My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Telah Berdusta



Memang dengan olahraga cinta bisa membuat pasangan suami istri akan saling mencintai satu sama lain. Seperti halnya sekarang, Maura masih bergeliat manja di lengan sang suami. Dan Gifa terus saja mengelus-elus punggung Maura dengan lembut. Meningat-ingt kejadian di kamar mandi, sungguh pengalaman pertama yang mereka lakukan selain di ranjang.


"Tadi kamu bilang ada yang ingin dibicarakan, mau bicara apa sayang?" tanya Gifa kepada Maura.


Seketika itu wajah Maura yang tadinya masih dalam balutan angin kebahagiaan kini berubah menjadi angin padam penuh kenestapaan. Ia kembali terngiang dengan kejadian pencurian, kehilangan uang dan akhirnya memutuskan untuk bekerja. Ingin sekali ia jujur kepada Gifali, tapi rasa takut karena Gifa akan kecewa lebih besar dari pada yang ia bayangkan.


"Sayang ..." Gifa kembali mengulang seruannya sambil menyampir kan helaian rambut yang menutupi kening istrinya.


"Apakah aku boleh bekerja sayang?" tanya Maura dengan hati-hati.


"Bekerja? Dimana?" jawab Gifali masih dalam suara tenang, ia terus membiarkan Maura untuk menjelaskan dulu secara rinci.


"Menjadi tukang masak di restoran hotel, Gifa." jawab Maura mantap.


"Hemm..?" Gifa menautkan kedua alisnya.


Melihat raut wajah Gifali seperti itu membuat Maura faham, bahwa ia butuh penjelasan secara jelas. Dengan dengusan napas pelan, Maura kembali berujar.


"Aku tidak sengaja membaca koran, bahwa ada lowongan pekerjaan di sana, tadinya sih niatnya ingin coba-coba. Dan ternyata aku diterima, sayang..." jawab Maura dengan senyuman yang dipaksakan. Ia memaksakan wajahnya untuk tersenyum bahagia, padahal jauh di lubuk hatinya ia ingin menjerit untuk menangis.


Gifali hanya mengangguk percaya.


"Sebaiknya aku aja yang bekerja, kamu fokus dulu dengan kuliah, Ra. Ayo ambilkan aku nasi." Gifa beralih menatap makanan yang sudah terhidang sedari tadi didepan matanya.


Maura sekilas terdiam dan bergerak untuk meraih piring.


"Tapi aku kan sudah diterima, bukannya sayang kalau tidak dilanjutkan?" Maura menuangkan nasi di piring suaminya. Meletakan ikan goreng dan tumisan sayur di sebagai pelengkap nasi.


"Ya nggak apa-apa, toh kan niat awalnya kamu hanya coba-coba kan? Tidak sungguh-sungguh untuk bekerja?" jawab Gifa sebelum ia menenggak air putih terlebih dulu sebelum memulai makan malamnya.


"Tunggu aku saja yang bekerja, lagi pula kita masih ada sisa uang di tabungan kan? Sepertinya masih cukup untuk menopang kebutuhan kita."


Mendengar hal itu, membuat hati Maura menjadi sesak. Ia semakin serba salah, ia bingung dengan keputusannya kali ini.


"Tapi, sayang.."


"Oh iya, kok hanya aku yang makan ikan?" selak Gifali dengan topik pembicaraan yang lain. Ia melihat telur di piring Maura, bukan ikan goreng seperti dirinya.


Maura terkesiap. Ia baru tersadar jika suaminya mulai merasakan keanehan.


"Sejak kapan kamu makan telur? Bukannya kamu tidak terlalu suka?" tanya Gifali lagi sebelum Maura memberikan alasan palsunya.


"Aku lagi bosan makan daging-dagingan. Entah mengapa ingin makan telur, Gifa."


"Enggak kok, kamu tenang aja. Aku nggak akan hamil!"


Gifali mengangguk. "Ya udah ayo makan!" titah Gifa.


"Sayang, tolonglah. Ijinkan aku untuk bekerja ya? Dimana lagi tempat yang bisa mengijinkan ku untuk bekerja paruh waktu." Maura kembali merengek.


Gifa masih menikmati makanannya dengan lahap. Gifa terus saja mengunyah dan menatap makanannya, sebenarnya lelaki itu bingung ingin menjawab apa. Pantang baginya, jika istri sudah dulu mendapatkan pekerjaan disaat dirinya belum bisa memberikan apa-apa.


Dan akhirnya raut wajah Maura kembali redup. Hatinya patah, karena Gifa hanya memberikan gelengan kepala sebagai respon jawaban dari pertanyaan Maura.


Maura hanya menatap wajah itu dengan tatapan sendu. Ia bingung sekarang, tentu uang penjualan cincin tidak akan berputar untuk menutupi segala kebutuhan.


Apalagi akhir bulan kostan harus tetap dibayar, kehidupan rumah tangga pun harus terus berjalan. Mereka butuh pekerjaan untuk kelangsungan hidup, ditambah lagi rasa penyesalan Maura yang belum menghilang. Ia membiarkan uang hasil jerih payah Gifa begitu saja hilang tanpa bekas.


"Kamu kenapa?" tanya Gifa ketika melihat Maura tanpa sengaja melamun sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tengah menghalau bayangan, yang memperlihatkan jika Gifa akan kecewa san juga marah, dengan peristiwa yang baru saja merugikan diri mereka.


"Oh, enggak sayang."


"Ayo cepat dimakan, Ra." titah Gifa, kemudian menatap nasi di piringnya lagi. Lelaki itu kembali menyantap makanannya sampai habis.


"Baik, sayang ..." Maura tersenyum tipis sambil memasukan sendok berisi nasi kedalam mulutnya.


****


Jam di dinding terus saja berputar ke arah kanan, sudah pukul 02:00 dini hari tapi Maura masih belum bisa memejam kedua matanya. Ia menoleh ke arah suaminya yang sudah tertidur dengan pulas tanpa beban. Begitu halus hembusan napas yang keluar dari wajah Gifali.


Maura kembali terngiang dengan ucapan Edgar, calon manajernya di hotel itu jika ia jadi memutuskan untuk bekerja di sana.


"Dari hasil masakanmu, saya suka. Rasanya lebih enak dari beberapa chef di sini. Tapi di hotel ini juga mempunyai peraturan. Jika kamu ingin tetap bekerja di sini, maka kamu harus siap melepas jilbab ketika bekerja. Hanya saat bekerja saja, selebihnya kamu bisa memakai jilbabmu seperti biasa. Karena kamu hanya bisa bekerja setelah pulang kuliah, maka gaji yang diberikan hanya setengah dari total keseluruhan, Bagaimana? Apakah kamu mau dengan perjanjian kontrak kerja ini?"


Maura berkali-kali menghela napasnya ketika bayangan suara Edgar terus saja menggema mengelilingi otaknya. Sambil mengelus rambut suaminya, Maura pun akhirnya memutuskan.


"Maafkan aku sayang, karena aku sudah berdusta. Dan maaf, jika aku harus tetap bekerja! Aku berjanji hanya bekerja sampai uangmu yang aku hilangkan kembali semua." janji Maura dalam hatinya.


Maura tidak punya pilihan lain.


*****


Like dan Komennya yaa❤️❤️