
Terlihat telapak tangan Maura menempel di pertengahan kaca yang lebar dan tembus pandang, sebuah penyekat antar ruangan tunggu dengan ruangan bayi. Di ruang NICU ini berjejer beberapa inkubator dengan beberapa bayi didalamnya.
Dan diantara bayi-bayi lucu tersebut, ada dua bayi menggemaskan dengan suara nyaring sedang menangis di inkubator. Kepalan tangan berwarna merah jambu terangkat, mengais-ais pipi mereka, seperti ingin menyambut dot susu yang sedang di masukan ke dalam mulutnya oleh Perawat yang berjaga.
Sejak di lahir kan dua hari yang lalu, Ginka dan Ghea belum bisa ia rengkuh untuk ditimang, di kecup dan di susui. Kedua anak kembarnya itu akan minum susu hasil perasan asi nya.
Usapan lembut dipunggung sang istri terus Gifali layangkan. Maura memandang nanar Ginka dan Ghea di inkubator. Terduduk lesu di kursi roda. Malas makan, mandi dan bertutur kata. Fikiran nya selalu gamang ke sesuatu hal yang buruk. Ia takut Ginka dan Ghea meninggalkan dirinya.
Gifali mengecup pusaran hijab Maura, membuat istrinya mendongak dan air bening kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Aku ingin menyentuhnya."
"Kata Dokter besok sudah boleh." Dokter spesialis anak bilang, pernapasan two G sudah berangsur membaik. Maka harus dimonitor lagi semalam ini di ruang NICU. Kalau sudah benar-benar pulih tanpa alat bantu oksigen. Two G sudah boleh di satukan oleh ibunya.
"Lama banget harus nunggu besok ..." lirihnya mirip suara Geisha ketika memelas.
Gifali berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Maura. "Karena besok udah bisa gendong dedek bayi. Sekarang Bundanya makan ya, biar besok kuat gendong terus." rayunya.
Tatapan Maura masih datar dan kosong. Hatinya belum lega, kalau two G belum ada dipangkuan nya. Wanita itu menggeleng. "Nanti aja makannya kalau udah sama mereka. Kalau sekarang masih enggak nafsu."
Selama dirawat pun, Mama Alika dan Mama Difa selalu datang ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi Maura dan cucu kembar mereka. Membawakan banyak makanan untuk Maura, tetap saja tidak ada yang disentuh. Maura hanya mau minum susu. Sama sekali tidak masuk nasi, Gifa dibuat stress karenanya.
Jika malam sedang tidur berdua di ranjang pasien, Maura masih saja suka menangis. Membuat Gifa kurang tidur dan merasa lelah di pagi hari. Ketiga anak-anak mereka di titipkan dulu oleh keluarga besar. Malam pertama ditinggal, triple G memilih tidur di rumah keluarga Ayahnya, dan malam ini memilih di rumah tante mereka, Gadis.
"Kalau kamu enggak makan. Aku juga enggak mau makan." Gifali terpaksa mogok. Luka Maura saja masih basah dan sakit sekali. Wanita itu butuh asupan makanan yang bergizi agar bisa cepat pulih, lalu bagaimana jika tidak mau makan? Tentu, proses pemulihannya akan lambat.
Maura hening. Serba salah jadinya.
"Ada Allah yang jaga buah hati kita, Ra. Ketakutan kamu terlalu berlebihan. Malah aku takut, apa yang di fikiran kamu, bisa saja di aamiin 'kan oleh Allah."
Maura mendelik tajam. "Kok kamu ngomongnya gitu! Kamu mau begitu?"
Gifali menggeleng. "Ya enggak lah. Makanya aku tetap berfikir positif, lagi pula si kembar sudah membaik. Apa lagi yang kamu takutkan?"
Maura menunduk lemah. Air matanya yang menggenang sepertinya urun untuk turun. Ia membenarkan perkataan suaminya.
"Aku hanya takut." ucapnya pelan.
Gifa beringsut memeluk istrinya. Menyatukan ritme jantung mereka yang sedang berdetak.
"Makan ya, biar anak-anak kita senang." sejak tahu two G ada di dalam inkubator. Maura memang tidak fokus kepada triple G yang banyak bertanya, berbicara, berisik dan selalu minta ina dan itu.
Maura lebih banyak melamun. Dan membiarkan anak-anaknya menangis lalu dibawa pergi menjauh oleh Mama dan Papanya. Gifali frustasi. Tidak menyangka kelahiran two G, akan berbeda dengan ketiga kakaknya. Membuat Maura bisa sekalut ini.
Dengan raut terpaksa. Dari pada suaminya sakit. Ia pun menurut. "Tapi aku mau makan cumi bakar." bukan mengidam. Tapi Maura hanya asal sebut. Ia malas menatap menu Rumah Sakit yang membosankan.
Gifa menarik tubuhnya, dan kembali menatap sang istri. "Siap aku beliin yang banyak."
"Dua aja, jangan banyak-banyak." sergah Maura.
"Dua porsi 'kan maksudnya?" timpal Galih dengan kekehan. Maura terlihat mengembangkan senyum walau masih tipis.
****
"Iya, Nak." jawab Gadis. Ia yang sedari tadi duduk di atas karpet menemani Bisma, Geisha dan Eldy sedang bermain beranjak berdiri menuju meja makan. Menghampiri tas berisi susu-susu triple G yang sudah di siapkan oleh Mama Alika dari rumah.
Saat ini Gadis pun tengah hamil anak kedua. Usia kandungannya menginjak lima bulan. Karena sedang hamil, dan kandungan Gadis yang awalnya sedikit bermasalah dan hampir saja keguguran, maka Elang tidak mengizinkan Gadis untuk bekerja. Artanegara corp sekarang dikelola olehnya dan dibantu Papa mertuanya, sambil mengelola perusahaannya sendiri. Anak cabang dari perusahaan sang Papa.
Dibandingkan Gifali. Elang memang lebih bersinar. Tentu, karena ia masih memakai fasilitas orang tuanya.
"Bisma ... Geisha, mau susu juga?" tanya Gadis dari tepi meja makan.
"Ndak ah aku udah enyang, ante." jawab Geisha lebih cepat. Sebelum tiba di rumah ini, anak perempuan itu sudah merengek susu kepada Neneknya.
Sebenarnya Mama Alika melarang triple G untuk menginap dirumah Gadis. Ia takut Gadis letih menjaga triple G seorang diri, apalagi sedang hamil dan kandungannya sedikit bermasalah beberapa bulan lalu.
Tetapi mau apa di kata, triple G meronta ingin menginap di rumah Eldy. Karena di sana mereka bisa bermain dengan puas. Eldy mempunyai banyak mainan. Karena masih takut jika ketiga cucunya merepotkan, maka Mama menitah Ammar untuk ikut menginap di rumah Gadis.
Awalnya laki-laki itu menolak, karena ia pasti akan dipusingkan oleh ketiga keponakannya. Tapi Mamanya cerewet dan tetap memaksa. Juga karena Ammar sayang dengan triple G. Maka setelah pulang sekolah, Ammar diminta langsung kerumah Gadis.
Triple G pasti senang mendapati Om kesayagan nya menginap di sini. Tetapi mungkin tidak dengan Ammar, ia akan rungsing. Haha.
Bisma juga menjawab. "Ante aku mau cucu deh."
"Kalau Abang, mau?" kini ia beralih menanyakan anaknya sendiri.
"Iya, Mami atu tuga mauh deh." ucap Eldy. Anak lelaki yang usianya berbeda tujuh bulan dari triple G itu ikut-ikut mah susu. Padahal aslinya Eldy adalah anak yang sulit sekali minum susu. Gadis akan menutup kekurangan zat-zat bergizi dari susu, yang ia alihkan dengan banyak sayur mayur dan buah-buahan yang ia jus menjadi satu. Dan Eldy lebih menyukainya.
Gadis mengangguk senyum. Ia buatkan lagi susu di botol kedua dan ketiga. Senang dirinya, rumah terasa ramai. Terlebih lagi Eldy jadi punya teman. Walau ia ikut sedih karena kemarin sempat melihat two G ada di ruang Nicu.
Geisha senang sekali berdekatan dengan Eldy. Sudah lucu, pipinya gembul dan terlebih lagi Eldy itu sangat wangi. Geisha sejak tadi tidak berhenti mengelus-elus rambut Eldy yang lebat dan berponi. Dan Eldy tidak mengelak. Ia juga suka bermain dengan si cerewet.
"Tunggu ... Tunggu, kamu na diem dulu yah." ucap Geisha. Eldy hanya mengangguk tanpa tahu dirinya sedang di apakan. Eldy masih fokus melihat Bisma tengah merakit Lego.
"Duhh, jangan gelak-gelak dulu." seru Geisha lagi.
Eldy pasrah, lantas mengangguk diam.
"Itu talah ndak? Butan nya gini, Kak." Eldy mencoba membantu Bisma, ketika sang Kakak dirasa salah dalam merakit.
"Ya udah nih coba cama kamu." jawab Bisma.
"Duuuh, diem dulu bica ndak, cih." ucap Geisha. Ia susah payah melilitkan kain di kepala Eldy. Karena anak itu terus bergerak kesan kesini ketika sedang merakit Lego.
"Subhanallah ..." seru Gadis kaget. Hampir saja tiga botol susu yang sedang ia bawa terlepas dari tangannya.
Gadis hanya bisa menggelengkan kepala ketika Geisha memakaikan Eldy dengan Kain kerudung segi empat miliknya yang tadi tersampir di atas sofa.
"Aduuhh ..."
***
Like dan Komennya ya guys🌺🌺