
"Gol ... Gol! Ayo Samson kamu bisa! Geser, geser! Ups, oper! YAHHH! Payah nih si item. Gue suruh oper dia malah nendang! Payah!"
Begitulah rancauan Papa Bilmar ketika di depan televisi. Lelaki paru bayah itu sedang asik sendiri dengan tontonan bola nya. Membuat Papa Galih sedari tadi melepas kaca matanya dan melirik ke arah punggung besannya.
Papa Galih sedang sibuk dengan laptop yang masih setia bertengger di pangkuannya. Membalas-balas kan email yang masuk dari para anak buah, kolega dan yang lainnya. Lelaki itu sepertinya terganggu.
"Papa susah konsentrasi! Mertuamu berisik, Gifa!" bisik Papa Galih kepada anaknya. Gifali hanya tersenyum tapi ia terus menikmati pertandingan bola yang ada di televisi. Mereka berdua memang duduk bersebelahan dibelakang Papa Bilmar.
"Papa pindah aja ke kamar." bujuk Gifali. Ia tahu, Papa Mertuanya tidak bisa dilawan.
Kamar?
Ya, kamar yang sejak sore sudah Papa Galih tinggali bersama Mama Difa. Akhirnya lelaki itu bisa memeluk istrinya lagi ketika sedang tidur. Papa Bilmar memboyong mereka semua untuk langsung pindah ke rumahnya yang dulu. Ia sudah tidak betah berlama-lama dan bersempit-sempit di kosan Gifali. Rasanya begitu sesak.
Gifali dan Maura pun menurut. Hanya dengan cara itu, Papa Bilmar tidak akan berkeras hati untuk tetap membawa Maura pulang ke Indonesia.
Rumah dua lantai dengan empat kamar tidur, memang terbilang cukup luas. Apalagi setiap pagi ada pembantu rumah tangga yang datang, membantu-bantu pekerjaan rumah. Sudah dibayangkan Maura tidak akan letih lagi seperti dulu. Gadis itu bisa fokus menjaga kehamilan dan kuliahnya.
Perpisahan Maura dengan Fatimah pun membuat haru keluarga. Fatimah akan merindukan Maura yang sudah ia anggap sebagai pengganti Nurul. Begitupun dengan Harun, ia sedih melepas mereka berdua dari kostan nya.
Namun bagaimana lagi, mereka tidak bisa mencegah, hanya bisa melepas dengan doa-doa untuk keselamatan Maura dan Gifali. Mereka pun tertohok ketika mengetahui Maura tengah mengandung, dan lebih parahnya lagi Harun tahu, jika Adrian sudah mengetahui status Gifa dengan Maura.
Dan lelaki berjenggot itu akan semakin tercengang, ketika ia tahu Gifali adalah Anak kandung dari Pramudya.
"Ya udah kalau gitu, Papa mending ke kamar! Pelukan sama Mamamu, dibanding di sini. Dengerin suara---"
"GOL .... GOL! Asoy-Geboy, Samson! Bravo!"
Papa Galih mendengus malas, memutar bola matanya jenga. Belum saja selesai ia berbicara, tapi besannya kembali saja bersuara membuat telinganya pengang.
"Samson ... Samson, Anak kucing kali." sungut Papa Galih.
Gifali terkekeh. "Pemain bola dong, Pah. Masa anak kucing."
Papa Galih mencebik. "Ya udah Papa ke kamar ya."
"Iya, Pah." jawab Gifa, ia melepas kepergian Papanya untuk berlalu dari ruang televisi.
Tinggal lah ia berdua dengan Papa Bilmar di sini. Menemani lelaki itu menonton bola, karena Gifa pun gemar. Namun tak lama kemudian ia teringat dengan perkataan Papanya barusan.
"Mending di kamar, Pelukan sama Mamamu."
Gifali terbayang-bayang ucapan Papa Galih, serasa menyugesti pikirannya.
"Duh jadi pengin, susul Maura ah." gumamnya.
Lalu beranjak bangkit, saking antusiasnya , ia sampai lupa pamit kepada Papa Bilmar. Gifali berlalu untuk masuk ke kamar menyusul istrinya.
Kini, tinggal lah lelaki paru bayah itu. Ia masih asik tertawa sendiri dan histeris dengan tontonan bola nya.
"Yah iklan lagi, bikin lama!" gerutunya ketika acara bola terganti dengan beberapa iklan yang lewat. Tanpa sengaja ia pun menoleh dan hanya mendapatkan hembusan angin kosong tanpa siapapun dibelakangnya.
Kaget ya, Kek?
"Perasaan tadi tuh, ada Anak sama Bapaknya. Pada kemana? Pergi ke kamar, enggak bilang-bilang." Bilmar mencebik.
"Yah kok abis?" Bilmar meraih gelas nya yang sudah kosong dan beranjak melangkah menuju dapur, untuk mengisi gelasnya yang kosong dengan air dingin.
"Hem, enak banget mau belah duren." gumam Papa Bilmar mengulum senyum.
Ia kembali melangkah, tak lama kemudian langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar yang ditempati oleh Papa Galih dan Mama Difa. Sayup-sayup ia dengar suara rintih dan desahan.
Kedua matanya melotot dan kedua telinganya bergerak-gerak.
"Bener-bener si bekicot. Lagi perang didalam lumpur." Papa Bilmar terkekeh geli. Seketika bulu-bulu halus dibelakang tengkuknya mulai meremang. Libido nya pun naik, mengusik tubuhnya.
"Jadi merinding begini bulu roma gue! Obatnya cuman satu nih, Mamanya Sassy." Papa Bilmar kembali terkekeh.
Ia langsung melesat menuju kamar Mama Alika. Ingin menyergap Sassy tanpa ampun. Sepertinya ia sudah lupa dengan acara bola yang sedari tadi sedang ia nikmati.
Menutup pintu kamar lalu menguncinya, kemudian dengan langkah blingsatan ia merangkak naik ke atas kasur. Mengusap punggung sang istri yang sedang berbaring memunggunginya sambil memasang headset di telinganya.
"Mah ..." seru Papa Bilmar
"Hem?" Mama Alika menjawab.
"Ayo yuk, Mah. Bikin dedeknya Ammar. Papa pengin nih."
"Hem." lagi-lagi mama Alika hanya menjawab dengan deheman.
"Apa sih dari tadi, ham-hem terus? Lagi keselek kecoa kamu?"
Mama Alika pun menoleh. "Ih kok hijau begitu muka kamu, Mah?" Papa Bilmar histeris.
"Mama lagi maskeran, ini tuh lagi kenceng banget, susah ngomong!" jawab Mama Alika susah payah.
"Terus gimana dong, Mah. Papa pengin." cicit Papa Bilmar.
"Mama haid, Pah. Baru aja tadi abis kelar shalat Isya."
"Hah?" Papa Bilmar merungut kesal. Tidak jadi menyelami Sassy.
"Kapan si menapouse nya, haid terus perasaan." cicitnya pelan, namun masih bisa terdengar jelas di telinga istrinya.
Mama Alika pun memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat untuk menatap Papa Bilmar. Dengan wajah bermasker hijau ia melototkan dua bola matanya.
"Mama colok nih gusinya! Pergi ah, sana tidur di luar!" titah Mama Alika, lalu melepas satu cubitan panas dilengan suaminya.
"Ampun, Mah."
*****
Kasian banget sih Kakek Bilmar, niatnya mau kecemplung dikolam Sassy malah di tabok😂😂
Ketawa-tawa dulu ya guyss, sebelum besok nangis, hehehe.
Makasih ya yang udah selalu Like dan Komen, semoga kalian selalu di sayang oleh Allah🤗
Begini kali ya reaksinya pas tau kalau Pramudya adalah Papa kandungnya.