
Gifali masih terdiam diatas kasur dengan figura foto yang terjatuh tadi ditangannya. Ia hening sebentar sambil menelaah, sempat memikirkan Maura yang masih belum menghubunginya sampai siang. Gifa pun dengan cepat menepisnya, membuang fikiran buruk agar tidak benar-benar terjadi.
"Maura-ku pasti dalam keadaan baik-baik saja!" ucap Gifa, seraya berbicara dengan setan jahat yang terus membisiki nya dengan rasa ketakutan.
Setelah ia menaruh kembali figura foto itu di dinding. Gifa kembali beranjak turun dari kasur dan melangkah menuju pintu utama, ia mengucap doa terlebih dulu sebelum berlalu dari kostan.
Dengan beberapa berkas lamaran yang telah ia buat tadi malam. Gifa menyusuri kota Brick Lane. Dari toko ke toko sudah ia masuki untuk menanyakan lowongan pekerjaan. Namun hasilnya tetap nihil, ia di tolak.
Patah semangat? Tentu tidak! Pemuda itu terus saja melangkah kembali sambil menatap setiap toko yang ia lewati di bahu jalan. Kadang ia terdiam, seraya berfikir toko yang mana lagi harus ia datangi dan mengucap kata apakah masih ada lowongan di sana.
Dua jam berlalu, waktu sudah menunjukan pukul 11:55 siang. Mulutnya sudah terasa kering. Ia pun memilih duduk untuk beristirahat di sebuah kursi taman terbuka, menenggak sebuah air dari botol minum yang sudah ia isi dari rumah. Tidak lupa ia membawa bekal hasil masakan istrinya.
Terkadang terbesit didalam kepalanya, ingin menyerah menjalani hidup seperti ini, ingin merengek kepada Papa Galih dan Mama Difa agar kembali di sokong dengan segala kekayaan yang ada.
Namun melihat Maura yang bisa hidup seperti ini dengannya, tentu semangatnya kembali muncul. Kembali ke niat awalnya untuk mandiri, ia hanya ingin membuat dirinya pantas bersanding dengan Maura. Membuat Maura berhasil menjadi chef dengan kedua tangan kekarnya.
"Sudah Adzan rupanya." ucapnya ketika mendengar Adzan Dzuhur sedang dikumandangkan. Ia kembali memasukan botol minuman ke dalam tasnya. Lalu beranjak pergi menuju Masjid. Ingin kembali berdoa, meminta belas kasih dari Allah SWT agar memberikan ia pekerjaan untuk menafkah kan istrinya.
****
Setelah berdiri selama tiga jam, akhirnya Maura dan Ramona diberi waktu untuk beristirahat sama seperti para Maba yang lain. Mereka terus saja menjadi bulan-bulanan Agnes dan para anggota senat.
Maura hanya bisa diam menurut, namun berbeda dengan Ramona. Wanita cantik yang sedikit tomboi itu terus saja menantang. Maura hanya bisa menggelengkan kepala, dan selalu mengingatkan wanita itu untuk mengolah rasa sabar.
"Jangan mau diinjak-injak, kita tuh Maba. Sama-sama Mahasiswa kayak dia! Ngapain takut?" Ramona berdecak gemas, sambil memasukan potongan sandwich yang ia beli di kantin, dan Maura hanya mendengarkan dan melihatinya saja.
"Kamu enggak makan, Ra? Ini aku beli banyak buat kita makan bareng." Ramona menyodorkan salah satu sandwich yang belum ia buka.
Maura menggelengkan kepala. "Makasih tapi kamu aja, Mona."
"Ramona aja, jangan Mona. Kayak cewek banget!" decaknya malas.
"Rambo?" Maura terkekeh. Entah mengapa terbesit di kepalanya untuk meledek Ramona.
Mendengar namanya diubah seperti itu membuat Ramona tersedak. Maura semakin tertawa. "Kamu kan emang cewek, buktinya mau kuliah di kampus ini." Maura mengakhiri gelak tawanya.
"Panggil aja Ramona, nggak usah di singkat-singkat! Aku juga masuk kesini karena terpaksa!" Ramona terlihat sedikit mencebik.
"Kenapa?"
"Makanya kamu makan dulu, baru aku cerita. Aku tau kok kamu lapar." Ramona menyodorkan kembali sandwich itu kepada Maura.
"Kamu baik banget, Ramona." ucap Maura dengan senyuman di pipinya, lalu meraih sandwich itu dan mulai membukanya.
Lalu
"Kenapa kok nggak jadi di makan?" tanya Ramona kembali, ketika melihat sandwich yang sudah setengah jalan dibuka oleh Maura, namun wanita itu memilih untuk menutupnya kembali.
"Aku ambil sandwich ini, tapi aku makannya nanti, nggak apa-apa kan?"
Ramona mengangguk. "Terserah kamu aja, yang penting kamu ambil aja dulu makanan itu."
Maura kembali tersenyum menatap Ramona lalu ia beralih untuk menatap sandwich yang kembali ia bungkus.
"Sandwich ini untuk suamiku saja, Gifali-ku pasti senang." ucap Maura dalam hatinya. Wajahnya berbinar membayangkan senyum Gifali ketika mendapatkan makanan ini.
Demi makanan kesukaan sang suami, ia rela menahan lapar. Bahkan cacing-cacing diperutnya sudah menjerit kelaparan. Maura hanya menuggu jatah makannya dari hotel nanti.
"Kamu tinggal dimana, Ra?"
"Aku ngekost, Ramona."
"Sendirian?"
Maura kembali hening. Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain, ia bingung ingin menjawab apa. Tapi ia juga tidak mungkin meniadakan keberadaan Gifali bersamanya.
Gleg.
Maura meneguk sejuta kebohongan.
"Oh ..." Ramona mengangguk-anggukan kepala.
Ia percaya begitu saja. Lagi pula apa yang harus ia curigai dari Maura, tentu melihat Maura dengan perangai lugu seperti itu, tidak akan membuat dirinya menyangka bahwa wanita yang sedang ada dihadapannya ini tengah memainkan sebuah drama.
Percakapan mereka pun selesai, ketika ada suara aba-aba dari ketua senat, agar Maba kembali berkumpul.
"Jangan takut ya! Kita lawan, kalau mereka ngebully kita lagi, oke?" tanya Ramona kepada Maura.
"Oke!" Maura mengangguk. Mereka pun mengayun langkah bersama untuk kembali ke pertengahan lapangan.
****
"Jadi pelayan juga enggak masalah, Pak." ucap Gifa kepada pemilik cafe yang masih membaca daftar riwayat hidupnya. Membolak-balik kertas yang bertuliskan nama panjangnya di sana.
"Di sini memang sedang ada lowongan. Tapi bukan menjadi seorang pelayan. Saya sedang mencari orang yang bisa bernyanyi dan bermain musik jika malam hari di sini."
"Menyanyi?" Gifa mengulang ucapan si pemilik cafe.
Jadi setelah Gifa selesai menunaikan shalat Dzuhur di Masjid. Ia kembali melanjutkan langkahnya, menyusuri jalan, menghadapi panasnya udara untuk mencari-cari lowongan pekerjaan lagi. Sebisa mungkin ia tepis rasa lelah untuk terus berjuang.
Memang Allah, adalah dzat yang tidak akan pernah meninggalkan hamba-hamba yang selalu berdoa kepadanya. Tanpa sengaja Gifali menoleh ke arah cafe yang letaknya tidak jauh dari Masjid. Dengan hati yang cukup percaya diri, ia pun mendatanginya untuk menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan di tempat itu.
"Iya benar. Bekerja menjadi penyanyi di cafe saya. Penyanyi lama, baru saja resign dua hari yang lalu. Setiap malam, di sini ramai, tapi kafe terasa sepi karena tidak ada yang menyanyi."
Gifa mengangguk dengan bola mata yang membulat sempurna. Wajahnya semakin terang benderang. Garis senyum sepertinya mulai nampak untuk meninggi.
"Jangan risau lagi, Pak. Saya bisa menyanyi dan ahli memainkan gitar." jawab Gifa mantap, Ia terlihat begitu percaya diri.
"Ya sudah ayo buktikan, saya ingin mendengar suara kamu, Putra! Bernyanyi lah di sana ..." si pemilik cafe menunjuk ke arah panggung mini band yang berada di sudut.
Gifali mengangguk dan tersenyum. "Baik, Pak." jawabnya lugas, ia pun beranjak dari kursi dan melangkah ke sana. Gifali mulai memainkan gitarnya dan bernyanyi lagu-lagu barat.
"Bagus juga suaranya, bahkan lebih bagus dari si Toni." ucap si pemilik cafe. Ia memuji kemerduan suara Gifali dan permainan gitarnya.
"Stop! Ayo kemari lah!" si pemilik cafe melambaikan tangan ke arah Gifali, dan lelaki itu pun turun dari panggung.
"Kamu saya terima untuk bekerja di sini, menjadi penyanyi di cafe saya, jam kerja kamu mulai jam 19:00-22:00 malam, apa kamu bersedia?"
Tanpa fikir panjang Gifali pun mengangguk, walau sampai malam ia tidak masalah. Tentu ia bersyukur karena waktu bekerja tidak mengganggu jam kuliahnya."
"Gaji kamu segini setiap bulan, belum lagi kalau ada berbagai tips dari tamu. Itu semua hak kamu." Bapak berkumis itu menuliskan nominal gajinya di kertas lalu ia perlihatkan kepada Gifali.
Gifali tersenyum puas. "Lumayan besar juga ya. Belum lagi kalau dapat tips dari pengunjung." kata hatinya. Gifali terlihat senang, dan tidak berhenti untuk mengucap syukur kepada Sang Maha Penciptanya.
"Baik, Pak. Saya setuju."
"Baik kalau begitu, besok malam kamu sudah boleh bekerja. Saya Tomas, Putra." si pemilik cafe akhirnya memperkenalkan namanya.
"Baik Pak Tomas. Panggil saja saya Gifa, Pak."
"Oh baiklah, Gifa. Semoga kamu bisa kerasan untuk berkerja ditempat saya."
Gifali mengangguk dan melebarkan senyumannya. Hatinya sungguh senang dan berbunga-bunga. Ia tidak akan menyangka mendapatkan pekerjaan yang begitu mudah, menyenangkan dan mendapatkan gaji yang lumayan besar.
"Istriku pasti senang ..."
*****
Like dan Komennya yaa buat Abang Gifa, kasih semangat buat dia, karena besok dia mulai manggung, hihihihi✌️😀