Pemuda itu pun sempat syok kembali ketika Harun mengetahui status pernikahan Maura dan Gifali sejak lama, dan mungkin setelah ini Harun yang akan kembali terpukul, karena Adrian sudah mengetahui rahasia mereka.


"Iya, Kak. Aku janji." jawab Gifa.


Mereka pun melepas kepergian Ramona dan Adrian didepan pintu gerbang.


"Dada ..." Maura melambai-lambaikan tangannya ke dalam mobil.


Ramona dan Adrian balik melambaikan tangan kepada mereka, menjalankan kereta besi dan berlalu dari sini. Membawa sejuta kebohongan yang sudah Maura dan Gifali buat.


"Aku sangat bersalah kepada Ramona, sayang." desah Maura, ia merebahkan kepalanya di bahu suaminya. "Harusnya aku jujur saja dari awal, ia pasti mau mengerti dan tidak terpukul seperti sekarang." cicitnya Maura sendu.


"Aku pun sama kepada Kak Adrian, semoga mereka benar-benar bisa menjaga rahasia kita, Ra." jawab Gifali, ia tetap merangkul istrinya. Mengecup pusaran hijab kemudian mengusap perut istrinya.


"Jangan difikirin terlalu keras ya, kasian anak kita, sayang."


Maura tersenyum. "Iya Ayah."


"Ayah sayang banget sama Bunda." ucap Gifali.


"MAURA ... GIFA, AYO NAIK!!"


DEG.


Sekejap pangkal bahu mereka berdua mengedik naik. Tersentak kaget karena mendengar suara bariton nyaring berhembus ke daun telinga mereka. Pasangan suami istri itu menoleh lalu mendongak ke arah kostan mereka. Napas mereka kembali memburu. Mengerjapkan mata beberapa kali.


Ada Papa Bilmar yang tengah berdiri menatap lurus wajah mereka berdua dari depan kamar kostan. Rahang lelaki itu terlihat mengetat kencang. Tatapannya dingin dan kasar.


Maura menggigit bibir bawahnya karena takut. Ia tahu sang Papa tengah murka. Sudah dibayangkan akan ada keributan setelah ini.


"Bagaimana ini sayang? Papa marah." ucap Maura.


"Sabar, Ra. Kita hadapi."


"AYO NAIK, CEPAT!" suara lelaki paru baya itu terdengar kembali, ia terlihat gemas.


"Jangan sampai Papa seret kalian naik ke atas!" sambung Papa Bilmar. Mama Alika pun keluar untuk menghampiri suaminya.


"Masuk, Pah! Malu teriak-teriak begini!" decak Mama Alika.


Ia kesal karena suaminya tidak bisa menahan emosi. Papa Bilmar pun berlalu masuk kedalam dan berkumpul lagi dengan para besannya.


"Maura, Gifa, ayo naik, Nak." Mama Alika pun berseru.


Mereka pun mengangguk dan mulai melangkah menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Pokoknya apapun yang akan orang tua kita ucapkan, mau marah atau pun sebagainya. Kita harus mendengarkannya sampai selesai. Kamu jangan dulu menyelak, memotong apalagi ikut marah karena terbawa emosi, mengerti maksud ku?" ucap Gifali.


"Iya sayang aku mengerti."


Dengan debaran jantung yang cukup kuat, mereka terus melangkah menaiki anak tangga sampai ke lantai tiga, mungkin sebentar lagi mereka akan pindah ke lantai satu dengan kamar kost yang lebih besar walau harganya sedikit mahal. Tentu Fatimah dan Harun pasti akan memakluminya.


Gifali sekilas melirik wajah istrinya yang sudah sangat cemas. Serta merasakan kepalan tangan Maura yang kembali dingin. Tubuh wanita hamil itu bergetar, ia takut sang Papa akan membawanya kembali pulang ke Indonesia.


And sabbatical as a wife will feel soon


****


Udah tau kan maksud dari My Sabbatical Wife, mereka akan kenapa? konflik panjang akan aku mainkan ya gengss, jadi kalau kalian ngeri-ngeri gimana gitu, tabung aja dulu gak apa-apa.


Like dan Komennya ya guyss buat Abang dan Kakak❣️ kira-kira bayi mereka cewek atau cowok ya? terus mirip siapa? hihihi🤭