
Sudah dua bulan berlalu. Kini kandungan Maura memasuki usia empat bulan. Perutnya sudah membuncit layaknya wanita yang sedang hamil enam bulan. Tentu saja, karena ada tiga anak didalam perutnya.
Namun secara perkembangan dari semua alat inderanya Maura masih belum menunjukan kenormalan seperti dulu. Walau begitu ia sudah terbiasa dengan kaca mata dan alat pendengarnya. Terus bermunajat kepada Semesta, agar bisa sembuh dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Lalu bagaimana dengan Gifa?
Luka di perutnya sudah membaik sejak satu bulan lalu. Ia sudah bisa beraktivitas tanpa banyak pantangan, bahkan untuk melakukan olahraga cinta dengan sang istri, dirinya sudah mampu lagi.
Selama dua bulan Gifali dirumah, ia tidak pernah berhenti mengurus keperluan istrinya. Membuatkan susu hamil setiap Maura meminta, membantu istrinya mandi, menyuapinya makan dan membantu Maura untuk menenun baju-baju bayi mereka.
Apapun yang Maura kerjakan, dan dimanapun Maura berada. Gifali akan selalu ada disamping istrinya. Ia tidak ingin melewatkan waktu, karena satu bulan lagi ia akan kembali ke London.
"Apa aku sudah cantik sayang?" tanya Maura kepada suaminya ketika sedang membantu Gifa mengkancingkan kemeja batiknya.
"Baru mau di puji, tapi kamu sudah bertanya lebih dulu."
"Terus gimana? Cantik nggak?" Maura mengulangi.
Gifali menatap riasan sederhana di wajah istrinya, lalu turun ke bawah memperhatikan dress brokat berwarna biru navy dengan banyak tile melingkar di sekitar perut buncitnya.
"Yang mau di lamar memang kamu apa Gadis sih? Kok cantik banget?" jawab Gifa, dengan nada cemburu. Ia takut banyak lelaki yang melihat kecantikan istrinya.
Maura tertawa dan mengalungkan kedua tangan dileher suaminya. "Aku lagi gendut begini, masih kamu cemburuin?"
Gifali ikut tertawa lalu mengecup dahi istrinya. "Cemburu dikit-dikit gak apa-apa, yang penting jangan kelewat batas."
"Tapi kalau kamu mau aku bisa hapus make up ini dan ganti dress dengan yang lain juga enggak apa-apa sayang."
Gifali menggelengkan kepala. "Enggak usah, aku suka kamu begini. Sekali-kali ya ... Nggak apa-apa deh." jawab Gifa legowo. "Lagi pula dress itu kan dibelikan khusus oleh Gadis. Dia mau kamu memakainya di hari lamarannya bersama Elang."
"Terimakasih ya suamiku, karena sudah mengizinkan." ucap Maura lalu mengecup bibir Gifali.
"Duh rasa permen nih." Gifali mengusap bibirnya. "Jadi mau lagi."
Maura mendelik. "Tadi siang kan sudah dua kali, masih belum kenyang?"
Gifali tertawa dan menggeleng. "Enggak akan ada kenyang nya kalau habis makan kamu sayang." Gifali menggoda.
"Jangan mulai sayang! Nanti kita telat!" Maura menurunkan tangan Gifa yang dengan nakal meremas bongkahan gunung indah yang tertutup dengan kain brokat.
"Abis kamu cantik banget." ucap Gifali dengan tatapan penuh hasrat. Napsu lelaki itu memang akan selalu berkobar untuk sang istri. Entah bagaimana dirinya, jika harus meninggalkan Maura berbulan-bulan di Indonesia. Mungkin ia akan terus menjalani puasa sunah atau juga bermain solo di kamar mandi.
"Malah sekarang aku yang cemburu, habis kamu ganteng banget malam ini." cicit Maura polos.
Gifali memang sangat tampan. Ia memakai batik berlengan panjang dengan motif klasik berwarna biru navy yang senada dengan dress Maura. Yang dipadu padankan dengan celana bahan berwarna cream dan sepatu pantopel berwarna hitam.
"Masa?" tanya Gifa.
Maura mengangguk sambil terkekeh "Kamu seperti Presdir muda yang tampan di dunia novel sayang."
Gifali kembali terkekeh. "Jangan di dunia novel dong, itu kan dunia halu."
Maura mencubit pelan lengan sang suami. "Tapi aku gemar membacanya, seru. Bisa membuat jiwa melayang karena bahagia." Maura menyanggah.
"Jadi aku beneran tampan kayak calon Presdir?" Gifa mengulangi.
Maura mencebik. "Tuh kan jadi geer."
"Siapa dulu dong istrinya." Gifali membanggakan Maura. "Insya Allah, kamu akan menjadi istrinya Presdir sebentar lagi."
"Aamiin sayang, semoga Allah menjabah doa-doa kita."
"Duh keponakan ante, sehat-sehat ya sayang" Gadis mengusap-usap perut Maura. Menciumnya dari luar dress.
Gadis dan Maura terlihat sedang duduk bersebelahan di sofa ruang tamu. Karena tiga puluh menit yang lalu acara lamaran antara Gadis dan Elang sudah terlaksana dengan lancar.
"Amin ante Gadis." jawab Maura mewakili ketiga anaknya.
"Kamu senang, Dis?" tanya Maura dengan senyuman. Ia memegang jari manis Gadis dan mengusap cincin pertama yang berkilau di sana.
Gadis mengangguk bahagia. "Aku sangat senang, Kak."
"Apa kamu sudah benar-benar melupakan Gifali?"
Kini wajah mereka berdua sudah berubah menjadi serius. Gadis serius menatap bola mata Maura, dan Maura pun sebaliknya kepada Gadis. Maura ingin lega hati dan tenang jiwa. Ia ingin memastikan kalau Gadis benar-benar sudah melupakan suaminya.
"Apakah jika aku bilang tidak, hal itu bisa mengembalikan Gifali kembali kepadaku?"
DEG.
Raut Maura seketika menegang. Kulit putih di wajahnya seketika berubah menjadi merah. Jantungnya berdentam kuat, dadanya tiba-tiba saja sesak karena sedang di peras.
Lalu
Gelak tawa Gadis menggema. Gadis beringsut untuk memeluk sang Kakak. "Kamu masih takut aja sih, Kak? Aku hanya bercanda, demi Tuhan." Gadis terus saja tertawa, ia puas sekali mengerjai Maura.
Maura masih mematung tidak percaya. Baru saja ia ingin menangis mendengar ucapan Gadis barusan.
"Senyum dong!" Gadis menarik sudut pipi Maura dengan jarinya. "Kamu tuh gitu, terlalu cepat sensitif, aku hanya bercanda, Kak. Demi Tuhan." Gadis masih saja tertawa.
Maura mengangguk pasrah dengan senyuman yang masih kaku. "Aku fikir, Dis. Aku takut---"
"Takut kenapa? Aku bahagia banget sekarang, karena aku akan menikah dengan Elang. Lelaki yang aku cintai, melebihi cintaku pada Gifali dulu." ucap Gadis lalu menoleh ke arah Elang yang sedang berbincang dengan Gifali. Lelaki yang sempat ia tolak mati-matian, dan ia tepis cintanya berkali-kali.
Sepertinya telepati cinta antara Gadis dan Elang memang sudah cukup hadir. Elang tidak sengaja menoleh dan mendapati Gadis yang sedang tersenyum ke arahnya.
Elang mengedipkan mata kepada calon istrinya sambil mengucap kata i love you tanpa suara.
"Lihat deh, so sweet banget kan calon suami aku?" ucap Gadis bangga kepada Maura.
Melihat keromantisan antara Gadis dan Elang, membuat wajah Maura kembali bersinar. Tegap kembali hatinya. Jujur saja kejadian di masa lalu masih membekas dalam ingatannya. Ia hanya takut Gifali kembali berpaling atau berpindah cinta. Walau sebenarnya ia juga sedih, melihat Gadis bisa legowo untuk menghapus cintanya dulu kepada Gifa demi dirinya.
Maura mencium pipi Gadis lalu memeluknya. "Kamu harus selalu bahagia sama Elang ya, di adalah lelaki yang baik. Dia sayang banget sama kamu, jangan di kecewain." pinta Maura.
"Iya, Kak. Aku akan belajar menjadi istri yang berbakti untuk Elang. Seperti kamu kepada Gifa." jawab Gadis penuh haru. Air matanya menetes karena ia bisa juga bahagia, terlepas dari cinta Gifali.
Hanyalah Elang saat ini tempatnya untuk berlabuh sampai akhir hayat.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang memandang haru mereka dari kejauhan.
"Maafkan aku, pernah menjadi belati diantara kalian." Gifali membatin, ia menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Makasih, Gif. Berkat kebodohan lo dulu, gue bisa miliki Gadis sekarang." ucapan Elang membuat Gifa menoleh ke arahnya.
"Sama-sama, Lang." jawab Gifa tersenyum sambil menghentak halus bahu Elang.
*****
Like dan Komen yaa guysss❤️