My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Aku Baik-Baik Saja.



"Agnes!" seru Tamara. Langkah kakinya terhenti di pertengahan lorong ruang ICU. Bersamaan dengan langkah Ramona dan Adrian yang mengapit dirinya.


Wanita paru bayah itu syok, melihat kedua tangan putrinya sudah di borgol oleh Polisi. Begitu pun Adrian dan Ramona. Mereka bertiga tersentak, mengapa bisa secepat ini.


"Mama ... Tolong, Adek. Mah." lirihnya. "Kak ..." seru nya lagi kepada Adrian lalu bergantian kepada Ramona.


Tamara beringsut cepat untuk memeluk putrinya. Bagaimanapun kesalahannya, tetap saja Agnes adalah anak yang ia lahirkan dari rahimnya. Sementara Adrian hanya terdiam, tidak mampu menjawab apa-apa.


"Mah, tolong Adek. Adek menyesal, Mah. Adek khilaf, tolong sampaikan maafku kepada Gifa dan Maura."


"Cepat bawa, Pak! Penjarakan wanita itu sampai membusuk di sana! Dia lah yang membuat Kakak perempuan ku menjadi buta dan tuli!" seru Ganaya, yang masih berdiri beberapa meter dari mereka.


"Apa?"


Semua terperanjat atas penuturan Ganaya. Agnes, Razik, Adrian dan Ramona menohok hebat. Kecuali Tamara yang sudah tahu sebelumnya dengan penjelasan Mama Difa tiga puluh menit lalu di pembaringan Gifali. Namun ia belum mampu mengatakan hal itu kepada Ramona dan Adrian.


Agnes meringis, tidak percaya dengan efek yang akan terjadi kepada Maura akan perlakuannya.


Bukan seharusnya ia senang? bukan hal ini yang ia dambakan? Melihat Maura tergoler tidak berdaya atau lebih baiknya, mati saja seperti yang ia inginkan? Lalu mengapa sekarang rasa itu berbalik hilang dan memperlihatkan rasa menyesal amat dalam.


Ramona mendesis kesal, rasanya ingin menampar Agnes namun tangannya tetap digenggam kuat oleh Adrian. Lelaki ini tahu, kekasihnya pasti sangat murka ketika mengetahui keadaan Maura seperti itu.


Agnes menunduk, leleran air mata yang sejak tadi turun kini ia seka dengan kekuatan. Ia ikhlas jika dirinya akan di hukum. Ia memang sudah keterlaluan walau dirinya tahu, semua itu ia lakukan ketika dirinya tidak sadar.


"Ayo bawa saya, Pak." jawab Agnes lantang. Ia melepas pelukannya dengan sang Mama.


"Adek ..." lirih Tamara.


"Adek salah, Mah. Aku pantas di hukum." jawab Agnes. Ia mengalihkan tatapannya dari wajah Tamara. Tidak sanggup melihat wanita yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan begitu menangis karena meluapkan rasa kecewanya.


"Cepat bawa, Pak! Dia itu wanita gila! Wanita tidak bisa menjaga kehormatan diri, tega-teganya ingin merebut suami orang lain!" seru Gelfani.


"Maki lah aku, aku pantas mendapatkannya." desah Agnes.


"Maafkan aku ya, Mah. Berikan permohonan maaf kepada Papa dan Gifa." ucap Agnes lalu mencium kening Tamara.


"Kak, tolong jaga Mama." Agnes menatap Adrian, namun sang Kakak hanya terdiam dan masih dingin menatapnya.


Bisa kah Ramona mengumpat seperti Gelfa dan Ganaya? Ia ingin mengeluarkan rasa kekesalannya kepada Agnes, kalau diijinkan ia juga mau menghajar wajah itu. Namun ia harus menghargai Tamara dan Adrian sekarang.


"Adek ..." Tamara kembali memeluk putrinya.


"Sabar, Tante. Razik berjanji akan mengeluarkan Agnes dari penjara." bisik Razik.


Dan berlalu lah Agnes dari lorong Rumah Sakit. Dibawa paksa oleh aparat kepolisian. Tamara dan Razik ikut menemani Agnes. Hari ini Agnes berhasil membuat lingkungan Rumah Sakit geger.


Jangan heran jika sebentar lagi nama keluarga Pramudya akan ada di berbagai surat kabar. Agnes berhasil membuat lelaki paru baya itu malu sampai tujuh turunan.


Dan sebentar lagi, Agnes dan Maura akan dikeluarkan dari universitas. Sementara Gifali, ia pasti akan diperjuangan secara mati-matian oleh Pramudya. Walaupun ia harus mengganti sumpah kampus karena kesalahan sang Anak, dengan membohongi jati diri pernikahannya bersama Maura.


*****


"Kakak!!" seru Gelfani, Ganaya, dan Gemma. Ia memeluk Gifali di pembaringan.


Air mata mereka kembali turun berduyun-duyun. Menatap haru dengan apa yang saat ini Kakaknya rasakan. Adrian dan Ramona masih berdiri di ujung kakinya, melihat bagaimana keharuan ketiga adik Gifali.


Sebenarnya mereka dilarang masuk oleh Perawat. Karena Gifali harus berisitirahat kembali, namun mereka memaksa. Tidak tenang jika belum melihat sang Kakak.


"Kalian kenapa ikut? Bagaimana sekolah kalian? Jangan bolos, Kaka sedih melihatnya." ucap Gifali sambil mengelus rambut ketiga adiknya bergantian.


"Sekolah tidak penting, yang penting itu Kakak!" jawab Ganaya, ia masih menangis didada Gifali.


"Kita pulang saja ke Indonesia, Kak. Temani Kak Maura." ucap Gelfa.


"Kakak kuliah saja di Jakarta, tidak perlu di sini." sambung Gemma.


Gifali hanya bisa mengangguk sedih. Ia tersiksa dengan dirinya yang seperti ini, jika diperbolehkan, ia pun ingin berlari secepat mungkin untuk merengkuh tubuh istrinya.


Ramona menangis di dekapan dada Adrian. Tidak sampai hati, dirinya melihat Gifali sakit seperti ini tanpa Maura, begitupun Maura di sana, berjuang sendiri tanpa Gifali di sisinya.


Adrian memandang sendu, ia sampai sulit untuk berkata. Malu sekali dirinya, jika mengingat semua kejadian naas ini adalah perbuatan adik kandungnya sendiri.


"Maaf, Gifa." desah Adrian. "Jika kamu ingin menumpahkan rasa kesalmu, aku siap menerima dan menggantikan Agnes." sambung Adrian.


Gifali hanya menatap Adrian dengan raut wajah yang datar dan kosong. Lidahnya masih tercekat, terasa kelu dan pias. Sulit untuk menjawab, karena kesalahan Agnes sangat membuat dirinya hancur. Tapi ia juga tidak bisa menumpahkan segala kekesalan kepada Adrian, karena lelaki itu tidak mempunyai salah apa-apa.


*****


Tangan Gifali bergetar ketika memegang gawai yang layarnya sedang ia tatap. Isak tangisnya kembali muncul, ketika melihat wajah istrinya yang tengah bersandar di punggung ranjang pasien di seberang sana. Ada perban yang mengelilingi kening Maura, karena ada beberapa luka robek terbuka di kepalanya.


"Sabar, Nak. Sabar. Kata Dokter, Istrimu hanya sementara." ucap Mama Difa, menenangkan hati Anaknya. Ia mendekap sang anak di pembaringan. Sama-sama menatap Maura di sambungan video call.


Berkali-kali Gifali bersuara, namun Maura hanya diam. Ia tidak menjawab. Dadanya sesak sekali, menggelengkan kepala samar seraya mengadu kalau dirinya tidak kuat menyaksikan perubahan Maura yang seperti ini.


Maura hanya menatap layar tanpa sorotan mata. Itu pun Ammar yang menggenggam gawai untuk menemani Kakaknya melakukan sambungan video call.


"Kakak tidak mendengar mu, Kak." ucap Ammar yang sedang ada disebelah Maura. "Kacamata dan alat pendengar nya baru ready besok." sambung Ammar.


Maura hanya bisa menggerakkan daun telinga nya mencari suara yang terdengar namun jauh. Hati Gifali semakin tertusuk, ketika melihat Maura meraba wajah Ammar.


"Ini siapa?" tanya Maura. Ammar mengalihkan tatapannya dari layar ponsel ke arah Maura.


"Ammar, Kak." jawabnya. Namun Maura tidak mendengar.


"Ammar ya?" ucap Maura memutuskan, ketika ia berhasil meraba wajah sang adik.


Gifali yang melihat itu, kembali menangis pecah. Mama Difa pun menangis melihat keadaan Maura di sana.


"Kamu sedang apa, Ammar? Tolong hubungi suamiku, katakan padanya aku baik-baik saja di sini. Jangan katakan keadaanku. Aku tidak ingin Gifali cemas."


Ammar, Gifali dan Mama Difa menangis bersamaan. Ammar tak sanggup, ia memeluk Maura. Air matanya tumpah dengan deras. Di saat seperti ini, Maura masih memikirkan keadaan suaminya.


Ponsel yang sedari tadi ia genggam, ia biarkan jatuh begitu saja menghadap ke atap langit di atas selimut, membiarkan Gifali diseberang sana hanya bisa menatap langit kamar perawatan Maura dan mendengarkan isakkan tangis Ammar.


"Istriku, Mah." rintih Gifali, ia menatap Mama Difa dengan air mata yang sudah tidak bisa terbendung. Pangkal bahunya kembali bergetar, menangis kencang untuk meluapkan amarah. "Apa salahku, Mah?"


"Sabar, Kak. Sabar. Allah bersama kita. Allah sedang menguji rumah tangga kalian."


*****


Sabar ya Abang, bentar lagi kok. Nggak lama, kamunya sehat dulu, sini author peyukšŸ¤—


Like dan Komen ya gengsss.