
Membelah jalanan malam dengan laju mobil kencang membuat hati Gifa tidak menentu. Pengang telinganya ketika mendengar banyak suara yang melengking di dalan mobil.
Mulai teriakan dari Maura yang menyuruh anak-anaknya untuk diam, belum lagi rancauan Geisha dan Bisma yang menyeramkan, Pradipta yang malah menangis karena tidak mau disentuh oleh kedua kakaknya serta Ginka dan Ghea yang terbangun dan menangis kencang karena suara gaduh.
Sungguh, tingkah kelima anak ini membuat Maura dan Gifali sulit untuk menenangkan keadaan.
"Astagfirullahalladzim ..." Gifa berkali-kali istighfar sambil mengusap gusar wajahnya yang semakin tampan. Memutar kemudi dengan tangan yang sudah dingin karena peluh dan bergetar. Gifa memang lelaki yang gampang panik.
"Jangan!!" seru Maura kepada Bisma yang mencekik leher Ayahnya dari belakang jok.
Dengan terpaksa Maura mencubit lengan Bisma agar anak itu melepaskan cekalan tangannya yang mungil. Bukan menangis, Bisma malah menatap benci ke arah Maura, anak itu seraya ingin memukul bundanya. Wanita yang sepanjang hari tidak pernah absen untuk ia ciumi.
"Bun, jangan!" Gifa memegang tangan Maura yang ingin mencubit anaknya lagi.
"Ini bukan anak kita. Bisma lagi kemasukan." ucap Gifa. Maura menghela napas berat menahan amarah, walau air matanya sudah menetes sejak tadi. Ia mengutuk malam ini. Mengutuk setan-setan yang tega menjamah tubuh anaknya.
"GEISHA" seru Maura kencang. lagi-lagi Bunda muda itu tidak bisa mengendalikan emosinya, ketika melihat anak perempuan itu menggigit telinga Dipta di kursi penumpang.
"Huwaa ... BUNDA!" Dipta menangis. Anak itu memegangi telinganya yang tidak berdarah tapi tercetak jelas bekas gigitan Geisha di sana
"Bun, jangan!" Gifa mencegah Maura yang sudah kepalang memukul tangan Geisha. Maura menatap Geisha dengan tatapan tajam.
"Keluar kamu dari tubuh anakku!" serunya kencang.
Mendengar hardikan itu, Geisha malah tertawa cekikan sambil menjulurkan lidah. Ditariknya Dipta untuk pindah duduk bersamanya didepan yang sedang memangku Ginka dan Ghea bersamaan. Dipta duduk ditengah-tengah celah antara dirinya dan Gifali.
"Aaahhh ... Ayah, Bunda." Dipta kembali berteriak, ketika Bisma menarik rambutnya dari belakang.
"Dasal anak jelek!" seru Bisma kepada Dipta.
Dipta menatap kakaknya dengan wajah basah karena leleran air mata, lantas mengubah raut wajahnya menjadi tidak suka. Dipta beringsut kemudian mencakar wajah Bisma.
Dan perkelahian antara dua bocah itu tidak dapat terhindar lagi. Maura susah melerai, dan Gifa tak kuasa karena sedang mengemudi.
CIT.
Gifa menekan pedal rem mendadak. Menepi di sekitaran pohon rindang di bahu jalan. Lelaki itu terpaksa turun, dan melangkah ke pintu belakang.
Menarik tubuh Bisma dengan kasar, lalu mengikat kedua tangan dan kakinya dengan tali tambang yang tidak sengaja tersimpan didalam mobil. Begitupun Geisha, anak perempuan itu juga di ikat seperti Bisma.
"Lepacin!" Geisha meronta-ronta.
Sudah habis kesabaran Gifa, ia tahu kedua anak ini tidak bersalah. Yang bersalah, hanyalah jin yang sedang menguasai tubuh anak-anak mereka. Namun jika dibiarkan, Pradipta akan luka dan Gifa tidak tenang mengemudikan mobil.
Maura tidak marah, malah ia mendukung tindakan suaminya yang selalu tegas di waktu yang tepat. Gifa kembali duduk di kursi kemudi, meraih tubuh Dipta yang sedang bergetar untuk duduk dipangkuan nya.
Heya Heya Heya. Kini hanya ada suara tangisan dari Ginka dan Ghea sepanjang perjalanan menuju rumah Kakek dan Neneknya. Di susui paksa oleh Maura, kedua bayi itu tetap saja menangis dan tidak mau.
"Biarin aja nangis, Bun. Mereka hanya kaget." ucap Gifali. Maura hanya mengangguk dan menciumi kedua bayinya.
"Maaf ya, Nak. Jadi keganggu tidurnya." ucap Maura sendu. Menoleh ke arah Dipta dan mengusap kepalanya. Anak itu memilih memejam mata sambil memeluk dada Ayahnya.
Maura menatap ke spion dan melihat Geisha dan Bisma yang masih saja sama. Sama-sama merancau, mengerang dan cekikikan tidak jelas.
"Astagfirullahalladzim ..."
****
Ginka dan Ghea lebih dulu di gendong oleh Gelfa dan Gana untuk dibawa ke kamar orang tua mereka. Akhirnya bayi-bayi itu kembali tertidur pulas.
Sedangkan Pradipta di gendong oleh Gemma. Anak itu diajak untuk tidur di kamar Omnya, tapi ia menolak. Tetap ingin di sini, melihat kedua saudara kembarnya yang masih meronta-ronta ketika disentuh oleh Kakeknya.
Geisha dan Bisma di tidurkan di atas sofa. Mama Difa dan Maura memegang Geisha, sementara Bisma di pegang kuat oleh Papa Galih dan Gifali. Sudah satu jam Papa Galih mendoakan kedua cucunya yang sedang kerasukan jin, namun tidak mempan. Anak itu semakin berbuat urakan. Dengan rasa tidak enak, karena akan menganggu malam-malam Akhirnya Papa menelepon Pak Kiyai yang sering shalat berjamaah dengannya di Masjid.
Karena rasa kemanusiaan dan terlebih lagi Papa Galih dikenal sebagai hamba Allah yang banyak mendonatur kan sebagian rezekinya untuk pembangunan Masjid, maka beliau mau malam-malam dijemput untuk datang kerumah mewah keluarga Hadnan.
Bapak Kiyai H. Agus, fokus membacakan doa-doa khusus untuk menghilangkan pengaruh jin yang sedang bersemayam dan menganggu Geisha dan Bisma.
"Kakak!" seru Maura melepas tangan Geisha yang sedang menarik kerudung Neneknya.
Geisha mendesis, ia menyemburkan percikan ludah ke arah Bundanya. "Aku benci amuh!" serunya kembali dengan pelototan mata.
Sontak mendengar itu, Pak Kiyai membuka matanya dan lalu menghentikan doanya. Ia menatap Geisha.
"Kenapa kamu benci Ibu ini." Pak Kiyai menunjuk Maura.
"Tadi ciang, dia cilam aku pake ail nanas." jawab Jin yang masih menggunakan suara polos Geisha.
Maura membelalakkan mata. Ia terbingung-bingung. Seraya sedang mengingat apa yang tengah ia lakukan tadi siang.
"Bun, kamu ngapain tadi siang? Siram air panas kemana?" tanya Gifa.
Maura masih hening, ia tertunduk untuk terus mengingat.
Dan tak lama, matanya mengerjap beberapa kali karena kembin terbayang dengan aktivitasnya tadi siang.
"Bunda buang air panas sisa rendaman botol susu nya Ginka dan Ghea ke wastafel, Yah. Tapi biasanya juga gitu enggak masalah 'kok." jawab Maura.
"Tuh tan benel, dan dia ndak mau minta maaf!" selak Geisha, matanya kembali melotot. "Jadi aku gangguin aja anaknya dengan anak-anakku!" desis setan itu lagi.
"Keluar kamu dari tubuh anakku! Aku minta maaf sekarang!" ucap Maura dengan suara masih lantang. Ia benci dengan jin ini.
"Ndak mau ah, aku udah kebulu cayang cama anak perempuan ini. Dia lucu soalna. Hihihi."
"Oalah, setan wastafel rupanya." seloroh Papa Galih.
"Eh kamu!" sentak Bisma kepada Kakeknya. Sepertinya jin itu tidak suka dengan candaan Papa. Papa Galih pun melototkan matanya balik. "Keluar kamu dari tubuh cucuku!"
"Ndak mau, aku tuga cebal cama dia!" Bisma menunjuk Gifali.
"Kenapa dengan Bapak ini?" selak Pak Kiyai.
"Dia injak anakku pakai ban mobilna!" Bisma menunjuk tajam bola mata Gifali.
"Kamu nginjak apa, Yah?" tanya Maura.
"Lupa, Bun. Tapi perasaan enggak nginjak apa-apa."
"Tuh, tan! Kamu ndak mau ngaku! Kamu injak anakku yang lagi main di galaci!"
Jantung Gifa memburu hebat. Sekarang gilirannya yang membuat masalah.
"Ya sudah kalau begitu, saya minta maaf." ucap Gifali tulus.
Bisma merungut tidak suka. "Aku ndak mau maafkan kamu, kamu cudah celing begitu!"
Mama Difa gemetar mendengar Geisha cekikikan dan Bisma yang meraung. Wajahnya memerah menahan takut. Baru kali ini dalam hidupnya melihat sendiri orang yang tengah kesurupan.
Tahu istrinya mulai takut. Papa Galih mengambil komando. "Gemma, gantian pegangin Geisha, biar Mama yang gendong Dipta dan masuk ke kamar!" titah Papa.
Gemma menurunkan paksa Dipta, walau anak itu tetap tidak mau turun. Kedua kakinya mengalung erat di perut Om nya.
"Sama Nenek dulu ya, Om mau pegangin Kakak." Gemma menunjuk ke arah Geisha.
"Ndak mau tulun, Om. Nanti Kakak cakal aku lagih."
Dipta mulai trauma dengan ketakutan yang sedari tadi melandanya. Ia korban kekerasan dari kedua saudara kembarnya, akibat jin-jin nakal tersebut.
****
Hati-hati ya yang punya anak kecil di rumah apalagi masih anget-anget harum mewangi seperti Five G.
Jujur ini tuh kisah pribadi akuðŸ¤
Jangan selebor buang sesuatu yang mungkin penghuni rumah dalam arti ghaib enggak suka. Kayak contohnya Maura dan Gifa. Pake doa-doa, misi-misi gitu biar mereka enggak marah. Pasalnya mereka emg ada disekitar kita.
Dan moga gak bosen sama ceritanya ya adem-adem dlu, sebelum masuk konflik kecil nanti. Moga makin sayang sama keluarga empayer ini🤗🌺