
"Apakah anakku buta dan tuli, Mah?" tanya Papa Bilmar kepada istrinya.
Mama Alika menolak paksa ucapan yang memang akan mendekati kebenaran. "Enggak! Jangan ngomong gitu, gak baik!!" kelakar Mama Alika.
"Kak, ini Mama, Nak." serunya lagi.
Dan ekspresi Maura tetap sama. Wanita hamil itu terlihat seperti tidak mendengar atau melihat, padahal ia tahu ada seseorang yang berada di dekatnya, namun ia hanya bisa melihat itu sebagai bayangan yang berwarna buram.
Hening. Wajah mereka kembali tegang.
"Papa mau panggil Dokter dulu, Mah. Tolong kamu jaga Kakak." Papa Bilmar berlalu cepat meninggalkan kamar perawatan. Ia sampai lupa jika ada bell pemanggil Perawat supaya bisa datang menghampiri.
Mama Alika menangis lagi. Mengusap peluh yang mendadak muncul di kening dan disekitaran leher Maura.
"Maura ingat Mama kan, Nak? Lihat Mama? Dengar suara, Mama?" tanya nya dengan kembali terseguk dalam gulungan air mata.
Maura mengangkat tangannya, untuk meraba wajah Mamanya. Menggerakkan daun telinga untuk mencari suara Mamanya yang terasa sangat jauh. Namun masih bisa ia dengar.
"Mama ya?" Maura akhirnya bersuara dengan nada yang angat parau. "Kenapa Mama diam aja?" imbuhnya lagi. "Mah ...?"
Seketika wanita paruh bayah itu tercengang hebat. Padahal sejak tadi ia sudah menangis dan bercuap-cuap. Mengapa sang anak malah mengatakan kalau ia hanya membisu sejak tadi.
"Mah sini, jangan jauh-jauh." pinta Maura. Bola matanya masih terlihat mencari-cari keberadaan wanita yang sejak tadi ia panggil Mama. Dalam sorotan bola matanya, Mama Alika hanyalah bayangan samar.
"Astagfirullahaladzim ..." Mama Alika menangis lagi.
Buta kah?
Tuli kah?
"Bagaimana bisa ini terjadi pada anakku?" seru Mama Alika lagi.
Tak lama kemudian Dokter datang bersama langkah Papa Bilmar dan Perawat. Mama Alika ditarik oleh Papa Bilmar untuk bergeser, memberikan tempat untuk Dokter agar bisa memeriksa dengan baik. Dokter menyorotkan lampu senter ke dalam bola mata Maura.
"Ukuran pupil mata kanan memang lebih besar dibandingkan pupil mata kiri, ini yang menyebabkan putri Bapak tidak bisa melihat dengan jelas. Hanya cahaya terang dengan bayangan warna yang tidak jelas. Nanti akan saya konsultan dengan Dokter Mata. Semoga saja keadaan ini tidak terlalu lama."
Papa Bilmar menarik napas berkali-kali. Mama Alika meringkuk di dadanya. "Astagfirullahaladzim ...." istighfar tak kunjung surut ia luapkan.
"Untuk telinganya juga sedikit terganggu. Jangan heran kalau nanti akan mengeluhkan sakit ketika mendengar suara yang terlalu keras, nyaring dan berisik. Saya akan mengkonsultasikannya kepada Dokter THT."
"Dampak dari cedera otak, memang banyak yang seperti ini. Terganggu pada alat indera pendengaran dan penglihatan belum lagi dengan penciuman dan pengecapan, kurangnya keseimbangan, dan fokus akan suatu pemikiran. Tapi semoga saja analisa saya tidak sampai kesana."
Beberapa penjelasan yang dituturkan oleh Dokter penanggung jawab Maura. Rasanya kedua telapak kaki Papa Bilmar dan Mama Alika menciut drastis. Rasa kecewa, marah dan sedih bercampr menjadi satu.
Bisakah, waktu diputar, agar putri tercintanya kembali seperti dulu?
Tiba-tiba saja Maura meronta. Stimulus ketegangan di otaknya merebah. Ingatan kejadian kelam yang sempat terjadi beberapa hari lalu timbul kembali.
"Akhhh ... Gifa!!" Maura berteriak-teriak.
******
Pramudya kembali bernapas lega, karena operasi Gifali yang kedua berjalan dengan lancar. Perdarahan didalam tubuhnya dapat dihentikan tepat waktu oleh Dokter Bedah. Lelaki itu kembali dimasukan ke dalam ruang ICU, ditunggu lagi sampai sadar dalam waktu delapan jam.
Untuk kali ini monitor yang dilakukan kepada tubuh Gifali sangatlah ketat. Karena dua kali operasi pada titik yang sama cukup beresiko.
"Istighfar, Pram. Anakmu akan kembali seperti dulu." ucap Harun menenangkan.
Harun langsung melesat datang ketika dikabari oleh Adrian. Adrian meminta agar Harun dapat menemani kecemasan Pramudya yang tak kunjung berhenti. Entah mengapa rasa takut kehilangan Gifali begitu terus menghujam batinnya.
Sedangkan Tamara sedang dibawa ke kantin oleh Fatimah dan Ramona. Wanita itu pun butuh di tenangkan. Rasa takut masih membuncah dirinya, akan nasib Agnes yang sebentar lagi masuk kedalam jeruji besi.
"Saya takut, Run. Saya takut kehilangan Gifali, saya merasa gagal menjaganya---"
"KAMU MEMANG SUDAH GAGAL MENJAGANYA, PRAMUDYA!!"
DEG.
Pramudya beranjak bangkit dari duduknya. Ia berdiri dipertengahan koridor menatap lelaki sebayanya yang bertubuh tinggi, kekar dan masih tampan.
"Galih ..." seru Pramudya. Ia tersentak melihat kedatangan semua keluarga Hadnan siang ini.
"Saya datang, Pram! Saya akan menjemput Gifali!" jawab Papa Galih dengan raut wajah dingin dan mengeras. Terdengar gemeretuk dari kepalan tangannya.
"Pah, sabar." bisik Mama Difa kepada suaminya. Napas Papa Galih berhembus kasar seiring pergerakan dadanya yang naik turun, karena rasa trauma kembali muncul.
Belum ada setahun, lelaki itu pernah bolak-balik masuk untuk menjaga Gifali di ruang ICU, saat sang anak mengalami kecelakaan dan dimana ia tahu kalau Gifali bukanlah anak kandungnya.
Papa Galih melangkah pesat menuju posisi Pramudya yang masih berjarak lima meter dari langkahnya.
"Pah ..." seru Ganaya. Ia takut jika Papanya akan membuat keributan di sini.
Pramudya pun melangkah untuk menghadang Papa Galih. Mereka saling bersitatap dalam pandangan lurus, menusuk bola mata masing-masing.
"Saya tidak akan membiarkan Gifali di bawa oleh siapapun. Dia anak saya! Bukan anak kamu ... Saya akan mengembalikan biaya yang sudah kamu keluarkan untuk merawatnya selama ini." ucap Pramudya lantang. Hanya karena ego dan rasa takut, telah membuat kebijaksanaannya tertutup begitu saja.
"Pram ..." seru Harun, agar Pramudya bisa berfikir tenang. Namun Pramudya tidak mengidahkan panggilan Harun. Ia tetap menantang Papa Galih.
Papa Galih tertawa mengejek. "Ya, secara bioligis dia memang anakmu! Tapi di dalam keseluruhan tubuhnya dan jiwanya, hanya ada nama saya yang bersarang dihatinya. Hanya saya yang tau bagaimana Gifali secara utuh!"
"Kamu tidak akan bisa membayar darah istri saya..." Papa Galih setengah menoleh dan menunjuk ke arah Mama Difa. Raut Pramudya seketika bingung dengan tatapan menelisik. "Darah yang sudah mengalir untuk menolong Gita pada saat persalinan! Dalam tubuh Gifali juga ada darah Nadifa!"
DEG.
Pramudya tertohok.
"Sejak Gifali lahir, yang ia rasakan hanyalah sentuhan dari tangan kami berdua!"
"Saya dan Difa yang belari-lari ditengah malam menerjang lorong Rumah Sakit, ketika Gifali sedang demam dan muntah-muntah!
"Menimang sampai pagi jika dia sedang rewel!"
"Mentatah langkahnya ketika baru bisa berjalan!"
"Memapahnya ketika ia sedang terluka!"
"Apa kamu tau? Gifali tidak bisa minum susu sapi, dia alergi dingin. Alergi udang, tidak suka kopi, suka bermain golf? Lebih suka berdiam diri di toko buku, dan saya akan menemaninya seharian jika weekend!"
"Apa kamu tau semua hal itu? Tentu kamu tidak akan tau! Karena hanya saya Papanya!"
"Saya berikan nama kami, hidup kami, cinta kami, kasih sayang yang sama rata dengan ketiga anak kandung kami yang lain!"
"TENTU SEMUA ITU TIDAK AKAN BISA KAMU BAYAR!!"
Serentetan ungkapan menohok hati telah dipaparkan oleh Papa Galih. Air bening mengembun lalu terjerembab turun membuat jejak lurus dari sudut mata Pramudya.
Tubuhnya bergetar dengan gesekan sakit teramat dalam di dada. Ucapan Papa Galih sangat merobek- robek hatinya.
"Selama delapan belas tahun usia Gifali, kamu tidak pernah tau apa-apa, Pramudya!"
***
Aku tuh nyesek jadi Galih, tapi Pramudya juga gak salah ... Yang salah tuh Nenek Gita😤, dan juga aku yang udah buat mereka baku hantam dari jaman nenek moyang😔
Maapin🤞
Like dan Komennya yah🤗