
Sudah pukul 21:00 malam waktu London. Tapi ketiga anaknya belum mau tertidur. Bisma, Geisha dan Pradipta masih asik bermain dengan mainan mereka masing-masing di pusaran kasur.
Terlihat Maura sedang menata baju-baju anak dan suaminya di dalam lemari. Sampai malam sekalipun Maura masih saja berkutat dengan pekerjaan rumah.
Krek.
Pintu kamar terbuka dari luar, dan masuklah Gifali kedalam kamar. Ia baru selesai melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja. Waktunya sekarang memang sudah fokus dengan urusan kantor.
Karena dua minggu lalu ia baru saja di yudisium. Gifali berhasil lulus dengan predikat cumlaude. Membuat keluarga berbangga, terutama Pramudya. Dan beberapa hari lagi Gifali akan di wisuda.
"Ayah ..." seruan nyaring dari Geisha.
Anak perempuan itu memang sudah fasih memanggil Gifali dibanding Maura. Mendengar anaknya menyerukan nama suaminya lantas membuat Maura menoleh.
"Ayo tidur, Bun. Besok lagi aja." titah Gifali. Ia bisa melihat jelas, raut wajah Maura yang amat lelah.
"Ayah duluan aja sama anak-anak, Bunda masih tanggung."
Maura memang Ibu dan istri yang rajin. Ia tidak pernah mau menyambi tugas-tugas rumah, jika memang belum selesai. Ia tidak akan berhenti.
Gifali mengangguk dan merangkak naik ke atas kasur untuk memeluk dan menciumi ketiga anaknya. Biasanya lelaki itu akan mengajak triple G bermain dulu sebentar, sebelum akhirnya tidur.
"Ayah, anain nih." ucap Bisma memberikan crayon kepada Ayahnya untuk mewarnai kucing di buku gambarnya.
"Sudah malam, Nak. Tidur ya." Gifali ingin menutup buku gambar itu, namun Bisma menggeleng.
"Janan Ayah, anain ayo ... anain." Bisma memaksa. Gifali adalah Ayah yang baik, walau ia lelah. Namun apa mau dikata, demi sang anak. Ia pun mau melakukannya. Mengikuti kemauan Bisma untuk mewarnai malam-malam seperti ini.
Gifali berbaring dengan posisi tengkurap. Sesekali ia menguap karena masih menahan kantuk. Dua bola matanya sedikit memerah. Namun Gifali tetap memaksakan diri untuk mulai mewarnai gambar yang di minta oleh Bisma.
Sedangkan Geisha, ia malah naik ke atas punggung Gifali. Menyisir-nyisir rambut Ayahnya. Memasangkan jepitan milik nya secara asal di rambut Gifali.
Pradipta terkekeh ketika melihat rambut Ayahnya berubah seperti tampilan wanita.
"Unda ... Ayah tuh." Pradipta memanggil Maura seraya mengadukan kejahilan Geisha kepada Gifali.
Maura mengangguk dan tertawa.
"Jadi cantik kamu, Yah." ledek Maura. Gifali hanya terkekeh pelan, dengan kedua tangan yang tidak kunjung berhenti untuk mewarnai. Ingin ia sudahi, tapi melihat raut wajah Bisma yang masih bersemangat, membuat Gifali tidak tega mengakhirinya.
Merasa ada yang lain di tubuhnya. Pradipta tiba-tiba bergegas turun dari ranjang. Ia berlari ke sudut tembok dan berdiam diri di sana.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Maura kepada Pradipta. Sontak membuat Gifali mendongak dan memperhatikan anaknya yang tampak berbeda di sudut dinding.
"Iya, Nak. Kamu kenapa?" kini Pradipta menoleh ke arah Ayahnya yang masih berada di atas kasur bersama dua saudaranya.
"Kamu pup?" Maura mendesak agar anak itu mau berbicara dan mengaku. Namun Pradipta menggeleng dan hanya diam. Ia sedikit takut, mungkin takut di marahi karena sudah malam tapi masih saja buang air besar.
Maura pun beranjak untuk mendekati sang anak. Dan Pradipta memundurkan langkahnya, anak itu semakin menempel di dinding.
"Janan Unda ... Canah pegi!" Pradipta Menggerakkan tangannya seraya untuk mengusir Maura agar tidak mendekatinya.
Maura tetap melangkah untuk mendekati Pradipta.
Dan.
Duh, baunya!
"Tuh kan bener, kamu pup, kan?" Maura langsung meraih paksa tubuh Pradipta untuk buru-buru digendong kedalam kamar mandi. Bisma dan Geisha hanya tertawa melihat kelakuan saudaranya.
"Tidur yuk." ajak Gifali kepada mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, Pradipta muncul kembali dari balik kamar mandi dengan senyuman yang merekah, ia di gandeng Maura menuju lemari.
"Adek kalau Pup ngmong ya, jangan diam. Oke?" Maura mengajari Pradipta. "Keh ... Unda." anak lelaki itu mengangguk. Ia kembali bergegas naik ke atas kasur ketika sudah memakai celana.
"Cana ah, amu bau."
Geisha mendorong wajah Pradipta, ketika anak lelaki itu mencium pipinya berkali-kali. Bisma dan Pradipta memang suka gemas kepada Geisha. Anak perempuan cantik yang berbadan montok.
"Ayah ... Ayah, agi anain." Bisma menarik-narik kain baju Gifali, untuk membangunkan Ayahnya agar mau mewarnai lagi. Namun lelaki itu sudah mendengkur halus. Kedua matanya sudah satu wat, ia tak mampu untuk menahannya lagi.
***
Karena ingin buang air kecil, Gifali pun terbangun. Ia beranjak untuk duduk sambil mengucek-ngucek kedua matanya. Menoleh ke kanan dan ke kiri, mendapati ketiga buah hatinya sudah tertidur pulas dengan posisi tidur yang tidak beraturan. Ia saja sampai harus memindahkan kepala Geisha yang sejak tadi tertidur melintang di atas perutnya.
Lampu kamar masih saja menyalah terang biasanya mereka akan tertidur dengan posisi lampu redup. Karena sebenarnya tidur dengan lampu terang, sesungguhnya tidak baik untuk kesehatan.
"Duh lupa matiin lampu." Desah Gifa. Memang setiap malam, hal itu sudah menjadi tugasnya
Lalu.
Kedua mata Gifali membola hebat. Ketika ia baru tersadar jika istrinya tidak ada di sampingnya.
"Bun ..." baru saja ingin memanggil, suaranya terhenti ketika mendapati Maura tengah tertidur di atas lantai dengan kepala berada di tumpukan baju dihadapan lemari yang pintunya masih menganga lebar, sepertinya Maura juga ketiduran sampai pulas.
"Ya Allah ... Bunda." seru Gifali. Buru-buru ia menuruni ranjang dan melangkah panjang untuk menghampiri istrinya.
"Aisyah, bangun." Gifali menggoyang-goyangkan kedua bahu Maura sampai wanita itu mengerjapkan kedua matanya.
"Hemm?" Maura bergumam.
"Bangun yuk, pindah tidur nya. Masa di lantai." Maura mengangguk, ia baru tersadar kalau tubuhnya terasa dingin sekali, dan tulang-tulangnya teras linu karena tidur di lantai yang dingin.
Gifali menggandeng Maura untuk menuju ranjang. Namun mereka kembali mematung ketika posisi ketiga anaknya sudah mendominasi setiap sudut ranjang.
"Aku tidur di sofa saja sayang. Kasian anak-anak, nanti kalau digeser-geser posisinya. Mereka akan bangun dan susah di tidurkan lagi."
Gifali ingin mencegah, namun ia juga berpendapat seperti istrinya. Ia hanya diam, memandangi ketiga buah hatinya yang sudah pulas.
Seraya berfikir, sepertinya mereka berdua harus tidur di sofa lagi malam ini. Sebenarnya triple G sudah memilki kamar sendiri, namun Maura dan Gifa masih tidak tega kalau meninggalkan ketiga anaknya sendirian di kamar tanpa pantauan dari mereka.
"Kamu kenapa, Yah, kok malam-malam terbangun?"
"Mau pipis, Bun. Ya udah sana kamu tidur. Seharian ini capek banget kan?"
Maura mengangguk dan memilih melangkah untuk menaiki sofa panjang berbulu yang ada di samping ranjang. Gifali masuk dulu ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya.
Beberapa saat kemudian, ia sudah selesai melepas hajat kecil di dalam sana. Melangkah dan menghampiri Maura yang kembali tertidur dengan pulas di atas sofa.
Ikut berbaring disamping istrinya, walau berdempet-dempet karena sempit. Tetapi semua itu ia terima dengan senang hati. Gifali memeluk erat tubuh istrinya. Membenamkan wanita itu didalam dadanya.
Kulit mereka saling menempel dengan dengusan napas yang saling bersatu. Untuk mengusir hawa dingin. Gifali ingin sekali matikan Ac. Tapi ia urungkan, karena ia tahu, ketiga anaknya tidak akan bisa tidur tanpa Ac. Sedangkan Maura dan Gifa ada dua pribadi yang tidak terlalu menyukai hawa dingin.
Begitulah rasa kasih yang sebenarnya, ketika kita mau melakukan sesuatu yang tidak kita sukai hanya untuk kebahagiaan orang yang kita sayangi.
***
Like dan Komen ya guyss🌺😍