My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Hanya Jadi Milikku!



Deru napas dari keduanya saling beradu. Terlihat Gifali menarik selimut untuk lebih naik ke atas agar punggung Maura yang polos tertutup rapat. Ia masih mendekap tubuh istrinya yang baru saja memberikan ia kenikmatan.


Gifa dan Maura sama-sama hening dalam keletihan. Dua-duanya diliputi rasa gelisah. Yang lebih utama adalah Gifali, ia merasa bodoh, bisa-bisanya ia terlupa untuk memakai pengaman. Gifali terlalu ingin dan Maura sudah terlanjur terbuai. Para jin-jin yang hadir disekitar mereka pun iri dan dengki melihat pelepasan panas yang baru saja mereka lakukan.


"Sayang ..." ucap Maura. Ia tahu suaminya itu tengah menyesal.


"Hemm ...?" Gifa merespon, dengan telapak tangan kanan ia letakan diatas kening, lalu memejamkan kedua matanya.


Ini memang sulit baginya, menahan hasrat salah, melepaskan juga salah. Memakai pengaman mendapat masalah tidak pakai apalagi, malah menyesal.


Gifa hanya menggelengkan kepalanya. Lelaki itu mengeluh dalam batinnya.


"Ini bukan salah kamu ..." ucap Maura mengingatkan. Ia tahu Gifa sedang gegana.


"Aku takut kamu hamil." jawabnya datar.


Ada helaan napas panjang dari wanita cantik itu, entah mengapa ia merasa kesal setiap kali Gifa mengatakan hal tersebut, walau ia tahu suaminya mempunyai segudang alasan dan Maura pun memahaminya.


"Tapi aku nggak bisa tahan kalau lagi ingin!" suara Gifa terdengar kesal. Ia menghentak kepalan tangan di sisi bagian yang kosong, disebelahnya.


Maura bangkit sedikit meninggi untuk menatap suaminya, sambil memegangi selimut untuk menutupi pertengahan dada sampai kebawah. Maura menatap legam dua manik mata hazel milik Gifali.


"Enggak usah takut, aku nggak akan hamil." Maura melengkungkan garis di sudut bibirnya, ia pun tersenyum.


"Maksudnya?" Gifali mengerjap kan kelopak matanya.


"Sekarang tuh lagi masa-masa nggak subur. Kalau mau berhubungan tapi gak mau hamil, ya sekarang waktu yang tepat." Maura berdalih.


Samar-samar garis senyum Gifa pun terlihat. "Kamu serius?"


Maura mengangguk. "Iya sayang, aku serius!" Maura memberikan dua jari yang ia goyangkan di udara.


"Kamu belajar dari mana? Apakah akurat?"


"Akurat dong, seharian aku bahas tentang masa subur dengan temanku yang seorang bidan." Maura betul-betul sempurna untuk berbohong.


Gifali mengangguk bahagia. Ia mencium Maura dengan rasa candu membara. "Akhirnya aku senang, udah bisa nambah berkali-kali." jawab Gifa sedikit menuai tawa.


Maura pun menoleh melihat tasnya yang tergantung di dinding. Mengingat ada beberapa obat yang terpaksa ia minum. Tidak ada jalan lain baginya, selain melakukan hal itu.


"Maafkan aku Gifa. Aku hanya ingin kamu bahagia! Aku nggak mau kamu cari wanita lain untuk melepas segala hasrat kamu!" batin Maura menyeruak.


Ia menahan sesak dan juga peperangan batin karena sudah memilih untuk membohongi suaminya. Yang ia tahu, jika kebohongan untuk kebaikan, tidak akan menjadi masalah.


Tadi siang ketika Maura asik membaca koran. Ia melihat berita ada suami yang dibunuh oleh istrinya karena kedapatan berselingkuh. Maura yang polos langsung begitu saja menerka-nerka, mencari tahu masalah apa yang mendominasi untuk membuat suami bisa berselingkuh.


Dan jawabannya adalah Cinta dan Sexx. Dua makna itu sangat beriringan, dan Maura baru tahu hal itu. Bahwa kebutuhan suami tidak akan jauh-jauh dari dua makna tersebut.


Istri yang pintar akan memberi perhatian, kelembutan, kehangatan dan memberikan rasa enak di indera pengecap yaitu dapat menyuguhkan masakan-masakan yang enak serta bisa memanjakan di tempat tidur.


Jika suami sudah mendapatkan semua itu, sudah dijamin, mereka tidak akan pernah berpaling ke lain hati, karena untuk apa menoleh ke yang lain, jika di tempat berpulangnya sudah ada wanita yang sempurna bisa memberikan semua yang mereka inginkan.


Setelah membaca berita tersebut, suasana hati Maura tidak enak. Karena Gifali tidak mau lagi menyentuhnya pasca kejadian naas tentang permen karet yang tertinggal itu. Ia memilih datang ke Rumah Sakit untuk menemui Dokter. Dan segala keputusan yang berat Maura memilih untuk menenggak pil KB, mau tidak mau hanya ini yang bisa ia lakukan.


"Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu, Gifa. Karena kamu hanya boleh menjadi milikku saja!" katanya dalam hati.


****


"Ada apa, Bi?" tanya Fatimah ketika melihat wajah suaminya berubah semenjak pulang dari kampus.


"Abi sakit? Nggak enak badan?" sambung Fatimah. Ia khawatir melihat suaminya yang lebih banyak diam ketika menatap saluran televisi didepan sana.


Harun menghela napasnya. Ia pun memijit tombol pada remote untuk mematikan acara televisi yang sedang berlangsung itu. Mendongakkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap lampu yang menjuntai dengan semburat beban yang susah untuk dikeluarkan.


"Abi lagi bingung, Umi." jawabnya.


Harun kembali menurunkan pandangannya untuk menatap Fatimah.


"Gifali ..."


"Suaminya Maura?" potong Fatimah. Harun pun mengangguk untuk membenarkan perkataan istrinya.


"Ternyata dia sekolah dikampus Abi, Mi."


"Hah? Kok bisa?" jawab Fatimah kaget.


"Tapi kan di sana ada larangan, Bi." sambung Fatimah.


"Nah itu masalahnya sekarang, Gifa memilih untuk berbohong. Ia menutupi jati dirinya di sana, Abi jadi bingung, Mi." desah Harun.


Entah mengapa sejak pertemuan pertama, Harun begitu saja dengan mudahnya menyayangi Gifa dan Maura seperti anak sendiri, begitupun dengan Fatimah. Karena ia menganggap Maura itu mirip dengan Nurul, putri mereka yang sudah lama meninggal dunia.


"Ya Allah, Bi. Ya udah, jangan dilaporin, kasian Gifali." pinta Fatimah memohon, dengan gampangnya wanita itu menyuruh suaminya untuk ikut merahasiakan.


Harun pun mengangguk lemah.


"Mereka memang baru menikah, dan tidak tahu kalau peraturan kampus seperti ini. Ya terpaksa, harus berbohong. Tidak ingin mengecewakan orang tua mereka, katanya."


"Abi udah bicara sama Gifa?"


"Hemm ..." Harun kembali mengangguk. Fatimah hanya mendegus napas pelan, ia pun ikut menjadi takut dan was-was.


"Abi takut Gifa akan ketahuan, dan mungkin saja Abi akan terseret karena Gifa kan tinggal di sini bersama istrinya. Jika ada yang menyelidiki, habislah kita, Mi. Pramudya pasti akan marah besar karena ada mahasiswa yang berbohong. Apalagi mahasiswa itu adalah Gifali."


Fatimah masih diam dengan kedua mulut yang menganga, ia terlalu fokus menatap suaminya sampai-sampai kedua matanya ia biarkan terjaga tanpa kedipan.


"Mas Pramudya memang kenal sama Gifa, Bi?"


"Tadi siang Pramudya memberikan kuis kepada para Maba, dan hanya Gifa yang bisa memenangkannya, anak itu pun banyak membawa pulang hadiah."


"Masya Allah, secerdas itu Gifali?" wajah Fatimah kembali bersinar. Ia ikut terenyuh dengan keberhasilan Gifali.


"Makanya itu, Mi. Sayang banget kalau Gifa harus keluar dari kampus."


"Ya makanya jangan sampai keluar dong! Kan kasian dia, Bi." suara Fatimah terdengar penuh paksa.


"Pokoknya Abi harus bisa menutup jatidiri Gifa. Kalau semisal ada yang nanya, entah kah teman atau dosen yang melihat Gifa sedang berdua dengan Maura, bilang aja kalau mereka itu Kakak dan Adik. Bereskan?"


Samar-samar Harun mengulas senyum, ia menatap wajah istrinya dengan rasa takjub.


"Abi nggak nyangka, Umi semakin tua, malah semakin cerdas, Abi sampai nggak kefikiran loh." Harun menjawil pipi Fatimah yang sedikit berisi.


"Iya lah, nggak inget Abi, waktu SMA sering nyonteknya sama siapa?"


Harun memiringkan sudut bibirnya, mengalihkan tatapan ke arah lain. "Itu terus yang diingat-ingat, bete Abi." jawab Harun dengan decak malas.


Fatimah tersenyum lalu mencium pipi Harun. "Tapi Abi cinta kan sama Umi?" Fatimah mencubit perut suaminya sebelum ia berlari ke dalam kamar.


"Ayo, Bi, masuk. Mau bantuin Umi cari pahala gak?"


Harun terkekeh, lalu beranjak dari kursi untuk melaju ke dalam kamar. Hatinya sudah tegap akan masalah Gifali. Ia sudah memutuskan akan melanjutkan perbincangan ini dengan Gifali besok diruangannya.


Semoga saja Gifa dan Maura akan selalu aman🖤


****


Like dan Komennya jangan lupa ya sis, bro❤️