
"Hebat lo, Gif. Nggak nyangka sumpah, lo akan secerdas itu." ucap Topan menatap Gifali yang sedang menenggak air minum kemasan kedalam tenggorokannya.
Arif ikut tersenyum sambil merangkul Gifali yang sedari tadi ia panggil dengan sebutan Bos.
"Nih mau nggak?" Gifali menyodorkan botol bekas minumnya ke arah Arif dan Topan secara bergantian, dan bodohnya dua lelaki itu saling berebut.
"Sini, Gif. Gapapa bekas lo juga, siapa tau gue jadi cerdas..." Topan merebut lebih dulu dan ia pun bangkit menjauh dari Arif yang akan mengejarnya.
Gifali hanya tersenyum melihat kelakuan teman yang baru saja ia kenal belum satu hari, namun sudah merasa lebih dekat. Lelaki itu masih terduduk di bawah pohon dekat lapangan. Mereka diberi waktu istirahat satu jam untuk ishoma. Gifa menoleh ke arah kiri, ia merasa ada yang mengamati.
Ada seorang wanita yang berparas cantik sedang menatapnya penuh takjub. Kedua mata mereka pun bertemu. Gifa pun mengakhiri pertemuan tatapan itu hanya dengan anggukan pelan dan senyuman tipis. Ia harus tetap berperilaku ramah di kampus ini. Ia kembali membawa pandangannya ke saku celana, meraih ponsel dan mencari nomor istri tercintanya. Ia rindu Maura.
"Assalammualaikum Aisyah-ku, lagi apa?" senyum manis Gifa mengembang ketika mendengar suara Maura tersipu malu diseberang sana.
"Waalaikumsallam sayang, aku lagi baca buku aja. Kamu udah makan siang belum?"
"Lima menit yang lalu aku baru beres makan siang, sekarang masih istirahat nunggu aba-aba kumpul lagi, kamu udah makan siang?"
"Nanti sayang, aku belum lapar, bagaimana hari pertamamu, menyenangkan?"
Sesungguhnya itu yang menjadi kekhawatiran Maura sedari pagi. Ia takut Gifali tidak kerasan, wajarlah mereka sedang ada di Negara orang.
Gifali tersenyum kembali, mengingat bahwa hari ini dia habis memenangkan sayembara.
"Aku ada kejutan buat kamu, oh iya. Kamu nggak usah masak ya, Ra. Aku yang akan belikan makan malam."
"Kejutan, Gifa?" Gifa ikut bahagia ketika mendengar suara istrinya begitu merekah.
Melihat Arif dan Topan yang sedang berjalan menuju dirinya, ia pun buru-buru untuk mengakhiri perbincangan dengan istrinya.
"Sayang nanti aja aku jelaskan di kostan ya, kamu jangan lupa makan siang, waalaikumsallam."
Gifali kembali memasukan ponselnya kedalam kantung celana, sebelum Arif dan Topan memberikan pertanyaan, sedang teleponan dengan siapakah dirinya.
Aba-aba dan seruan dari para anggota senat kembali terdengar. Membuat mereka bertiga kembali ke dalam aula untuk melanjutkan sesi ospek hari ini.
****
Langkah Pramudya dan Adrian terhenti ketika melihat Gifali tengah berbicara serius dengan Harun di parkiran.
"Kenapa, Pah?" tanya Adrian.
Pramudya terlalu serius menatap mereka sampai ia mengidahkan panggilan dari anaknya.
"Pah, lagi lihatin siapa? Pak Harun?" tanya Adrian memegang bahu sang Papa. Ada anggukan samar di sana, dan Adrian ikut menatap dua lelaki yang sedari ditatap oleh Papanya.
"Sepertinya mereka sudah saling mengenal ya?" sambung Adrian.
Pramudya merespon kembali dengan anggukan.
"Mengapa wajah anak itu terlihat tegang, apa yang tengah ia bicarakan dengan Harun?" tanya Pramudya dalam batinnya. Rasa keingintahuan begitu menjamah hatinya. Ia sangat penasaran ingin menelusuri siapa Gifali sebenarnya.
"Pah, aku nggak jadi pulang bareng ya. Mau ketemuan sama Ramona dulu, dia minta ditemenin belanja perlengkapan ospek." ucap Adrian ketika matanya masih menatap layar ponsel.
"Kan ada Agnes, memang dia nggak bisa temani Ramona?"
"Loh, tapi kan Ramona akan jadi adik kelasnya Agnes. Masa mereka mau seperti itu terus?"
Adrian hanya menghela napas dan meninggikan pangkal bahunya. "Ya udah, Pah. Aku pamit ya." Adrian meraih punggung tangan Pramudya untuk dicium. Ia pun berlalu setelah Pramudya mengizinkannya untuk pergi.
"Kapan Agnes bisa menghargai saya seperti Adrian?" helaan napas panjang Pramudya mengalir begitu saja.
Ia kembali menoleh ke arah tempat Harun dan Gifa sedang berbicara tadi, namun sialnya dua lelaki itu sudah menghilang entah kemana.
"Haruskah saya menghubungi Harun untuk menanyakan tentang pemuda itu, siapa tadi namanya---?" Pramudya mencoba mengingat-ingat nama Gifa yang tadi pagi bersalaman dengannya.
"Siapa ya namanya? Oh iya Hadnan." wajah Pramudya berbinar ketika ia hanya mengingat ujung nama Gifali saja.
"Hadnan? Saya seperti teringat dengan Galih Hadnan! Apakah lelaki itu masih hidup di sana?" Pramudya kembali teringat dengan kenangan dirinya di bangku SMA dulu. Lalu dengan cepat ia menepisnya ketika langkah sopir mulai terhenti dihadapannya.
"Mau pulang sekarang, Pak?"
Pramudya mengangguk dan mulai melangkah menuju mobil. Meninggalkan kampus yang mulai sepi tidak berpenghuni.
****
Maura membuka setiap bungkusan yang berisi makanan dengan raut senang. Sang suami membawakan ia berbagai banyak makanan yang ia sukai.
"Kentang goreng saus mayonase, eum..nyammi." cicitnya ketika ia mendengus aroma sedap dari sebuah kotak kentang di sana. Maura kembali membuka beberapa bungkus makanan lagi.
"Wah, ada burger, lasagna, macaroni.." Maura terus saja mengabsen setiap makanan yang ia buka dari bungkusnya.
"Kamu senang, Ra?" tanya Gifa yang sedang berdiri dibelakang tubuh istrinya.
Maura mendongak ke atas menatap wajah suaminya yang sedang menggosok-gosokkan punggung tubuhnya dengan handuk. Entah mengapa melihat Gifali dalam keadaan bertelanjang dada, selalu membuat bulu kuduk Maura seketika meremang, ia seperti tersulut dengan aliran listrik. Maura sangat memuji suaminya.
"Iya sayang, aku sangat suka. Makasih ya." Maura mengelus tangan suaminya.
Gifa pun ikut duduk disebelah istrinya. Membelai-belai rambut Maura, mengubah tatapan wajahnya menjadi tatapan penuh damba. Maura yang sudah tersihir dengan berbagai makanan dihadapannya hanya terus menikmati tanpa memperdulikan belaian dari suaminya.
"Kamu dapat uang dari mana, untuk membeli semua makanan ini? Tadi pagi kan aku hanya memberikanmu uang jajan aja." tanya nya sambil memasukan sepotong kentang goreng kedalam mulutnya lagi.
"Oh iya kata kamu ada kejutan, kejutan apa sayang?"
Gifali mulai menjelaskan tentang kuis yang baru saja ia menangkan dan beberapa hadiah yang ia bawa pulang. Setelah mendengar penjelasan itu, Maura langsung berhambur memeluk dada polos suaminya yang masih segar berbau sabun. Mencium wajah lelaki itu tanpa henti.
"Masya Allah Tabarakallah sayang, aku bersyukur dan ikut senang." Maura mengecup kening suaminya.
"Makasih sayang, berkat doa kamu, Mama dan Papa." jawab Gifa senang. Ia mulai membenamkan bibirnya di pertengahan katupan bibir Maura. Menyesap rasa manis di sana. Menggigit bibir bawah Maura agar istrinya membuka mulut dengan lebar.
Lidah Gifali melolong untuk menginvasi rongga mulut Maura yang wangi kentang goreng. Lama-kelamaan ciuman mereka semakin panas dan menuntut. Gifali mulai meraih tubuh Maura untuk ia gendong dan beranjak bangkit menuju ranjang.
Membaringkan tubuh sexy itu di sana. Gifali ingin melepas rasa letih yang sudah terporsir seharian dan ingin menjelaskan pelan-pelan tentang Harun yang ternyata adalah asisten Dekan di sana. Hal itu sungguh membuat Gifali terbebani dan takut jika dirinya diketahui. Ia tahu tempat temaran untuk menenangkan diri hanyalah Maura, Aisyah-nya.
******
Like sama Komennya ya cintah❤️