My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Keresahan Hati Pramudya



Deru mesin mobil taxi yang mereka tumpangi akhirnya berhenti didepan rumah Sagita Haryani. Bermodalkan ingatan yang pas-pasan, bisa juga mengantar Pramudya dan Tamara untuk sampai di rumah ini. Rumah dengan arsitektur rumah joglo. Masih bersih dan terawat.


Tamara dan Pramudya sedikit melongo kan kepala dicelah-celah pagar. Menyimak suasana rumah yang begitu sepi seperti tidak berpenghuni.


"Pah rumah ini dikontrakkan ternyata."


"Masa, Mah?" tanya Pramudya.


"Nah itu tuh, Papa lihat nggak?" Tamara menunjuk sebuah Papan yang bertuliskan kalimat Rumah ini di kontrakkan.


"Oh iya, Mah." desah Pramudya dengan nada sedih. Ia merasa kedatangannya hanya sia-sia.


"Jangan sedih dulu, kan itu ada nomor teleponnya. Kita bisa menghubunginya. Siapa tau kan, bisa langsung bertemu dengan Gita?"


Raut bahagia kembali terpancar di wajah Pramudya. Lelaki itu pun mengangguk. "Tapi enggak kelihatan, Mah, nomor teleponnya." ucap Pramudya.


"Papa manjat aja gimana? Pagarnya juga enggak terlalu tinggi."


"Tapi nanti kalau ada yang lihat gimana, Mah? Papa bisa diteriakin Maling."


Tamara memperhatikan sekeliling komplek perumahan ini. Menoleh ke kanan dan ke kiri seraya mencari-cari apakah ada orang lain yang tengah berada dijalan ini selain mereka.


"Sepi, Pah. Ayo cepat naik! Mama di sini jagain." titah Tamara.


Dengan rasa was-was Pramudya pun mengikuti saran istrinya. Demi apa lelaki paru bayah itu sampai harus memanjat pagar karena hanya ingin mencari keberadaan anak kandungnya.


Brug.


Pramudya pun sampai di pekarangan rumah Gita. Ia melangkah pelan dan terus memandangi rumah ini. Rumah yang pernah ia pijak, dan terjadinya kejadian terlarang yang ia lakukan terhadap Gita.


Hatinya kembali pedih, jika mengingat 18 tahun yang lalu. Mengapa disaat itu, ia tidak bisa meyakinkan Gita kalau dia adalah lelaki yang lebih baik untuknya dibandingkan Galih.


"Anak ini sudah aku gugurkan!"


"Tega sekali kamu, itu kan anakku! Buah hati kita, Gita."


"Aku tidak mencintai anak ini dan kamu. Aku hanya ingin hidup dengan Galih."


"Tapi Galih sudah menjadi suami Difa, lelaki itu tidak akan mencintai kamu!"


"Sebentar lagi dia pasti akan menikahiku!"


Percakapan delapan belas tahun lalu antara dirinya dengan Gita. Masih saja terbayang-bayang didalam benak Pramudya. Gita berkali-kali bilang kalau anak yang dikandung sudah lama ia aborsi. Pramudya pun kecewa dan akhirnya pergi ke London karena mendapatkan beasiswa belajar disana. Dan akhirnya bertemu dengan Tamara dan memulai kehidupan baru.


Namun ikatan batin Anak dan Ayah tidak akan bisa terhalang oleh apapun, mungkin sudah waktunya Pramudya bisa memeluk anak kandungnya kembali.


"Kok namanya Malik?" kening Pramudya berkerut.


"Ini rumahnya, Gita kan?"


Pramudya hening dan mematung lama. Sampai ia kembali sadar ketika istrinya sejak tadi memanggilnya terus menerus dari luar pagar. Lelaki itu kembali menghampiri istrinya.


"Papa ngapain bengong di sana? Nanti kamu kesurupan, Pah!"


"Lalu nama siapa?"


"Malik." jawab Pramudya dengan wajah tertunduk sedih.


"Mungkin aja kan itu nama suaminya Gita, ayo sana cepat catat."


"Oh iya, ya. Papa enggak kepikiran."


Pramudya pun kembali melangkah kedepan pintu. Untuk mencatat nomor telepon Om Malik yang tertera di papan iklan. Setelah selesai mencatat, ia kembali memanjat pagar dan pergi berlalu bersama Tamara untuk mencari tempat yang bisa mereka gunakan untuk menghubungi Om Malik.


"Mama aja yang telepon ya, Papa gugup, Mah." pinta Pramudya menyodorkan telepon genggamnya.


"Sabar, Pah. Tenang. Ayo minum dulu." titah Tamara lalu menyodorkan segelas air teh hangat yang ia pesan di sebuah kafe.


Pramudya mengangguk lalu menyesap rasa manis dari teh tersebut. Tamara mulai menghubungi nomor Om Malik, namun sudah berkali-kali ia menghubunginya. Tetapi lelaki itu tidak kunjung mengangkat.


"Giman, Mah?" tanya Pramudya, ia masih saja terlihat gugup ketika melihat Tamara masih meletakan gawai ditelinganya. Tamara memberikan gelengan kepala.


"Gak di angkat terus, Pah."


Mendengar ucapan itu membuat Pramudya menghela napasnya panjang. Memijat-mijat pangkal dahi karena tiba-tiba saja kepalanya terasa berat, belum lagi dadanya yang sesak. Ia bingung, apakah dirinya siap jika harus bertemu dengan Gita lagi. Hatinya kembali resah.


"Tapi saya bersyukur, Git. Setidaknya kamu tidak jadi menikah dengan Galih. Tidak merusak rumah tangga Galih dan Nadifa."


"Lalu bagaimana dengan Gifali? Di akta kelahirannya, bertuliskan nama Galih dan Nadifa sebagai orang tuanya. Apakah Galih dan Nadifa memang teman kami dulu?Apakah betul Gifali memang anak mereka? Tapi mengapa wajahnya mirip sekali dengan Gita? Dan hati kecil saya selalu mengatakan kalau Gifali adalah anak kandung saya!"


Pramudya terus saja merenung, sampai ia tidak tahu kalau Tamara berhasil berbicara dengan Om Malik Gunawan.


"Oh begitu, baik, Pak. Kami tunggu dirumah Bapak." jawab Tamara mengakhiri pembicaraannya di telepon.


"Pah, Pah, kok ngelamun sih!" Tamara mengelus bahu suaminya.


Pramudya terkesiap. "Eh, iya sayang. Gimana, bisa dihubungi?"


"Udah sayang." jawab Tamara menjawil dagu Pramudya.


"Suaminya Gita sudah bersedia bertemu dengan kita di rumah yang tadi, satu jam lagi."


Pramudya mengangguk dengan senyuman kaku. Ia kembali gugup. Beda hal dengan Tamara, raut wajahnya terlihat berbinar. Ia tidak akan khawatir lagi jika Pramudya akan kembali mencintai Gita. Tentu ia tahu itu tidak akan mungkin terjadi.


"Karena ternyata Gita sudah menikah dengan Bapak Malik ini." gumam Tamara. Senyumannya begitu saja mengembang sempurna.


"Semoga saja anak itu memang tidak pernah di aborsi dengan Gita, dan suamiku bisa mengurusnya." doa Tamara.


Sungguh istri yang sangat baik hati dan berbakti kepada suami. Hanya demi kebahagiaan suaminya, ia rela bersusah payah seperti ini.


"Sabar ya, Pah. Berdoa terus." Tamara terus menenangkan hati suaminya.


*****


Komennya yang banyak ya, akan aku Up lagi setelah ini. Siapin hati kalian ya, bentar lagi kebongkar semua guyss🤗