My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Pemersatu Keluarga.



"Sabar sayang ... sabar." Gifali terus menenangkan Maura.


Lelaki itu ikut berbaring di ranjang untuk mendekap istrinya. Mengelus, memijat dan mengecup. Apapun ia lakukan agar Maura bisa rileks dan melupakan rasa sakit dan perih pasca operasi enam jam yang lalu.


Maura berkali-kali menghembuskan napasnya ke udara. Melahap kembali oksigen dan menekannya ke dada lalu dihembuskan lagi. Begitu saja terus menerus, sampai berulang-ulang kali. Karena reaksi obat bius sepertinya sudah menghilang, terganti dengan rasa sakit yang amat memilukan.


Walau rasa sakit masih menjelajah, Maura tetap memaksakan diri untuk menyusui ketiga anaknya. Bersyukurlah, air asi nya begitu deras.


Bisma, Geisha dan Pradipta bisa minum susu sampai kenyang. Dan setelah puas menyusuu, ketiga bayi itu kembali tertidur di dalam box nya masing-masing. Posisi sang anak tidak jauh dari ranjang Bundanya.


Di kamar perawatan ini hanya ada mereka berdua. Ayah, Ibu, Kakak dan Ramona sudah kembali pulang untuk beristirahat. Karena mereka sudah dari siang sampai malam di Rumah Sakit. Besok pagi mereka berjanji akan datang kembali.


Pramudya menangis terseguk-seguk pada saat menggendong ketiga cucunya. Dan yang paling membuat ia sedih ialah, lelaki itu haru ketika tahu, bahwa Gifali memberikan nama anaknya yang mirip dengan nama dirinya. Turunan ku ... Pradipta, ucapnya tadi beberapa kali.


"Euhh ..." Maura kembali mendesah berat, ia sampai memejam kedua matanya karena tidak tahan.


Berkali-kali Gifali memanggil Suster untuk datang, namun Suster tidak bisa melakukan apapun lagi, karena obat yang telah diinstruksikan Dokter sudah disuntikan semua kedalam cairan infus Maura.


Jadi, wanita itu harus bisa bersabar dan bersahabat dengan rasa sakit yang sedang menerpa.


"Sabar sayang." lirih Gifali. Lelaki itu makin mengeratkan Maura didalam dadanya.


"Saa--kit!" suara Maura begitu parau. Ia sampai meremat kain baju suaminya. "Perih, Gifa." imbuhnya lagi.


"Kalau bisa aku saja yang menggantikan mu, Ra." raut Gifa nanar. Hatinya teriris, mendapati istri dengan keadaan tersiksa seperti ini.


Maura terus saja menghembuskan napasnya tepat di leher Gifali. Mencoba menahan rasa sakit, namun tetap tidak bisa.


"Euhh, sakit!"


Gifa mengusap-usap lembut lengan istrinya. "Dzikir, Ra ... dzikir." Gifali mengingatkan. Maura mengangguk dan mengikuti ucapan suaminya.


Gifali menarik selimut untuk dinaikan sampai ke perbatasan perut mereka. Tetap mendekap dan terus mengusap-usap tubuh Maura tanpa jeda. Sesekali Maura masih meringis linu namun dirinya mencoba untuk tahan, dengan untaian istighfar yang terus ia suarakan.


"Gifa, Mama dan Papa sudah sampai mana ya?" ucapnya disertai ringisan. Untuk berbicara saja, ia masih tidak sanggup. Setiap ia bergerak atau berbicara, rasa sakit di perut kembali mendesir.


"Sudah sampai di Bandara. Mereka sedang dijemput oleh sopir Ayah. Mungkin satu jam lagi akan sampai. Lebih baik kamu tidur dulu, nanti akan aku bangunkan."


Maura mengangguk. Ia mencoba memejamkan kedua mata di dalam dada suaminya. Untuk mengalihkan rasa sakit sementara.


***


Terlihat dua keluarga sudah sampai di lobby Rumah Sakit pukul 22:00 waktu London. Papa Bilmar dan Papa Galih berulang kali menelepon Gifali, namun lelaki itu tidak kunjung mengangkat. Karena ternyata lelaki itu ikut tertidur bersama istrinya di pembaringan.


Dengan insiatif, Mama Alika memutuskan untuk menanyakan langsung ke bagian pendaftaran. Dan mereka pun diberi tahu dimana letak kamar perawatan Maura. Tak berapa lama berselang. Mereka pun sampai di lantai tujuh, kamar vvip.


Krek.


Pintu kamar perawatan dibuka. Papa Bilmar lebih dulu melongokkan kepala kedalam kamar.


Hening. Kamar perawatan terlihat remang. Karena ada beberapa lampu yang Gifali matikan. Hawa kamar ini begitu dingin karena terpaan angin AC yang menggantung dinding. Hanya ada sorotan cahaya dari televisi, yang sedang menontoni Gifali dan Maura di atas pembaringan.


Papa Bilmar memberi aba-aba kepada semua keluarga untuk masuk kedalam. Ia menyalahkan saklar lampu agar ruangan menjadi terang.


Merasa ada sorotan cahaya terang, mendengar suara grasak-grusuk dengan banyak derap sepatu melangkah menuju keberadaannya. Gifali mengerjapkan mata dan terbangun.


"Mah ... Pah." seru Gifa dengan senyum mengembang kepada Mama Alika, Mama Difa, Papa Bilmar dan Papa Galih. "Dek .." Gifali menatap semua adik-adiknya secara bergantian.


"Ra ... bangun. Mama, Papa sudah datang." Gifali menggoyangkan tubuh istrinya, sampai wanita itu membuka mata.


"Mah ... Papa!" seru nya sambil merentangkan kedua tangan. Mama Alika dan Papa Bilmar beringsut untuk membungkuk dan memeluk putrinya. Maura menangis dalam pelukan itu.


Gifali beranjak bangkit dan menghampiri Mama Difa dan Papa Galih. Mencium tangan mereka dan memeluk secara bergantian.


"Selamat ya, Nak. Sudah jadi Ayah." ucap Mama Difa.


Gifali mengangguk dan masih menikmati pelukan sang Mama. Rasanya sangat tenang dan damai. Kegundahannya memang sudah menghilang, namun dengan pelukan itu rasanya semakin lengkap. Papa Galih mengusap rambut anaknya dari belakang tengkuk istrinya.


"Kakak, kangen Mama dan Papa." lirihnya.


"Mama juga kangen banget sama, Kakak." Mama Difa menangkup wajah Gifali dan memberikan kecupan hangat di kening anak lelakinya itu.


"Kakak berhasil, Mah. Kakak bisa lewatin semua ini."


Mama Difa mengangguk. "Mama tau itu. Kakak memang hebat." Mama Difa memuji.


"Sakit banget, Mah." Maura mengeluh.


"Melahirkan memang seperti ini, Nak. Rasanya sakit." Mama terus menenangkan.


Papa Bilmar hanya bisa mengusap rambut Maura yang terurai panjang. Dan mencium pusara kepalanya, karena sejatinya ia bingung harus menenangkan Maura dengan cara apa.


"Sabar, Kak. Besok juga sudah hilang." dan kalimat itu yang ia keluarkan sebagai Aji Pamungkasnya. Mendengar ucapan yang dianggap nyeleneh, membuat Mama Alika mendelik, seraya menyuruh agar suaminya diam saja. Jangan menambah keadaan semakin runyam. Dan lelaki itu menurut untuk bungkam.


Ammar dan triple G, fokus melihat keponakan mereka yang sedang tertidur didalam box.


"Cowok-cewek-cowok ya, Kak?" tanya Gelfa kepada Gifali.


Gifali melepaskan pelukan Mamanya dan menoleh. "Iya, Dek." Gifali melangkah menghampiri Mama Alika dan Papa Bilmar untuk mencium tangan mereka. Begitupun Maura kepada Mama dan Papa mertuanya.


Para Mama dan Papa itu beranjak melangkah untuk menghampiri cucu-cucu mereka didalam box yang berkelambu. Gifali kembali duduk di bibir ranjang untuk menemani Maura.


"Masya Allah ... Tabarakallah, ganteng dan cantik cucu-cucuku." seru para Mama dan Papa. Merek semua berdiri menjajar di depan box bayi.


"Udah ada namanya, Kak?" tanya Mama Difa kepada mereka berdua.


"Nama mereka : Bisma, Geisha, Pradipta." ucap Gifali.


Semua orang menoleh lagi ke arah mereka, terutama dua Papa yang sedang melongo hebat.


"Gifa sengaja memakai nama insial dari ketiga Papa." ucap Gifa tersenyum.


"Masya allah, terimakasih, Nak." jawab dua Papa bersamaan.


"Dan nama belakangnya tetap memakai HADNAN, boleh kan, Pah, Mah." ada genangan air mata di sudut mata Papa Galih. Ia senang dirinya dianggap. "Sangat boleh, Nak." Mama Difa mengelus bahu suaminya, dan membantu menyeka air mata yang ingin menetes.


Walau Papa Galih tahu, ketiga cucu itu bukanlah turunan dari darahnya, namun tetap saja rasa cinta kepada Gifali tidak membuat semua itu menjadi tolak ukur. Ia tetap merasa Gifali adalah anak kandungnya begitupun Bisma, Geisha dan Pradipta, juga cucu kandungnya.


"Duh, Bisma ganteng banget kaya Opa." ucap Papa Bilmar menggoda.


"Kakek, Pah. Lebih cocok." sahut Ammar.


"Opa sajalah, Kakek terdengar sangat tua." jawabnya lagi.


"Opa juga kan tua." decak Ammar.


"Ji Cang Wook aja dipanggilnya Opa kok, dia kan masih muda." Papa Bilmar tetap berkelit. Dan Ammar hanya memiringkan sudut bibir dengan mata memutar jengah.


"Wowok? Apaan tuh, Pah?" selak Mama Alika.


"Itu loh Tante, artis Korea. Ganteng banget kaya---"


"Kayak aku ya?" kini, Ammar yang menyelak. Senyumnya begitu manis menatap Ganaya.


Gelfani pun mengiyakannya. "Eh, iya bener, mirip sama Ammar."


Ammar tersenyum puas melihat wajah Ganaya yang mulai memerah. Wanita itu memilih mengalihkan pandangan itu kepada Baby Geisha.


"Saya fikir, Mas mau dipanggil Abah." sambung Papa Galih dengan kekehan pelan. Papa Bilmar pun mencebik.


"Malahan saya fikir, kamu mau dipanggil nama aja, enggak usah pakai embel-embel apapun lagi."


Papa Galih mendengkus. Dan semua orang tertawa karena candaan dua lelaki setengah abad tersebut.


Gifali menatap Maura, mereka saling berpandangan dalam senyuman. Walau Maura terlihat masih meringis karena rasa sakit.


"Aku senang melihat keluarga kita bahagia seperti itu, Gifa. Semoga selamanya, anak-anak kita selalu menjadi penghangat di dalam keluarga besar ini." ucap Maura.


Gifali mengangguk dan mencium kening istrinya lagi. "Aamiin sayangku."


Maura membenamkan dirinya lagi di dada suaminya, menyaksikan kehangatan keluarga mereka yang sedang menatap ketiga buah hatinya, dengan raut senang dan bahagia.


Triple G tidak henti mengambil gambar bayi-bayi itu yang sedang tertidur. Mama Alika dan Mama Difa terus saja menciumi Bisma, Geisha dan Pradipta secara bergantian.


****


Like dan Komennya ya guyss.