
Merasakan pergerakan para bayi-bayi mereka. Gifali tidak berhenti berucap syukur. Air matanya saja sampai menetes karena menahan haru. Gifa berjongkok, mensejajarkan kepalanya dengan perut Maura, memejam kan mata sambil meletakan kedua tangannya di sana, bibirnya terlihat komat-kamit. Lelaki itu mendoakan kebaikan para bayinya dengan bacaan ayat Al-Quran.
“Wallahu ahrajakum mim buthûni ummahâtikum târatan ukhra.”
Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian pada kesempatan yang lain (persalinan).”
Setelah selesai mendoakan. Ia elus kembali dengan gerak tangan memutar, lembut dan hangat. Anak-anaknya terus saja bergerak-gerak aktif. Bayangkan saja, tiga bayi sekaligus di dalam satu perut. Mereka terus saja bergerak seperti sedang mencari tempat ternyaman di perut ibunya.
Gifa tidak henti mencium, mengusap dan memeluk. Setengah jam sampai pegal Maura berdiri, karena Gifa tidak urung melepaskan pelukannya.
"Gifa aku capek." ucap Maura.
Gifali membuka mata lalu mendongakk ke atas dan tersenyum menatap istrinya. Ia beranjak berdiri kembali. Di kecup kening istrinya berkali-kali.
"Terimakasih sudah mau meminjamkan perutmu untuk mengandung anak-anak kita, Ra. Di saat usiamu masih belia, tapi sudah harus merasakan lelah dalam mengandung, maaf jika selama hidup denganku, kamu banyak merasakan kesusahan. Maka untuk itu, biarkan aku---"
"Aku tidak mau dengar, jika kamu tetap dalam pendirian untuk meninggalkan kami." selak Maura. Ia menatap kilatan bola mata Gifa yang memancar kesenduan.
"Makan gak makan, yang penting kita tetap kumpul, Gifa. Aku, Kamu dan ketiga anak kita." Maura tetap memaksa.
Gifa kembali bungkam. Ia tidak boleh gugur dengan tatapan sedih istrinya.
"Masih mau makan atau mau tidur lagi? Besok pagi kita ke Dokter untuk periksa." Gifa mengalihkan ucapan istrinya.
Maura hanya diam, melewati bahu suaminya begitu saja. Ia melangkah pergi menuju kamar. Baru saja bahagia, namun hatinya kembali terluka.
"Maaf, Ra. Aku enggak bisa menentang keinginan Papamu. Aku memang sudah lalai, dan aku harus konsisten dengan ucapan ku waktu itu." desah Gifa, kedua matanya terus memandang bayangan istrinya yang sudah menghilang.
Dan kebekuan sang istri kembali ia rasakan.
****
Memang hormon kehamilan yang bisa membuat suasana hati si empunya berubah-ubah. Tadi malam Maura sangat dingin dan terus saja merajuk sampai dini hari.
Wanita hamil itu terus saja mengoceh sampai Gifali terkantuk-kantuk. Dan Gifa hanya bisa diam, tidak mau menimpali. Ia tahu, dan ia faham. Istrinya tengah kecewa, dan ia mewajari itu.
Namun pagi ini berbeda. Setelah mandi dan rapih karena tahu ingin berangkat kontrol ke Dokter. Maura kembali bermanja dengan suaminya. Selama di perjalanan pun, Maura tak lepas menempel di bawah ketiak Gifali.
Wanita hamil itu sudah tidak menolak jika sesekali di kecup oleh suaminya di mobil. Entah apa yang ada didalam fikiran Maura, Gifa pun tidak faham. Senyumnya terus merekah, seperti saat sekarang ini. Dimana mereka sudah berada didalam ruang periksa Dokter Kandungan.
"Wah, gemuk-gemuk nih bayinya. Ibu nya makan terus ya?" ledek Dokter Dias kepada Maura. Dokter kandungan berhijab itu terus saja Menggerakkan krusor usg diatas perut buncit Maura yang sudah diberi jeli terlebih dulu.
Maura tertawa. "Tapi kan sehat ya, Dok? Lengkap kan, Dok?" tanyanya memastikan.
"Semua sehat kok, semua inderanya lengkap. Gerakannya juga aktif " jawab Dokter.
"Alhamdulillah ..." jawab Maura dan Gifa bersamaan diiringi dengan hembusan napas kelegaan.
"Jenis kelaminnya apa ya, Dok?" tanya Gifali. Lelaki itu penasaran sekali dengan jenis kelamin sang anak. Ia ingin menyiapkan nama untuk ketiga anaknya kelak.
"Saya dari tadi memang sedang mencari nya, tapi bayi-bayi kalian sangat aktif bergerak, sampai tidak terlihat apa jenis kelaminnya." ucap Dokter Dias.
Tatapan matanya tidak luput dari layar usg. Kembali menekan, Menggerakkan kesana kemari alat krusor itu di atas perut.
"Nah baru kelihatan nih." ucap Dokter Dias setelah dua menit melototkan matanya untuk mempertegas pencahariannya.
Gifali dan Maura terlihat bersemangat, ia menunggu jawaban Dokter.
"Perempuan atau laki-laki, Dok?" Gifa sangat penasaran. Senyumnya terus saja mengembang.
"Yang dua jenis kelaminnya laki-laki. Tapi yang satunya lagi masih sembunyi nih."
"Masya Allah ... Laki-laki? Penerusku." senyuman penuh bangga mencuat raut wajah Gifa. Pun sama dengan Maura, wanita itu bersyukur lalu tertawa kecil. "Semoga aja yang satunya lagi cewek ya, biar nerusin aku." ucapnya kepada Gifa.
Maura dan Gifa mengangguk dan menurut. Gifa membantu Maura untuk turun dari ranjang. Ia melangkah kembali menuju meja Dokter Dias. Terlihat perawat memberikan hasil prinan usg yang berwarna hitam putih kepada Dokter.
"Masih sering keram perutnya?" tanya Dokter.
Maura mengangguk. "Kadang-kadang, Dok. Kalau saya terlalu banyak berdiri. Tapi kadang kelamaan duduk juga suka keram."
"Wajar itu, karena beban yang Ibu bawa cukup banyak. Baru lima bulan, belum bulan-bulan berikutnya. Harus banyak sabar, jangan cepat marah, karena itu sangat berpengaruh kepada bayi. Kalau keram, jangan panik. Banyak minum air putih hangat, atur pola napas dan minta Bapaknya untuk terus mijitin ya."
Maura menoleh ke arah Gifali. Dan lelaki itu tersenyum sambil menggerakkan kepala naik turun.
"Banyak jalan kaki, intinya jangan lupa bergerak." ucap dokter sambil menuliskan resep vitamin. Dokter kembali mendongakkan wajah menatap Gifali. "Dan jangan lupa sering pijat-pijat punggung dan kaki Istrinya ya. Biar Ibu nya tetap rileks."
Gifa mengangguk. "Baik, Dok."
Gifa kembali termenung. Ia bingung dengan anggukan kepala yang ia berikan kepada Dokter. Sejatinya dua hari lagi ia akan berangkat, dan tiga bulan lagi akan pulang. Itupun kalau tidak ada halangan melintang di sana.
"Siapa yang akan memijatmu, setelah aku pergi. Jangankan memijat, saat persalinan nanti pun, aku takut tidak akan bisa menemani." lirih Gifali. Ia menoleh menatap sendu wajah istrinya yang masih ceria. Wanita itu masih saja menatap prinan usg dan banyak memotretnya lewat kamera handphone.
*****
"Ayo kita pulang, Ra. Vitaminnya sudah dapat nih." ucap Gifa kepada istrinya yang masih melamun.
Ia ikuti arah mata Maura, dan berakhir pada pandangan suami istri yang sedang duduk tidak jauh dari mereka. Wanita yang tengah hamil besar itu sedang di pijit pundaknya oleh sang suami.
Maura menatapnya sendu, tak sadar dirinya ikut mengelus perutnya. "Bagaimana dengan aku nanti?" rintihnya pelan. Namun dapat didengar jelas oleh Gifali. Lelaki itu menghela napas, menahan agar tidak dalam jerat kesedihan.
"Ra ..." Gifa menyentuh bahunya. "Ayo kita pulang." ajaknya.
Maura terlonjak dari lamunannya, lalu menoleh dan lurus menatap suaminya.
"Jangan sentuh aku!" Maura kembali berdecak. Emosinya kembali meruah, ia memutar langkah untuk berlalu meninggalkan tempat itu. Gifa hanya bisa mengusap wajahnya, ada saja yang membuat istrinya kembali merajuk.
"Lepas!" Maura menepis tangan Gifali yang akan merangkul pundaknya sambil melangkah menuju mobil.
"Jangan marah, kamu ingat kan apa kata Dokter?"
Langkah Maura terhenti mendadak, dan Gifa pun ikut menghentikan gerak kakinya.
"Aku bukan marah! Tapi aku kecewa!"
"Kamu harus mengerti, Ra."
"Baik kalau begitu, aku akan mengerti dengan caraku sendiri!"
Buru-buru Gifa mencekal lengan tangan Maura agar langkah kaki istrinya dapat ia bekukan. "Jangan seperti ini, Ra. Aku pun berat."
"Kalau berat, maka ringankan lah, Gifa! Jangan membuat semua jadi kacau. Aku istrimu, meminta untuk tinggal bersamamu apakah itu sulit?"
"Aku ingin tetap ditemani kamu saat kontrol anak-anak kita. Aku ingin dipijat kamu setiap hari. Walau aki tidak akan merengek hal itu, karena aku tau kamu akan banyak beraktivitas. Setidaknya, biar kan kami menemanimu. Melepas rasa letih ketika kamu habis bekerja. Kami janji tidak akan merepotkan."
"Ayolah sayang bawa aku." Maura terus saja memohon. Hati Gifali terenyuh, jiwanya berdesir kiat sekali. Tatapannya getir menatap Maura yang terus saja mengiba dari kemarin.
Namun Gifa hanya bisa diam, ia tak mampu menjawab apapun. Ia gegana, pusing dan sulit untuk memutuskan.
"Apa aku harus bersujud di kakimu, Gifa?"
******
Eng ing eng, gegana nih Abang tampan. Mau bawa Istri gendutnya apa enggak ke London??
Tinggal beberapa episode lagi nih, dan mereka bakalan END.🌺🌺