
"Assalammualaikum ... Maura?" suara Fatimah terdengar dari luar pintu kosan Maura. Sesekali mengetuk pintu untuk mengiringi seruannya yang memanggil wanita cantik itu untuk keluar menyambut kedatangannya.
"Aamiin.." ucap Maura sambil membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangan yang baru saja ia gunakan untuk berdoa. Mendoakan suami, orang tua dan keluarga besarnya. Maura masih dalam balutan mukena putih yang diiringi aksen mutiara dipinggiran kainnya. Ia baru saja menjalankan shalat Duha, dan suara Fatimah membuat wajahnya menoleh ke arah pintu.
"Waalaikumsallam, Bu..." jawab Maura sambil bangkit untuk berdiri dan melangkah menuju pintu.
Senyum indah mengalir dari wajah Fatimah ketika Maura muncul dari balik pintu. Maura pun sama, memberikan senyuman yang khas dari wajahnya.
"Maaf ya, Nak. Ibu nggak tau kalau kamu sedang shalat."
"Enggak apa-apa, Bu. Ayo masuk dulu, Bu." Maura mempersilahkan Fatimah untuk masuk kedalam kostan nya. Wanita paru bayah itu sepertinya habis berbelanja kebutuhan pangan yang cukup banyak, entah mengapa wanita itu memilih bertandang untuk menemui Maura sekarang, padahal butiran keringat tercetak jelas menyeplak di hijab panjangnya. Ia bisa memilih untuk beristirahat dirumah dibandingkan datang untuk bertamu.
"Maura buatkan minum dulu ya, Bu."
Fatimah yang memang sangat haus, akhirnya mengangguk dan membiarkan Maura berlalu. Ia masih duduk melantai diatas karpet seadanya. Kedua matanya berpendar ke setiap sudut kostan yang sudah beberapa hari ini Maura dan Gifali tempati.
"Sungguh rapih kamar mereka. Semua barang tertata, lantainya bersih dan wangi lagi." Fatimah berdecak kagum. Beda hal ketika ia masuk kedalam kamar anak-anak yang juga menyewa kostan nya. Berantakan, banyak kumpulan puing rokok, sampah dan aroma yang menusuk hidung. Tak jarang Harun suka memarahi penghuni kostan yang lain jika sudah dianggap keterlaluan.
"Ayo, bu, diminum dulu teh nya." Maura mempersilahkan Fatimah untuk menikmati teh buatannya.
"Makasih ya, Nak." jawab Fatimah sambil menyesap air teh di cangkir itu. Maura masih menatap Fatimah dengan senyuman hangat, ia senang dikunjungi.
"Ini Ibu belikan beberapa bahan makanan kering dan bisa bertahan lama." Fatimah menyodorkan kantung plastik yang berisikan banyak macam-macam bahan makanan di sana. Membuat kedua mata Maura membeliak takjub.
"Kamu kan nggak ada kulkas, jadi nggak bisa simpan makanan basah." sambung Fatimah seraya mengingatkan.
Bahkan setiap pagi, sehabis shalat subuh, Maura akan berjalan ke pasar tradisional di sana. Ia membeli beberapa sayur dan lauk kebutuhan memasak hanya untuk satu hari. Tidak bisa menyetok macam-macam, karena benar apa kata Fatimah. Mereka tidak disediakan fasilitas kulkas.
"Ya Allah, Ibu. Jangan Bu, ini sungguh merepotkan, Ibu." Maura menahan agar kantung plastik itu terhenti ketika digeser oleh tangan Fatimah kepada nya.
Fatimah menggelengkan kepala. "Enggak apa-apa, Nak. Ibu sengaja membelikan ini untuk kalian. Kebetulan lagi ada rezeki." jawab Fatimah. Maura menatap Fatimah dengan sungkan, bibirnya terkatup rapat. Ia bingung ingin menjawab apa. Sungguh wanita itu sudah sangat baik kepada mereka.
"Bu, jangan seperti ini. Nanti Maura nggak enak sama Abi Harun." Maura hanya takut dianggap memanfaatkan kebaikan Fatimah dimata Harun.
"Malah yang suruh Ibu kasih ke kamu itu, Abi!"
Samar-samar Maura kembali mengulas senyum. Wajahnya tegap untuk memberi raut senang di sana.
"Sebenarnya ini sebagai ucapan terimakasih Ibu, karena kemarin kamu sudah membantu untuk memasak untuk acara pengajian." tutur Fatimah apa adanya.
Di London, ada sebuah persatuan orang muslim di sana, biasanya setiap Kamis, Fatimah akan dibantu seorang teman untuk memasak, memberikan dan membagikan makanan kepada penghuni masjid yang sedang buka puasa sunah senin-kamis, tapi berhubung temannya sudah pindah dari kota ini. Maka Fatimah kewalahan, sejatinya ia tidak sejago itu dalam memasak. Karena ia tahu Maura berkuliah di kampus kuliner, maka ia meminta bantuan gadis itu, dan benar saja semua yang mencicipi masakan Maura merasa tergugah karena begitu nikmat.
"Tapi Maura ikhlas membantu, Bu." Maura tersenyum kembali. Terkadang Fatimah terdiam, ia menangkap senyuman Nurul diwajah Maura. Sesekali ia ingin menangis, memeluk Maura untuk mencurahkan kerinduan kepada putrinya yang sudah lama berpulang.
"Sudah, jangan ditolak ya, Nak. Ini adalah rezeki Maura dari Allah, walau jalannya dari Ibu. Uang kalian juga bisa ditabung."
"Makasih banyak ya, Bu. Maura dan Gifa sangat berhutang jasa kepada kalian."
Fatimah menggeleng. "Jangan pernah sungkan, Ra. Kalau perlu apa-apa, bisa minta tolong Ibu atau Abi. Oh iya, Ra. Kalau ada pesenan Kue, mau terima order, nggak?"
Tanpa menunggu lama, Fatimah melihat Maura dengan cepat menganggukan kepalanya.
"Iya, Bu. Maura mau, lumayan kan buat nambah-nambah uang kuliah kami."
"Soalnya banyak temen Ibu yang suka pesan kue, ke toko langganan kue kita. Tapi akhir-akhir ini toko langganan itu selalu tutup, dan kami kesusahan kalau sedang butuh kue untuk acara. Kaya kemarin istrinya atasannya Abi, bingung mencari langganan kue yang enak. Ibu yakin, kue buatan kamu pasti enak." Fatimah terus meyakinkan Maura. Fatimah tidak tahu saja, jika di Indonesia Maura sudah berhasil merintis usaha bakery di sana.
"Baik, Bu. Insya Allah, Maura bisa." jawabnya mantap. Ia begitu senang karena Allah mulai membuka jalan rezeki untuk rumah tangganya.
****
Setelah Adrian turun dari podium. Kini hingar bingar dari para mahasiswa baru, kembali terdengar, sesekali juga Kakak senior yang berada didekat mereka memberikan peringatan dan delikan tajam. Gifali, Arif dan Topan tetap bersikap tenang, karena sejatinya mereka tidak ingin mendapatkan masalah apapun dengan anggota senat.
Lalu
Deg.
Bulu kuduk Gifali seketika meremang, telapak kakinya terasa lemas dan dua kornea matanya terbelalak hebat. Jantungnya nyaris saja mencelos jatuh ke luar tubuh. Jakunnya terlihat bergerak-gerak, ada sulutan saliva yang begitu saja sulit ia telan.
Benarkah lelaki itu yang saat ini tengah ia lihat? Mengapa bisa? Mengapa semua menjadi kebetulan sekarang? Gifa langsung menundukkan kepalanya, ketika lelaki yang ia tidak sangka-sangka sedang berjalan dengan orang yang ia pun baru tahu siapa lelaki itu sebenarnya.
Salah satu lelaki dari mereka pun menoleh dan memgerutkan kening nya menjadi beberapa lipatan tak berarah. Mungkin jika jarak mereka dekat, sudah dipastikan lelaki itu akan memanggil Gifali dan mengintrogasi nya.
"Ya Allah, bagaimana ini, kok bisa ada beliau di sini?" desah Gifali menatap lelaki yang sedang berdiri di samping podium. Lalu Gifali memutar bola matanya untuk bergeser menatap lelaki yang sudah ada diatas podium.
"Dan lelaki itu, adalah orang tua yang pernah aku tabrak sampai kaca matanya terjatuh."
Gifali terus merancau dalam hatinya. Ia semakin kikuk di posisinya. Ingin ia menoleh ke belakang untuk bertukar posisi dengan Topan, tapi sayangnya Kakak senior masih mematung berdiri disampingnya.
"Bagaimana sekarang, aku pasti akan dikeluarkan karena sudah berbohong!" ketakutan Gifali semakin tumpah ruah, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Tidak mau ada kontak mata dengan dua lelaki yang saat ini sedang ia takuti.
"Itu Gifali, kan? Suaminya Maura?" tanya Harun yang sedang mengamati Gifali dari jauh.
Harun masih berdiri dibawah podium, ia menemani Pramudya selaku dekan yang akan memberi sambutan setelah ketua senat barusan. Harun Fadilah, adalah Asisten Dekan dikampus. Ia dikenal sebagai dosen galak tanpa ampun. Harun Fadilah adalah tangan kanan bagi Pramudya, orang kepercayaan yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.
Diluar kampus, Pramudya banyak menceritakan masalah pribadinya kepada Harun. Harun sangat tahu bagaimana Pramudya merindukan anak kandung yang sudah lama mati baginya. Anak yang lebih dulu di aborsi sebelum ia bisa melihatnya lahir ke dunia.
***
Nah guys, aku baik kan ngasih episode selanjutnya tanpa nunggu besok pagi? hahahaha, ayo dong kasih Like dan Komennya. Pengen tau komen kalian apa, hihihihi.❤️❤️