
Tercengang, hanya perangai itu yang Maura berikan ketika baru saja mendengarkan penjelasan Ramona di halaman rumah Pramudya. Maura masih saja tergugu sambil mengusap perut.
"Kasihan sekali Agnes." gumamnya. Sorotan mata Maura datar menatap silaunya matahari. "Menikah dengan orang yang tidak dicintai, sungguh menyakitkan." imbuhnya lagi.
"Tapi dia sudah jahat denganmu, Ra. Dia mencintai suamimu---"
Maura mengangguk. "Iya, Mona. Aku tau itu. Tapi setidaknya dia sudah mendapatkan hukumannya. Walau aku tau, dengan Agnes menikah dengan Kakakmu, tentu belum sepenuhnya membuat aku lega."
Ramona menyunggingkan senyum sambil mengelus bahu Maura. "Tenang, Ra. Kakakku sangat mencintainya. Ia akan menjaga Agnes. Seperti aku menjagamu."
"Makasih, Mona. Maaf kalau aku sudah berfikir macam-macam tentang kamu kemarin." jawab Maura.
Ramona pun terhenyak ketika Maura menceritakan, tanpa sengaja wanita itu melihat dirinya di sana bersama Razik dan Agnes.
"Ra ..." ada suara yang memanggil dari belakang mereka. Maura dan Ramona pun menoleh, mereka berdua tersenyum mendapati Adrian.
Adrian menghampiri mereka dibangku taman dan duduk disebelah Ramona. Kemarin lelaki itu memang kecewa dengan Ramona, tapi setelah ia fikir lagi, Ramona menyembunyikan hal ini karena mempunyai alasan yang jelas. Walau Adrian kaget, karena selama ini Ramona tidak pernah menceritakan apapun tentang Razik, ia tidak menyangka kalau Ramona masih mempunyai saudara.
"Aku minta maaf atas kesalahan Agnes kepadamu, Ra. Aku enggak nyangka dia hampir aja buat kamu celaka." Adrian meminta belas kasih permohonan maaf kepada Maura. Sorot matanya terlihat nelangsa.
Sebelum Maura menjawab permintaan maaf itu, ia lebih dulu menatap Ramona. "Terkaanmu waktu itu memang benar, Ra. Agnes mencoba membekap wajahmu dengan bantal. Maka dari itu kesepakatan antara aku dengannya terjalin. Dan maaf jika aku menceritakan semua ini kepada Kak Adrian, biar dia juga bisa mengawasi Agnes."
Walaupun Adrian dan Ramona masih belum mau berkata jujur jika Agnes adalah pecandu narkoba dan Razik adalah bandarnya. Tentu kedua orang tua mereka akan kacau. Mungkin pernikahan pun akan batal. Jadi Ramona dan Adrian masih menutupi hal ini. Mereka memutuskan, akan membawa Agnes untuk keluar dari candu narkobaa.
"Astagfirullahladzim ... Jadi hal itu benar, bukan hanya terkaanku saja?" Maura meremat kain didada. Rasanya sesak sekali, ketika dirinya serta anak-anaknya akan di bunuh.
"Maafkan adikku ya, Ra." ucap Adrian kembali. Maura mengangguk dan tersenyum getir. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan kecuali memaafkan.
"Iya, Kak. Aku sudah memaafkannya." jawab Maura dengan dada yang seperti tengah ditusuk oleh bambu runcing. Rasanya sangat menyakitkan.
"Apa jadinya jika waktu itu aku dan ketiga buah hatiku, mati?" desahnya dalam hati.
Dua keluarga sudah berkumpul di dalam. Awalnya keluarga Ramona syok dengan permintaan Razik untuk menikahi Agnes secara mendadak, tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Mereka hanya bisa mengikhlaskan bawa ada benih yang sedang akibat kesalahan fatal dari anak-anak mereka.
Akad nikah dilakukan di pelataran ruang tamu rumah Pramudya yang cukup luas dan mewah. Terlihat Razik sudah menggunakan jas cream tengah duduk berhadapan dengan penghulu dan Adrian. Karena Ayah mereka sudah lama meninggal dunia, maka lelaki itu lah yang bisa menjadi wali nikah untuk Agnes.
Tamara masih saja menangis sambil mengusap air mata. Disebelahnya sudah ada Maura dan Ramona yang terus saja mengelus-elus lembut punggung tubuhnya. Wanita itu sedih, mengapa hidup putrinya harus seperti ini.
"Sabar, Bu. Ini semua sudah takdir hidupnya." ucap Maura menenangkan. Tamara hanya bisa mengangguk. "Iya, Nak." jawab Tamara singkat. Ia terus menggenggam tangan Maura, untuk bisa menguati hatinya yang sedang rapuh.
"Oh, iya. Gifa dimana, Ra?" tanya Ramona.
Maura baru tersadar jika sejak sampai, ia tidak melihat suaminya.
DEG.
Perasaan Maura seketika tidak enak. Dengan cepat ia melepas genggaman tangan dari Tamara dan merogoh ponsel di tasnya.
"Kamu kemana, Gifa?" hati Maura semakin was-was.
Hanya nada suara itu yang ia dengar di sambungan telepon. Ia mendongak ke atas, menatap pintu kamar Agnes yang masih tertutup.
"Apakah Gifa sedang ada di sana?" gumam Maura dengan dada yang mulai meringis.
"Kenapa, Nak? Gifa dimana?" tanya Tamara.
"Iya, Ra. Gifa dimana?" sambung Ramona.
Maura terdiam dan menggelengkan kepala. "Teleponnya tidak di angkat." jawab Maura ia terlihat sangat resah dan gelisah.
"Di sini hanya Agnes dan Gifali yang belum terlihat. Apakah mereka? Ah tidak-tidak! Aku harus memeriksanya." desah Maura dengan debaran jantung yang cukup kuat.
Ia berjalan menuju anak tangga dan menaikinya. Melangkah pelan sampai menuju kamar paling pojok dari awal tangga. Hatinya dag dig dug ketika samar-samar ada suara suaminya dari dalam.
"Ya Allah ..." rintih Maura tidak percaya. "Itu memang suara suamiku, apa yang sedang mereka lakukan di dalam?" Maura menatap daun pintu dengan air mata yang meluncur lurus di permukaan pipinya. Kedua tangannya mengepal, terisak pelan ketika mendengar ucapan Agnes dari dalam.
"Ayolah sayang, cium aku dulu. Seperti kemarin-marin"
DEG.
Maura seperti tertampar bongkahan petir. Suami yang selalu memuja dan menebar cinta kepadanya, sedang ada di dalam kamar seorang wanita yang bukan muhrimnya.
"Cium seperti kemarin-marin? Jadi kalian benar berselingkuh dibelakang ku?" ucap Maura pelan. Rahangnya seketika mengeras. Bola matanya terlihat memerah. Jantungnya seperti diperas, berdegup sangat kencang.
"Mau apapun yang akan terjadi, sesakit apa yang akan dirasa, aku harus membongkar keburukan suamiku yang selama ini aku hormati." air mata Maura semakin menderas turun.
"Aku akan menceraikanmu Gifa, jika kamu memang benar berselingkuh!" kelakar Maura.
Dan dalam hitungan ketiga, Maura berhasil membuka pintu kamar yang tidak dikunci sama sekali.
Krek.
Pintu kamar dibuka lebar.
"Astagfirullahaladzim!" Maura berteriak histeris.
"Pergi, Ra!" teriak Gifali sambil menggerakkan tangan untuk mengusir Maura, agar kembali ke luar.
"Ah, sayang!" Maura kembali berteriak.
"Pergi, Ra! Pergi!"
Lelaki itu sedang tergeletak tidak berdaya di atas lantai. Memegangi perut yang banyak mengeluarkan darah.
*****
Like dan Komen ya Guyss❣️