My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Ayah, Tolong Istriku!



Acara pernikahan Agnes dan Razik batal seketika. Seluruh keluarga berduyun-duyun membawa Maura dan Gifali ke Rumah Sakit, setelah peristiwa naas itu terjadi.


Masih terekam jelas diingatan Pramudya ketika Gifali tidur di pangkuannya dengan bersimbah darah. Pemuda itu kembali sadar sebentar hanya untuk mengelus pipi Ayahnya.


"Ayah ... Tolong istriku" ucapan itu yang terus terbayang-bayang di benak Pramudya. Apa yang harus ia katakan pada anaknya nanti, jika istrinya mengalami gegar otak dan belum sadar sampai detik ini.


"Jika terjadi apapun dengan Anakku dan istrinya, aku tidak akan memaafkan anakmu, Mah." ucap Pramudya kepada Tamara.


Lelaki paru bayah itu menangis dalam tundukan kepala. Tamara pun ikut menangis memeluk suaminya dari samping. Pasangan paru baya itu menangis bersamaan didepan kamar operasi. Lampu didepannya masih menyalah terang, tandanya operasi belum selesai, padahal sudah dua jam Gifali ada didalam.


"Anak Bapak harus segera di operasi, karena lukanya sudah mengenai dinding perut, tidak hanya pendarahan external saja, tapi perdarahan internal pun terjadi didalam tubuhnya. Sangat beresiko, maka kita harus menekan perdarahan dan pendarahan yang terjadi." beberapa kalimat yang disampaikan oleh Dokter Bedah tentang keadaan Gifali.


Lalu bagaimana dengan keadaan Maura?


"Untuk istrinya, dari hasil ct scan, ditemui trauma dan cedera kepala yang cukup berat karena hentakan yang bertubu-tubi dengan kecepatan dalam dua menit, saya takut ada darah yang membeku didalam, karena setelah dicek ada pendarahan juga di luar kepala. Menyebabkan pasien akan lama tersadar."


Begitulah penjelasan Dokter Bedah Syaraf mengenai keadaan Maura kepada mereka dua jam yang lalu.


Tentu saja pemeriksaan ct scan untuk Maura sangat berdampak besar. Wanita yang sedang hamil tidak boleh terkena radius sinar X-ray. Karena akan mengganggu perkembangan janin, namun apa daya. Maura harus tetap diperiksa, agar ia bisa ditangani oleh Dokter dengan tepat. Semoga ketiga bayi itu akan terlahir selamat dan tetap sempurna tanpa kecacatan apapun.


Walau Agnes masih sulit untuk diajak bicara, tapi mereka semua dapat merangkum apa yang dilakukan oleh Agnes saat di kamar tersebut.


Remuk jiwa Pramudya, terasa diremas-remas ulu hatinya. Anak yang ia besarkan dengan kasih dan sayang, di didik sampai akan menjadi orang, diberikan kemewahan melebihi anak kandung sendiri. Tega melempar arang panas kepadanya. Pramudya murka dan geram melihat Agnes.


"Bawalah Agnes ke tempat yang seharusnya, Mah. Papa tidak mau melihat anak itu lagi."


Tamara hanya diam dan terus menangis. Mengapa bisa putrinya seperti ini, baru saja mendapat hukuman dari Pramudya, membuat hati Tamara linu.


Apalagi jika ia tahu, bagaimana hukuman yang akan diberikan dari seorang Bilmar Artanegara dan Galih Hadnan. Keindahan jeruji besi akan Agnes dapatkan.


*****


"Ampun, Kak." Agnes meronta, dia terjungkal beberapa kali di koridor Rumah Sakit yang sepi.


Adrian tidak kuasa melampiaskan kemarahan kepada adiknya. Permukaan pipi Agnes sudah sangat panas dan perih karena Adrian menamparnya berkali-kali.


"Anak tidak tau diri kamu, Nes! Kamu mencelakai Gifali! Putra kandung Papa!" Adrian terus memaki Adiknya.


Agnes menggelengkan kepala sambil memegang pipinya yang terasa linu. Berkali-kali ditampar sampai di sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.


"Ampun, Kak. Agnes khilaf. Aku tidak sadar."


"Sekarang lihat diri kamu! Lihat, Nes! Masih muda, sudah hamil, menjadi pencandu narkoba dan seorang pembunuh!" Adrian kembali murka dan ingin lagi menampar Agnes.


Namun aksi itu dibekukan oleh Razik. Lelaki itu datang tepat waktu untuk menepis tangan Adrian. Tidak ada tubuh yang bisa Agnes jadikan sandaran untuk meneduh dari kemurkaan semua orang kepadanya, selain Razik.


"Apa kamu gila? Dia ini adikmu!" seru Razik yang ikut berjongkok untuk mendekap tubuh Agnes.


"Mulai sekarang, dia bukan Adikku lagi! Bawa pergi dia sejauh mungkin. Mama dan Aku tidak mau lagi melihatnya!" ucap Adrian dengan mata menyalak tajam lalu memutar tubuh melangkah, namun Agnes dengan cepat beringsut memegangi kaki Kakaknya.


"Maafkan Agnes, Kak. Jangan benci aku, aku tetap adikmu." rintih Agnes.


"Aku mencintainya, tidak mungkin aku sengaja melakukan itu. Semua ini diluar akal sehatku." Agnes menangis sejadi-jadinya. Ada dada yang berdenyut ngilu, dan Razik hanya bisa menerima itu dengan kelapangan hati. Ia tetap menerima Agnes dengan tangan terbuka.


Adrian menyeka air bening yang meluncur lurus dari ekor matanya. Dadanya terasa sesak bisa melakukan hal seperti ini kepada Agnes.


Adik perempuan yang selalu ia jaga, ia perhatikan dan ia ikuti apapun kemauannya. Bisa menjadi salah arah, dan hancur sampai berkeping-keping. Masa depan apa yang bisa ia banggakan kepada sang Adik.


"Karena cinta buta membuat kamu menjadi orang yang paling keji! Jangan meronta padaku! Meronta lah pada Tuhan, agar dosamu termaafkan!"


*****


"Bagaimana, Dok?" tanya Ramona kepada Dokter yang sedang melakukan usg untuk memeriksa bayi-bayi Maura.


"Detakan jantungnya masih bagus. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." jawab Dokter Spesialis Kandungan.


Ramona mengusap dadanya karena merasa lega.


"Baik, Dok terimakasih."


"Sama-sama, hubungi saya jika pasien sudah sadar. Saya akan memeriksa lagi kandungannya." Dokter Albert bangkit dari kursinya, dan berlalu. Seorang perawat mendorong kembali alat usg untuk dibawa ketempat periksa semula.


Setelah mereka pergi, Ramona kembali duduk di sebelah Maura.


"Alhamdulillah, anak kamu gak kenapa-napa. Ayo bangun, Ra. Doakan suamimu." Ramona berbisik di telinga Maura. Sahabat yang paling ia sayang membeku dan memucat dipembaringan. Begitu sedih hatinya, mengingat pasangan suami istri ini, saling tidak sadarkan diri. Sedang berjuang untuk melawan maut.


"Bangunlah, Ra ..." isak tangis Ramona pecah. Ia mengingat apa yang Dokter katakan, jika wanita ini akan lama tersadar. Pemulihan dalam otaknya membutuhkan waktu.


Ramona meremat jari-jari Maura dan mengepalnya dalam genggaman hangat. "Bangun demi tiga anakmu."


Tidak ada respon dari wanita yang ia tangisi. Baru saja beberapa jam lalu mereka sedang bersenda gurau di taman, mengapa kini harus terpisah dalam luka.


Usapan lembut di bahu, terasa oleh Ramona. Ia mendongak dan mendapati wajah Adrian yang juga sudah basah.


"Sabar, sayang. Maura dan Gifali pasti akan membaik." lirih, suara itu hampir aja tidak terdengar dari bibir Adrian.


"Mengapa Adikmu jahat sekali sih! Padahal Maura dan Gifa sangat baik padanya!" nada suara Ramona meninggi. Ia kesal dan benci sekali dengan Agnes. "Bagaimana jika ..." Ramona menjeda ucapannya lalu menoleh ke arah Maura yang masih membisu. "Ia tidak sadar dalam waktu yang lama, bagaimana nanti ketiga bayinya. Apakah Adikmu akan bertanggung jawab!" Ramona kembali menyentak.


Adrian hanya bisa menunduk. Tidak mampu berkata lebih untuk menenangkan, karena saat ini hatinya pun kelit.


"Bangun, Ra. Bangun ..."


Ramona kembali menangis dan Adrian hanya bisa menguatkannya dengan rangkulan.


"Berjuanglah, Maura ... Gifa!" gumam Adrian.


*****


"Alhamdulillah Papa sudah sampai, Mah. Tadi Papa mampir kerumah Maura, tapi rumahnya gelap sepertinya masih kuliah." ucap Papa Bilmar yang masih terduduk di meja panjang untuk rapat dengan para pemegang saham pemilik hotel.


Ada satu pemegang saham yang bermain curang, dan sangat mengusik jalannya operasional hotel. Sekalian ia ingin bertemu teman dan Maura walau dalam waktu singkat.


Lelaki paruh baya itu mengambil penerbangan Jakarta-London dari kemarin malam agar sampai pagi di negara ini. Dia sengaja tidak memberitahukan kedatangannya kepada Maura, karena ingin memberikan surprise. Walau kedatangannya kemari memang sebatas pekerjaan. Ia hanya seorang diri ke sini.


"Sebelum pulang, nanti mampir lagi kerumah Kakak, Pah. Jangan lupa kentang keringnya."


Papa Bilmar mengangguk sambil terus memegangi gawainya. "Iya, Mah. Nanti akan Papa berikan untuk Kakak."


Bola matanya tak sengaja menatap kedatangan Tuan Robert, temannya sekaligus Direktur di Hotel ini. Lekaki itu melangkah untuk mendekati Bilmar dengan senyuman. "Ya sudah Papa mau rapat dulu."


"Iya, Pah. Semangat ya."


Sambungan telepon pun terputus. Papa Bilmar meletakan gawai di meja dan menyambut kedatangan Tuan Robert. Lepas sekali senyum dan tawanya, Papa Bilmar sepertinya belum mendapat firasat apa-apa mengenai anak dan menantunya. Mungkin bukan sebuah firasat lagi, tapi ia akan langsung ditembak dengan kenyataan yang akan membuat dirinya murka.


*****


Like dan Komen ya guyss❣️