
Gifali membuka kotak kecil itu dan memperlihatkan isi dalamnya.
"Masya Allah ..." Maura terperanjat. Ia sampai membekap mulutnya karena tidak percaya. Suaminya tersenyum dan tetap menyodorkan kotak berisi emas yang ia beli, tepat di depan kedua mata Maura.
"Inikan mahar darimu yang pernah aku jual dulu." ucapnya dengan kedua mata yang tak henti mengedip. Terus menyorot cincin permata biru.
"Iya sayang, aku beli lagi untuk kamu." ucapnya syahdu.
Demi apapun, hati Maura berdesir hebat. Begitu terenyuh, seperti ingin menceburkan diri didalam rendaman susu. Begitu bahagia dirinya mendapat perlakuan romantis dari lelaki penghuni sanubari hatinya.
"Tapi tidak hanya cincin di sini." Maura memperhatikan benda lain selain cincin didalam kotak tersebut. Wanita itu kembali kaget ketika menemukan banyak benda yang menemani si cincin permata biru dalam kotak.
Ada dua kalung, gelang tangan dan gelang kaki. Seperangkat emas, Gifa beli dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.
"Ya Allah, sayang." desahnya takjub.
"Maaf ya, Ra. Ini bukan berlian. Hanya emas biasa."
"Sekalipun tembaga, tidak masalah bagiku. Tapi kenapa ada dua kalung?"
"Kalung dengan liontin bulat berwarna biru ini diberikan oleh Ibu Tamara ketika aku akan pulang ke Jakarta. Tapi sayangnya aku lupa memberikannya kepadamu. Dan yang ini." Gifali menunjuk kalung berliontin dengan insial huruf G. "Insial nama ku dan ketiga anak-anak kita."
"GARDAPATI-GEISHA-GASENDRA?" selak Maura.
Gifali melongo mendengar ucapan Maura.
"Terus nama tengahnya, BISMA-GEISHA-PRADIPTA?" imbuh Maura.
"Yah, kok udah ketahuan, sih?" Gifali terkekeh sembari menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Padahal buat surprise ..." lirihnya.
"Aku enggak sengaja baca nama mereka di agenda kamu. Tapi aku tetap diam, pura-pura enggak tau." Maura tertawa.
"Dan nama belakangnya tetap memakai HADNAN, boleh kan, Ra?"
Gardapati Bisma Hadnan
Geisha Alyra Hadnan
Gasendra Pradipta Hadnan
Maura hening sebentar, seraya berfikir ketika menambahkan nama Hadnan di belakang nama ketiga anak-anaknya.
"Oh sebentar sayang, ada yang ingin aku tanyakan. Kalau Alyra itu apa ya?"
"Singkatan nama kita, Ra. Anak Gifali-Maura."
Rona wajah Maura kembali memerah dan berseri.
"Cantikan namanya?" tanya Gifa lalu mencolek hidung istrinya. "Cantik kaya kamu." Gifali menggombal.
Maura tidak tahan untuk tertawa lepas, hatinya lagi-lagi bahagia.
"Bolehkan pakai Hadnan?" Gifali mengulangi.
Maura mengangguk senyum dan memberikan usapan lembut di pipi suaminya. "Boleh sayang, tapi bagaimana dengan Ayah?"
"Ayah tidak mempermasalahkan hal itu katanya."
"Syukur Alhamdulillah."
Mereka kembali bersitatap dalam senyuman, sampai dimana air bening menetes dari pelupuk mata Maura tanpa sengaja. Jatuh membasahi kain gamis yang menutup bagian pahanya.
Maura menurunkan lagi tatapan matanya kepada seperangkat emas yang berada dalam kotak itu dengan keheningan yang cukup lama.
Oh, baik sekali suaminya.
"Semua ini nyata kan? Aku sedang tidak bermimpi?" Maura masih saja melongo, tidak percaya. Ia menjawil-jawil kedua pipinya sendiri.
"Iya betul, ini nyata, Ra. Aku membelikan semua ini hanya untuk kamu, Istriku tercinta." Gifali tersenyum.
"Apakah benar ini semua untukku?" Maura masih saja tidak percaya. Ia kembali mengulangi dengan sorotan mata yang masih enggan berpindah dari sekumpulan emas tersebut.
Gifali tertawa dan mengangguk. Memang untuk siapa lagi? Fikirnya. Gifa mengelus lembut punggung Maura dengan gerakan naik turun, kemudian mengecup pelipis wanita itu dari samping.
"Iya Maura Zivannya ... Semua ini hanya untuk kamu ... Satu-satunya Istriku."
Maura mendongak ke atas dan menatap legam bola mata suaminya. Wanita itu masih saja terperangah tidak percaya. Gifali mengangguk untuk menjawab pertanyaan Maura yang masih tersimpan didalam hati.
"Untuk wanita yang bersedia memberikan hidupnya, jiwanya, hatinya, tubuhnya untukku dan anak-anakku ... Aku persembahkan benda ini sebagai tanda terimakasih. Walau semua ini tidak akan bisa membayar semua yang telah kamu berikan kepada kami."
"Subhanallah ..." seru Maura tidak bisa berkata-kata lagi. Ia meremat kain kerudung yang terjulur lurus didepan dada. Temaran sekali hatinya mendengar bahasa kalbu yang diutarakan oleh Gifali barusan.
"Karena kamu sudah mau berjuang bersama ku dari titik nol sampai sekarang. Mau berjuang untuk selalu mempertahankan pernikahan kita. Mau hidup susah denganku, mau menyampingkan masa depanmu dulu untuk aku dan anak-anak. Serta mau sampai segendut ini untuk mengandung ketiga bayi kembar kita" ucap Gifali disertai kekehan kecil di ujung kalimatnya.
Kaca-kaca di bola mata lelaki itu pun tampak, namun masih bisa ditahan untuk tidak menangis. Mengubur keharuannya dengan terus tertawa.
Sangat menyentuh batin. Maura tidak mampu menjawab, ia langsung berhambur memeluk dada suaminya.
Pangkal bahunya membuncang hebat. Haru sekali hatinya, diperlakukan dengan begitu istimewa. Tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya, bisa mendapatkan cinta yang tulus seperti ini.
"Iya, bidadari surgaku." Gifali berusaha menenangkan istrinya yang sedang terisak.
Semakin di puji, Maura semakin menangis. Tentu ia merasa masih jauh dari sebutan itu.
"Aku banyak salah sama kamu ... Aku suka ngelawan, suka enggak nurut." tangisan wanita hamil itu pecah. Ia teringat bagaimana ketika dirinya sedang merajuk, susah dinasehati, atau sedang membuat suaminya kesal.
"Maafkan aku, Gifa." seru Maura terbata-bata. Melihat istrinya menangis, Gifali hanya tersenyum dan tertawa kecil.
"Sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkan mu, Ra." jawab Gifa. Ia tak luput memberikan kecupan bertubi-tubi di pusaran hijab istrinya.
"Kamu adalah tulang rusuk yang harus aku jaga, aku bawa, aku pelihara serta akan aku pertanggung jawabkan didepan Allah di hari akhir nanti."
"Jadi kalau kamu melakukan kesalahan, lebih tepatnya aku yang harus dihukum dan bertanggung jawab."
"Maka untuk itu permudah aku untuk membuatmu menjadi istri solehah, agar bisa meringankan beban ku di akhirat nanti."
Maura mengangguk beberapa kali, wanita hamil itu semakin mengeratkan pelukannya dan menangis tersedu-sedu.
"Sudah jangan menangis. Aku kan kesini ingin membawamu jalan-jalan. Aku ingin kamu senang."
Maura menganggukan kepalanya lagi. Ia mulai menarik tubuhnya dari pelukan itu. Gifali mengusap kebasahan di wajah istrinya dengan buku-buku jarinya.
"Aku pakaikan ya."
Maura mengangguk dengan leleran air mata yang masih saja turun dengan halus. Wajahnya sudah memerah seperti tomat.
Gifali mulai memasangkan cincin permata biru di jari tengah Maura. Mengusap cincin tersebut dan mengangkat punggung tangan Maura untuk ditempelkan di bibirnya. Gifali menciumnya beberapa kali.
"Aku kembalikan lagi cincin nikah kita yang pernah terjual." ujarnya.
Maura mengangguk dengan sisa-sisa tangis yang mulai mereda.
Setelah cincin terpasang, Gifali mulai memasangkan sebuah kalung dengan liontin G di leher dan gelang rantai di pergelangan tangan Maura.
"Kalung yang dari Ibu, di simpan dulu aja ya. Nanti bisa kamu pakai secara bergantian."
"Iya, Gifa."
Serta yang terakhir, lelaki itu lantas berjongkok di hadapan kaki Maura. Untuk melingkarkan sebuah rantai gelang dengan dua bandulan berbentuk bintang dipergelangan kaki istrinya.
Lalu mendongak menatap Maura yang sudah betul-betul berhenti dari tangis.
"Kamu suka, Aisyah?" tanyanya lagi.
Maura mengangguk. Tapi wanita ini kembali haru, terlihat bibirnya kembali mencebik lalu menangis lagi. Ia berhambur melingkarkan kedua lengan nya leher Gifali. Menumpahkan air mata tepat di ceruk leher suaminya. Dan ia menangis lagi.
Lelaki itu beranjak sedikit dengan lutut sebagai tumpuan di atas rumput. Ia mengunci tubuh wanita hamil bergamis merah maroon tersebut, untuk membenamkan di dadanya.
"Makasih sayang ... Makasih." rancau Maura tak habis-habis. "Semoga rezeki mu bertambah karena sudah membahagiakanku."
"Aamiin ..."
Gifa melepaskan pelukan itu. Dan beranjak bangkit. Ia mencari orang yang tengah berdiri tidak jauh dari mereka untuk dimintai tolong. Terlihat ia berbicara singkat dengan lelaki bule.
Maura mengerutkan kening seraya memberikan gerakan mata tanpa suara kepada suaminya. Ada apa katanya. Gifali hanya tersenyum lalu duduk lagi disebelahnya.
"Ayo lihat kedepan, Ra. Aku ingin foto bersamamu dan ketiga anak kita."
Maura mengangguk senang. Senyumnya kembali hadir dengan amat merekah. Bagai bunga-bunga matahari yang sedang mengitari mereka di sini.
"One ... Two ... Three." lelaki bule di hadapan mereka memberi aba-aba.
Terlihat Gifa dan Maura tersenyum ke arah kamera. Lelaki tampan itu meletakan tangannya di atas bahu Maura. Merangkulnya erat dengan kepala yang saling menempel. Pipi mereka terlihat bersentuhan dengan sorotan mata penuh cinta. Gifali menimpa tangan istrinya yang sedang berpose memegangi perut buncitnya.
"Foto maternity nya kayak gini aja enggak apa-apa ya."
"Malah lebih romantis kalau di alam terbuka seperti ini sayang ... Terus murah." jawab Maura.
Dan pasangan suami istri itu tertawa.
"Terimakasih karena sudah selalu menerima keadaanku ya, Ra."
"Iya Gifaku, sama-sama."
"Once again please take our picture, Sir." ucap Gifali kepada lelaki bule tersebut. Lelaki itu pun mengangguk dan kembali mengambil beberapa gambar dirinya dan sang istri.
****
Ini mah waktu masih belum hamilš¤