My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Hanya Ingin Anak Saya!



Satu jam kemudian, Terlihat Tamara dan Pramudya sudah sampai kembali didepan pintu gerbang rumah Gita. Bertepatan pula kereta besi milik Om Malik tiba disana. Lelaki paru bayah yang masih saja terlihat tampan turun dengan memakai jas kantor lengkap.


Sungguh perawakannya masih saja berkarisma seperti dulu. Walau dirinya masih saja betah untuk menduda, membuat Papa Galih selalu merasa dalam posisi tidak aman. Ia takut istrinya kembali bermain cinta dengan lelaki ini.


"Assalammualaikum, selamat siang." sapa Malik.


"Waalaikumsallam, selamat siang, Pak." jawab Tamara dan Pramudya bersamaan. Pramudya terus memandangi Malik, seakan mengacungkan jempolnya atas pilihan Gita.


"Tampan juga, pantas saja Gita mau menikah dengannya." Pramudya terus saja bergumam dengan segala penafsirannya. Mungkin si calon Kakek itu akan tercengang sebentar lagi.


"Saya, Malik." Malik menjulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan mereka.


"Saya Tamara dan ini suami saya." Tamara menerima uluran jabatan tangan itu lalu menoleh ke arah suaminya.


"Saya Pramudya." Pramudya mengambil alih jabatan tangan Malik dari Tamara.


Senyuman hangat yang sejak tadi mengembang di wajah Malik, begitu saja sirna. Raut kaget mulai terpancar. Ia termangu, sampai tidak sadar kalau jabatan tangan mereka belum terlepas.


"Pramudya?" gumamnya. Matanya mengerjap beberapa kali, jantungnya bergemuruh cepat, namun sebisa mungkin ia tepis.


"Mungkin hanya kebetulan saja, kalau namanya sama." ucap Malik dalam hatinya lalu melepas jabatan tangan tersebut.


Pramudya dan Tamara bisa menangkap jelas sorotan mata yang tengah menyimpan rahasia di wajah Malik. Namun mereka mencoba untuk tenang, bersikap wajar dan biasa. Tidak ingin menimbulkan kecurigaan apa-apa.


"Bolehkah saya masuk kedalam untuk melihat keadaan rumah ini?" tanya Tamara.


"Oh iya, maaf saya jadi melamun." jawab Malik. Lalu ia merogoh kantung celana untuk meraih kunci gerbang. Membuka gembok dan menggeser pintu gerbang agar terbuka. Hati Malik masih bercampur aduk, ia takut apa yang sedang ia terka. Akan benar-benar terjadi.


"Silahkan masuk." Malik mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumah.


****


Mereka bertiga sudah duduk di sofa yang sebelumnya di tutup dengan helaian kain putih. Malik mempersilahkan mereka duduk di sofa panjang sedangkan dirinya di single sofa.


Dua bola mata Tamara berpendar ke sekeliling rumah. Terlihat banyak barang-barang yang masih tertutup rapih dengan kain-kain putih. Menandakan rumah ini memang sudah lama tidak dihuni.


Malik terus memandangi wajah Pramudya, begitu pun sebaliknya dengan Pramudya, ia masih menikmati dengan jelas perangai Malik.


"Apakah selama ini, anak saya dibesarkan oleh lelaki ini? Jika diperhatikan, dia sepertinya lelaki yang baik. Saya bersyukur kalau begitu." Pramudya dalam hatinya. Ia masih saja percaya diri kalau anaknya masih hidup.


"Mengapa ia terus menatap saya seperti itu? Apa yang sebenarnya sedang ia cari? Atau benarkah ia Pramudya yang dimaksud Gita dulu?"


[Jika suatu saat nanti Galih dan Nadifa tidak bisa menerima kehadiran Gifali, tolong berikan putraku pada Ayah kandungnya, Putra Pramudya]


Pramudya memutus kontak mata itu, ketika lamunannya kembali tersadar. Tamara sepertinya tidak enak hati dengan suasana seperti ini, akhirnya ia membuka obrolan kembali dengan Malik.


Berpura-pura menanyakan harga sewa rumah. Pramudya menoleh ke arah kanan, dimana ada suatu pajangan foto yang membuat dirinya seolah terpanggil untuk menghampiri.


Malik semakin yakin, jika lelaki ini adalah Pramudya yang dirinya maksud sedari tadi. Ia pun tidak konsen berbicara dengan Tamara. Kedua bola matanya masih melirik Pramudya, namun langkah lelaki itu enggan ia bekukan.


Pramudya menatap sebuah foto yang terpajang di lemari kaca. Foto yang membuat tubuhnya seketika mendidih. Matanya melotot histeris. Kepalanya seraya menggeleng karena menahan kaget, sungguh ia tidak percaya.


"Astagfirullohaladzim, Gita dan Galih jadi menikah?" Pramudya terperanjat dengan foto akad nikah Galih dan Gita yang terlihat sudah usang, dan sudah berlangsung belasan tahun yang lalu.


"Siapa kamu sebenarnya?"


Pramudya kembali kaget untuk kedua kalinya, ketika ia mendengar suara bariton begitu menyambar jantungnya. Lelaki itu menoleh dan mendapati Malik tengah berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.


Tatapan Malik dingin, menunggu penjelasan Pramudya. Ia ingin tahu apa yang saat ini lelaki itu cari.


"Saya sedang mencari Gita." jawab Pramudya jujur. Susah payah saliva ia dorong jauh-jauh kedalam kerongkongan untuk menghilangkan kegugupannya.


"Gita siapa yang kamu maksud?" kening Malik mengerut. Wajahnya terlihat semakin ingin tahu. Sebisa mungkin ia mencecar Pramudya.


"Sagita Haryani, wanita yang pernah mengandung anak saya!"


DEG.


Jika sejak tadi Pramudya yang tertampar kilat, kini Malik turut merasakannya. Jantung, paru dan hatinya seperti rontok dan terpental keluar tubuh. Napasnya berantakan, ia membeku di posisinya.


Rahang Malik menegang, wajahnya memerah drastis.


"Jadi kamu betul ..." helaan napas Malik mendesah. Lidahnya seketika kelu dan tercekat.


"Apakah anda suaminya Gita yang baru? Apakah bisa dijelaskan tentang foto pernikahan Galih dan Gita?" Pramudya menunjuk foto itu lagi.


"Apakah anak saya masih hidup? Apakah Gita selama ini sudah membohongi saya?" tanyanya lagi.


Malik masih tertunduk, ia merasa lemas. Kembali melangkah untuk mendekat ke arah sofa dan menghempaskan tubuhnya disana. Merebahkan kepalanya dengan lemah, sambil terus mengucap syukur dan menyebut Asma Allah.


Pramudya kembali melangkah, untuk menghampiri Malik dan Tamara di sofa. "Tolong, bantu saya. Saya hanya ingin anak saya. Dimana dia sekarang?" Pramudya terus mengiba dan memohon dengan tatapan nanar.


*****


Masih ada satu episode lagi. Like dan Komennya banyakin ya. Buat Abang biar ketemu sama Papa Pramudya❤️