
Papa Bilmar tetap kukuh pada pendiriannya. Ia sudah mendatangi kedua Dokter Maura dan Gifali, apakah mereka bisa dipindahkan ke Indonesia. Awalnya Dokter melarang. Lebih tepatnya berat kepada keadaan Gifali yang masih berada di ruang ICU.
Lelaki itu belum sadar, dan masih dipantau bagaimana tetesan perdarahan didalam perutnya. Tapi untuk Maura, Dokter mengizinkan. Karena wanita itu masih bisa bernapas tanpa bantuan alat apapun. Ia hanya belum sadarkan diri.
"Saya akan tetap membawanya pulang bersama Maura." ucap Papa Bilmar, ia terduduk di kursi menatap menantunya yang masih berjuang untuk sadar. Walau beresiko, ia akan mencoba untuk membawanya pulang.
"Saya tidak setuju! Saya Ayahnya, saya yang berhak memutuskan pilihan!" seru Pramudya yang sejak tadi duduk bersebrangan dengan Papa Bilmar.
Papa Bilmar terdiam. Ia pun tidak bisa memaksa kehendaknya. Ia sayang dengan Gifali, tapi ia tahu. Pramudya juga berhak menahannya, seperti ia yang tetap akan membawa Maura pergi. Pramudya juga sudah berkali-kali meyakinkan Papa Bilmar, namun lelaki itu masih susah untuk di ajak berdamai.
Hening. Papa Bilmar menggenggam tangan Gifali. "Maafkan Papa, Nak. Papa harus membawa Maura."
****
"Kamu nya tenang dulu, Mah! Papa ini ... Ingin meminta-----Arggg!" ucap Papa Bilmar dengan nada tinggi. Lelaki itu emosi di kamar perawatan Maura.
Tut.
Papa Bilmar mematikan sambungan telepon kepada istrinya secara sepihak. Sulit sekali untuk berbicara dengan Mama Alika, wanita paru bayah itu histeris di seberang sana.
Wajar saja ia seperti itu, orang tua mana yang tidak akan syok jika mengetahui anak sedang dalam fase tidak sadarkan diri.
Papa Bilmar mencari nomor telepon lain dengan buku jari di layar ponsel. Setelah di dapat, ia menempelkan kembali ponsel itu ke daun telinganya. Menunggu orang yang dituju untuk mengangkat teleponnya.
Air mata dari wajah lelaki itu terus saja menetes, kembali membasahi kedua pipinya.
Sakit sekali hatinya. Beberapa kali ia meremat kain didada, untuk menghilangkan sesak. Sulit menerima keadaan Maura dengan perdamaian, batinnya terus saja mengutuk.
Papa Bilmar menghempaskan bokong lagi di kurs. Lelaki itu duduk di sebelah pembaringan Maura. Menggenggam tangan anaknya, menatap lirih Maura. Air mata terus saja meluncur membuat jejak lurus dari sudut matanya.
"Maafkan aku Kannya, aku gagal menjaga Maura." lirih lelaki paru bayah itu. Rasanya menghela napas pun sulit. Sesak sekali, tidak pernah selama delapan belas tahun membesarkan putrinya, Maura bisa seperti ini.
Lelaki paru bayah itu akan selalu menangis jika anak-anaknya sedang sakit walau sakit ringan sekalipun. Papa Bilmar sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Siapapun orang tua di dunia ini, pasti akan bersikap sama.
"Assalammualaikum, ya hallo, Kak?" suara dari Indonesia akhirnya terdengar setelah nada sambung yang lama dan Papa Bilmar mulai gusar.
"Waalaikumsallam, Bin. Tolong bantu Kakak! Alika sangat sulit untuk di ajak bicara sekarang. Dia syok!" Papa Bilmar menyeka air matanya, menghentikan isak tangis agar bisa berbicara dengan baik. Ia ingin sang Adik bisa menjalankan perintahnya tanpa kesalahan.
"Hah, ada apa memangnya, Kak?"
"Dengarkan apa kataku. Jangan menyela, dan jangan dulu memberikan pertanyaan. Tolong carikan aku satu kamar perawatan di Rumah Sakit yang terbaik di sana, rinciannya akan aku kirimkan via chat, berikan atas nama Maura."
"Ta--pi, Kak. Maura kenapa?"
"Cepat, Bin!"
"Ii---ya, Kak." suara tergagap terdengar fasih dari bibir Tante Binara di seberang sana. Wanita itu pun ikut cemas dan panik, tapi ia tidak bisa membantah dan mendesak Papa Bilmar untuk berbicara, karena ia tahu bagaimana sifat Kakak lelaki nya ini. Hanya Tante Binara yang bisa diandalkan oleh Papa Bilmar sekarang. Dan Gadis pasti akan ikut syok di sana.
Baru saja sambungan telepon itu terputus. Ada telepon masuk dari Mama Alika. Papa Bilmar hanya menghela napas dan mendiamkannya saja.
Kepalanya seperti mau pecah. Meletakan kedua sikut di atas ranjang sebagai tumpuan, agar kedua telapak tangannya bisa menangkup wajahnya. Pelan-pelan guncangan di bahu terlihat dan disertai isakkan tangis kembali.
"Sepertinya Allah mengirimku ke London, bukan hanya tentang pekerjaan. Tapi karena aku sendiri yang harus menjemput Anakku. Astagfirullohaladzim ..." helaan napas mendesah berat. Kelopak mata Papa Bilmar sudah bengkak, sampai rasanya sakit jika digunakan untuk menatap lama.
Papa Bilmar beringsut untuk meletakan kepala nya di bagian kosong sebelah lengan Maura. Mengusap lembut pipi sang Anak yang masih saja ingin diam tidak mau bangun.
"Sadar lah, Nak. Ini Papa sayang."
Dejavu. Oh bukan---Kejadian yang ia rasakan sekarang seakan memberikan trauma dua kali dalam hidupnya. Dulu, berbelas tahun lalu, Mama Alika pernah juga tidak sadarkan diri. dan Papa Bilmar kalang kabut, kacau balau karenanya. Maka dari itu, ia bersikeras untuk membawa Maura pulang. Ia akan merasa aman jika Maura dikelilingi oleh keluarganya.
Masalah tentang bagaimana reaksi Maura nantinya tentang Gifali, masih bisa ia carikan solusi. Karena ia ingin egois seperti Pramudya. Lelaki itu juga tetap ingin mempertahankan keberadaan sang Anak di sisinya.
Papa Bilmar kembali meraih ponsel, ia tatap ada puluhan kali panggilan masuk tidak terjawab, dan beberapa chat masuk yang belum mau ia buka. Mama Alika yang sedang kacau di sana, tidak akan bisa di ajak untuk berfikir. Itu akan membuat kepalanya semakin penuh. Ia tekan nomor seseorang lagi agar bisa membantunya di sini.
"Hallo, Robert. Bisa kah, kamu ke tempat saya sekarang? Saya membutuhkan bantuanmu ..."
*****
Robert masih mematung tidak percaya di sebelah Papa Bilmar. Mereka berdiri menatap ke arah yang sama, ke arah Maura yang masih berbaring senyap di pusaran ranjang.
"Saya tidak menyangka. Bahwa Maura ini benar anak kamu, Bilmar. Awalnya saya ragu, ketika bertemu dengannya di Hotel kita. Karena tidak mungkin kan, anak kamu melamar pekerjaan di sini. Yang awalnya ingin menjadi pelayan, namun terganti dengan posisi chef."
Papa Bilmar masih saja mempatri ucapan Robert lima menit yang lalu, ketika lelaki itu sampai di Rumah Sakit dan masih mengenali wajah Maura. Ia juga baru tahu, kalau Maura adalah istri dari anak kandung Pramudya.
Hidup terkadang ingin sekali bercanda, ck!
"Gifali benar-benar sudah membuat anak saya menderita selama menikah dengannya!" gumam Papa Bilmar. Ia murka dengan kenyataan yang baru ia ketahui.
"Saya ingin kamu memenjarakan anak perempuan Pramudya."
"Agnes?" Robert mengulangi pertanyaannya. "Ada apa dengan dia, Bil?"
"Wanita itu yang sudah membuat anak dan menantu saya seperti ini!" nada penuh amarah sangat kentara.
Agnes sudah salah bermain dengan orang yang mempunyai kekuasaan penun, ia menabuh gendera perang dengan sengaja tanpa berfikir dampaknya. Siapakah yang akan ia lawan.
Kedua bibir Robert yang sudah menganga, dan kembali menganga lebih lebar lagi. Sekarang kepalanya ikut pening dengan helaan napas yang berat.
"Dia sudah mencoba membunuh kedua anak saya. Membuat Maura dan Gifali tidak sadarkan diri. Tolong bantu saya, Robert! Cari wanita itu sampai dapat, nanti akan aku sertakan orang-orang suruhan ku untuk membantumu."
Robert kembali tercengang, beberapa kali ia menggelengkan kepala dengan membekap bibir karena tidak percaya. Mau sulit percaya atau tidak, ya beginilah kenyataannya sekarang.
Robert bingung. Ini adalah pilihan yang sulit. Papa Bilmar adalah teman sedari kuliah bersama di London. Sudah bertahun-tahun menjadi rekan bisnis, yang banyak memberikan keuntungan.
Dilain itu, Robert sudah mengganggap Papa Bilmar seperti keluarga sendiri. Beberapa kali Robert dan keluarga bertamasya ke Indonesia, Papa Bilmar pasti akan menyambutnya dan memberikan fasilitas gratis.
Namun, Pramudya. Lelaki itu juga sahabat yang dihormati oleh Robert. Hubungan mereka pun sangat dekat.
Dengan keputusan yang berat, dan menilai bahwa posisi Agnes sangat fatal. Robert pun mengangguk dan mengelus bahu Papa Bilmar yang kepalanya masih tertunduk sedikit dengan telapak tangan menyilang di wajahnya.
"Saya akan bantu kamu, Bilmar."
*****
Jet pribadi yang disewa Bilmar sudah siap terbang di bandara. Lagi-lagi ia meminjam tenaga Robert untuk hal ini, bisa saja menggunakan jet pribadi milik keluarga dari Indonesia, tapi akan lama sekali menunggu. Dan Papa Bilmar sudah tidak sabar. Ia malas berlama-lama di sini. Ia benci dengan keluarga Pramudya.
"Tolong, Mas. Maura jangan dibawa, biarkan di sini. Saya berjanji akan menjaganya." Pramudya kembali memohon, berkali-kali pula ia keluar masuk kamar perawatan Maura.
Papa Bilmar hanya diam tidak mau menjawab. Kedua matanya masih sibuk menatap pemindahan Maura dari ranjang kamar perawatan ke ranjang ambulance, beserta alat-alat medis yang harus Maura gunakan selama diperjalanan. Tidak lupa juga Papa Bilmar membayar dua perawat untuk menemani mereka selama diperjalanan menuju Indonesia.
"Maura adalah istri anak saya, Mas. Jangan lupakan itu!" suara Pramudya terdengar agak keras. Dan berhasil membuat Papa Bilmar menoleh dan menatapnya tajam.
"Lalu kenapa? Saya Papanya, yang mengurus dan membesarkannya! Saya punya hak paten! Apa salahnya, saya hanya ingin membuat hati saya lega, untuk terus bisa merawatnya sampai sadar!"
"Kamu saja, Ayah kandung yang belum lama bertemu Gifa, tidak merawat dan mengurusnya seperti Mas Galih dari bayi, tetap kokoh pendirian kan, untuk tidak memperbolehkan saya membawa Gifali?"
"Dan kamu pasti tau bagaimana perasaan saya sekarang! Jangan hanya mau egois sendirian kamu! Gifali juga suaminya Maura. Maura berhak atas anak kamu!" jawab Papa Bilmar kembali bernapsu untuk melahap Pramudya.
Tapi sepertinya ia sudah lelah untuk berdebat. Yang penting lelaki itu akan senang karena sebentar lagi bisa memasukan Agnes ke balik jeruji besi.
Pramudya tergugu. Ia tersentak bertubi-tubi, ucapan Papa Bilmar begitu menusuk hati namun semua yang dikatakan itu adalah benar. Dan Pramudya tidak bisa menyangkal.
"Bolehkan Ayah egois, Nak. Ayah ingin Gifa tetap di sini. Ayah ingin menjagamu sampai titik darah penghabisan, Ayah!" Pramudya membatin.
Lelaki paru bayah itu pun mendekati Maura yang sudah berhasil dipindahkan ke ranjang yang baru. Lalu menggenggam tangan menantunya, air mata itu menetes lagi. "Maafkan Ayah, Nak. Tidak bisa menyatukan kalian di sini. Cepatlah sadar, Ayah akan membawa suamimu kembali jika keadaanya sudah pulih." bisiknya pelan.
Dan pergilah Maura meninggalkan Gifali di sini. Dalam ketidaksadaran yang sedang membelenggu diri mereka masing-masing. Gifali dan Maura akan dipisahkan dengan jarak, waktu dan tempat.
Tidak ada lagi pelukan, sapaan hangat, dan bahasa cinta yang sering mereka gunakan setiap hari. Entah berapa lama, Gifali dan Maura akan tersiksa dengan rindu yang akan mencekam sukma, aksa, dan tubuh mereka berdua.
Selamat jalan, Maura.
****
Tungguin bentar lagi Papa Galih sounding.
Like dan Komen ya guyss❣️