
Kedua bola mata Maura membeliak hebat, ia tidak menyangka apa yang ia terka, tidak terjadi dihadapan mata. Ia sudah salah menuduh.
"Sayang ..." Maura termenung di posisinya.
Telapak kakinya terasa lemas mendapati suaminya yang setengah tergeletak di atas lantai, kepala tersandar di dinding, telapak tangan kanan memegang perut dan meringis.
Maura menatap ke sebuah pisau yang sudah berlumur darah di lantai.
"Pergi, Ra. Kabari orang rumah!"seru Gifali, sekilas ia melirik Agnes tengah merancau dengan boneka yang sedang ia ajak bicara. Wanita itu sedang berdiri memunggungi mereka diatas pusaran ranjang.
"Ayo Gifa, cium aku seperti kemarin." Agnes terus menciumi boneka beruang itu.
Dia masih dalam efek obat. Ia rasa boneka itu adalah Gifali, namun jauh dari alam bawa sadarnya ia mengingat bagaimana Razik menciumnya dan menyetubuhinya.
Maura mendengar kalimat itu geram. Fikiran kalut dan kacau menghias di kepalanya. Maura belum tahu pasti apa yang telah terjadi dengan wanita itu. Maura menatap Gifali tajam, tiga langkah membuat ia sampai dan berjongkok di hadapan Gifali.
"Kenapa kesini, Ra? Ayo sana pergi, di sini bahaya! Kamu bisa dilukainya!" seru Gifali memohon. Wajahnya sudah memucat.
"Apa benar kamu menciumnya, Gifa?" tanya Maura dengan air mata kembali menetes. Bola mata yang mengandung sinar kemarahan begitu saja hadir. Tamparan panas akan ia layangkan jika Gifali mengangguk dan mengatakan iya.
"Demi Allah, Ra. Aku seorang suami yang selalu menjaga kehormatanku." jawab Gifa dengan ringisan sakit yang sedang ia rasakan.
"Lalu kenapa dia bilang seperti itu! Jawab, Gifa!" Maura menyentak suaminya. Sikap yang selama ini tidak pernah ia berikan kepada Gifali. Rasa cemburu dan merasa di hianati membuat akal sehatnya tertutup. Jangan lupakan darah Bilmar Artanegara dengan segala sikap dan sifat, mengalir deras di tubuh Maura.
"Agnes lagi nge-Fly, Ra. Omongannya melantur. Yang mencium dia itu Razik, bukan aku. Sumpah demi Tuhan!" dalam keadaan perih di perut, membuat Gifali terus meyakinkan istrinya.
"Nge-Fly? Maksud kamu apa? Agnes pemakai?"
Mereka terus saja berbisik dibelakang tubuh si monster. Maura sepertinya lupa jika ia harus bergerak cepat untuk menolong suaminya. Rasa cemburu dan kesal terus saja memburu otaknya.
Seseorang pecandu narkoba yang sedang nge-fly biasanya akan ber-euforia senang, bahagia dan temaran. Namun apa yang dirasakan Agnes saat ini tentu berbeda. Ia menjadi lebih berenergi dan bernapsu, dengan sesuatu yang ia tidak bisa direngkuh. Kekecewaan karena tidak bisa mendapatkan Gifali, kehamilannya dan harus menikah dengan Razik, membuat euforianya berubah menjadi garang.
"Iya, Agnes pecandu." Gifali kembali mengigit bibir bawahnya. Rasa sakit semakin menyeruak lebar di sayatan luka menganga di perutnya.
"Pecandu narkoba? Ya Allah ..." Maura menatap Agnes dengan wajah tidak percaya. Seketika permukaan kulitnya meremang. Ia merinding begitu hebat.
"Kenapa kamu bisa seperti ini, Gifa? Dan kenapa bisa ada di kamar dia!"
"Nanti, Ra. Akan aku jelaskan. Ayo kamu pergi cepat! Kabari Ayah." ucap Gifali kembali meringis. Air matanya sampai menetes karena menahan perih.
"Kita pergi berdua, mumpung dia nggak melihat kita."
Maura bergerak untuk memapah tubuh Gifali, namun belum sempat terjadi, Maura seketika berteriak. Agnes menarik Maura dengan paksa dan di gulingkan ke ranjang.
"Agnes! Jangan!" seru Gifali. Ia ingin bangkit, namun tidak bisa. Lelaki itu lemas dan pusing, karena darah terus mengalir.
"Kurang ajar kamu Agnes! Kamu lukai suamiku! Dasar wanita gila!" Maura terus memaki, ia mendorong tubuh Agnes yang ingin menancapkan pisau ke wajahnya.
Dengan sekuat tenaga, Maura menahan agar pisau itu tidak sampai tertusuk di bola matanya. Agnes tertawa cekikan, yang ia tahu Maura adalah Razik. Lelaki yang ia benci.
"Mati kamu, Kak! Karena kamu aku kehilangan Gifali!" seru Agnes. Maura tertohok mendengar hal itu. "Istighfar Agnes! Gifali adalah suamiku!"
Maura berusaha untuk memegang pergelangan tangan Agnes, agar ujung pisau bisa menjauh dari bola matanya.
"Agnes! Jangan! Tolong lepasin Maura!" titah Gifali dengan nada suara mulai melemah, tak kuasa ia menatap Agnes yang sedang menindih Maura. "Ayah! Tolong ..." seru Gifali, berusaha sekuat tenaga berteriak agar siapapun datang menyusul mereka ke kamar.
Agnes mendongak ke atas, menatap atap-atap langit seraya mencari Gifali. Lalu ia tertawa renyah. Padahal Gifa sedang ada si sudut kamarnya sedang meminta agar istrinya dilepaskan. "Dimana kamu sayang, ayo ke sini." desah Agnes dengan gelak tawa kencang.
Melihat Agnes sedang goyah dari pertahanannya. Membuat Maura mendorong wanita itu dengan kuat sampai terjungkal.
Dua ibu hamil itu saling berkelahi.
Maura memukul tubuh Agnes dengan bantal bertub-tubi. Dan Agnes, yang tubuhnya lebih tinggi. Dapat menghalau bantal tersebut dan menepisnya dari tangan Maura.
Dengan cepat Maura menyeret tubuhnya untuk turun dari tepi ranjang dibelakangnya.
"Mau kemana kamu Razik! Apakah kamu tidak mau melihat aku dulu menikah dengan Gifa?" ucap Agnes kepada Maura. Wanita itu masih dalam pengaruh obat. Agnes menuruni ranjang dan tetap melangkah menuju Maura yang sedang memundurkan langkahnya ke dinding.
"Maura, ayo lari!" teriak Gifali. "Ra, ingat ada anak kita!"
Tapi Maura sudah kepalang emosi, ia benci dengan perkataan itu. Dan wanita hamil itu tidak mengidahkan suaminya, ia malah beringsut untuk mendekat.
Dan
Pakk.
Maura mendaratkan tamparan panas di pipi Agnes. "Kurang ajar kamu, Agnes!"
"Jangan, Ra. Nanti dia akan melukai kamu." teriak Gifali.
"AYAH!" gifali terus bersorak memanggil Pramudya yang masih berada dibawah.
Ucapan Maura tentu membuat hati Agnes menyalak tajam. Membangunkan wanita itu dalam api emosi.
Agnes mencekik Maura, lalu mendorong tubuh mungil itu ke dinding. Kepala Maura di hentak ke dinding oleh tangan Agnes.
"AGNES!!" teriak Gifali.
Lelaki itu menyeret tubuhnya dengan paksa. Membuat darahnya yang mengalir begitu saja mengalir di atas lantai. Bagaimanapun caranya ia harus menolong istrinya.
"Agnes hentikan! Jika terjadi apa-apa dengan Maura, aku akan membunuhmu!" Gifali berteriak.
Agnes yang sudah dikuasai ketidaksadaran denial. Terus saja membenturkan kepala Maura ke dinding. Tubuh Maura yang mungil begitu susah menggapai tangan Agnes yang sudah menarik kerudung dan terus menekannya.
"Gifa ..." desah Maura sambil menjulurkan tangan ke arah Gifali yang masih mencoba untuk menyeret tubuhnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang sebentar lagi akan tumbang.
"Tolong lepaskan istriku!" suara Gifali mulai terdengar pelan. Kedua matanya terasa samar dan kunag-kunang lalu berkelabut putih, dan akhirnya Gifali tergeletak sempurna di lantai sebelum berhasil menolong istrinya.
"Mati kamu ...Mati kamu!" teriak Agnes.
Maura hanya bisa pasrah dan mulai memejamkan kedua mata karena kepalanya mulai terasa berat. Tubuh mungil itu merosot jatuh ke atas lantai dengan luka darah yang menempel lurus di dinding. Ada darah tercetak jelas dibelakang hijab Maura.
Wanita itu pun terkulai, tidak jauh dari posisi Gifali yang juga sudah tidak sadarkan diri.
Mungkin rasa fly itu sudah berangsur menghilang dari dirinya. Agnes terlihat kembai sadar dan dia syok mendapati Maura dan Gifa yang sudah tergeletak di antara dirinya. Sungguh denial yang sangat mematikan.
"GIFA ... MAURA!!"
*****
Akan masuk konflik panjang---lalu ending. Outline ku memang begini, jadi kalau kalian mau marah atau mau unfav gapapa❣️.
Mau ditabung dulu boleh, nanti kalo udah banyak boleh baca. Biar ga tegang✌️
Yang penting triple twin baby pasti akan lahir🤗 (Itu aja klue nya dari aku, biar kalian bisa enak bobo)