My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Eks Part Eight



Sudah dua minggu keluarga kecil Gifali tiba di Indonesia. Mereka memilih tinggal di rumah orang tua Maura. Walau dua hari sekali, Gifali akan mengunjungi rumah orang tuanya untuk membawa ketiga anak-anaknya.


Rumah baru yang akan mereka tinggali di sini, yang sudah jauh-jauh Gifali pesan dan telah dibayar uang mukanya, harus Gifali batalkan.


Sedih? Tentu saja. Kehilangan uang karena sudah kepalang membooking, harus mencari-cari tempat baru lagi dan waktu yang terbuang-buang begitu saja.


Mengapa dibatalkan? Gifali kecewa, harga jual rumah tersebut tiba-tiba di naikan dengan harga yang tidak masuk akal. Rumah itu memang tidak baru, Gifali tertarik membelinya dari seorang pensiunan pejabat daerah. Mungkin si penjual menyelidik, dan tahu Gifali berasal dari keluarga apa.


Rumah seluas 100 x 100 meter, di apit dengan tanah lahan selebar satu hektar, menjadi pilihan Gifali untuk tempat tinggal istri dan kelima anak-anaknya. Karena tau dirinya mempunyai pasukan yang banyak.


Padahal sejatinya uang tabungannya masih belum cukup juga untuk membayar rumah ini, tapi dari hasil menjual rumah di London, sumbangsih dari Pramudya dan Maura yang terus merengek untuk menambahkan dari uang yang ia punya dari toko kue nya di Indonesia.


Akhirnya bisa cukup untuk membayar, namun Gifali hanya bisa menghela napas. Karena ia tidak jadi membeli rumah itu.


"Jual saja Apartemenku, sayang. Untuk menambahkan kekurangannya. Beli saja rumah itu." Maura meletakan secangkir teh di atas nakas. Ia duduk di bibir ranjang dan memijit tangan suaminya yang sedang berbaring terlentang tengah melamun.


Gifali menatap Maura dan menggeleng. "Ayah tidak mau. Penjual terlalu tamak, dia menaikan harga sampai dua kali lipatnya, Bun. Uang sebanyak itu bisa Ayah jadikan modal usaha, untuk mengembangkan bisnis. Dan biaya masuk kuliahmu setelah melahirkan."


"Papamu dan Papaku 'kan sudah menawarkan untuk bekerja di perusahaan, kenapa Ayah tidak mau----"


Suara Maura terhenti ketika Gifali meletakan satu jari di bibirnya. Maura menurut untuk diam.


"Kamu sudah tau jawabanku, Ra." nada suara Gifali mulai terasa dingin.


Gifali tetap mau mandiri. Ia masih belum merasa hebat, karena belum menjadikan Maura berhasil sebagi chef. Lelaki itu malu kepada Papa mertuanya. Anak perempuan yang dibangga-banggakan, hanya bisa diam di rumah menjadi ibu rumah tangga mengurus anak-anak. Padahal, itulah pekerjaan wanita yang paling mulia dibanding berkarir di luar.


Gifali sadar, umur Maura masih muda. Dia juga butuh hidupnya, butuh teman-temannya, tidak selalu terbelenggu dengan rumah tangga. Mengurus anak-anak dan suami seharian akan membuatnya jenuh, tidak bergairah dan cepat marah. Maka itu Gifali ingin Maura juga bisa menikmati cita-citanya selagi waktu masih ada.


Maura menghela napas sambil mengelus-elus perutnya yang sudah sangat membuncit, perkiraan dokter kandungan Maura akan melahirkan minggu depan.


"Maaf ... Bunda, sudah membuat Ayah kesal." jawab Maura pelan. Ia sedikit menunduk.


Gifali beranjak duduk dan meraih cangkir teh dan menyesapnya. Fikiran kalut di kepalanya, tidak sadar membuat istrinya tersinggung.


Setelah menenggak isinya, cangkir teh itu ia sodorkan ke bibir istrinya.


Tanpa kata Maura hanya mengiyakan. Ia meminum sisa teh suaminya. "Maaf, Bun. Bukan maksud Ayah begitu." ucapnya sambil mengusap kebasahan dibibir Maura.


Mereka saling bersitatap dalam jarak yang sangat dekat. Gifali menangkup wajah Maura yang sudah membulat seperti donat madu.


"Percaya aja sama Ayah. Ayah pasti akan menemukan rumah yang bagus untuk kita bertujuh." kini tangannya turun untuk mengelus perut buncit istrinya.


"Tapi Bunda tetap mau bantu Ayah. Ijinkan aku mengelola lagi toko kue, aku janji akan kuliah sekaligus mengurus kelima anak kita." cicit Maura polos. Gifali tersenyum, manik matanya turun menatap bibir ranum Maura lalu dialihkan ke bola mata wanita itu.


"Selama ini kamu sudah banyak membantu aku, lalu mau bantu apa lagi?" ucapnya. Jari-jemari membelai-belai indah rambut Maura yang kini pendek sebahu. "Sudah melahirkan tiga anak, lalu sebentar lagi dua. Selalu sabar, menerima keadaan rumah tangga dalam segi apapun, menjaga kehormatan, dan masih banyak lagi yang selalu kamu berikan untuk aku, kamu mau bantu apa lagi, Ra?"


Oh, sungguh lembut. Tatapan meneduhkan yang Gifali layangkan mampu membuat jantung Maura berdegup. Kelemahannya adalah ketika Gifali sudah lekat seperti ini. Membelainya dengan kasih.


"Biar aku aja yang kerja, yang pusing, yang capek. Cukup kamu diam. Menurut apa kata-kata aku. Menjadi istri yang patuh dan mengiyakan apa saja mau ku. Kamu pasti senang, hidup kamu akan bahagia. Karena Malaikat akan memberikan ridho kepadamu, dari balik ridho ku .... mengerti?"


Maura Menggerakkan kepalanya naik turun, ia tatap bola mata indah milik suaminya yang selalu membuatnya jatuh cinta. Ia elus wajah itu, wajah lelaki yang selama empat tahun ini sudah jadi tumpuan hidupnya, pelindung dirinya.


"Bunda akan jadi chef terkenal untuk Ayah, Anak-anak dan Keluarga besar kita." ucapnya tersenyum.


"Bagus, istri solehah, cerdas dan baik." puji Gifali. Lelaki itu memiringkan kepalanya, mendekat untuk membenamkan bibir dibelahan bibir Maura yang terbuka sedikit. Hembusan napas menyatu padu. Iringan bibir dari keduanya membuat decitan saliva mendercak di udara. Tangan mereka saling bergenggam. Lidah saling berbelit, kembali melummat bibir lebih kuat.


"Euhh ..." lolosan erangan Maura mencuat ketika perpagutan bibir mereka terlepas.


Napasnya sedikit tersendat, karena oksigen mulai terkikis. Terengah-engah tapi nikmat.


"Enak ya?" goda Gifali.


Raut wajah Maura memerah, menahan malu. Ia mencubit pelan lengan suaminya.


"Mau ditengok si dedek?" benar-benar Gifa, semakin menggoda istrinya. Lelaki itu terkekeh ketika Maura samar-samar mengangguk dengan tundukan malu.


Tapi tiba-tiba Maura mendongak. "Tapi kan semalam sudah, dua kali malah. Takutnya mereka kaget dijenguk Ayahnya terus. Pas lahir jangan-jangan ada empat lagi." Maura tertawa.


Tokcer Gifa, tunjukan kegagahanmu. Haha.


Oh, benar juga. Menunggu masa nifas selama empat puluh hari, akan amat menyiksa dirinya.


"Mau enggak?" Gifali merayu. Libidonya sudah terpancing.


"Siang-siang?" Maura mundur maju.


"Main cepet aja, mumpung anak-anak lagi main." tangan Gifali terus mengelus-elus permukaan leher istrinya. Maura memejam mata, karena hatinya berdesir. Ia pun mendambakannya lagi.


"Mau enggak?" Gifali kembali bertanya.


"Ya udah, kunci dulu pintunya." titah Maura. Dengan hati senang dan bahagia, Gifali langsung loncat dari ranjang untuk melangkah ke arah pintu dan menguncinya. Ia tatap dari kejauhan ketiga anaknya sedang bermain dengan Ammar.


"Di repotin dulu ya, Dek. Bentar." gumamnya cekikikan melihat rambut Ammar tengah di kuncir-kuncir oleh Geisha.


"Ayo sayang." Maura langsung direbahkan terlentang di pusaran ranjang.


***


"Bunda ... Ayah ... Bunda!"


Suara tepakkan tangan mungil di daun pintu dengan seruan ketiga anaknya terdengar nyaring.


"Yah ..."


"Udah biarin dulu, tanggung nih, Bun." ucap Gifali, ia baru saja bermain di dipertengahan.


"Bunda ... Ayah ... Bunda!" suara rengekan Geisha lebih mendominasi. Jangan lupakan suara anak perempuan itu sangat memekikkan telinga.


"Kasian, Yah." ucap Maura ketika tangannya sedang memeluk punggung polos suaminya dari bawah kungkungan.


"Lebih kasian aku, Bun. Kalau berhenti di tengah jalan." untuk urusan ranjang, Gifali memilih untuk egois. Ketiga anak ya tidak akan semaput jika di diamkan dulu sebentar.


Maura memilih diam dan menurut. Mengikuti hasratnya yang juga sedang menggebu-gebu.


Lalu.


"Kak ..." seru Ammar. Adik lelaki itu mengetuk pintu kamar kakaknya.


"Ini Geisha nangis sampai muntah. Dipta eek. Bisma pecahin vas bunga Mama ...."


"Hah?" Gifa dan Maura saling melemparkan pandangan.


"Kak buru keluar! Pradipta udah bau banget nih!!" teriak Ammar. "Pada ngapain sih siang-siang didalam!" Ammar berdecak sebal.


Gifa dan Maura yang masih menyatukan tubuh hanya bisa hening.


"Dasar pasukan keluarga empayer!" sungut Ammar.


"Ayo ikut, om!" Ammar menarik tangan ketiga keponakannya untuk pergi dari depan kamar. Tidak tega juga dirinya, membiarkan ketiga keponakannya menangis. Sialnya, tidak ada Mama Alika yang bisa dimintai tolong untuk membersihkan si kembar.


"Terpaksa deh gue yang nyebokin." gumam Ammar membawa Pradipta dulu ke dalam kamar mandi.


"Mana bau banget lagi, kamu tuh makan apa sih!"


Geisha dan Bisma tertawa-tawa di depan pintu kamar mandi. Pradipta juga tertawa ketika sedang berdiri memeluk perut Ammar. Om nya walau menggurutu tetap saja sigap membersihkan sisa-sisa pup di belahan bokong Pradipta.


Di dalam kamar.


Gifa menggeleng kepala frustasi. Yang paling parah Bisma karena memecahkan vas bunga Neneknya, yang harganya belasan juta. Belum lagi kemarin baru saja Pradipta mengeluarkan ikan-ikan peliharaan Ammar dari akuarium.


Haha. Sungguh pasukan empayer yang keren seabad massa. Begitulah kata Ammar dan Papa kalau sedang meledek Maura.


****


Jangan tium-tium aku😘