My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Kita Pulang ya, Nak!



"Selama delapan belas tahun usia Gifali, kamu tidak pernah tau apa-apa, Pramudya!"


"Selama delapan belas tahun usia Gifali, kamu tidak pernah tau apa-apa, Pramudya!"


"Selama delapan belas tahun usia Gifali, kamu tidak pernah tau apa-apa, Pramudya!"


Kalimat yang keluar dari bibir Papa Galih terus saja terngiang-ngiang di benaknya. Membuat aliran darah yang sedang mengalirkan oksigen ke kepala, terasa tersendat. Kepala lelaki itu berat, hatinya remuk redam.


Tubuhnya memanas. Pramudya terus melajukan air bening, sehingga berduyun-duyun membasahi pipi dan leher.


Netra pekat milik nya tak kunjung padam untuk menghunus bola mata Papa Galih dengan rikukan hati yang terluka. Tatapan Pramudya garang, bagai singa lapar yang akan menerkam mangsa di hutan belantara. Ia Mengepalkan kedua tangan sambil menghela napas panjang frustasi.


Lalu


BUG.


Papa Galih tersungkur. Lelaki paruh bayah itu mendaratkan kepalan panas tepat di tulang pipinya. Pramudya melepas kemarahan untuk menutupi kebenaran yang memang sedang ia benci.


"Ahh, Papa ..." seru Mama Difa dan triple G, mereka beringsut untuk menolong Papa Galih yang sudah terhuyung di atas lantai.


"Pram ... Pram, jangan!" Harun mencoba menarik tubuh Pramudya yang sedang dibakar amarah.


Papa Galih tertawa mengejek, membuat Pramudya semakin geram. Ia ingin bergerak membalas, namun istri dan anaknya menahan.


"Ini semua salah Gita! Dia yang membuat hidup saya seperti ini! Dia, yang sudah memisahkan saya dengan Gifali! Tentu membuat saya tidak mengetahui apa-apa tentang perkembangannya sampai sekarang!" seru Pramudya dengan otot-otot menyembul di sekitaran kulit lehernya. Suara lelaki itu begitu nyaring terdengar.


Mendengar ucapan itu, membuat Papa Galih semakin bernapsu.


"Pah, udah, jangan!" bisik Mama Difa, ia tetap mengeratkan cekalan tangannya di lengan Papa Galih, ketika lelaki itu hendak bangun untuk memukul.


Ganaya, Gelfa dan Gemma pun ikut memegangi tubuh Papanya. Mereka tidak rela, jika Papa mereka kembali ribut dan terluka.


"Iya betul, ini memang salah Gita! Dan tentunya karena perbuatan terlakhnat kamu kepadanya, membuat ia mempunyai celah untuk menghancurkan keluarga saya! Tapi terimakasih Pramudya, karena kebodohan kamu waktu itu!"


"Dan akhirnya bisa menghadirkan Gifali ditengah-tengah keluarga saya! Gifali akan tetap menjadi bagian dari keluarga Hadnan, sebagaimana kamu menolak. Itulah kenyataannya, Ia tetap anak saya. Putra Gifali Hadnan!"


Papa Galih merentangkan kedua tangannya untuk merangkul istri dan anak-anaknya agar lebih dekat masuk kedalam dadanya. Memperlihatkan rasa bahagia amat penuh.


Pramudya mengusap wajahnya gusar, ia semakin frustasi dan dadanya teras sesak. Selama ini ia banyak menderita, tersiksa akan tekanan psikis yang selama berbelas tahun ia jalani.


"Saya akan tetap membawa Gifali pulang, Pram! Menjaganya lagi seperti dulu!" suara bariton Papa Galih semakin membuat dada Pramudya sesak.


Lalu


BUG


BUG


BUG.


Pramudya melepas beberapa pukulan ke dinding Rumah Sakit. Mengeluarkan riak kemarahan, kekecewaan dan penyesalan.


"Sudah, Pram. Sabar. Tenangkan emosi kamu, berfikir jernih lah. Demi Gifali." bisik Harun, ia menghentikan pukulan-pukulan yang terus Pramudya layangkan ke dinding. Pramudya memeluk Harun. Dan menangis terisak di dadanya.


Mama Difa menatapnya dengan tatapan nelangsa, bagaimanapun ia tahu bahwa kedua lelaki yang baru saja baku hantam dalam emosi, tidak bersalah sama sekali. Mama Difa mendongak ke atas, menatap atap langit putih di sana. Mencari bayangan Gita untuk mengucapkan sesuatu.


"Dan lihatlah Gita, atas segala perbuatanmu."


*****


Karena selama berbelas menit, tubuh Maura masih saja meronta-ronta, berteriak kencang dan menangis. Dengan amat berat, Dokter menyuntikan obat penenang kedalam tubuhnya. Membuat ibu hamil itu menjadi tenang, rileks dan bisa berisitirahat kembali.


Dalam keadaan sedang mengalami cedera kepala, seorang pengidapnya tidak boleh menekan otaknya terlalu berat. Hal itu akan membuat trauma semakin melebar pekat.


Papa Bilmar mendekap Ammar di sofa. Menuangkan rasa sedih karena tidak tahan menatap perubahan Maura yang membuat hatinya terluka.


"Dalam beberapa waktu, Anak Bapak dan Ibu, akan mengalami gangguan penglihatan, pendengaran, penciuman dan perasa, serta jangan kaget kalau pasien akan sulit diajak bicara dengan topik yang serius. Ia butuh waktu untuk memunculkan kembali keseimbangan dalam tubuhnya."


Dan dari sekarang, Maura akan mengandung dengan segala keterbatasan semua itu. Akan menggunakan kaca mata untuk mempertajam penglihatannya walau hanya untuk melihat dalam tatapan dekat saja. Akan selalu memasang alat pendengaran di telinganya dan mungkin akan selalu memakai kursi roda agar ia tidak terjatuh jika sedang berjalan. Karena sensorik dan motoriknya belum bisa berjalan dengan baik.


Tak berapa lama, Maura bergumam beberapa kali dalam kedua mata yang masih terpejam.


"Gifa ... Aku ingin susu."


"Susu hamilku, Sayang." gumamnya lagi. Ada senyum yang timbul namun tidak lama. Maura kembali terdiam. Papa Bilmar dan Ammar yang sudah mendekat sejak mendengar anaknya bergumam pertama kali. Kembali menangis, bersautan dengan air mata Mama Alika, Ammar dan Gadis di bibir ranjang.


"Kakak harus kuat, demi keponakan ku." ucap Ammar sambil mengelus perut Kakaknya. "Aku yang akan menjagamu, selama suamimu jauh." imbuhnya lagi.


*****


Delapan jam kemudian, suasana London kembali menghangat. Karena rasa gembira dan syukur begitu mengalir dari semua bibir yang saat ini menunggu Gifali didepan ruang ICU. Ada Triple G, Adrian dan Ramona. Mereka semua hanya bisa menunggu giliran untuk masuk ke dalam, melihat Gifali yang sudah dinyatakan sadar.


Kedua mata Gifali membeliak, ia meneteskan air bening di sudut matanya ketika mendapati Mama Difa dan Papa Galih di sebelah kanannya. Haru sekali jiwanya.


Orang tuanya kembali datang? Ke sini? Mimpi Kah?


Dibalik sungkup oksigen, ia berjuang untuk menyerukan nama orang tuanya, namun ia belum sanggup. Hanya bisa mengangkat tangan kanan untuk diraih oleh mereka.


"Mm ... Ppa."


Mama Difa dan Papa Galih mengangguk. Mama Difa meraih telapak tangan Gifali dan diciumnya beberapa kali.


"Iya, Nak. Ini Papa dan Mama. Kita pulang ya, Nak." bisik Papa Galih.


Walau tubuhnya lemah, dan rasa sakit masih menyeruak di bagian perut. Tapi isi dalam kepalanya tidak berubah. Ia mengerutkan kening dan menatap dalam dua bola mata Papanya. Seraya menanyakan ada hal apa.


"Galih ... Saya, mohon." ucap Pramudya lirih. Ia dan Tamara masih berdiri di sebelah kiri sang anak.


Gifali menoleh, dan mengangkat tangan kiri untuk diraih oleh Pramudya. Lelaki itu menggenggam tangan sang anak dan bertutur.


"Di sini aja sama Ayah ya, Nak. Kalau nanti Gifa sudah pulih, akan Ayah antar ke Indonesia." ucap Pramudya.


Tentu saja ucapan itu membuat hati Gifali tertohok. Ada apa? Apa yang belum ia ketahui?


Gifali memaksa mengeluarkan suaranya. Padahal kerongkongannya masih perih. "Ada apa? Apa yang terjadi?" tanyanya pelan. Ia menatap bergantian kepada mereka semua.


Papa Galih dan Mama Difa tidak mau mengikuti kemauan Pramudya untuk menutupi dulu keadaan Maura di sana. Ia harus membicarakan ini kepada Gifali, Gifali tidak boleh terus dibohongi. Cepat atau lambat ia akan meminta untuk dipertemukan dengan istrinya. Walau ia tahu, psikis Gifali akan terganggu dan mungkin akan memberi efek kepada masa penyembuhannya.


"Maura ada di Indonesia, Nak. Mertuamu membawanya untuk bisa di rawat dekat dengan keluarga. Setelah beberapa hari tidak sadar, akhirnya hari ini sadar." ucap Mama Difa. Ia selalu memantau perkembangan tentang Maura dari Mama Alika disambungan telepon.


Gifali masih terdiam, ia tersentak karena kaget. Dirinya tidak percaya.


Kok' bisa?


Gifali mengerjapkan mata beberapa kali. Menguatkan diri dengan hal yang baru saja ia dengar. Walau jantungnya sudah bergemuruh, ia merasa senang karena istrinya sudah sadar di sana.


Tapi rasa senang itu tidak mendarat lama di wajahnya ketika ia menatap Mama Difa kembali murung dan menundukkan wajah dengan ratapan getir.


Gifali menggoyangkan genggaman tangan mereka, agar Mama Difa kembali mendongak. Papa Galih menatap Mama Difa dengan anggukan, seraya kode jika ia harus membicarakan hal yang sebenarnya.


"Penglihatan dan pendengaran Maura terganggu, Nak. Ia tidak bisa menatap dan mendengar dengan jelas."


DEG.


*****


Like dan Komen ya guyss❣️